Suamiku Ceo Tampan

Suamiku Ceo Tampan
Capt 5


__ADS_3

Setelah pembicaraan mereka di taman. Saat ini mereka sudah berkumpul dengan keluarga untuk membicarakan apa yang sudah mereka bahas.


Terlihat antusias dari yang lain. Karena merasa pembicaraan kali ini sangatlah menarik. "Ayo,,Aidan cepat. Kalian mau ngomong apa??" cecar sang bunda yang terlihat sangat penasaran.


"Bun, Aidan tau bunda sangat senang ketika mengasuh Raidan. Dan bunda juga merasa tidak kesepian. Tapi, Aidan tau bunda itu juga kewalahan. Apalagi si Bungsu masih sering membuat ulah. Jadi Aidan dan Rain memutuskan untuk bulan depan akan menikah." ucap Aidan mendapatkan sorakan dari yang lainnya.


"Abang,,,bunda nggak keberatan untuk mengurus Raidan. Justru adanya Raidan bunda merasa kembali seperti saat pertama kali hadirnya Rain. Bunda sangat senang. Tapi, balik lagi, jika ini keputusan Abang dan Rain ambil. Bunda dan ayah sangat senang dan mendukung itikad baik ini" ucap sang Bunda membuat Aidan memeluk bunda nya dengan terharu.


Sementara Rain tidak bisa berkata-kata apapun dan pandangnya seolah berkelana jauh. Hingga usapan pada punggungnya menyadarkannya. "Berbahagialah" hanya itu yang keluar dari mulut orang yang mengusap punggung Rain.


Melihat itu sontak saja, Rain langsung memeluk tubuh ayah nya. Dirinya merasa sedih. Apalagi melihat raut wajah sang ayah yang terlihat sedang berusaha tidak menangis.


"Ayah,,maafin Rain. Yang sering buat ayah marah-marah. Maaf karena Rain belum bisa membahagiakan Ayah, bunda." ucap Rain yang menangis di pelukan sang ayah.


"Ayah sangat bangga padamu, sayang. Mulailah membuka hatimu untuk Abang Aidan, ya. Karena hubungan rumah tangga tanpa cinta sama dengan membangun rumah di tengah jurang." nasehat sang ayah membuat Rain mengangguk.


Namun, sebuah pemandangan membuyarkan acara tangis haru antara ayah dan anak. "Woy,,,itu bini gue kenapa Lo peluknya lama-lama" seru ayah Chan. Ketika matanya melihat istrinya dipeluk oleh Aidan.


Sontak saja mereka terkejut dan dengan cepat Aidan melepaskan pelukannya "Lo itu udah gue jadiin mantu. Masih aja mau embat bini gue" ucap ayah Chan segera memeluk posesif istrinya.


"Yaelah, ayah. Ini mah pelukan anak sama bunda, kali yah" ucap Aidan yang didorong menjauh oleh Chan.


"Sama aja. Lo itu laki-laki" ucapnya membuat semua yang ada disana menghela nafas. karena terlalu sering melihat kebucinan Chan.


"Udah, deh yah. Lebay banget, sih." protes sang istri membuat Chan mengerucutkan bibirnya. "Masalah konsep pernikahan nya. Kalian mau gimana, biar Bunda nanti yang atur" ucap sang bunda memandang anak-anak nya.


"Kami mau berdiskusi dulu, Bun." ucap Rain yang diangguki oleh Aidan.


"Baiklah kalau sudah menemukannya. Beritahu, kami akan mengurus segalanya" ucap sang Bunda.

__ADS_1


Setelah pembicaraan mengenai pernikahan dengan segala perhitungan dan keputusan. Akhirnya mereka memilih di awal bulan karena tidak ingin menunda waktu baik. Pada akhirnya semua persiapan pernikahan dilakukan oleh orangtua mereka. sang calon pengantin hanya akan ikut jika itu berkaitan dengan mereka salah satunya seperti masalah baju pengantin.


Saking semangatnya mereka mempersiapkan pernikahan. Mereka sampai lupa siapa yang sebenarnya akan menikah. Bahkan sang calon pengantin saja. Masih bekerja dengan giat.


"Rain, kata mama besok harus cek dekornya. Apa sudah selesai atau belum" ucap Aidan di balik telepon.


Benar. pernikahan mereka akan segera berlangsung. Banyak persiapan sudah dilakukan.


"Iya, bang. Besok Rain akan kesana setelah pulang dari rumah


mommy Cira" ucap Rain. Ya sekarang gadis itu berada di rumah Cira. Karena kalian tau kan gimana lengket nya Rain dengan Mommy dan Daddy nya itu.


"Besok, Abang jemput dirumah mommy aja, ya. Mumpung searah juga" ucapnya yang diiyakan oleh Rain. "Enggak terasa ya pernikahan kita sudah tinggal seminggu" ucap Aidan.


Hubungan mereka sudah lebih baik dari sebelumnya. Karena sesuai dengan niat dan keseriusan mereka. Akhirnya menciptakan hubungan yang lebih baik dari sebelumnya.


"Iya, bang. Semoga nanti acaranya lancar, Amin." ucap Rain yang semakin hari semakin bijak dalam bersikap.


"Sudah bang. Kalau abangnya sendiri sudah makan. Ini kan sudah jam istirahat" perhatian Rain. Membuat Aidan tak hentinya menahan senyum.


"Belum, soalnya kamu belum bisa bawain aku makan siang setiap hari" ucapnya dengan manja. Membuat Rain terkekeh. Memang, sikap keduanya sudah mulai keluar sikap aslinya. Bahkan mereka sudah tidak secanggung dulu untuk berinteraksi. Waktu lah yang merubah mereka.


"Iya, nanti diusahakan, bang. Sekarang Abang makan aja dulu, di kantin" ucap Rain membuat Aidan mendengus. Kemudian berdiri dan keluar dari ruangannya. "Lho,,Abang mau kemana, kok rame banget?" ucap Rain yang mendengar keributan.


"Kan sudah biasa kalau abang mu ini keluar. Pasti di gemari perempuan. Memangnya kamu enggak suka sama Abang, sayang?" ucap Aidan dengan percayanya. Membuat suara riuh semakin menjadi. Apalagi dengan panggilan manis yang keluar dari mulut Aidan.


"Mulai, deh. Besok kalau udah nikah Rain kunci Abang dikamar aja deh. Biar enggak diliat perempuan lain" canda Rain. Membuat Aidan tertawa.


"Boleh, Abang siap kalau dikunci dikamar. Asalkan bersama kamu aja. Nanti kita kan bisa cicil adiknya Raidan" ucap Aidan yang sudah masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"Elah,,itu mah. Kemauan Abang sendiri." ucap Rain.


"Haha,,kamu mau beliin makanan apa. Mumpung Abang makan diluar" ucap Aidan.


"Terserah abangnya aja. Rain, mah makan apa aja bisa"


"Yaudah, kamu masih dirumahnya mommy Cira kan?" tanya Aidan yang diiyakan Rain.


"Tunggu disana yaa" ucap Aidan tanpa langsung mematikan sambungan telepon nya. Dan segera mencari tempat makan.


Setelah beberapa satu jam lamanya. Akhirnya Aidan sampai juga dikediaman Mommy Cira. Rumah itu terdengar sangat ramai. Apalagi jika bukan karena kedatangan dua curut anaknya Cia.


"Assalamualaikum" salamnya yang langsung dibalas oleh yang ada dirumah itu. "Wah,,ramai banget ya" ucap Aidan. Ketika melihat isi rumah yang penuh mainan.


"Om,,minta mainan" ucap kedua bocah itu dengan berlari menuju kearah Aidan. Apalagi dengan kondisi Aidan yang membawa kantong plastik yang sudah pasti dikiranya berisi mainan oleh si kembar.


"Yah,,om tidak bawa mainan. Tapi om bawa es krim" ucap Aidan kepada dua bocah yang manyun karena tidak sesuai harapan mereka. Mereka yang melihat tingkahnya tersenyum senang.


"Om, mah. Sudah tidak sayang kami. Sekarang om sudah jarang beliin kami mainan. Huh,,kami marah sama, Om" ucap mereka kemudian berlari masuk kedalam kamar mereka.


Aidan hanya menghela nafas. Memang sudah biasa kembar itu akan marah jika tidak sesuai keinginan mereka. Namun, itu cuma beberapa menit saja. Setelahnya mereka akan biasa saja atau lupa.


"Yang,,sabar. Anggap aja ini ujian untuk kamu. Lagian nanti juga tuh,,si kembar nakal itu akan kembali baik" ucap sang mommy yang datang membawa minuman.


"Iya mom. Eh,,Rain nya kemana??" ucap Aidan memandang luas mencari sosok yang tadi ditelepon.


"Yaelah. Bucin, Lo" kesal Cia yang datang dengan cemilan ditangannya.


"Lhaa,,gue kan nyariin calon bini gue, bukan bini orang" ucap Aidan dengan santainya.

__ADS_1


"Wah,,,jahat Lo. Sekarang Lo udah enggak sayang sama gue, lagi" kesal Cia dengan sikap Aidan yang sudah tidak seperhatiaan dulu. Ketika mereka masih lajang. Bahkan sekarang sahabat itu sudah enggak pernah menanyakan kondisinya. Karena kesal Cia langsung saja pergi ke kamarnya dengan membawa cemilan yang mau nya diberikan kepada Aidan. Mereka berdua yang melihat tingkah Cia hanya geleng-geleng kepala.


__ADS_2