
Di ruangan yang gelap ini, seseorang sedang berbaring. Tubuhnya terbungkus selimut tebal. Bulir-bulir keringat muncul di dahinya. Hingga membuatnya bergerak tak nyaman.
"Cia, Ayo, bangun minum obatnya dulu" panggil sang mommy yang memeriksa suhu tubuhnya.
Merasakan tidurnya di usik membuat Cia tersadar. Dan membuka perlahan matanya. "Mom, Alex, dimana!!" ucap Cia saat tersadar.
Sedangkan sang mommy hanya menunduk sedih. "Mommy, Alex baik-baik saja kan. Mommy katakan kalau Alex baik-baik saja kan mommy!" cerca Cia dengan bangkit dan menggoyangkan tangan sang mommy.
"Itu,,,Alex" ucap sang mommy terbata dengan pandangan mata sulit untuk menjelaskan.
"Nggak, mommy. Ayo, mommy kita ke rumah sakit sekarang, mom. Kita harus semangatin Alex agar tetap bertahan, mom!!" tegas Cia membuat sang mommy menggelengkan kepalanya.
"TIDAK!. Alex masih hidup, mom. Dia hanya terluka. Kemarin dia berjanji akan baik-baik saja, mom." ucap Cia dengan sedikit berteriak.
Melihat putrinya begitu membuat hati sang mommy terluka. Hingga, dia memeluk tubuh yang menangis tersedu. "Iya, semuanya akan baik-baik saja" tenangkan sang mommy.
"Mommy, aku memang dulu ingin dia pergi. Tapi itu dulu, mom. Sekarang aku sudah mencintai nya. Tolong katakan pada dia, jangan tinggalkan aku, mom" ucap Cia lirih dengan tangisnya.
"Tenanglah, semua ini akan cepat berlalu" ucap sang mommy memberikan semangat. "Nanti setelah kamu sudah tidak demam lagi. Kita jenguk, Alex ya?" ucap sang mommy lagi.
"Tidak mom. Cia harus ke rumah sakit sekarang!" ucap Cia yang bersiap untuk turun dari ranjang. Namun, segera dicegah oleh sang mommy. Namun, Cia tetap kekeh.
Ketika kakinya sudah menapaki lantai dan berdiri. Tiba-tiba saja kepalanya terasa berputar membuatnya kembali terduduk di ranjang "Kan, sudah mommy, bilang. Kamu istirahat dulu. Kamu ini masih syok, sayang" ucap sang mommy dengan memegang pundak Cia.
"Tapi, Cia pengen lihat Alex, mom. Aku nggak nyaman kalau belum melihat nya" lirih Cia yang matanya sudah tergenang air matanya.
Melihat itu sang mommy hanya bisa menghela nafas "Bentar, mommy panggil Daddy dulu. Biar di bawain kursi roda kesini" ucap sang mommy yang diangguki Cia.
Setelah beberapa menit datanglah Daddy dengan mendorong kursi roda. "Kamu udah kayak, Oma aja. Pakai kursi roda" goda Daddy Rey membuat Cia terkekeh.
__ADS_1
"Kalau ada Oma. Pasti Daddy udah dimarahi" ucap Cia disela kepalanya berputar.
Ngomong tentang, Oma. Saat ini Oma sedang berada di rumah Riski dan Utaya. Oma diajak menginap disana. Karena katanya biar bisa dekat dengan cicitnya. Padahal Utaya belum hamil. Tapi Oma selalu bilang begitu. Oma memang hadir hanya beberapa menit saja. Karena dia mengeluh pusing ketika melihat banyak orang. Dan itu membuat rencana mereka berjalan lancar. Dan Oma belum tau bagaimana kondisi dan tragedi di gedung pernikahan itu.
Mengenai berita, semuanya sudah hilang atau bahkan tidak akan pernah ada. "Oma lagi bersenang-senang menikmati hidup yang katanya dengan cicitnya" timpal sang mommy dengan membantu Cia.
"Memangnya kak Utaya sudah hamil, mom?."
"Kata mereka sing belum. Karena yang kemarin katanya gagal" timpal sang Daddy membuat mereka berdua menatap sang Daddy penuh tanya "Itu Riski kemarin ngasih tau, Daddy" jalan sang Daddy.
"Kamu tau nggak, itu si Aidan katanya mau nikah juga. Karena kamu udah nikah duluan dan dia katanya juga nggak ada temennya" ucap sang mommy yang tertawa.
Cia hanya terkekeh mendengarnya. "Sama kayak kamu, dulu. Nggak punya pacar, tapi ngebet pengen nikah" ucap sang Daddy Rey yang mengingat masa dulu.
"Idih,,yang ada kamu itu yang ngebet nikah!" protes sang mommy.
Mereka mendorong Cia menuju teras rumah. Cia terkekeh mendengar penuturan sang mommy dan Daddy. Berharap dia nanti juga bisa begitu dengan Alex. Karena sekarang sudah ada tujuan dan cinta dalam hubungan mereka.
Mereka memasuki mobil dan bersiap untuk berangkat ke tempat Alex di rawat. Hati dan perasaan Cia terus berdoa semoga semuanya baik-baik saja. "Mom, papa dimana?" tanya Cia yang saat ini sudah menyampirkan kepalanya di pundak sang mommy.
Usapan lembut menyapu kepala Cia "Papa sedang ada urusan. Jadi nanti atau besok dia akan pulang" ucap sang mommy membuat Cia mengangguk pelan.
Namun, dibalik itu. Seseorang, Ah!! lebih tepatnya dua orang sedang duduk manis di sebuah kursi memandang orang yang sedang berusaha melepaskan dirinya dari ikat.
"Lepas gue bodoh!!" maki nya sejak tadi membuat suasana ruangan yang sepi itu bergema.
"Kamu tau apa kesalahan mu?" tanya seseorang yang berjalan mendekati orang yang duduk terikat tali itu. Pandangannya menyorot kepada orang itu.
"Cih,,kamu aja yang bodoh. Uang banyak tapi tidak memiliki keamanan yang memadai. Jadi jangan salahkan aku bisa masuk dengan leluasa" ejeknya membuat orang yang berdiri didepannya geram.
__ADS_1
Matanya orang itu tertutup dan tangannya diikat dibelakang kursi yang dia duduki. Sehingga tidak bisa berkutik. "Ya, saya bodoh. Tapi saya cukup pintar untuk tidak memberikan putri saya padamu. Taukah kamu bahwa kamu itu hanya sebuah salah butir pasir di laut untuk putri saya?"
"Tunggu saja. Saya akan hancurkan pernikahan putri anda. Karena putri anda hanya milik saya saja!" ucapnya dengan percaya diri.
"Ya,,tapi itu dalam angan mu karena setelah ini kamu tidak akan pernah bertemu sekalipun dengan ya. Jadi karena saya berbaik hati. Saya akan menyampaikan keinginannya terakhir anda"
"Tidak perlu karena kamu tidak akan bisa mewujudkannya"
"Apapun saya bisa lakukan. Asalkan itu masih wajar"
"Berikan putrimu pada ku?" ucapnya kemudian tertawa "Sudahlah, kamu tidak akan bisa. Mendingan sekarang kamu bunuh aku saja. Karena percuma saja aku hidup tapi cintaku tak dapat ku miliki" ucapnya lagi miris.
"Terlalu mudah untuk mati. Lebih baik menjalani kehidupan dengan penderita" sinis sang papa.
"Tapi jangan salahkan nanti jika saya akan merusak putri Anda" ucapnya lagi. Plak. Satu tamparan meluncur dengan ringan.
"Jangan harap kamu bisa menghancurkan putri saya!!" geramnya membuat orang itu hanya terkekeh.
Beribu tamparan mengenai wajahnya. Karena terus menyulut emosi sang ayah dari gadis di cintai nya. Sedangkan diruang sebelah seseorang sedang berusaha bernegosiasi. "Kembali ke negara mu bersama sang anak. Jangan pernah menginjakkan kakinya lagi disini. Kakak masih punya hati buat tidak melukai kamu. Tapi untuk anakmu kakak nggak bisa jamin dia tidak terluka. Karena kamu pun bisa mendengarnya." ucap nya didepan sang adik.
"......." diam pak Billier hanya bisa diam. Air matanya sudah mengalir. Walau dia tidak terluka tapi ketika mendengar jeritan anaknya. Hatinya terasa ikut ditusuk.
"Jaga dirimu dan anakmu. Jangan biarkan anakmu menjadi orang yang seperti ini lagi. Karena ibu pasti tidak akan senang. Karena tanpa kamu sadari justru Ibu sangat menyayangi kamu dan juga anaknya melebih kami." jelasnya membuat pak Billier menangis tak kuasa. Ternyata selama ini dia salah sangka terhadap ibunya sendiri.
"Maaf kak" hanya itu yang keluar.
"Sejam lagi. Kamu akan diantar supir untuk ke bandara bersama anakmu. Kalau masalah Alex dia akan baik-baik saja" ucap sang kakak.
Pak Billier bersimpuh didepan kakaknya untuk meminta maaf karena terlah membuat masalah ini. Sejujurnya dia tau kalau anaknya itu bukan cinta lagi dengan Cia. Tapi posesif ketika pertama kali melihatnya di Bandara. Hingga saat ini.
__ADS_1
"Berdirilah" ucapnya dan mereka berpelukan bersama. Persaudaraan boleh saja bertengkar. Namun, itu semua tidak akan lepas bahwa diri kita adalah satu yang tidak akan bisa terpisahkan. Walaupun kita mati kita akan tetap bersaudara. Karena saudara adalah abadi.