Suamiku Ceo Tampan

Suamiku Ceo Tampan
Papa??!!!


__ADS_3

Acara konferensi pers dibatalkan. Namun, pihak keluarga Alex yang mengundang wartawan akan memberikan kompensasi untuk waktunya.


Sekarang Cia sedang berada di ruang tamu bersama dengan keluarga Alex yang masih stay dirumahnya. Untuk acara makan bersama.


Baik Cia ataupun mami belum ada yang memberitahunya terkait dengan hal itu. Mereka masih terdiam. Sedangkan Cia dia terlalu syok untuk mengetahui nya.


"Sayang kamu istirahat aja, ya, dikamar?" ucap Alex yang sejak tadi raut wajahnya tidak berubah. Masih tetap khawatir.


"Nggak mas" ucap Cia pelan tapi dengan gerakan tangan mengusap perutnya. Cia antara percaya dan tidak bahwa makhluk yang kemarin di minta kepada Tuhan sekarang sudah hadir. Bahkan tanpa di sadari dia sudah berkembang sangat cepat.


"Mi,,,??" ucap Alex memelas kepada sang mami yang sedang asik bercengkrama bersama sanak saudara nya.


"Sayang,,,kita ke kamar, yuk?" ajak Alex membuat Cia menggeleng. "Terus kamu mau apa, sayang?" tanyanya lagi membuat Cia menatap nya dengan penuh kebinaran.


"Kalian ke rumah sakit aja buat cek kesehatan lebih lanjut. Biar jelas juga tumbuh kembangnya" ucap sang mami yang kasian melihat tingkah anaknya yang sangat cemas itu. Lucu, sih tapi kasian juga.


Akhirnya mereka, Cia dan Alex ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan mereka. Sesampainya disana, mereka sudah disambut oleh dokter Jordi. Dokter keluarga mereka.


"Kalian sudah sampai. Mari saya antar ke tempat teman saya" ajak sang dokter membuat mereka hanya mengikuti saja.


"Ruang OBGYN?" gumam Alex yang melihat tempelan kertas yang tertempel di dinding pintu itu.


"Wah,,, ternyata tuan muda Killer dan istrinya yang berkunjung." ucap sang dokter muda dengan senyum manisnya. "Pantas saja,,si dokter Jordi menyuruhku pagi-pagi datang ke rumah sakit" ucap nya menatap Sang pelaku yang kini tersenyum manis.


"Ayo,, sekarang nyonya muda Killer berbaring" ucapnya. Dan diikuti oleh Cia. Sementara Alex tiba-tiba saja otaknya ngebleng.


Sang dokter memeriksa Cia dengan teliti melalui alat USG. Alex hanya mengamati saja setiap gerakan dari dokter itu "Lihat dia sudah tumbuh dan berkembang" ucap sang dokter dengan memandang kearah monitor di ikuti oleh mereka kecuali Alex.


"Syukurlah" tanya Cia yang diangguki oleh sang dokter.


"Ini tuan muda Killer ternyata hebat juga" goda sang dokter memandang Alex.

__ADS_1


"Dia??? berkembang?? tumbuh??" gumam Alex mendengar ucapan dokter itu.


Mereka yang melihat tingkah Alex hanya terkekeh. "Selamat Alex, kau akan jadi Daddy" tepuk dokter Jordi membuat Alex tersadar.


"Apa, dok?" tanyanya lagi.


"Kamu bakalan jadi Daddy. Istri mu sedang mengandung" ucapnya membuat Alex terkejut.


"Apa?!" ucapnya keras. Ucapan dokter sekarang terngiang di dalam benaknya membuatnya pusing dan seketika semuanya menjadi gelap.


Bruk.


"Alex!!" teriak mereka ketika melihat tubuh Alex yang terjatuh. Pingsan. Itu yang terjadi pada dirinya saat ini. Membuat nya ikut dibaringkan disamping Cia.


Mereka syok melihat Alex yang terjatuh pingsan. Setelah mendengar bahwa istri nya sedang hamil. Aneh. Tapi juga lucu.


Setelah pemeriksaan Cia selesai dia melihat keadaan suami yang masih tidak sadar di atas bed bersalin. "Dokter, suami saya baik-baik saja kan?" tanya Cia khawatir.


"Papa??!!" teriak seorang anak kecil dengan tubuhnya yang gempal berlari dengan senyum merekah membuat Alex memalingkan wajahnya melihat anak kecil berlari kearahnya. "Papa kesini mau liat aku ya?. Adik di sana bersama mama, pa" ucap bocah itu dengan menunjuk pada seseorang yang duduk di bangku taman bersama seorang anak kecil yang ada di pangkuannya sedang bercengkrama ria.


Alex terdiam mengamati anak kecil didepannya ini. Dimana bocah itu sangat mirip dengannya namun, dengan warna mata dan rambut yang berbeda. Alex bingung harus ngapain. Sementara tangannya ditarik oleh anak kecil itu.


"Ayo, pa. Kita ke mama. Ada adik juga pa" ucapnya menggebu membuat Alex berhenti kemudian memeluk tubuh anak itu dengan erat. Entah mengapa dia ingin sekali memeluk tubuh anak kecil itu.


"Alex, sini. Alex,,,,,Alex,,,," ucapnya istrinya dengan melambaikan tangannya memanggil Alex.


Namun, istrinya berserta anak-anaknya perlahan menghilang membuat Alex berlari mengejarnya. Sembari meneriaki namanya. "Alex??" ucap seseorang tepat di telinga membuat Alex membuka matanya dan dilihatnya sang istri didepan matanya.


Grep. Alex memeluk tubuh Cia dengan erat. Seolah takut kehilangannya "Jangan pergi dan tinggalkan aku sendirian" ucapnya membuat Cia terkejut dan kemudian membalas pelukan Alex sembari mengangguk.


"Kita dimana, ini?" tanya Alex yang sudah melepaskan pelukan nya dan melihat sekeliling.

__ADS_1


"Kita di rumah sakit, mas. Tadi kamu pingsan" ucapnya membuat Alex mengangguk.


"Anak-anak mana, yank?. Mereka baik-baik saja, kan?" ucap Alex menatap Cia dengan wajah cemas.


Cia mengerjitkan dahinya mendengar ucapan Alex. "Anak-anak siapa, mas?. Kamu ini lagi demam, ya?" ucapnya membuat Alex menggeleng.


"Anak kita sayang" ucap Alex lagi membuat Cia mengangguk. Kemudian membawa tangan Alex menuju perutnya.


Alex mengerjitkan dahinya bingung "Dia masih disini, mas. Masih didalam perut" terang Cia membuat Alex tertegun. Kemudian tangannya tergerak untuk mengelusnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ini beneran, mereka ada disini?" tanya Alex lagi.


"Bukan mereka, mas. Dia hanya satu" koreksi Cia namun digelengkan oleh Alex.


"Tidak, sayang. Tadi aku bertemu dengan mereka. Satunya mirip banget denganku, tapi yang satunya masih blur sayang,,tidak jelas. Kamu yang mangku dia. Terus kalian bercanda ria, sayang" ucap Alex membuat Cia mengangguk saja.


"Mungkin kamu halusinasi, mas. Akibat pikiran banyak. Apalagi ini berita yang bahagia, mas" ucap Cia. "Kamu sudah baikan. Kalau sudah kita pulang sekarang. Pasti mereka sangat senang mendengar kabar ini" ucap Cia yang tentu saja diangguki oleh Alex.


Mereka pun pulang ke rumah untuk memberikan kabar bahagia ini kepada yang lain. Raut wajah kedua terlihat sangat berseri. Bahkan Alex tidak pernah lepas tangannya untuk mengelus perut Cia.


Ada kegiatan baru untuk Alex sekarang, yaitu mengusap perut istrinya. "Mas,,aku pengen makan jus buah rambutan, deh" ucap Cia yang tentu saja diangguki oleh Alex.


"Setelah sampai dari rumah kita langsung buat, ya" ucap Alex yang digelengkan oleh Cia.


"Aku pengen kamu yang metik buah rambutan nya, mas. Terus nanti kita buat jusnya di bawah pohonnya langsung pasti sejuk, mas." ucap Cia yang terlihat menggebu membayangkan buah rambutan yang banyak itu menggantung di pohonnya. "Tapi, mas. Kita metiknya dimana?. Disini kan nggak ada pohon rambutan" ucap Cia membuat Alex terkejut. Karena benar yang diucapkan istrinya bahwa tidak ada pohon rambutan disini.


"Kalau nggak ada pohon. Kita beli di mall aja gimana?" tanya Alex yang tentu saja digelengkan oleh Cia.


"Aku mau kamu metiknya di rumah Nenek Rain, mas. Disana sedang ada musim rambutan yang banyak." ucapnya membuat Alex berpikir.


"Nggak sayang itu tempatnya terlalu jauh. Masa iya kita pulang ke Indonesia hanya untuk metik rambutan. Lagian kamu masih hamil muda sangat di larang naik pesawat dulu" ucap Alex yang membuat Cia menghela nafas. "Gimana kalau di ganti dengan leci?. Kan sama saja, cuma bulu atau rambutnya aja yang berbeda" ucap Alex membuat Cia terkikik mendengar rambut nya yang berbeda.

__ADS_1


__ADS_2