Suamiku Ceo Tampan

Suamiku Ceo Tampan
END


__ADS_3

Sesampainya dari belanja. si kembar langsung masuk ke dalam rumah tanpa perduli Om nya di belakang menggelengkan kepala melihat tingkah mereka.


"Lho,,kok. Kalian pulang enggak bawa es krim. Katanya mau beli es krim?"ucap Rain yang baru saja menidurkan Raidan, dan ke dapur untuk mengambil jus.


"Om nya enggak asik!!" ucap Rehan membuat Rain kebingungan sedangkan Regan hanya mengikuti kemana saudaranya itu. Walau dia sendiri tidak tau kenapa saudara itu. Mereka berjalan menaiki tangga menuju kamar.


Rain yang melihat Aidan masuk ke rumah dengan tangan yang penuh. Membuat Rain dengan cepat menghampirinya. "Itu, dou bocah itu kenapa?" tanya Rain.


"Bentar, aku taruh ini dulu. Baru aku ceritakan pada kamu" ucapnya kemudian mengarah pada meja dapur. Sedangkan Rain yang sudah terlalu ingin tau tanpa di sadari mengikuti Aidan.


"Duh,," ucap Rain yang tanpa sengaja menabrak tubuh Aidan yang berhenti mendadak.


"Kamu kenapa ikutin aku, sih?" tanya Aidan dengan mengusap kening Rain.


"Ya,,aku kan kepo dengan si kembar. Biar nanti ada bahan untuk meledek mereka" jelasnya membuat Aidan tak habis pikir dengan Rain yang suka sekali berdebat dengan si kembar yang usianya sangat jauh.


"Terserah kamu, deh. Ini enggak benjol kan?" tanya Aidan digelengkan oleh Rain.


Akhirnya mereka duduk di sofa depan tv dengan membawa es krim yang tadi dibeli oleh Aidan dan si kembar. Aidan memakan es krim nya sembari menceritakan apa yang dilakukan oleh si kembar atau lebih tepatnya hanya di Rehan.


"Beneran?. Gila, sih tu anak ngikutin tantenya banget. Untungnya endak di culik. Coba aja kalau dicul- "


"Enggak boleh ngomong gitu. Ucapan adalah doa. Inget sekarang kalau mau bicara harus dipikirkan dulu. Nanti kamu akan mendidik Raidan. Jadi mulai sekarang biasakan" sela Aidan membuat Rain tersenyum kecut dan mengangguk kecil.


"Iya,,maaf" ucapnya.


"Hari ini kegiatan apa aja yang sudah di lakukan Raidan?" tanya Aidan mengalihkan pembicaraan.


Kalau mendengar nama Raidan jiwa Rain seketika bersinar cerah penuh semangat. Melihat itu membuat Aidan tersenyum. "Hari ini Raidan senang banget main sama si kembar. Bahkan si kembar cuma diam pandangan Raidan aja dia udah senyum senang banget. Aku sampai bingung, memangnya di wajah mereka ada apa?. Ada yang lucu?" cerita nya.


"Terus gimana??" tanya Aidan yang tertular semangat dari Rain.


"Udah selesai" ucapnya santai. Membuat Aidan gemas dengan tingkah Rain. Entah kapan dia menyukai wanita yang jauh lebih muda darinya. Bahkan karena wanita ini hidupnya terasa lebih berwarna setelah ditinggal menikah oleh Cia.


Memang tidak ada yang tau kapan jodoh akan datang dan bagaimana caranya. Seperti Aidan yang tidak menyangka ternyata jodohnya berada di depan matanya.


Wanita yang ceroboh dengan gaya tengil seperti laki-laki, yang tentunya pemberani itu. Tak pernah terpikirkan oleh Aidan akan menikah dengan sosok yang menurutnya sangat jauh dari kriterianya.

__ADS_1


Mungkin ini karmanya. Sehingga harus menikah dengan orang yang dulu sangat dia suka usilin. Benar bukan. Takdir kita adalah bagian dari karma kita. Dan Aidan membenarkan itu. Karena dia sendiri mengalami nya. Namun, Takdir itu adalah cara bahagia yang Tuhan berikan.


Setiap waktu akan berputar sesuai rencana Tuhan. Bahkan rencananya sangat indah bila kita mensyukuri apa yang kita miliki seperti saat ini. Seorang laki-laki sedang duduk termenung di depan rumah. Dengan segelas teh di tangannya. Menatap jauh kearah jalan yang sepi.


"Papa,,kenapa diluar ma?" tanya bocah yang sedang mengintip sang papa yang di maksudnya.


"Papa kamu udah tua makanya sekarang kerjaannya cuma menghayal saja" ucap perempuan yang berlalu dengan mengusap punggung nya yang pegal.


"Mama mau aku pijitin??" tanya bocah itu yang mengikuti kemana mamanya.


"Boleh, sayang. Punggung mama rasanya pegal banget. Apalagi adek kamu semakin berat" ucapnya duduk di sofa mengusap perutnya yang besar.


"Hahaha,,adek, jangan buat mama capek, yaa. Kasian mama" ucap bocah itu dengan mengusap perut sang mama dan mencium perutnya.


"Iya, kakak" ucap Mamanya dengan menirukan suara anak kecil. Dan mereka berdua tertawa bersama.


"Mama,,adeknya kapan keluar?" tanya nya dengan mata berbinar dan tangannya terus mengusap perut sang mama. Dan tentunya di respon baik oleh sang adik. Dengan cara menendangnya.


"Sebentar lagi, sayang. Kakak harus sabar yaa. Nanti kalau adeknya udah lahir. Kakak harus jadi kakak yang baik untuk adiknya yaa" Nasehatnya membuat bocah itu mengangguk senang.


"Kaki mama. Bengkak yaa, kayak gajah. Hehehe" ucapnya terkekeh karena melihat bagaimana kaki sang mama.


"Terima kasih papa" ucap mereka berdua bersamaan. Membuat senyum terbit di bibir laki-laki yang memberikan susu itu.


"Sini biar papa yang pijat punggung mama yang pegal" ucapnya kemudian duduk di samping sang istri. Sontak saja sang istri memunggungi suaminya. Agar lebih mudah untuk memijat.


"Raidan juga akan pijat kaki mama" ucap bocah yang sudah menghabiskan susunya dan memulai membantu memijat kaki sang mama.


Rain sangat senang karena memiliki suami dan anak yang sangat perhatian kepadanya. Apalagi sejak kehamilannya ini kedua laki-laki itu lebih posesif terhadapnya.


"Terima kasih, raja dan pangeran ku yang ganteng-ganteng" ucapnya membuat kedua laki-laki itu tersenyum dan langsung mendapatkan ciuman dari Aidan di punggung nya.


"Sama-sama ratu ku" ucap mereka bersamaan. Kemudian tertawa bahagia.


Iyaa,, sekarang kehidupan Aidan dan Rain semakin lengkap dengan akan hadirnya sosok anak di pernikahan mereka. Walau di awal pernikahan mereka harus menyesuaikan diri mereka. Apalagi langsung ada keberadaan Raidan.


Namun, semuanya terlewati dengan baik. Rain dan Aidan memutuskan untuk menunda momongan setelah menikah. Karena ingin fokus dengan Raidan. Sehingga ketika Raidan sudah berusaha 4 tahun baru lah,,mereka program anak. Namun, itu tidak langsung. Mereka harus menunggu lagi satu tahun untuk berhasil memiliki momongan.

__ADS_1


Dan sekarang saat usia Raidan menginjak 5 tahun. Rain hamil. Itu adalah sebuah anugerah yang diberikan Tuhan. Orangtua mereka tidak masalah akan keputusan atau apapun itu. Karena mereka percaya dengan anak-anaknya.


"I Love You, mama" ucap mereka berdua kemudian mencium pipi Rain masing-masing.


.


.


.


.


.


.


.


...Tamat...


.


.


.


.


.


.


.


.


...Hai semuanya maaf yaa. Jika jarang update. Jujur saja, author udah bingung mau dibawa kemana lagi cerita ini. Jadi untuk part ini sengaja di percepat biar rasanya plong gitu....

__ADS_1


...Jadi terima kasih untuk kalian yang udah mendukung cerita ini, walau cerita ini tidak menentu gimana alurnya....


...Author ucapkan terima kasih. Dan sampai jumpa lagi pada cerita-cerita selanjutnya....


__ADS_2