
Setelah mendapatkan serangan mendadak dari Alex. Bahkan selepas beberapa menit kejadian di ruangan tersebut, Cia memilih untuk pulang bersama Aidan. Karena dirinya merasa malu sekaligus kikuk jika terus berada disana satu ruangan dengannya.
“Kenapa pipi lo merah gitu?” Tanya Aidan ketika melihat Cia masuk kedalam mobil dengan wajah yang semerah tomat.
“Berisik, lo. Udah ayo cepatan jalan!” ucap Cia galak membuat Aidan bingung dan menjalankan mobilnya.
Sementara di lantai 25 seseorang melihat Cia yang keluar dari loby dan menaiki mobil Aidan merasa malu sekaligus bahagia. Senyum diwajahnya sangat terpatri jelas. Bahkan tangannya menyentuh bibirnya. “Ah,,, ternyata jatuh cinta itu sebahagia ini!” teriaknya kemudian kembali duduk ke kursinya ketika mobil yang membawa Cia sudah jauh.
“Pak?” Tanya sekretarisnya yang sudah sejak 15 menit menunggu disana. Menatap bosnya yang sedang dimabuk asmara.
Orang jatuh cinta dan bucin memang auranya beda batin sekretaris Alex yang melihat tingkah bosnya.
“Ada apa?” Tanya Alex dengan nada dinginnya. Membuat sang sekretaris tegang kemudian memberikan berkas kepada Alex. Dan sang sekretaris langsung mengangguk meninggalkan ruangan itu.
Disisi yang lain Cia dan Aidan sedang makan bersama di tongkrongan mereka. Karena anak-anak sedang ingin berkumpul bersama yang seangkatan dengan Cia dan Aidan.
Ting Ting Ting. Bunyi pesan dari ponsel Cia yang menampilkan nomor baru. Aidan yang melihatnya hanya mengerjitkan dahinya “Itu ada yang kirim pesan” ucap Aidan membuat Cia memeriksa ponselnya.
Cia mengerjitkan dahinya ketika melihat nomor tidak dikenalnya “Ini siapa lagi?”monolog Cia ketika membaca pesan yang dikirim oleh seseorang.
“Kamu sudah sampai dirumah?” ucap seseorang disebrang sambungan telepon.
“Siapa?” Tanya Cia yang membuat disebrang tertawa garing.
“Lupa dengan hal yang tadi?. Perlu saya ingatkan lagi dengan bagaimana sensasinya?” Tanya disebrang membuat Cia memunculkan semburat merah di pipinya.
“Kenapa?. Gue lagi sibuk” ucap Cia yang berusaha menahan ingatannya tentang kejadian bagaimana lembut bibirnya menyapu dengan menuntun. Terbayang akan hal itu membuat Cia dengan segera melupakannya dengan menghalau pikiran mesumnya.
“Kenapa pulangnya nggak mau diantar?” ucap disebrang membuat Cia berdehem seketika.
“Memangnya kenapa?” Tanya Cia membuat Alex mengerjitkan dahinya.
__ADS_1
“Jangan galak-galak gitu nanti jatuhnya malah ke bucin” ucap disebrang membuat Cia mendengus kemudian mematikan sambungan teleponnya. Dan bergabung dengan yang lainnya.
"Bucin?. Yang ada budek gue denger lo" gumam Cia.
“Wah… ternyata Nyonya Killer kita sedang ngebucin, gyus!” seru teman geng motor Cia membuatnya mendapatkan tinjuan dokan oleh Cia.
“Beneran lo akan menjadi nyonya Killer?”ucap yang lainnya memastikannya. Namun, Cia tidak menanggapi.
“Beritanya menjadi hot banget, lho. Nih,,, lihat?!” ucapnya lagi dengan membeberkan artikel yang sudah tersebar dari tadi. Cia tercengang membaca artikel yang berjudul berbagai hal. Bahkan bisnis keluarga mereka pun di sebutkan.
“Berita boong aja itu. Hoax yang mendapatkan bara api” bantah Cia membuat mereka tidak percaya dengan semudah itu.
“Nyonya Killer itu siapa, sih?” ucap Aidan yang baru datang dari toilet.
“Ini bukannya mbak Cia, ya?” Tanya mereka yang memberikan foto dar lambe turah.
“Iya memang?”ucap Aidan yang seolah biasa saja. “Eh,, berarti nyonya Killer itu lo!” ucap Aidan yang menyadari dan menunjuk Cia.
“Maksud lo?” Tanya Aidan “Lo ingin kabur dari acara lamaran?” tanyanya lagi yang dibalas anggukan semangat oleh Cia.
"Lo mau kan?. Kalau lo semua pada nggak mau gue akan dendain kalian dan gue nggak akan kasih traktiran ke lo pada semuanya" tegas Cia yang langsung dibales cengengesan oleh mereka semua.
Namun, mereka semua saling pandang dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Bahkan Cia yang melihatnya pun curiga dengan mereka.
"Lo nggak ada niatan jahatin gue kan?" tanya Cia membuat mereka tersenyum manis.
"Mbak Cia kan cantik beliin kami oli dong. Uang turnamen kita sudah habis nih" ucap mereka membuat Cia tergelak.
"Eh,,,Lo semua yaa. Gue bukan ATM lo,,jadi kalau mau beli oli cari sana" sewot Cia membuat mereka semua melongos.
"Baiklah,,," ucap mereka semua. Namun, Aidan dan lainnya tidak kehilangan akal untuk menelepon seseorang dalam hal ini.
__ADS_1
"Hallo,,,gue Aidan. Gua ingin lo kirim oli yang sangat mahal semobil box. Dalam waktu 5 menit barang itu harus sampai di alamat yang gue kirim. Ini adalah tantangan pertama gue buat lo. Ingat lima menit sesudah alamat nya gue kirim" ucap Aidan membuat mereka tercengang kemudian tersenyum senang.
"Eh,,,lo nelpon siapa?" tanya Cia yang membuat Aidan terkekeh. "Eh,,,Lo mau mem*eras siapa?" curiga Cia membuat Aidan menoyor nya.
"Ini adalah salah satu sirkuit yang harus dia lakuin sebagai calon ipar gue" Balas Aidan membuat Cia mengangguk.
"Terserah lo deh,," pasrah Cia. Namun, belum belum sempat Cia melangkah, suara klakson mobil terdengar membuat mereka semua keluar dari ruangan tersebut.
"Siapa sih?" tanya mereka ketika melihat sebuah mobil box datang.
"Dengan ibu Cia?" tanya sang kurir mobil memberikan tanda bukti pengiriman untuk ditandatangani.
"Ibu?. Saya pak?" tanya Cia mendekat. Dan diangguki oleh kurir "Ini pengiriman apa, ya pak?. Dan ini dari siapa?" tanya Cia lagi.
"Ini barang dari bapak Alex buat ibu Cia. Sesuai dengan pesanan mohon di tandatangani" ucapnya membuat Cia akhirnya menandatangani pengiriman itu. "Iya, pak nanti letakan saja didalam" ucap Cia kemudian memandang tajam kearah teman-teman nya yang tersenyum sangat senang.
Sedangkan Aidan sendiri tercengang dengan kegercepan dari Alex. Padahal dia belum mengirimkan alamat nya. "Ternyata bos besar memang mainnya beda" gumam Aidan dengan memandangi jejeran oli yang memiliki harga sangat tinggi.
"Lo mau menukar gue dengan oli ini?!" ucap Cia memandang mereka semua dengan berjengking pinggang. "Lo tau nggak bahwa Lo itu morotin dia. Astaga Aidan Lo itu udah tua mikir dengan cermat dong. Lo ngejual gue dengan oli?" ucap Cia yang frustasi dengan teman-teman nya dan juga Aidan yang dimarahi hanya menyengir saja.
"Kita bongkar semua"teriak mereka bersama sembari tangan menguboxing kardus-kardus yang ada. Raut wajah mereka berbinar bukan hanya oli saja melainkan perlengkapan motor yang lainnya pun ada
"Ini,, sih. Mehong banget."Ucap mereka ketika membuka kardus. "Ini kakak ipar kita kayanya anak motor juga deh,,," ucap salah satu anak yang langsung diangguki mereka semua.
"Bener banget apalagi barang ini semua tidak bisa didapatkan dengan mudah. Karena memerlukan beberapa bulan untuk pemesanannya. Gila,,,sih. Ini keren banget. Kalau gitu mendingan kita gadaian saja dia,, biar nanti bisa dapat yang lebih banyak lagi" ucap mereka sembari berbisik-bisik.
Sementara Cia sedang memarahi Aidan yang telah membuat kekacauan ini. "Lo tau kan kalau gue nggak suka dengan dia. Kenapa lo malah minta barang sama dia lagi?. Lo bikin gue dipersulit tau nggak!" ucap Cia yang mengomeli Aidan yang sedang duduk santai melirik ponselnya. "Lo dengar nggak, sih?" tanya Cia membuat Aidan mengangguk.
"Thanks broo. Sirkuit berikutnya akan gue kabari lagi" ucap Aidan disebrang telepon setelah Cia menghampiri mereka yang sedang menguboxing kardus dan marah-marah kepada mereka semua.
"Sans aja. Gimana barangnya Lo suka?. Ikut edisi terbatas. Jadi kamu nggak akan rugi punya kakak ipar yang kaya dan rupawan ini" balas disebrang dengan percaya dirinya membuat Aidan memasang wajah ingin muntah dan jijiknya.
__ADS_1
"Tidak semudah itu,,,bro. Ini baru awalannya" ucap Aidan membuat mereka tertawa mendengar ucapan Aidan yang keras.