
Tanpa terasa waktu bergulir dengan cepat. Tidak akan ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan nantinya. Jalani adalah kata yang pantas untuk orang yang sedang pantas semangat.
Sekarang di sebuah rumah sangat ribut dengan suara tangisan para bocah dan juga Omelan dari orangtuanya. Rumah dengan model minimalis namun terlihat sangat berkelas.
"Ini punya aku!" teriak kencang anak yang ada didalam rumah itu.
"Nggak ini itu punya ku!!!" teriak salah satunya.
Kemudian terdengar suara frustasi yang di yakini ibu dari anak itu. Mungkin kelakuan mereka adalah cerminan dari kedua orang tuannya.
Kemudian terdengar suara tangis kencang dari salah satu mereka. Rumah yang penuh teriakan dan ke frustasi an adalah rumah milik Alex dan Cia.
Waktu begitu cepat berlalu. Hingga sekarang tepat sudah 5 tahun berlalu dari masa yang cukup rumit bagi mereka. Namun, mereka perlahan sabar dan ikhlas akan apa yang terjadi pada saat itu. Karena mereka pun tidak bisa menghalangi hal tersebut.
"Kakek putih,,,ucul jaat ama Ucil, di pukul!" adu salah satu anak yang tubuhnya terlihat berisi dan tentunya sangat tampan dengan baju kaos putih yang dikenakannya.
"No,,,you so bed" ucapnya membuat laki-laki seusianya atau lebih tepatnya adalah kakaknya kini sudah menangis karena mendengar perkataan adiknya itu.
"Aduh,,,kakek lama-lama sama kalian bisa gi*la" nyerah karena frustasi dengan kelakuan mereka berdua bocah nakal itu. "Cia,,papa pulang aja, deh. Lama-lama papa bisa kehilangan akal dan kesabaran menghadapi anak-anak kamu ini!!" teriak sang papa membuat Cia terkekeh pelan.
Memang seperti ini lah, sekarang rutinitas Cia, yaitu menjaga dan mengawasi bocah-bocah ajaib itu yang tidak pernah bisa akur tentang apapun itu. Selalu saja ada yang mereka perebutan walau mereka sudah memiliki salah satunya.
"Kakek putih kemana??" tanya bocah yang tadi menangis dan sekarang sudah tidak menangis lagi. Berbeda dengan si pelaku yang malah dengan antengnya masih bermain.
"Kakek mau pulang dulu, ya. Kapan-kapan lagi kakek akan main kesini kalau kalian sudah akur satu sama lain" ucap papa Aditama mencium pipi cucunya itu yang tersenyum senang.
"Uang??" tanya nya dengan polos bahkan tangannya yang mungil itu menengadah dengan sopan.
Melihat itu membuat Papa Aditama terkikik geli "Kakek sedang tidak bawa uang, sayang. Kan kakek udah beliin kalian mainan yang baru" ucap sang kakek menasehati cucunya.
__ADS_1
"Bye,,kakek putih!!" ucap si Ucul dengan wajah santainya.
"Regan,nggak boleh begitu, sayang. Ayo, minta maaf kakek" ucap Cia membuat bocah yang berada didalam gendongan sang kakek mengangguk dan mengikuti perintah sang mama.
"Rehan pamitan yang bener." ucap Cia yang membuat bocah itu mengikuti perintah Mama nya.
Setelah kepulangan papanya. Sekarang Cia sedang mengawasi anak-anak bermain agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti perang dunia mungkin. Cia ikut bermain dengan anak-anak yang sedang merakit sesuatu dari Lego.
"Mama,,papa kapan pulangnya?" Si Ucul Rehan dengan gaya sok cool nya.
Cia heran dengan anak-anak itu. Mengapa anak-anak tidak pernah cadel padahal anak-anak di usianya tidak bisa berkata dengan lugas dan tepat. Tapi, ini berbeda. Mereka berbicara sudah seperti anak sekolah dasar sangat fasih. Apa ini karena di dalam kandungan dia diajak berbicara terus?.
Namun, berbagai pertanyaan itu segera Cia tepis. Tumbuh kembang anak berbeda-beda batin Cia menasehati dirinya yang bingung.
"Nanti" ucap Cia yang diangguki oleh mereka.
Hari sudah semakin larut dan kedua bocah itu sudah mandi dan wangi. Sekarang mereka berdua sedang memandang sang mama memasak. Mata mereka tidak lepas dari setiap gerakan yang Cia lakukan. Bahkan seseorang duduk di samping mereka pun tidak diperdulikan.
Karena tidak diperdulikan oleh anaknya. Membuat Alex selaku papa dari anak kembar itu. Menghampiri sang istri dan memeluk nya. "Lho,,udah pulang, mas?" tanya Cia yang kaget mendapatkan pelukan dari sang suami.
"No,,,papa!!!" teriak kedua bocah itu membuat Cia dan Alex memandang mereka. Kemudian tertawa karena melihat wajah marah dari Regan dan Rehan.
Kedua bocil itu selalu menganggu acara mesra papa dan mamanya "Anak kamu itu, kenapa sih. Setiap aku peluk kamu pasti mereka teriak dan marah-marah" adu Alex membuat Cia terkekeh.
"Nggak juga kok, mas. Ayo,,samperin mereka, sekalian bawa makanannya. Nanti pada ngamuk mereka" ucap Cia tertawa yang diikuti oleh Alex.
Mereka saat ini sudah duduk di meja makan untuk makan malam. "Ucul nggak suka papa peluk-peluk mama" ucap si Rehan dengan bibir monyong dan tangan bersidekap dada. Sedangkan si Ucil, eh,,maksudnya Regan. Menatap binar makan didepannya itu.
Alex yang melihat itu terkekeh. Begini lah kehidupan mereka sekarang. Dipenuhi oleh suka dan duka menghadapi tingkah si kembar. "Tapi mama kan istri nya papa. Jadi terserah papa, dong. Mau peluk mama" ucap Alex yang kembali mendapatkan tatapan tajam dari mata bulat anak itu.
__ADS_1
"No,,mama hanya milik kami" ucapnya membuat Cia geleng-geleng sembari menyiapkan makanan untuk mereka.
"Papa,,temen Ucil. Punya adek cantik. Tapi kenapa Ucil nggak punya adek cantik, pa, ma" ucap Ucil tiba-tiba disela perdebatan sengit antara saudaranya dan sang papa.
Cia dan Alex yang mendengar itu pun merasa kasihan dan juga ingin tertawa. Bagaimana tidak raut wajah nya itu bikin tidak bisa menahan tawa. Berbeda dengan Ucul yang sangat galak itu.
"Ucul tidak pengen punya adek cewek. Celewet, kayak papa" ucapnya yang kembali menyangkut pautkan berbagai hal jelek kepada si Alex, papanya.
"Tapi, Ucil mau punya adik. Ucil mau jadi kakak. Ucil pengen punya banyak adik. Biar nanti uang jajannya di berikan ke Ucil" terbongkar sudah maksiat si Ucil. Membuat Alex dan Cia melongo mendengar nya.
"Siapa yang ngajarin begitu?!" ucap Cia tegas membuat si Ucil menunduk takut.
"Sama Om Gio" ucapnya lirih membuat Alex tersenyum. Mau gimana lagi. Mau memarahi juga percuma.
Cia hanya menghela nafas ketika mendengar nya. Karena bocah yang bernama Gio itu sungguh membuatnya geram. Entah bagaimana anak-anak nya dengan mudah tercemar oleh om nya itu.
"Udah-udah. Sekarang kita makan aja dulu. Masalah itu nanti kita bahas" ucap sang Alex membuat mereka berdua mengangguk.
"Mas,,si kembar kok jadi begini ya?. Dulu perasaan dia anteng aja nggak banyak tingkah. Tapi sekarang malah banyak ulah. Tadi papa kesini. Eh,,pas pulang malah di mintai uang. Anak kamu aneh banget tau nggak. Pusing kepala aku dengan seribu lima tingkahnya" keluh Cia. Iya sekarang mereka sudah berada di dalam kamar. Setelah memberikan nasehat kepada kedua anaknya itu. Dan mendapatkan hukuman tidur di kamarnya sendiri.
"Anak kamu juga, sayang" ucap Alex yang gemas melihat tingkah sang istri. "Yang,,umur si kembar sudah berapa tahun, sih?" tanya Alex yang mengusap rambut sang istri.
"Kamu lupa, mas?." tanya Cia sewot karena Alex melupakan usia anak mereka.
"Bukan begitu. Kayaknya kita udah bisa. Buatkan adik untuk si kembar. Kamu tidak liat tadi wajah Regan yang pengen punya adik. Banyak lagi. Sekarang kita buatkan adiknya, yuk. Biar cepat jadi sayang" ucap Alex membuat Cia mendengus.
"Nggak. Mereka masih kecil-kecil. Kasian nanti tidak terurus gara-gara punya adik" ucap Cia. Namun, Alex tidak menerima penolak.
"Tapi,,aku tidak menerima penolakan dari mu, sayang " ucap ya kemudian langsung mengukung Cia di bawahnya dan menciumnya. Membuat Cia memberontak. Namun, itu membuat Alex senang. Akan penolakan yang Cia lakukan. Membuatnya semakin tertantang.
__ADS_1
"Ah,,,mas" lenguh Cia ketika dengan kejahilan Alex menggoda sesuatu di bawah sana membuat Cia menjerit kenikmatan. Hingga mereka berdua bersama-sama mencapai sesuatu untuk berkembang biak menghasilkan adik untuk si kembar.