
Saat ini di ruang kerja Alex sangat dingin. Dimana sedang terjadi rapat paripurna. Alex merasa geram dengan orang-orang didepannya itu. "Kalian bisa bekerja, tidak!. Pokoknya sebelum pernikahan saya di adakan. Saya ingin kalian menemukan pelaku nya!" tegas Alex membuat orang didepannya hanya mampu menunduk dan mengangguk kaku.
"Pak?." ucap salah satu dari mereka dengan nada yang takut. Alex hanya berdehem menanggapi nya.
"Pak, nantinya di pernikahan bapak banyak tamu hadirin yang datang. Sebaiknya kita gunakan itu untuk memancing tikusnya, pak. Karena sudah dipastikan di keramaian mereka akan muncul." ucapnya seolah memberikan pencerahan di raut wajah temannya yang lainnya.
"Benar juga. Untuk itu, siapkan pengawal dan aparat keamanan. Jangan sampai lengah. Karena disana juga banyak keluarga saya. Dan saya nggak ingin mereka terluka" ucap Alex yang diangguki oleh mereka.
Setelah mendapat secercah harapan. Kini meeting paripurna itu sudah selesai. Dan Alex sedang merasa gelisah akibat calon istri ya itu tidak mengangkat panggilan nya.
"Mami, Cia ada nelpon mami, nggak?" tanya Alex ketika melihat sang mami sedang menghias rumah mereka.
"Enggak. Kenapa?. Kamu belum juga jelasin pada dia?." ucapnya membuat Alex hanya menampilkan giginya. "Rasain sekarang!. Mami sudah sering bilang, kalau komunikasi itu penting. Ngeyel jadi orang. Mami nggak mau ikut campur, deh" ucap sang mami membuat Alex merasa sedih.
"Yah, mami." ucap Alex sembari memeluk sang mami manja.
"Udah mau nikah, juga masih aja manja!" celetuk seseorang yang datang dari belakang mereka.
"Biarin. Emangnya lo, dasar kanebo. Kalau iri bilang, boss!" sewot Alex.
"Idih,,udah ada bini. Ngapain juga iri" ucapnya berlalu begitu aja.
"Iye,, yang udah nikah" cibir Alex membuat sang mami yang melihat tingkah mereka berdua hanya menggeleng saja.
"Sudah, ah. Mami mau kesana, dulu. Ngecek yang disana" ucap sang mami yang melepaskan diri dari pelukan Alex.
Setelah kepergian mami, Alex ikut duduk disamping kakaknya itu "Kak, ada yang berniat buat hancurin, aku" gumam Alex pelan supaya tidak terdengar oleh yang lain.
"Nanti kita bahas dengan papi, sekalian juga keluarga Aditama. Kayaknya ini sudah ke tahap serius" ucap sang kakak yang sedang meminum jus nya.
"Baiklah. Aku mau ke kamar bulan, dulu" ucap Alex bangkit.
__ADS_1
Namun, pergerakan nya tertahan oleh sang kakak "Jangan, diganggu dulu. Dia baru tidur jam 4 pagi." ucap sang kakak membuat Alex berbalik.
"Kok bisa?" tanya Alex heran karena tidak biasanya dia begitu.
"Biasa iri dengan adiknya, yang katanya bisa setiap hari tidur dengan papa dan mamanya" curhat sang kakak. Sontak saja membuat Alex tertawa.
"Lha,,kan adiknya tidur dikamar sebelah. Kenapa bisa iri?" tanya Alex yang masih tertawa.
Mendengar tawaan adiknya membuatnya mendengus. "Lo tau kan. Semenjak ada tuh, bocil. Gue nggak bisa tidur nyenyak bareng istri gue. Setiap gue mau meluk pasti dia merengek. Padahal, matanya masih merem." ucapnya yang terlihat frustasi dengan tingkah anak keduanya.
Alex tertawa puas "Bagus, dong. Jadi, itu tandanya Lo nggak dikasih dulu, buatin dia adik" ucap Alex membuat kakaknya berdecak.
"Ya, kali gue harus nunggu dia sampai gede" ucapnya membuat Alex tertawa.
Memang sangat bahagia ketika melihat orang lain menderita. Kayak ada bumbu manis ya gitu. Tapi dosa juga. "Nanti coba, deh. Gue kasih pengertian kepada, tu balita. Kan gue om nya yang disayang" ucap bangga Alex. Yang dibalas anggukan oleh kakak nya.
"Thanks, bro. Nanti gue bantu masalah Lo ini" ucapnya.
Malam ini kedua keluarga sudah berada disebuah tempat yang cukup terbilang sebuah markas dengan nuansa bar, yang memiliki ruangan untuk mereka melakukan sesuatu. "Apakah pelaku sudah tertangkap?" ucap Rey yang sudah tidak sabar.
"Sudah, hanya seorang pelayan biasa di cafe itu" ucap Alex santai.
"Dan kamu melepaskan nya saja?" tanya lagi sang Daddy. Namun, di gelengkan oleh Alex.
"Tenang, saja dad. Tikus akan mencari lubangnya sendiri. Setelah itu baru kita tangkap." ucap Alex yang diangguki oleh mereka. "Sekarang, apakah papi atau Daddy, punya musuh?" tanya Alex lagi.
"Setiap perusahaan memiliki musuh tersendiri. Tapi, setau Daddy musuh Daddy hanyalah seseorang yang iri ataupun kesal karena tender di menangkan oleh Daddy." ucapnya.
"Kalau papi, kamu pasti sudah tau" ucap sang papi yang diangguki oleh Alex.
"Atau jangan-jangan ini adalah ulah, Faro. Teman Alex waktu itu. Dan kata Chelsy, dia iri dengan Alex" ucap Alex membuat mereka mengangguk.
__ADS_1
"Kemungkinan, Iya. Apakah kamu sudah mencari tau tentangnya?" ucap sang kakak, yang di gelengkan oleh Alex.
"Kenapa?"
"Orangku tidak ada yang bisa menemukan dia, kak. Tapi, kemungkinan dia akan muncul di acara pernikahan. Mengingat beritanya sudah tersebar luas." ucap Alex.
"Kalau begitu, untuk mengantisipasi kegagalan dalam acara ini. Sebaiknya kita majukan saja pernikahan ini. Anggap saja pas acaranya itu adalah resepsi kalian. Tapi jangan pernah memunculkan gelagat yang mencurigakan " ucap sang papi.
"Tapi, bagaimana dengan, Cia, Pi, dad?. Alex rasa dia tidak akan setuju,"
"Masalah itu serahkan pada, daddy. Biar Daddy yang memberitahunya. Kamu urus saja persiapan di acara itu. Jangan biarkan ada celah keluar sedikit pun. Paham. Apalagi keluarga kita ada disana" ucap sang Daddy.
"Baiklah. Nanti anak-anak kecil diamankan saja, dulu" ucap kakaknya Alex yang khawatir dengan anak-anak nya.
"Baiklah, Besok mungkin akan menjadi hari panjang untuk kita. Jadi persiapkan segalanya. Besok kita adakan pernikahannya disini saja. Agar tidak menimbulkan kecurigaan terhadap musuh" ucap sang papi yang diangguki oleh mereka.
"Nanti untuk keluarga yang lainnya kita suruh menyaksikan lewat online saja. Untuk antisipasi" ucap sang Daddy.
"Daddy, suruh Cia angkat teleponnya, ya?" ucap Alex memelas karena sang calon istri belum juga membuka blokiran nya.
"Itu bukan urusan, Daddy. Siapa suruh kamu pulang nggak bilang-bilang. Biarin aja. Anggap saja kita bikin kejutan untuknya" ucap sang Daddy membuat Alex menatap nya penuh binar.
"Benar juga, dad. Mohon kerjasama nya, dad" ucap Alex dengan memeluk tubuh sang Daddy.
"Gimana, senang kan Lo. Nikahnya dipercepat?" ucap sang kakak. Setelah mereka hanya berdua saja di dalam ruang itu.
"Senang banget malah. Aduh, jadi nggak sabar malam pertama. Kak kalau malam pertama biasa nya ngapain aja??" tanya Alex membuat sang kakak mendengus.
"Ya,,tidur lah. Kan sudah malam. Ya, kita tidur" ucap kakaknya.
"Ish,,waktu kakak ngajak kakak ipar bikin bayi itu, gimana?. Apa langsung gas aja?" tanya Alex membuat sang kakak memasukan kue kering kedalam mulut sang adik kemudian meninggalkan nya dengan tawa.
__ADS_1