
Selesai bergibah ria dan mendiskusikan tentang gaun pernikahan mereka. Tanpa mereka sadari hari sudah senja. Bahkan Cia pun sudah masak makan malam bersama sang calon mertua.
Ternyata enak juga kalau punya mertua. Bisa diajak colab dan pengertian banget batin Cia mengatur perlengkapan bahan kain yang akan mereka gunakan untuk gaun.
"Kamu sudah telepon, Alex?. Dia pulangnya kapan?. Jangan-jangan anak itu...." ucapannya terpotong.
"Jangan itu apa, mi?. Alex sudah pulang, lho..bahkan dari tadi melihat kalian ngobrolin Alex yang jelek-jelek" ucap Alex membuat sang mami bahkan Cia pun terkejut.
"Hehehe,,,habisnya kelakuan kamu dulu itu lucu. Mami nggak bisa ngilanginnya" ucap sang mami dengan terkekeh. Membuat Alex mendengus.
"Kamu mau pulang sekarang?" tanya sang mami kepada Cia yang mengangguk. "Makan malam dulu, baru pulang, ya?" sanggah sang mami membuat Alex menatap Cia.
"Kamu mau?" tanya Alex membuat Cia mengangguk.
Merek akhirnya memilih makan malam dulu sebelum pulang. Bahkan sang papi pun juga sudah pulang "Eh,,,ada mantu papi" godanya yang melihat Cia duduk di meja makan bersama sang istri.
"Iya, pi. Baru pulang?" tanya Cia dengan berdiri dan menyalimi sang papi yang diangguki.
"Alex, dimana?" tanya sang papi.
"Lagi mandi, Pi. Papi mau makan sekarang atau mau mandi juga?" ucap sang istri membuat papi memilih duduk di meja makan. Menunggu sang anak turun.
"Mi,,kue nya tadi enak banget,,lembut dan manisnya pas. Besok papi boleh minta tolong buatin lagi nggak. Biar nanti bisa papi bagi kepada yang lain juga" ucap nya membuat istrinya tertawa.
"Itu yang bikin calon menantu kita, Pi. Mami hanya membantu menuangkannya di loyang, aja" ucap sang mami yang masih tertawa. Namun, tidak dengan suaminya yang menatap Cia penuh terkejut.
"Beneran kamu yang buat?. Papi kira kamu itu anaknya yang nggak pernah masuk dapur" ucapnya tertawa membuat Cia hanya bisa tertawa.
Memang, kehidupan Cia yang sangat tercukupi ini lah. Membuat orang yang tau akan menyangka Cia adalah anak yang manja. Namun, kembali lagi. Didikan orang tua adalah hal yang memicu setiap individu. Bahkan ada orang yang memiliki kehidupan ekonomi bawah, justru tidak pernah membiarkan anaknya masuk ke dapur dengan berbagai alasan.
__ADS_1
Hal ini lah yang perlu di tegaskan kepada para orang tua. Semampu apapun kehidupan jangan pernah kau tidak ajarkan anak untuk mengenal yang namanya dapur. Karena walaupun laki-laki dan perempuan juga memiliki peran penting dalam dapur. Contohnya dalam memasang tabung gas. Laki-laki bisa membantunya. Walau perempuan juga bisa. Tapi dengan itu akan membuat setiap pasangan merasa dibutuhkan. Dan akan menambah hal-hal yang romantis, tanpa disadari.
"Mommy mengajarkan anak-anak untuk terbiasa di dapur. Walau kita sendiri bisa menyewa ART. Tapi kata mommy masakan sendiri jauh lebih sehat karena kita yang menakar setiap masakannya" ucap Cia membuat mereka berdua mengangguk.
"Benar juga. Apalagi di pernikahan yang baru. Maunya berduaan mulu" ucap sang mami.
"Papi sudah pulang?" tanya Alex yang duduk di samping Cia.
"Sudah dari tadi. Kamu mandinya lama banget, sih. Kami sudah sangat lapar" protes sang papi membuat Alex terkekeh.
"Baiklah mari kita makan. Nanti keburu malam juga kalau nganterin, Cia" ucap Alex membuat mereka akhirnya makan bersama dengan hikmat.
Setelah selesai makan malam. Alex mengantarkan Cia untuk pulang. Suasana di dalam mobil dipenuhi oleh suara radio untuk menghidupkan suasana.
"Gimana pilih kainnya?. Ada yang kamu suka?" tanya Alex yang memecahkan keheningan.
"Banyak, sampai bingung. Tapi untuk sama mami dan bisa tau kelebihan dan kekurangan nya. Tapi untuk desainnya gue suka. Tapi nggak tau kalau di Lo" ucap Cia membuat Alex mengerjitkan dahinya.
"Menepi dulu. Nanti lo kaget lihat desainnya" ucap Cia yang langsung membuat Alex menepikan mobilnya.
Cia merogoh ponsel di tasnya dan membuka galerinya kemudian memperlihatkan desainnya pada Alex. Melihat itu membuat Alex terkejut "Yakin pakai gaun itu?. Belahan dadanya rendah banget. Terus ini belahan di pahanya juga terlalu tinggi" ucap Alex yang mengomentari foto yang pertama.
"Bukan yang itu" balas Cia kemudian mengarahkan layar ponselnya dan terpampang lah sebuah desain gaun yang tidak terlalu terbuka. Namun, sangat elegan dan cantik.
Alex dengan teliti menatap gaun tersebut "Saya suka yang ini. Tidak terbuka dan sangat cantik" ucapnya dengan menatap kearah Cia.
Mendapatkan tatapan dari Alex membuat Cia malu. "Apaan sih,,," ucap Cia dengan meraup wajah Alex. Membuatnya terkekeh.
"Kamu cantik kalau lagi malu-malu" godaannya membuat Cia mendengus.
__ADS_1
"Buruan jalan. Nanti keburu malam" terang Cia yang justru membuat Alex ingin terus menggodanya dengan menatap lekat mata Cia. Membuat si empu memalingkan wajahnya.
"Kalau nggak jalan juga, gue keluar, nih?!" gerak Cia membuat Alex terkekeh dan melajukan mobilnya setelah menjawil dagu Cia.
"Ish,,,apaan sih" tepis Cia.
"Kamu mau sovenir nya apa?" tanya Alex membuat Cia menatapnya "Jangan tatap saya begitu. Nanti kita nabrak" ucap Alex yang melirik Cia menatap penuh kebingungan. Dan membuatnya berdecih. "Pakai emas batangan aja, gimana?" tanya Alex sontak membuat Cia membulat kan matanya.
"Eh,,asal lo tau aja, ya?. Kalau kita kasih sovenirnya begitu terus nanti mereka ngado kita dengan apa. Ginjal?" sewot Cia membuat Alex terkikik geli.
"Boleh,,kan bisa tuh,,kita masak ginjal setiap hari atau nggak nanti kita minta jantung aja" ucap Alex dengan penuh semangat.
"Dasar psikopat" desus Cia.
"Tapi aku baik lhoo, ngasih mereka emas dan juga sepetak rumah di san diego hills buat mereka nantinya tinggal" balas Alex.
"Iya pemakaman kan?" ucap Cia membuat Alex mengangguk.
"Hahaha,,,biaya pemakaman disana adalah jutaan bahkan milyaran. Setimpal lhaaaa" ucap Alex yang membuat Cia berngedik ngeri.
"Lo lagi sehat kan?. Jangan-jangan lo mau ngebunuh gue juga kan?" tanya Cia membuat Alex kembali menepikan mobilnya dan justru membuat Cia memegang erat sabuk pengaman nya.
Alex melepaskan sabuk pengaman nya dan hal itu semakin membuat Cia waspada dan khawatir. "Lo mau ngapain?" ucap Cia yang suaranya sedikit gemetar.
"Mau ngebunuh lo!" ucap Alex dengan mengukung tubuh Cia. Kemudian mendekatkan tangannya di leher Cia. Membuatnya memejamkan mata karena ketakutan. "Jangan merem sayang. Nanti kamu nggak akan lihat dunia lagi" ucap Alex dengan suara yang berat penuh penekanan.
Alex tersenyum devil melihat wajah Cia yang ketakutan. "Saatnya kita bermain, sayang" ucap Alex di telinga Cia dengan tangan meraba tengkuk Cia penuh sensual.
Cia hanya bisa memejamkan matanya. Ini nggak beneran kan gue dibunuh?. Mommy, Daddy maafin Cia yang banyak punya dosa kepada kalian. Tapi Cia juga kesal dengan kalian karena memilihkan laki-laki yang akan merenggut nyawa anak kalian batin Cia. Namun, setelah beberapa menit menunggu, dirinya merasa aneh.
__ADS_1
Ini gue kok nggak melayang?. Mbah penyabut nyawa kemana?. Surga dimana?. Kenapa masih gelap?. Apakah surga itu gelap?. Tapi katanya surga itu indah. Yaa Tuhan apakah dosa ku begitu banyak sampai surgaku menghitam?. Mommy maafin Cia yang sudah mengambil dan mematahkan lipstik mahal mommy untuk ngelukis. Daddy maafin Cia yang telah merobek semua kolor mu akibat terlalu kesal. Untuk papa maafin Cia karena sering kabur-kaburan. Dan si kembar maafin kakakmu ini karena telah membuat bibir kalian dower akibat kesengat lebah Batin Cia yang mengingat-ingat dosanya kepada semua orang.