
"Mama!!!, bangun!!" begitulah teriakan si kembar dengan mengguncang tubuh sang mama yang masih asik terlelap. "Ish,,,mama bangun, kami lapar!!" gerutu si kembar karena sang mama bukannya terbangun tapi justru mengeratkan selimut yang dia pakai.
Merasa jengah. Akhirnya si kembar keluar dari kamar sang mama. Dan menuju ke meja makan dengan wajah yang sudah ditekuk "Gimana??. Mama mau bangun?" tanya Alex yang mendapatkan gelengan dari si kembar. "Yaudah, biar papa aja yang masak. Tapi kanggoin, ya telur dadar. Soalnya papa nggak mau kena minyak panas" usul Alex yang diangguki oleh si kembar.
Sejak kemarin ART di rumah mereka sedang pulang kampus karena ada acara. Sehingga mereka makan dengan masakan Cia. Tapi justru pagi ini sang pemeran utama sedang bermalas-malasan dengan tetap tidur walau mentari sudah terbit.
Alex membuatkan telur dadar untuk si kembar. Untungnya nasi sudah siap. Mungkin Cia sudah memasaknya kemudian kembali tidur. "Kalian makan, dulu. Papa mau liat mama." ucap Alex yang diangguki oleh si kembar.
Sesampainya di kamar. Alex melihat Cia masih betah di dalam selimut. Alex menciumi wajah Cia yang terlihat. Membuatnya sedikit terusik "Ayo, bangun. Kasian si kembar sudah sangat kesal dengan kamu" ucap Alex. Namun, di hiraukan oleh Cia. "Kamu capek banget, ya??. Baiklah, kamu istirahat aja. Biar aku aja nanti yang ngurus si kembar" ucap Alex yang kembali menciumi wajah Cia.
Iya,,dia lah yang membuat Cia tidak memiliki tenaga untuk bangun. Bahkan matanya saja enggan untuk terbuka. Karena tadi malam, Alex meminta jatah, dan dia sangat semangat dan bahkan berkali-kali, membuat seluruh tubuh Cia terasa habis mengangkat beban sangat sangat berat. Pegal linu.
"Ish,," desis Cia ketika terusik dengan ciuman yang Alex berikan. Sedangkan Alex terkekeh melihat tingkah istrinya. Bahkan kepala melayang jauh pada kegiatan yang mereka lakukan tadi malam.
"Papa??. Mama nggak sakit kan?" tanya Ucil yang khawatir dengan kondisi sang mama yang masih tertidur di atas ranjang.
"Iya papa. Mama nggak sakit kan??" ucap Ucul kembali kemudian menaiki ranjang dan memeriksa kondisi tubuh mamanya. Kemudian menciumnya. "Cepet sembuh mama" ucapnya membuat Si Ucil juga ikut.
Alex yang melihat itu merasa terharu. Melihat bagaimana anak-anak mereka sangat menyayangi orang tuannya. "Ayo, jangan ganggu, mama. Biarkan mama istirahat dulu. Kalian mau ikut papa ke kantor?" tanya Alex yang mendapatkan gelengan dari si kembar.
"Kami mau jaga mama dirumah" putus Ucul membuat Alex bangga dengan anaknya yang memiliki rasa kasih sayang yang tinggi.
__ADS_1
"Yaudah,,nanti papa telpon aunty Rain. Buat bantuin kalian jaga mama, ya" ucapnya yang diangguki oleh si kembar. "Papa berangkat dulu, ya. Hati-hati dirumah jangan menyalakan api, ya. Disini saja. Jaga mama" nasehat sang papa kemudian mencium pipi si kembar. Kemudian beralih ke Cia "Mas, berangkat kerja, dulu, ya" ucapnya mencium pelipis Cia.
Setelah kepergian Alex. Si kembar dengan antengnya bermain di dalam kamarnya. Sedangkan Cia terlihat menggeliat kan tubuhnya. "Huh, pegalnya" ucapnya ketika merasakan badannya seperti remuk. "Jam berapa sekarang" gumam Cia yang melihat sekeliling. "Ah,, ternyata sudah jam 9" ucap lagi kemudian masuk kedalam kamar mandi.
"Ini, Alex buas banget, sih. Mana banyak banget lagi. Awas aja, nanti, ya" kesal Cia ketika melihat di cermin, leher dan seluruh badannya penuh dengan tanda bercinta mereka semalam.
Setelah berpakaian lengkap dan sudah terlihat segar. Cia menghampiri si kembar di kamarnya. Karena ingin mengetahui dimana anaknya berada "Mama sudah sehat?" itu yang pertama muncul dari si kembar ketika melihat Cia yang membuka kamar mereka.
"Lho,,kalian nggak ikut papa, ke kantor?" tanya Cia mendekat kepada si kembar dan mencium pipi mereka. "Mama baik-baik saja." ucap Cia yang mengerti raut wajah anaknya itu.
"Iya kami mau jaga mama" ucap Ucil kemudian memeluk Cia yang diikuti oleh si kakak.
"Kalian sudah makan?" tanya Cia yang diangguki oleh mereka.
"Tapi masih bisa dimakan" imbuh si Ucil.
Cia gemas melihat tingkah anaknya "Maafin mama, ya. Nggak masak buat kalian. Badan mama sakit dan pegal serta ngantuk juga. Jadi, bangunnya kesiangan, deh" ucap Cia yang diangguki oleh si kembar. "Jadi kalian mau cemilan apa?. Biar mama yang masak" ucapnya membuat si kembar menggeleng kepalanya.
Melihat itu membuat Cia mendengus kemudian berbaring di samping si kembar yang sedang bermain. Namun, suara bel rumah membuat Cia harus mengurungkan niatnya untuk berbaring dengan santai. "Mama mau buka pintu dulu, ya" pamit nya yang diangguki di kembar.
Sesampainya di depan pintu dengan segera Cia membuka pintu. Dan terlihatlah, kakaknya yakni Utaya sedang berkunjung dengan suami serta anaknya. Perut yang membuncit itu terlihat sangat senang dan gembira ketika melihat Cia yang membukakan pintu "Aduh,,kangen banget" ucapnya berhamburan memeluk Cia dengan erat.
__ADS_1
Hal itu membuat suaminya khawatir dengan perut istrinya yang tertekan "Sayang peluknya jangan erat-erat Nanti dia kejepit" protes suaminya membuat Utaya menyengir melepaskan pelukannya.
"Maaf, mas. Habisnya kangen berat dengan Cia" ucapnya membuat Cia terkekeh.
"Sudah-sudah ayo masuk." ucap Cia yang mempersilahkan mereka masuk kedalam rumah. "Dafa, ke kamarnya si kembar aja. Mereka ada disana sedang bermain" ucap Cia yang diangguki oleh bocah pendiam itu.
Iya, anak kak Utaya dan Riski itu adalah anak yang pendiam dan pemalu. Berbeda jauh dengan si kembar yang selalu membuat orangtuanya kewalahan dengan tingkahnya.
"Gimana, dia sehat kan?" ucap Cia yang mengelus perut Cia, diangguki oleh Utaya.
"Gimana, apakah si kembar sudah baikan?" tanya Utaya yang digelengkan oleh Cia.
"Masih sama aja. Bahkan lebih parah, kak. Kalau anaknya seperti Dafa, yang pendiam. Maka aku pasti akan banyak memberikan dia adik. Tapi ini mengurus dia aja udah kayak ngurus lima anak kecil yang kak" adu Utaya yang mendapat kekehan.
"Nggak jauh berbeda lah, dengan tingkah kamu itu" ucap Kak Riski membuat Cia menatapnya tajam. "Benar kan. Kamu aja tidak kenal dengan mommy sudah asal melabeli dia mommy kamu dan masih banyak lagi tingkah kamu itu yang tidak sebanding dengan si kembar" ucap Riski membuat Cia mendengus.
"Ish,,jangan diungkit lagi. Malu tau bang. Jangan sampai kedengaran oleh si kembar nanti dia protes terus" ucap Cia yang membuat Riski tertawa.
"Untung jadi kenyataan kalau tidak malu banget pasti" oceh Riski kembali membuat Cia berdecih kesal.
"Mas, jangan gitu. Nanti anak kamu tingkahnya kayak Cia, bar-bar" omel Utaya membuat Cia tertawa sedangkan Riski pias mendengarnya.
__ADS_1
"Hahaha,,,gue sumpahi anak lo, bang. Lebih aktif dari si kembar. Biar tau rasanya gimana jagain anak yang banyak tingkah kayak aku dan si kembar" ucap Cia membuat Riski merinding. Sedangkan Utaya tertawa bersama Cia.
Semoga saja tidak. Anak Daddy nggak boleh kayak Tante dan kakak kembar kamu, ya. Jadilah seperti Daddy yang pendiam dan baik hati ini, ya batin Riski mengelus perut istrinya dengan diringi rapalan doa agar anaknya menjadi anak yang Sholeha.