Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
Pura-pura


__ADS_3

Indah merasakan pusing dikepalanya, dia ingin membuka mata namun terasa berat, namun ia paksakan, perlahan Indah membuka matanya, Indah mengedarkan pandangannya, naas tak ada siapapun didekatnya, Indah mengingat kejadian sebelum dia berada disini, yah dia tertabrak, entah apa dan siapa yang menabraknya? semoga ini tidak berakibat fatal.


Terdengar suara pintu dibuka, Indah kembali memejamkan matanya, suara langkah sepatu yang beradu dengan lantai terdengar semakin mendekat, dan terdengar suara kursi ditarik. Indah merasakan tangan seseorang menyentuh keningnya, merapikan helaian rambutnya. Ingin sekali Indah membuka matanya sekarang, dan memastikan, siapa orang kurang ajar yang telah berani menyentuhnya, namun Indah tahan.


Terdengar suara ponsel berbunyi, lama panggilan itu tak dijawab, namun suara ponsel itu berhenti karena sang pemilik telah menjawab panggilan itu.


"Halo, iya Nggun"


"Nggun??" gumam Indah, "Seperti nama_ dan suara itu_"


suara itu terdengar tak asing bagi Indah.


"Maaf hari ini aku tak bisa hadir"


"Aku mengalami kecelakaan"


"Tidak apa-apa, aku hanya tidak sengaja menabrak orang, aku bisa mengatasinya sendiri, jangan khawatir"


"By"


Begitulah percakapan yang Indah tangkap, dan suara laki-laki itu, seperti yang ada dipikiran Indah, semoga dia tidak salah, namun satu yang mengganjal dihati Indah, satu nama yang sempat disebut, walau tak secara gamblang, namun instingnya mengatakan, nama itu, sama dengan nama seseorang yang dia kenal.


"Halo Don"


"Guee nggak bisa ke cafe sekarang, tolong handle semuanya dulu ya"


"Nggak pa-pa, gue nabrak orang"


"Oke, thanks"


"Dia barusan nelpon orang? terus ngebatalin demi gue, ya ampun sumpah, ini bikin gue makin tergila-gila"


Indah tertawa senang dalam hatinya.


Tak terdengar suara apa-apa lagi, hanya terdengar suara gerakan, dan nafas yang berat.


"Enggh" Indah menggeliat, mencoba menyadarkan diri dari dunianya.


"Kamu udah bangun" Abdi berdiri dan menghampiri Indah


Indah menoleh ke sumber suara, laki-laki itu berada disampingnya, dia begitu dekat dengannya, wangi parfumnya begitu terasa, tampan wajahnya terlihat sangat jelas,


Tuhan.... jantungku ... tolong aku masih ingin hidup, dan menikah dengannya.

__ADS_1


Jantung Indah berdetak tak karuan,


"Hei cewek aneh, Lo kok bengong?, kenapa? ada yang sakit? yang mana yang sakit?" wajah tampan itu terlihat begitu khawatir,


Ingin rasanya Indah tertawa terbahak-bahak, melonjat-loncat, bahkan guling-gulingan kalo bisa, dia begitu senang dikhawatirkan oleh mas gantengnya.


"Kamu siapa?" mulut cerewet itu bertanya tanpa ekspresi


Abdi di buat tercengang dengan pertanyaan Indah, lalu ia tertawa.


Abdi mendorong kening Indah "Eh cewek aneh, Lo pikir gue percaya sama Lo, udah nggak usah banyak akting, Lo nggak bakat jadi artis" Indah mengerucutkan bibirnya, ternyata dia tidak bisa membohongi Abdi, padahal ia ingin pura-pura amnesia, tadinya, seperti disinetron-sinetron


"Dokter tadi bilang Lo nggak pa-pa" lanjut Abdi


"Kenapa mas ada disini?" tanyanya pura-pura tak tahu


"Tadi Lo bawa motor sambil bengong, makanya ketabrak sama gue"


"Seingat Indah, tadi Indah mau belok, terus juga udah nyalain lampu sein, nggak lama Indah kayak ada yang nabrak dari belakang, berarti bukan Indah yang bengong, mas aja yang nyetir nggak bener" Ucapnya membela diri.


"Lo tadi pingsan, makannya Lo nggak inget"


"Mas tuh nggak bisa akting, jadi nggak bisa boong, nggak bakat jadi artis" balas Indah ucapan Abdi, dia hanya menebak.


"Bener kan mas bohong, mas yang nabrak Indah, hehh lega deh Indah, berarti ni tagihan rumah sakit mas yang bayar"


Gila ya nih cewek, kondisi begini masih mikirin tagihan.


"Tenang, gue banyak duit, gue bakal tanggung jawab" jawab Abdi jumawa


"Iya Indah tau, mas kan CEO Pecel lele"


Abdi merasa geli sendiri mendapat gelar yang disematkan Indah.


"Emang CEO itu apa sih?" goda Abdi


"Pokoknya CEO itu orang yang punya usaha"


"Sok tahu, CEO itu pengusaha besar, punya usaha dimana-mana, lah kalo cuma pecel lele, dipinggir jalan juga banyak, berarti mereka juga CEO menurut Lo?"


"Itu beda konsep mas, lagian bukanya bilang Amiin, itukan doa"


"Udah pokoknya jangan pernah sebut gue CEO, geli gue, cepet abisin makanya" perintah Abdi yang enggan lagi berdebat, kepalanya terasa pusing.

__ADS_1


Ya, Abdi tadi sempat kehilangan fokus saat mengendarai mobil, karena dia sedang banyak pikiran, tiba-tiba wanita yang telah lama meninggalkannya datang kecafenya, Abdi yang belum bisa menerima kehadirannya menolak untuk menemui wanita itu, apa yang ingin dibicarakan? sedang Abdi menganggap kedua orang tuanya telah tidak ada didunia ini. Akhirnya Abdi meninggalkan wanita itu yang terus meminta waktunya.


Abdi kini menatap Indah yang sedang lahap makan, dia tersenyum, Indah sakit, tapi nafsu makannya sama sekali tidak berkurang, apalagi ini menu makanan dari rumah sakit, pasti rasanya kurang nikmat dibanding makanan rumah, dan satu lagi, Indah tak ada memintanya untuk disuapi, padahal jika Indah meminta, dia pasti akan melakukannya, sebagai bentuk rasa bersalah.


Indah yang merasa diperhatikan, memperlambat kunyahanya,


"Mas, Indah tahu Indah manis, tapi jangan ditatap begitu" Indah meletakkan piring makananya dipangkuan, lalu menatap Abdi yang tertawa "Yee mala ketawa" Indah kembali memasukkan nasi kedalam lauknya.


Gue bisa-bisa meleleh beneran ngeliat tawanya


"Kepedean banget, Lo laper apa doyan sih?, Lo kan lagi sakit'" Abdi menggelengkan kepalanya, didepannya pun Indah tak ada jaim-jaimnya, padahal biasanya wanita jika ditatap laki-laki pasti akan bersemu malu, dan membuat cara makannya seelegan mungkin.


"Ini tuh udah lewat jam makan siang mas" Indah terus menjejalkan nasi kedalam mulutnya.


"Iya iya, tapi Pelan-pelan, nanti kamu tersedak" Abdi mengingatkan Indah.


"Nggak akan, kalo nggak diliatin pasti nggak akan tersedak, apalagi nyasar"


"Nyasar?"


"Iya"


"Apanya yang nyasar"


"Nasinya bisa nyasar, bukan sampe lambung, tapi nyasar ke hati mas, hati kamu" mode gombalnya keluar lagi, Indah tersenyum simpul atas rayuannya sendiri.


Sedang Abdi membuang muka, menutupi senyumnya, jangan sampai Indah tahu, bisa besar kepala nanti,


"Udah jangan banyak ngomong kalo lagi makan, pamali" Abdi beranjak dari duduknya, berlama-lama berdebat dengan Indah membuat otaknya menjadi tumpul, namun ia tak memungkiri, jika bisa sedikit melupakan masalahnya.


"Mas mau kemana?" tanya Indah saat melihat Abdi membuka pintu ruangannya.


"Mau nebus obat kamu, tadi ada yang tertinggal" Abdi berlalu, dan langsung menutup kembali pintu itu.


Sepeninggalnya Abdi, Indah menghubungi Ibunya, mengatakan jika dia sedang berada dirumah temannya, ia tak mau Ibu menghawatirkan dirinya.


Terdengar suara ponsel Abdi yang kembali berdering, Indah spontan melihat kearah ponsel itu, tertata nama Anggun disana, namun Indah tak dapat melihatnya dengan jelas, ternyata Abdi tidak membawa ponselnya, Indah hendak menjangkau, ingin melihat dengan jelas, siapa yang menghubungi Abdi.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2