
Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tapi Indah belum bisa memejamkan matanya. Saat ini Indah kembali memilih tidur bersama Masnah ibunya, sesuatu hal yang akan sering ia lakukan jika nanti Abdi sedang tidur dirumah istri barunya.
Dadanya masih terasa sesak, mengingat permintaan Abdi yang ingin menikah lagi, dia berharap jika ini hanya mimpi. Bahkan untuk menangis pun rasanya Indah sudah tak bisa, air matanya seolah kering telah terkuras llokeh banyaknya masalah yang menimpanya. Indah menunduk, meremasi perutnya yang kosong, kosong bukan karena belum makan, namun kosong karena tidak akan adanya kehidupan lain di sana, yang bisa membuatnya menahan suaminya untuk tak menikah lagi.
Disaat seperti ini, Indah merasa dunia tak adil untuknya, ia marah pada Tuhan telah memberinya cobaan yang begitu berat untuk dia jalani. Dia tak kuat, jika ada yang berkata bahwa kita mendapat cobaan ini karena kita mampu menjalaninya, tapi itu salah, ini sama sekali tidak benar, dia tidak sekuat itu, nyatanya dia masih sering menyalahkan takdirnya.
Diluar sana, pintu depan rumah Indah terbuka, Abdi tengah duduk sendiri, sudah terhitung lima bungkus dia menghabiskan tembakaunya. Diapun sama seperti Indah, tak bisa tidur, ucapannya yang meminta izin pada Indah dia tahu, jika itu sangat melukai hati Indah. Tapi apa lagi yang harus dia lakukan?, semua ini bukan kehendaknya. Jika dia tak jujur pun itu juga tidak benar, dia tak mau Indah justru nanti tahu dari orang lain.
Abdi kembali menyalakan api rokoknya, ini sudah masuk bungkus yang keenam, dia begitu suntuk, kepulan asap dari mulutnya mengudara, jika dilihat itu seperti asap yang keluar dari cerobong kereta. Layar hapenya terus menyala, berkali-kali panggilan dan pesan Naima ia abaikan. Wanita tulang itu semakin gencar menghubunginya saat ia mengatakan akan menikahinya. Ya, lusa mereka akan melangsungkan ijab qobul, sesuai permintaan keluarga bibit yang ingin semua dipercepat.
Abdi menatap langit kelam yang terlihat cerah, tak menggambarkan hatinya yang kelam juga suram. Berharap keputusannya ini bukan keputusan yang salah, dan semua yang dia rencanakan berjalan dengan lancar.
Pagi menjelang, langit terlihat sudah berganti warna, matahari mulai menampakkan wajahnya, suara para pedagang pun silih berganti bersahutan. Dan suara-suara gaduh para emak-emak yang berceloteh, meneriaki anak mereka untuk cepat ke sekolah, seakan menjadi melodi penghantar tidur Abdi yang baru saja terpejam di kursi depan. Ya begitulah suasana kompleks sederhana yang mereka tempati, riuh penuh kehangatan.
Indah keluar dari kamar ibunya dengan rambut setengah basah, ia yang tidak tidur sama sekali tetap memaksa untuk mandi. Indah mengernyit, melihat pintu depan telah terbuka, ia melangkahkan kakinya untuk menutup pintu, namun ia terpaku melihat pemandangan yang membuat hatinya bak diiris-iris, suaminya tidur bersedekap dada, dengan tubuh yang setengah menyender di kepala kursi rotan milik mereka.
Pandangan Indah beralih pada banyaknya batang puntung rokok yang berserakan di atas meja membuat Indah menarik nafas kasar.
"Kamu kenapa bodoh si mas, kalau nggak bisa kenapa harus mengambil keputusan yang berat" gerutu Indah.
"Mas." goyang Indah bahu Abdi. "Bangun, kenapa malah tidur disini, pindah ke kamar." suara Indah serak menahan tangis, sedih melihat suaminya yang terlihat kacau.
"Mas, ayo bangun dulu, kita pindah ke kamar." Indah coba membangunkan Abdi.
Namun justru yang terjadi Abdi malah menarik Indah kepelukanya.
"Kamu janji es teri, untuk nggak ninggalin aku, jadi jangan tinggalin aku." ucap Abdi dengan mata yang masih terpejam, bau tembakau begitu menyengat keluar dari mulutnya.
"Iya mas, aku nggak akan ninggalin kamu, tapi kamu pindah dulu ya, kamu bisa sakit kalau tidur disini"
__ADS_1
Abdi tak merespon, ia malah mengeratkan pelukannya, Indah tak tahu, suaminya ini benar-benar tidur atau tidak. Biarlah Indah dikata menjadi wanita bodoh, dengan tubuh yang masih dalam dekapan Abdi Indah mencoba menaikkan badannya, sehingga dia bisa menjangkau bibir Abdi, dan dengan gerakan pelan Indah meemagut bibir suaminya. Tak lama ciuman itu berbalas, Abdi dengan begitu hausnya melahap bibir Indah yang terasa begitu manis.
"Kita pindah keatas mas." bisik Indah disela-sela ciuman mereka yang terhenti.
Abdi membuka matanya, ia menegakkan duduknya, lalu berdiri dengan tangan yang masih merengkuh pinggang Indah, dan Indah begitu pasrah saat Abdi mengangkat tubuhnya untuk dia gendong, secara otomatis Indah melingkarkan kedua kakinya dipinggang Abdi.
Walau sempoyongan Abdi menggendong Indah untuk dibawanya ke kamar atas, Abdi kembali ingin menyatukan bibirnya namun Indah tahan dengan telapak tangannya "Tunggu diatas, nanti dilihat ibu, nggak enak."
Abdi menurut, ia menaiki tangga menuju kamar mereka, setelah sampai ia membuka pintu kamar dengan tubuhnya, dengan masih menggendong Indah, mereka memasuki kamar yang masih terlihat gelap, hanya sedikit pencahayaan karena hordeng kamar yang masih tertutup semua, dan lampu kamar yang dimatikan sejak semalam, sebab tak ada penghuninya.
Abdi segera membaringkan Indah diatas tempat tidur secara perlahan, dia menarik keatas kaosnya, lalu kembali merendahkan tubuhnya mengungkung tubuh istrinya. Abdi kembali menyatukan bibir mereka, lama mereka saling berbalas ciuman, bertukar saliva, hingga kemudian Abdi mengecup leher Indah, dia membasahi leher istrinya dengan penuh cinta, tak lupa meninggalkan jejak kepemilikannya disana.
"Eummh mas" suara deesahan itu keluar begitu saja dari bibir Indah.
Ya dia yang awalnya hanya membangunkan Abdi biar suaminya cepat bangun, sekarang malah dia yang terbawa suasana, Indah tak menyukai ini, ingatanya segera menyadarkannya, Indah mendorong dada Abdi yang sudah ingin menyingkap kaosnya.
"Mas, hari ini kamu mau pergi sama Naima kan? kamu istirahat dulu. Nanti siang kamu pasti sibuk."
Kini mereka tidur bersisian.
"Nggak boleh mas, kamu harus tanggung jawab sama calon istri kamu, jangan bikin dia kecewa."
"Terus, apa bedanya aku juga bikin kamu kecewa, kamu yang pasti lebih sakit, karena kamu istri sah aku." Abdi memiringkan tubuhnya, menangkup wajah Indah.
"Aku nggak papa." katanya mencoba untuk tegar, walau dalam hatinya terasa begitu ngilu, bak luka sayatan yang begitu menganga.
Tak lama dibawah terdengar suara ramai-ramai, Indah mencoba untuk bangun, namun Abdi menahan tangannya.
"Mau kemana?"
__ADS_1
"Ke bawah."
"Nggak usah, temenin aku tidur."
Indah menggigit bibir bawahnya, Abdi seolah tak mengerti perasaanya saat ini.
"Aku mau bantuin ibu bikin masakan, kasian ibu sendirian terus ngerjain kerjaan rumah, mumpung beberapa hari ini aku libur"
Abdi membuang nafasnya, dia tahu ini hanya alasan Indah saja untuk menghindar, Abdi sadar, dia telah menorehkan banyak luka di hati Indah walau istrinya mencoba terlihat baik-baik saja.
* * *
Setelah sampai dibawah ternyata Naima dan Zidan yang datang, mereka membawa begitu banyak makanan.
"Mas Abdi mana In-dah?" tanya Naima yang ragu memanggil Indah dengan sebutan apa?.
"Mas Abdi baru aja tidur." ucap Indah berlalu ke dapur, coba mengacuhkan keberadaan keluarga bibit ini. Dan tak menyapa sedikitpun.
"Bisa bangunin nggak?, soalnya kami harus kebutik langganan aku pagi-pagi. Kami sudah buat janjian sama mereka."
"Kalau kamu memang sudah buat janji, kamu berangkat saja duluan, nanti mas Abdi nyusul bareng aku."
"Yaudah deh, aku tunggu aja sampai mas Abdi bangun." akhirnya Naima mengalah.
"Awas saja, nanti kalau aku sudah jadi istri sah, aku akan buat perhitungan sama kamu." ucap Naima dalam hati.
Jam dua siang Abdi baru saja bangun, dia telah rapi dan siap untuk fitting baju untuk dia pakai besok, Abdi mengajak serta Indah untuk memilihkan jas untuk dikenakannya.
Saat sampai di butik, Naima mencoba menawarkan banyak model setelan jas untuk Abdi, Indah yang melihat itu tiba-tiba saja dadanya bergemuruh marah, apakah dia cemburu?. Tidak-tidak, Indah mencoba menepisnya, dia nggak mungkin cemburu pada wanita ulat bulu. Tapi melihat wajah Abdi yang begitu gembira dan antusias saat mencoba memakai setelan jas itu membuat hatinya memanas.
__ADS_1
Sebisa mungkin Indah mengalihkan pandangannya pada pemandangan memuakkan didepannya. Indah memilih mengajak Zidan keluar untuk membeli es krim, entah mengapa dia jadi kasihan pada bocah laki-laki itu. Sejak datang kerumahnya hingga sampai di butik, Zidan hanya diam, Zidan seperti menyimpan banyak misteri dalam kehidupanya.
Menjadi pengasuh lebih baik dari pada harus melihat pemandangan yang bisa membuatnya mati perlahan.