
Antrian semakin maju, langkah Indah pun semakin mendekat, tanpa Indah sadari, kini dia berada diantrian ketiga. Dari belakang hingga kini dia berada dibarisan depan, mata Indah tak pernah lepas memandang pemandangan indah didepannya. Laki-laki itu begitu gagah, dengan apron berwarna hijau yang melekat ditubuhnya, kaos lengan pendek yang ia gunakan memperlihatkan otot-ototnya yang kekar.
Indah menelan ludahnya, sungguh pemandangan yang tak boleh terlewatkan, Indah tak ingin mengerjap sedetikpun, yang entah mengapa matanya ikut mendukungnya, tak sedikitpun matanya berair atau merasa perih, sungguh mata Indah bak didukung iblis, tahu yang mana barang bagus, mana yang bukan, hingga mata itu bertubrukan, laki-laki yang sejak tadi menjadi tempat ia betah berlama-lama dalam antrian, kini menatap matanya juga.
Refleks bibir Indah menyunggingkan senyum termanis yang seumur hidupnya belum pernah ia berikan pada orang lain. Tanpa malu-malu, tanpa jual mahal, Indah menyapa Abdi, tangannya melambai, dengan berucap "Hai" tanpa bersuara. Abdi memalingkan wajahnya ketika mengingat gadis paling aneh yang ia temui, ini yang dinamakan, kebaikan membawa petaka, niat hati menolong ibunya, malah bertemu dengan anaknya yang_ ah sudahlah, Abdi tak dapat mendeskripsikan seperti apa gadis itu.
Hingga kini dia berada diantrian miliknya.
"Mba mau pesan apa?" tanya suara lembut wanita yang merupakan pegawai disana.
"Pesan mas ganteng, yang baiknya nggak ketulungan, berhati malaikat" ucap Indah tanpa mengalihkan pandangannya dari Abdi yang juga memandangnya, bukan memandang kagum, tapi memandang jengah padanya.
"Hah!? apa mba?" jawaban Indah membuat karyawan wanita yang bernama Silvy itu terkejut, dia pun ikut menoleh kearah pandang Indah, atasannya yang berdiri disebelahnya, keberadaan bos-nya itu memang untuk menarik pembeli, karena wajahnya yang tampan, sekaligus memantau kondisi gerai ICP miliknya.
"Lo mau pesen nggak, kalo nggak mau mending Lo keluar, dibelakang Lo masih banyak yang ngantri" Ucap Abdi to the point, dia enggan berbasa-basi dengan Indah.
Indah menoleh kebelakang, benar antriannya masih sangat panjang, ia menyengir lebar
"Hehehe, mas ganteng yang punya gerai ini?" tanya Indah pada Abdi, membuat Abdi menghembuskan nafasnya, Abdi memijit pelipisnya sebelum menjawab pertanyaan Indah.
"Harus banget gue jawab gitu?" Abdi balik bertanya
"Berarti bener, mas yang punya?" mata Indah sampai melotot, ia mendeskripsikan sendiri jawaban Abdi.
"Hadehh, Lo mending keluar antrian deh, disini nggak menerima orang kepo kayak Lo"
"Aku ngagntri lagi aja deh, mau wawancara mas ganteng lagi, tapi janji ya, sisain satu buat Indah" Indah mengangkat telunjuk kedepan wajahnya, lalu ia keluar dari antrian,"Mas ganteng tetap disini ya?" pintanya sebelum masuk kembali keantrian paling belakang, berharap bisa berlama-lama menatap Abdi, dan dia bisa kembali mengobrol lebih lama lagi. Indah rela melakukan itu, padahal antrian masih sangat panjang.
Abdi dan Silvy dibuat terbengong dengan sifat Indah, mereka tak habis pikir ada manusia sejenis Indah dibumi ini, mereka serempak menggelengkan kepalanya.
"Sisakan dua buat dia" pesan Abdi pada Silvy, yang dijawab anggukan oleh pegawainya itu, sebenarnya Silvy heran, ada hubungan apa bos-nya dengan wanita aneh tadi, ia pun tak mau pusing, ia lalu berbicara pada pegawai lain yang berada dibelakangnya.
Setelah 30 menit, Abdi lalu melepaskan apronya, berdiri 2 jam lebih membuat kakinya terasa pegal, belum lagi pembeli yang rata-rata dari kalangan wanita, tak sedikit dari mereka yang meminta berfoto bersama, sebagai kenang-kenangan, alibinya. Mau tak mau Abdi menuruti keinginan mereka. Sebenarnya itu tak masalah untuk Abdi, namun melihat antusias banyaknya orang yang datang membuatnya mengesampingkan itu.
Dilihatnya barisan yang tak mengular lagi, Abdi memutuskan untuk kebelakang, mengecek stok lele, dan bahan yang lainnya, jangan sampai dihari pembukaan gerai lelenya meninggalkan kesan yang buruk. Ya, selain memberi diskon 50 persen dihari pertama, Abdi juga harus memastikan sendiri, bahan yang digunakan juga tetap terjaga kualitasnya, dia tak ingin pembeli kecewa, yang akan berdampak pada kemajuan usahanya kedepan.
Melihat Abdi yang pergi dari tempatnya berdiri tadi, membuat Indah kelimpungan sendiri,
"Duh mas ganteng mau kemana? Dia lupa ada Indah yang nungguin disini?" Indah menunduk lemas, sia-sia saja dia kembali mengantri lagi, sudah menahan lapar, belum lagi cuaca yang kurang mendukung membuatnya haus setengah mati, sekarang malah ditinggal pulang oleh sang pujaan hati, ngenes.
Dengan mulut yang monyong, Indah memesan lele kembali.
"Silahkan ambil pesanannya disebelah kanan sana ya Mba" ucap Silvy seraya menunjuk arah yang ia maksud dengan ibu jarinya, tanda wanita ini memiliki sopan santun yang baik.
__ADS_1
"Oh gitu, makasih ya Mba, eh bayarnya dimana?"
"Tadi kata bos saya, Mba nggak usah bayar"
Indah terkejut mendengarnya.
"Oh ya, really?" tanyanya seolah tak percaya.
"Iya Mba" Silvy tetap tersenyum ramah pada Indah, ah Indah sempat iri pada Silvy, yang bisa berdekatan dengan mas gantengnya
Semoga saja wanita itu tidak menyukai mas gantengnya, biar dia tidak ada saingan, melihat Silvy adalah wanita yang sangat ramah, dan cantik, wajah yang glowing, idaman pria saat ini, belum lagi sudah pasti Silvy memiliki peluang yang besar, mengingat dia pasti sering berinteraksi dengan Abdi.
Indah dibuat terbelalak, padahal dia memesan dua porsi lele, tapi malah diberi empat porsi.
"Mas apa ini bentuk perhatian kamu sama aku?"
Ahhhhhh
Indah bersorak senang, dia tak bisa menutupi kebahagiaannya ini, ternyata, diam-diam mas gantengnya begitu perhatian padanya.
"Kamu idaman aku banget si mas, aku suka laki-laki penuh kejutan" Indah menciumi paper bag berwarna pink itu, tak dihiraukannya orang-orang yang memandangnya dengan pandangan aneh.
...*****...
"Bukannya bilang terima kasih, malah protes, udah syukur gue mau ngantri berjam-jam, betis gue pegel, perut laper, panas-panasan, untung yang punya calon laki gue, jadi gue betah"
"Dasar halu"
"Gue nggak halu, lo tanya Ama emak Lo sana, cari, siapa pendiri gerai lele ini di mbah gugel, terus tunjukin sama Wak, bener nggak ini calon imam gue, soalnya Wak Disa udah pernah ketemu" ucap Indah mantap, tak ada sedikitpun keraguan dari ucapannya.
"Kepedean banget sih jadi cewek, bangun woii, udah siang, jangan mimpi mulu, tar sakit nerima kenyataan" cibir Selly
"Biarin, weeek" Indah menjulurkan lidahnya pada Selly.
"Gue sih sebagai saudara cuma ngingetin ya Ndah, sebelum Lo sakit, hahaha" Selly tertawa terbahak-bahak, namun tak lama Selly menutup mulutnya seperti sedang ingin muntah. Ia dengan cepat lari kedalam rumahnya.
Indah yang melihat itu nampak menyimpulkan sesuatu, tapi ia tepiskan pikiran negatifnya, itu bukan urusanya.
"Indah, kamu sudah pulang?" Masnah yang tadi sedang mencuci piring langsung keluar, saat mendengar keributan antara anaknya dan keponakannya.
"Iya Bu" Indah menghampiri Ibunya, lalu mencium telapak tangan wanita yang telah melahirkannya itu.
Beruntung Waknya itu sepertinya sedang tidak ada dirumah, bisa jadi perang 2 lawan 1.
__ADS_1
"Kamu tuh ribut mulu sih sama Selly, ada apa?" Ibu dan anak itu beriringan masuk kerumah.
"Nggak ada apa-apa Bu, biasa"
"Kamu harus sedikit mengalah, Selly itu saudara kamu, untung warung lagi tutup, kalo nggak suara kalian bisa didengar orang-orang"
"Bukannya udah biasa ya Bu? lagian dianya yang mulai duluan" Indah membuka paper bag, mengintip isi makanan yang membuatnya antri berjam-jam tadi.
"Bu makan yuk, Ibu belum sarapan kan?" ajak Indah pada Masnah.
"Kamu beli juga?" Masnah menarik bangku, dan duduk diseberang Indah.
"Masa aku cuma beliin buat Selly, terus Indah nelan ludah doang, udah antrinya lama" gerutunya "Ibu tahu, tadi Indah ketemu siapa?" tanya Indah dengan mata berbinar, ia sudah melupakan kekesalannya pada Selly, setelah ingat dengan laki-laki yang membuat hatinya berdebar.
"Siapa?" tanya Masnah penasaran, ia membuka satu paper bag yang dibawa Indah.
"Mas ganteng kemarin Bu, yang nganter Ibu, dia yang punya gerai pecel lele ini" Indah begitu antusias menceritakan Abdi. "Dan Ibu tahu? dia nggak nyuruh bayar Bu, dia ngasih empat porsi, dua Indah kasih Selly, dua lagi buat kita, duh mas ganteng jutek-jutek tapi diem-diem perhatian"
"Kelihatan ya, dia pemuda yang baik, kamu jangan ke geeran dulu, siapa tahu dia memang baik sama semua orang"
"Ibu doain donk, Indah berjodoh sama mas ganteng, tapi feeling Indah, dia jodoh indah Bu"
Mendengar permintaan anaknya membuat Masnah tertawa, sedang Indah memajukan bibirnya, melihat Ibu mentertawakanya.
"Iya, Ibu doakan kamu berjodoh sama mas ganteng mu itu" ucap Masnah masih dengan sisa tawaanya, membuat senyum Indah kembali mengembang.
"Nggak sia-sia Ibu kemarin rematiknya kambuh, malah menghantarkan jodoh buat anaknya"
"Jadi kamu seneng Ibu sakit?"
Indah terkekeh "Ya nggak Bu"
Mereka menyantap pecel lele itu, eh, tidak dengan Indah, dia tidak suka lele, dia hanya makan tempe dan tahu gorengnya saja, sambil sesekali memuji rasa pada sambal yang ada, rasa pedas pas dilidah Indah yang suka pedas.
Mereka tak menyangka, jika ada gerai lele yang buka 24 jam, dan anehnya, banyak peminatnya, jarang sekali ada orang kaya yang mau membuat menu sarapan makanan berat seperti ini, apalagi dibuka dikawasan perkantoran, yang rata-rata orangnya suka makanan luar, yang sarapannya roti yang diolesi berbagai macam isi, atau omelet-omelet dan sejenisnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.