
Abdi melangkahkan kakinya memasuki cafe, disana sudah ada Naima yang menunggunya, menyadari kedatangan Abdi, Naima langsung merapikan tatanan rambutnya dan penampilannya. Naima sampai harus mengatur nafasnya yang merasa deg degan ingin bertemu mantan terindahnya.
"Hufftt gillla, aku kok grogi gini sih." Naima menghembuskan nafasnya perlahan, dan mengusap dadanya, menetralisir jantungnya yang berdegup kencang melihat langkah Abdi yang mendekat.
Abdi masih terlihat begitu tampan diusianya yang memasuki usia tiga puluh tiga tahun. Apalagi ini Abdi mengenakan kemeja hitam polos dengan tangan yang digulung hingga kesiku, dan rambut yang sedikit berantakan menambah kadar ketampanan Abdi diusia matangnya.
Bukan tanpa alasan Naima mengajak Abdi untuk bertemu di cafe ini, Naima seperti mengajak Abdi untuk bernostalgia, dimana cafe ini merupakan tempat mereka pertama kali bertemu, namun sepertinya Abdi tak menyadari itu
"Maaf Bu Naima, saya terlambat."
"Tidak apa-apa pak." mereka masih bersikap profesional.
Naima berdiri menyambut kedatangan Abdi, mereka berjabat tangan, hal itu membuat Naima seperti menahan nafas persekian detik, tidak dengan Abdi, dia terlihat biasa saja. Abdi langsung menarik kursi yang ada didepan Naima, dan tanpa basa-basi, Abdi langsung mengajak Naima untuk membahas masalah proyek mereka. Naima nampak salah tingkah, dia pikir Abdi akan memesan makan dulu, ternyata dia salah.
Walau dengan suasana hati yang tidak biasa saja sebisa mungkin Naima bersikap profesional, dia tak mau terlalu memperlihatkan pada Abdi.
Tiga puluh menit mereka selesai membahas mengenai konsep interior pabrik dan mesin-mesin yang akan dipakai, mereka kembali berjabat tangan sebagai persetujuan. Abdi langsung berpamitan, ia ingin segera pulang menemui Indah. Namun saat Abdi ingin membalikkan badannya, tiba-tiba badan Naima terhuyung, dan dengan sigap Abdi menahan bahu Naima.
"Bu, Anda tidak apa-apa?" tanya Abdi panik.
"Saya nggak papa Pak."
Abdi membantu Naima untuk kembali duduk.
"Ehem, kamu pulang dengan siapa?" tanya Abdi sedikit canggung setelah Naima sudah sedikit membaik.
"Saya menunggu jemputan Pak, tadi supir saya, saya suruh untuk menjemput anak saya terlebih dahulu, dan mengantar papa saya berobat." jawab Naima jujur dan masih bicara formal, sebab tadi Abdi berbicara formal.
Abdi menarik nafasnya "Apa supir kamu cuma satu?" Abdi kini sudah bersikap santai, tanpa bahasa formal.
Naima terdiam.
"Nai." panggil Abdi lagi karena Naima hanya terdiam "Kenapa kamu tidak bawa mobil sendiri?"
Naima tersenyum getir "Ceritanya panjang."
Abdi melihat jam di tangannya "Ini sudah sore, aku antar kamu pulang." Bukannya mengiyakan, namun Naima meminta Abdi untuk menemaninya makan terlebih dahulu.
Dengan berat hati Abdi menyetujui permintaan Naima, bukan karena apa-apa, semua dia lakukan hanya rasa kemanusiaan.
__ADS_1
* * *
Indah kembali hanya duduk di tempat tidur sambil menunggu Abdi pulang. Sebodoh teing kalau ada yang bilang Indah tuh wanita lembek dan lemah. Sumpah, wanita yang tidak memiliki rahim itu pikirannya benar-benar tidak stabil, bukan hanya pikiran yang dihajar, tapi psikis nya juga. Sudahlah kalian jangan sampai merasakan, cukup Indah saja. Tapi jika diluaran sana ada wanita yang memiliki nasib yang sama dengan Indah, tapi mereka lebih kuat dari Indah, ya jangan disama ratakan, karena sifat orang berbeda-beda, dan pemulihan sikolois orang juga berbeda-beda, ada yang cepat ada yang lama.
Masnah mengetuk pintu kamar Indah, meminta izin untuk masuk.
"Nak, Ibu boleh masuk?"
Indah yang duduk bersandar pada headboard ranjang memperhatikan jarinya dengan pandangan kosong sontak mendongak, tersenyum kecil, lalu mengangguk "Masuk aja Bu"
Masnah memilih duduk diujung kaki Indah, lalu memijat kecil kaki anaknya.
"Bagaimana tadi persidangannya?" tanyanya sambil memijit pelan kaki kanan Indah.
"Alhamdulillah Bu, semua berjalan lancar."
Indah memperhatikan wajah ibunya, yang entah sudah berapa lama ia abaikan, terlihat wajah itu begitu lelah. Mungkin sama sepertinya, terlalu banyak menangis. Apalagi belakangan ini dia sudah membuat ibunya selalu sedih dengan sikapnya. Terbesit rasa penyesalan atas perlakuannya beberapa hari ini.
Ya Tuhan, ternyata selama ini aku hanya memikirkan perasaanku, tanpa memikirkan perasaan ibu, wanita yang seharusnya aku bahagiakan.
Indah membuang wajahnya, menenangkan perasaannya yang ingin menangis. Perlahan, Indah menarik kakinya.
"Ibu kesini sebenarnya mau mengajak kamu makan, tapi kayaknya kamu nunggu suamimu pulang?"
"Kenapa Ibu nggak makan duluan aja?" Indah mencebikkan bibirnya, mulai menunjukkan sifatnya yang dulu, yang membuat hati Masnah sedikit senang.
"Ibu kangen makan bareng sama anak Ibu yang paling cantik dan bawel ini."
Indah tersenyum. "Apa Indah sekarang nyebelin Bu?"
Masnah berdiri, mengambil duduk disebelah Indah.
"Siapa bilang kamu nyebelin?" Masnah mengambil tangan Indah "Kamu tetap jadi anak Ibu yang paling baik dan menyenangkan, sekarang Tuhan sedang sangat menyayangi kamu, sehingga kamu diberi cobaan yang_." Masnah menjeda ucapannya "Hanya wanita terpilih yang bisa menjalaninya, Ibu tahu kamu sedang butuh waktu, tapi Ibu yakin, nanti kamu bisa bangkit lagi."
"Jika ada orang yang bilang wanita yang bisa melahirkan anak adalah wanita kuat, tangguh, tapi sebenarnya wanita paling tangguh adalah wanita seperti kamu, yang bisa bersabar menerima takdir yang telah digariskan, yang tidak semua orang bisa kuat menjalaninya."
Indah memeluk lengan ibunya "Tapi Indah nggak sekuat itu Bu"
Masnah mengusap rambut anaknya "Semua butuh waktu nak, tapi jangan lama-lama ya, kamu harus bangkit lagi, membangun mimpi-mimpi kamu, mengajar anak-anak disekolah, kamu nggak boleh larut dalam kesedihan."
__ADS_1
Indah makin mengeratkan pelukannya pada lengan ibunya. "Ibu panjang umur ya Bu, temani Indah sampai tua nanti, Indah nggak punya siapa-diapa lagi Bu. Indah, nggak mau egois menahan mas Abdi untuk tetap bersama Indah, dia berhak bahagia."
Kedua wanita berbeda generasi ini saling berpelukan dan menguatkan satu sama lain. Menyadari kekurangannya, Indah akan mencoba ikhlas apapun yang akan terjadi kedepannya.
Jam delapan malam Abdi baru sampai rumah, dia langsung disambut senyum manis Indah. Penat yang dia rasakan seketika hilang saat Indah langsung memeluknya. Abdi mengangkat tangannya, balas memeluk Indah.
"Oh ... Indahnya dunia ku." Abdi mengusap-usap punggung Indah dan mengecupi pucuk kepala Indah.
"Ini yang mas maksud indahnya dunia, 'Indah' apa nih?" tanya Indah menggoda.
"Indah ... indah yang mana ya? kan kalo kamu es teri" Abdi melepaskan pelukannya, lalu mengecup bibir Indah sekilas.
Indah gelagapan lalu melihat sekeliling "Mas, nanti dilihat ibu, kasihan kan kalo ibu pengen." canda Indah yang membuat mereka tertawa bersama, hal yang baru mereka lakukan lagi semenjak kecelakaan itu.
"Mas udah makan?" tanya Indah saat mereka berjalan manaiki tangga dengan saling berpelukan.
"Sudah, eh belum" Abdi melarat ucapannya "Kamu udah makan?"
Indah mengernyit heran dengan jawaban Abdi. "Udah, tadi beli pecel lele di gerai mas, kangen sama sambelnya."
"Harusnya aku yang beliin, maaf ya es teri," Abdi benar-benar merasa bersalah, apalagi sepertinya Indah tak menanyakan dan mempermasalahkan kenapa dia pulang terlambat lagi. " Jadi yang dibeli lele, apa ayam?"
"Ayam dong mas, tapi buat mas Indah beliin lele."
"Makasih ya."
Setelah Abdi membersihkan dirinya, dia makan malam kedua kalinya, setelah sebelumnya makan bersama Naima, dan itu dirumah Naima. Sebab saat Abdi mengantar Naima pulang, ayah Naima yang dulu menolak lamarannya memaksanya mampir dan makan malam bersama.
Naima juga menceritakan nasib rumah tangganya yang hampir kandas, saat dalam perjalanan. Suami Naima ternyata menghianati pernikahan mereka. Ya, suami Naima adalah laki-laki pilihan ayahnya, yang digadang-gadang menjadi menantu kebanggaannya, sesuai dengan keinginan ayah Naima, laki-laki yang berasal dari keluarga baik dan terpandang. Suami Naima meninggal karena kecelakaan bersamanya, saat mereka bertengkar didalam mobil, yang menyebabkan Naima kini mengalami trauma untuk mengendarai mobil sendiri.
Saat ini Abdi dan Indah sedang bersantai di ruang tamu sambil menonton tivi. Hanya berdua, sebab ibu Indah sudah berada dikamarnya.
"Mas, malam ini Indah tidur dikamar ibu ya?, Indah kangen tidur sama ibu." Indah meminta izin yang dari nada bicaranya merupakan hal yang harus terpenuhi, ini merupakan latihan tahap awalnya untuk tak terbiasa tidur bersama Abdi.
Abdi mengerutkan keningnya, menarik nafas panjang, sebenarnya nggak mau kasih izin, soalnya dia sudah biasa tidur bareng Indah. "Tapi untuk malam ini aja ya?" jawabnya sambil memainkan rambut Indah.
Indah mengangguk senang "Makasih mas CEO pecel lele."
Ada rasa senang sekaligus sedih mendengar gombalan Indah kali ini, Abdi merasa ada yang aneh, entah itu apa?.
__ADS_1