
"Nggun, sudah hampir dua bulan, Abdi tidak datang memenuhi ucapannya untuk melamar kamu, apa dia masih sibuk?" tanya Surya Papa Anggun, laki-laki berusia 53 tahun itu mengelap bibirnya dengan tissue, mereka baru saja selesai sarapan.
Anggun terdiam, dia bingung harus menjawab apa? sedang setelah malam itu, Abdi bahkan jarang menghubunginya, saat kemarin dia mengajak bertemu pun Abdi batalkan, alasannya dia mengalami kecelakaan, yang Anggun sendiri tak tahu itu benar atau tidak.
"Apa benar gosip yang Papa dengar, bahwa dia bukan laki-laki yang baik? dia memiliki masa lalu yang buruk, dan keluarga yang berantakan" melihat Anggun yang hanya terdiam, Surya menyimpulkan benar apa yang rekan kerjanya katakan, bahwa Abdi bukan lelaki yang baik untuk dijadikan menantu.
Mendengar ucapan Surya, membuat hati Widuri bergemuruh, tak terima anaknya dihina, Ia mengepalkan tangannya yang berada diatas paha untuk menahan emosi yang bergejolak, saat ini ia tak dapat melakukan apa-apa, Surya suaminya, belum mengetahui siapa Abdi sebenarnya, dan dia belum mampu mengatakan yang sebenarnya.
"Pa, Anggun tidak pernah mempermasalahkan masa lalu mas Abdi, aku yakin Pa, mas Abdi laki-laki yang baik, tidak seperti gosip yang Papa dengar, dan semua orang pasti punya masa lalu Pa, termasuk Papa"
Surya tersenyum mencibir, naif sekali putrinya ini.
"Selama kamu hidup, apa pernah kamu mendengar hal miring tentang Papa? apa pernah kamu mendengar Papa memiliki musuh? Papa selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan"
"Tapi tidak dengan pasangan, Papa bodoh dalam hal itu" Anggun berdiri, meninggalkan Widuri dan Surya yang hanya terdiam dia enggan mendengar ucapan Papanya yang selalu meninggi, dan tidak pernah menyadari kesalahannya sendiri, padahal sakitnya beberapa hari lalu mampu menyadarkannya bahwa dia hanya manusia biasa, yang pasti punya kekurangan.
"Baiklah, kamu buktikan, jika dia layak untuk kamu, Papa tunggu niat baiknya" ucap Surya lagi.
Anggun yang akan keluar menghentikan langkah sejenak mendengar ucapan Papanya, dia enggan menjawab, lalu langsung pergi meninggalkan kedua orang tersebut.
Widuri tetap diam, dia tahu Anggun tak pernah menyukai dirinya, sudah lima tahun dia menjadi Ibu sambung gadis itu, namun tak pernah bisa meluluhkan hatinya, sepertinya hubungan mereka akan semakin merenggang, tatkala nanti jika Anggun telah mengetahui hubungannya dengan Abdi, Widuri seakan serba salah, akan bagaimana nanti hubungan mereka jika Abdi tetap akan menikahi Anggun, apa mereka akan menutup semuanya? atau malah membuka ini, dan Widuri akan kembali menjanda?
"Jangan dengarkan ucapan anak itu, dia masih belum menyadari kebodohannya" Surya beranjak dari duduknya, diikuti Widuri yang akan mengantar suaminya sampai kedepan.
"Hati-hati Pi, kamu masih belum terlalu sehat" ucapnya manja, seraya merapikan dasi suaminya dan menempelkan bibir mereka, bak pasangan muda.
...*****...
Hari ini Abdi begitu sibuk, setelah pagi-pagi dia meeting bersama pihak dekor atas kerja sama mereka, kini Abdi harus kembali ke gerai barunya
Setelah seminggu dia membuka gerai tersebut, permintaan lele setiap hari pun meningkat. Abdi yang berani membuka gerai 24 jam, mampu bersaing dengan gerai makanan cepat saji milik perusahaan asing.
Ditengah kesibukannya ia masih mengingat Indah, apa gadis aneh itu istirahat dengan baik, atau dia malah tidak mau diam seperti bibirnya yang selalu cerewet?. Abdi gelisah, ingin bertanya tapi ia tidak memiliki nomor ponsel gadis itu, hehh kenapa dia malah pusing memikirkan Indah.
Abdi pun beranjak, memutuskan ingin melihat sendiri keadaan Indah.
"Wahyu, gue keluar sebentar, Lo jagain disini dulu ya" pesanya pada Wahyu, orang kepercayaan keduanya setelah Doni.
"Siap bos, aman pokoknya" Wahyu mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
Abdi berlari keparkiran, melajukan mobilnya menuju kerumah Indah. Ditengah perjalanan dia menyempatkan singgah di restoran pizza, Abdi berpikir jika Indah butuh makanan yang dapat membuatnya cepat sembuh, tak lupa ia membelikan dua es krim untuk Ibunya Indah.
Tak butuh waktu lama, mobil Abdi telah sampai didepan rumah Indah, warung Ibunya sudah tutup, dan keadaan rumah itu nampak sepi, apakah Indah pergi? awas saja jika benar gadis itu memaksa pergi, Abdi akan menghukumnya.
Abdi keluar dari mobilnya, tangannya penuh, membawa kotak pizza dan kantong eskrim. Abdi mengetuk rumah bercat hijau itu, sepi tak ada sahutan dari dalam, Abdi terus mengetuk pintu itu dengan keras, hatinya sudah kesal, pikiran Abdi tak tenang, bagaimana bisa Indah keluar dengan keadaan kaki yang sakit, kemana dia, mengapa Ibunya mengizinkan pergi?
"IYAAA TUNGGU" teriak suara cempreng itu, membuat sudut bibir Abdi terangkat.
"His siapa sih yang ngetuk kenceng-kenceng" gerutu Indah kesal, ocehannya itu bisa terdengar sampai luar
Ceklek
Ketika pintu terbuka menampilkan wajah tampan Abdi yang terlihat kesal.
"Mas...." Indah mematung, tak percaya, Abdi berdiri didepan pintunya, membuat mata Indah berkedip-kedip lucu.
"Kaki gue pegel nungguin Lo buka pintu kelamaan" tanpa diperintah Abdi langsung masuk kerumah Indah, ia seperti sudah biasa berkunjung ke rumah ini.
Indah masih diam didepan pintu,
K**esambet setan apa mas ganteng, ada disini lagi.
Ya Ampun mas, kalo begini Indah mending sakit terus, Indah ikhlas.
"Ini tuh mas bukan khawatir namanya, tapi kangen, iya kan?" tuding Indah, Ia lalu berjalan menuju sofa, tanpa izin Indah langsung memeriksa kresek yang Abdi bawa, melihat isinya.
"Mas tahu aja Indah lagi butuh cemilan, ini tanggal tua mas, Indah nggak kebeli makanan begini"
Abdi menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Indah, yang tanpa malu-malu didepannya.
"Ibu kemana, kok sepi?" Abdi celingukan mencari keberadaan Masnah.
"Wah mas, kok nyariin Ibu, kan ada anaknya" Indah memasukkan potongan pizza dalam mulutnya
"Anaknya nggak penting"
Indah tersedak mendengar jawaban Abdi, untung tenggorokannya sudah terlatih dengan makanan, jadi air liurnya sudah bisa menetralkan makanan tanpa dia harus minum air putih, dan tak sampai membuat nyawanya hilang
"Mas, maksud mas apa? Aku tahu mas, ibu janda, tapi tolong anaknya belum pernah merasakan menikah, apa mas nggak tertarik sama anaknya?" Indah sedikit ngotot dengan ucapannya, sampai menyemburkan potongan-potongan kecil yang membuat Abdi merasa geli
__ADS_1
"Dasar jorok, Lo cewek lahir dari rahim Ibu Lo nggak sih?" Abdi mengusap-usap mukanya yang terkena tembakan peluru kecil dari makanan Indah.
Bukannya meminta maaf, Indah mala tertawa,
"Mas tahu, Indah itu nggak neko-neko mas, cukup bawa Indah kepelaminan, it's my dream mas, not my mom" ucap Indah menirukan series yang sedang viral saat ini.
"Sakit nih anak" Abdi benar-benar dibuat geleng kepala mendengar ucapan Indah,
Kenapa gue bisa kenal sama cewek kayak gini sih, ckckck
Tak terasa Indah telah menghabiskan tiga potong pizza, ia lalu berganti memakan es krim yang sejak tadi menggodanya.
"Mas nggak mau nyobain" Indah mengalihkan perhatiannya dari es krim ke Abdi yang sejak tadi memperhatikn caranya makan.
Abdi menggeleng "Nggak Lo aja" tolaknya "Gue kenyang liat Lo makan"
Indah memajukan bibirnya "Yakin nih?"
"Hmm" gumamnya
Indah tersenyum jail, terbesit ide dikepalanya ia langsung berdiri, dan sayangnya kakinya masih sakit, membuat tubuhnya tak dapat menyeimbangi pergerakannya, Indah jatuh tepat menimpa Abdi, yang membuat posisi mereka seperti sedang melakukan hubungan intim.
Cekrek
Cekrek
Tanpa mereka sadari, ada orang yang yang masuk, dan memotret posisi mereka.
"Gila ya, kalian zina disini" Suara itu membuat Indah dan Abdi terkejut.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Apa Abdi dan Indah bakal dikawinin? dan i'ts my dreamnya Indah terkabul? Like dan komen ya, jangan lupa vote nya buat mereka hihihi aku maksa ðŸ¤ðŸ¤