
Abdi sadar jika dia dibawa oleh istrinya untuk berfoto bersama mama dan papanya. Sungguh senyum senang Indah membuatnya tak bisa menolak, ia hanya pasrah hingga sesi foto selesai.
Da Abdi langsung menarik istrinya yang sedang bercengkrama dengan Kartika.
"Udah seneng?" tanyanya saat mereka kini hanya berdua, Abdi memasukkan potongan pudding kedalam mulut Indah.
"Maksud mas apa?" jawab Indah pura-pura tak tahu dengan mulut yang penuh.
"Jangan pura-pura nggak tahu kalau nggak mau aku cium saat ini juga" ancam Abdi berbisik penuh penekanan.
"Ihh seremm, emang mas berani apa?"
"Jangan nantangin sayang, kamu nggak kenal suami mu ternyata."
Abdi terus menyuapi Indah sampai puding itu habis sambil memperhatikan bibir Indah yang dipoles lipstik yang menggodanya sejak tadi.
Dan tanpa menunggu lama-lama, Abdi merengkuh pinggang Indah dan langsung membungkam mulut Indah, meelumat bibir manis istrinya. Lama Abdi melakukan itu, tak ia hiraukan Indah yang memukul dadanya ingin melepaskan serangan mendadak suaminya ini, hingga Indah pasrah dan membalas ciuman panas suaminya.
Sungguh kelakuan mereka menjadi pusat perhatian para tamu undangan.
"Apap kenapa ayah Didi suka makan bibil bunda?" Marsha bertanya pada papanya saat melihat itu.
Rasya terkejut dan langsung menutup wajah Marsha, menggendong putrinya menuju stand tempat es krim berada.
"Marsha salah liat sayang, ayah Didi lagi hapus lipstik bunda yang belepotan" kilahnya mengalihkan "Dasar Abdi kammpret." umpat Rasya kesal "Apa dirumahnya Marsha sering melihat pemandangan kayak gitu?."
Sorak sorai para tamu membuat mereka harus melepaskan tautan itu.
"Lagi"
"Lagi"
"Lagi"
"Mas, kamu gila, bikin aku malu." Indah melotot marah.
"Hukuman buat kamu, karena kamu udah bikin aku foto bareng mereka."
Indah tak dapat menutupi wajahnya yang memerah, dia sampai bersembunyi dibalik jas suaminya.
"Sialan, acara pernikahan kita dibajak mereka." Chio kesal dimana seharusnya para tamu undangan fokus pada mereka berdua yang menjadi raja dan ratu malah fokus pada pasangan karatan itu.
"Biarin sayang, yuk kita kayak mereka juga."
Tanpa menunggu persetujuan Chio, Anggun langsung mendekatkan wajahnya, dan menempelkan bibirnya pada bibir Chio membuat Chio membelalak kaget.
Chio yang memang tak pernah melakukan itu pada perempuan hanya diam saat Anggun menggerakkan bibirnya, ini kedua kalinya dia merasakan ini dan dari wanita yang sama, hingga Anggun berucap
"Balas donk Chio biar acara kita nggak dibajak"
__ADS_1
Dan seketika Chio menarik tengkuk Anggun karena ia takut akan dikata kalah saing sama pengantin karatan yang sempat membajak acaranya. Dan kini mereka yang menjadi tontonan para tamu undangan atas aksi mereka.
"Itu tante sama om pengantin juga makan bibil Pap"
Rasya kembali dibuat kesal karena lagi anaknya yang masih suci harus menyaksikan adegan tak pantas ini "Ya Tuhan, apa salahku? mata suci anakku harus melihat pemandangan ini lagi"
Rasya membawa Marsha mendekat pada mama Rika "Kamu lupa Rasya, kalau kamu dulu selalu berbuat hal seperti ini tanpa kenal tempat."
"Ma." Rasya tak terima diingatkan, bagaimanapun juga Marsha masih terlalu kecil.
"Mawar, Marcel cocok tuh sama Masnah." bisik mama Rika pada menantunya.
"Ma aish, mama ada-ada aja."
Mama Rika cekikikan, dia pada Mawar memang bisa seterbuka ini, dan menantunyalah satu-satunya orang yang ia percaya untuk bergosip.
"Itu mamanya Abdi suruh balikan aja sama papanya Anggun, dari pada mereka jomblo begitu. Kan mubazir." ucapnya lagi.
"Mama astaghfirullah."
"Hihihi Mama bercanda Mawar." Mawar hanya geleng kepala atas tingkah mertuanya.
Resepsi pernikahan Chio dan Anggun hampir selesai, hanya menyisakan teman dan keluarga terdekat.
"Selamat ya Nggun, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Cepat dikasih momongan."
Indah mengerutkan keningnya tak paham. "Dulu Chio pernah suka sama lo, jadi bisa dibilang kita jodoh yang tertukar." keduanya tergelak dan saling berpelukan.
"Tapi gue sama Chio nggak ada hubungan apa-apa."
"Dia mengakui suka sama lo, dan akhirnya gue bisa rebut hatinya." aku Anggun.
Hingga acara berakhir, kelima pasangan Rasya Mawar, Marvin Putri, David dan istrinya, Abdi Indah, dan kini, Chio Anggun memasuki kamar hotel dimana tempat Chio mengadakan pernikahanya.
Karena para nenek-nenek sedang berkumpul dan saling mengenal, mereka aman menitipkan anak-anak mereka.
Kelima pasangan beda generasi itu tak menyadari jika kamar mereka berdampingan dan saling berhadapan. Sampai dimana mereka keluar untuk sarapan, mereka sama terkejut saat keluar kamar.
"Loh kalian nginep disini juga." tanya mereka bersamaan saling menunjuk. Tentu minus pengantin baru yang belum keluar, dan kebetulan kamar pengantin baru itu terletak ditengah antara kamar David dan Marvin.
Tatapan mereka sama-sama jatuh pada kamar yang masih tertutup, dan terdengar suara samar erotis dari dalam kamar.
"Kayaknya kita tunda dulu ya sayang sarapannya." Abdi menatap Indah memelas.
"Mas, kamu udah sampai tiga kali dan masih iri sama pengantin baru?" Indah tak percaya Abdi masih juga belum puas dengan acara mereka semalam. Membuat ketiga laki-laki yang mendengarnya menahan tawa.
"Sya, kayaknya perut aku mules." kini Mawar yang bersuara, dia mengelus perutnya yang memang terlihat sangat besar karena ada dua nyawa yang hidup disana.
Kalian tahu kan jika sifat cowok itu sama saja?. Makanya Mawar mengalihkan terlebih dahulu.
__ADS_1
Rasya sempat melemah tapi dia juga khawatir karena takut baby twinsnya kenapa-kenapa. Dia pun segera membawa Mawar turun yang diikuti pasangan yang lainnya.
Saat sampai dilantai dasar, Mawar terlihat biasa saja.
"Sya, aku mau sarapan yang paling mahal di hotel ini." rengek Mawar.
"Sayang kamu nggak jadi mules?" tanya Rasya.
"Tadi mules lapar." jawab Mawar tanpa berdosa.
* * *
Hari terus berganti, minggu terus berlalu. Saatnya Indah dan Abdi pindah kerumah baru mereka. Dengan segala rayuan akhirnya Abdi menyetujui jika Widuri ikut tinggal bersama mereka. Dan perlahan Abdi mulai membuka diri untuk wanita yang telah melahirkannya kedunia ini.
Indah sedang membuat kemah-kemahan untuk Marsha dan Mahesa di taman belakang rumah mereka, dimana disana juga ada kolam renang kecil agar mereka tak perlu keluar jika saat-saat kedua anaknya ingin berenang. Sedang kedua neneknya sedang memasak makanan untuk mereka.
Indah tak menggunakan jasa asisten rumah tangga sama sekali sekarang, sebab Widuri melarangnya, semua urusan rumah kini dia yang melakukan, sebab dia ingin menebus kesalahannya selama ini pada Abdi.
Mahesa kini sudah berusia satu tahun lebih, dan Marsha tetap tinggal bersama mereka bergantian seperti biasa.
"Mahesa, kamu jangan dekat-dekat aku, kamu bau asem." Marsha sedikit mendorong Mahesa yang ingin mengajaknya bermain.
Dimana Marsha sedang tidur diatas kursi santai pinggir kolam, dengan memakai kaca mata miliknya.
"Kakak, Mahesa kan cuma mau ajak Kakak maen." Indah menegur Marsha.
"Jangan panggil kakak, Marsha bukan kakak." dia enggan dipanggil kakak, bahkan oleh adik kembarnya yang kini telah lahir.
Abdi mendekat, ikut merebahkan tubuhnya di kursi santai yang masih ada spase untuknya. Dia mengajak serta Mahesa didudukkandiatas perutnya.
"Kita gangguin kakak yuk" Abdi sengaja menggoda Marsha dengan menciumkan Mahesa pada Marsha.
"BUNDAAAAA ayah Didi nakal." teriaknya mengadu.
Indah terkekeh menghampiri "Kalo gitu kita gangguin mereka." Indah menggendong Marsha lalu berlari, membuat Abdi yang menggendong Mahesa mengejarnya.
"Hahaha ayo Bunda lari nya yang kencang." Marsha terus berteriak-teriak takut sampai dia tertangkap.
Pemandangan ini sangat mengharukan untuk Widuri, walau smpai saat ini, Abdi masih belum pernah memanggilnya mama dan menyapanya.
Biarlah aku terima, sudah diberi kesempatan seperti ini saja, aku sangat berterima kasih.
...*****Tamat*****...
***Terima kasih aku ucapkan pada semua pembaca setia Takdir Cinta Indah. Maaf jika banyak sekali kekurangan dalam penulisan dan penyampaian, ambil baiknya saja dari cerita ini.
Maaf banget ya endingnya molor, hihihi maklum otaknya terbatas 🤭. Sampai bertemu dikarya selanjutnya, masih ada bonus part, semoga bisa cepat selesai.
Sehat selalu kalian semua 😍😍 selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan***.
__ADS_1