Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 51


__ADS_3

Setelah sepeninggal Indah dan Abdi. Anggun kini benar-benar menangis, hatinya tak sekuat dan secepat itu bisa menerima kenyataan begitu saja. Dia manusia biasa punya hati dan perasaan, kenyataan ini terlalu menyakitkan untuknya.


Chio yang melihat itu menarik nafas, dia lalu mendekati Anggun, merangkul pundak Anggun, lalu dia bawa untuk bersandar di bahunya.


"Menangislah Nggun, sekarang lo g harus pura-pura kuat lagi."


Anggun semakin tergugu, ya, akhirnya dia harus memilih berdamai dengan takdirnya.


"Mereka baru saling mengenal, tapi mereka bisa cepat saling menerima Chio, aku iri, aku iri sama Indah, dia beruntung bisa dapetin Abdi, Abdi laki-laki yang berbeda dari yang lainnya."


Ada sedikit rasa tak suka mendengar Anggun bilang begitu, ya ... dia kan laki-laki.


"Karena dia sudah terlalu banyak menelan pil pahit kehidupan, seperti yang lo tahu, Abdi tumbuh dari keluarga yang_" Chio mengendikkan bahunya "Terbilang dia tumbuh sendiri, dia pernah patah hati karena masa lalunya, menjadi penjelajah wanita, dan mungkin Indah memiliki daya tarik sendiri, hingga membawa Abdi menjadi laki-laki yang dewasa, dan menerima dia apa adanya."


"Gue harus apa kedepannya Chio?."


"Nikmati setiap prosesnya, nanti perasaan itu akan membaik dengan sendirinya, pilihan lo saat ini tepat, berdamai dengan hati memang tak mudah, tapi ini yang terbaik. Kalo pun lo maksain harus bersama Abdi, lo sama saja menghancurkan hidup lo sendiri."


Anggun mengangkat kepalanya, mengelap ingus yang keluar dari hidungnya, lalu mengusap wajahnya pada bahu Chio, mengelap air mata, hingga membuat kemeja merah maroon Chio basah karenanya dan ada noda bedak yang nempel. Kembali nyender dibahu Chio yang kini terasa nyaman. Dan ... Chio cuma bisa membiarkan itu.


"Gimana kabar papa Lo, sama mamanya Abdi?" tanya Chio menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba saja menyerangnya.


"Gue nggak tahu, gue nggak perduli, setelah gue ungkapin semuanya, mereka kayaknya sekarang pisah ranjang. Tapi gue juga nggak nyari tau, udah nggak penting lagi, karena nggak akan mengembalikan semua yang telah terjadi."


Tangan sebelah Chio terangkat, mengusak pucuk kepala Anggun.


"Jadi nempatin apart ini?."


Anggun hanya menjawab dengan anggukan.


"Kapan akan pindah?"


Anggun hanya menggeleng, terasa dari kepalanya yang menyender.


Chio sedikit beringsut, untuk melihat wajah Anggun. Karena Anggun yang masih nyender, dan menghadap kearah lain, cuma terlihat bibir Anggun yang memerah alami karena menangis, dan hidung bangir yang kembang kempis karena mampet, mungkin.


Bibir??


Iya bibir nakal yang pernah menyerangnya dulu terlihat begitu seksi. Rasanya pengen rasain lagi tuh bibir. Gila kenapa jantungnya jadi berdegup kencang? Chio menggeleng, ini nggak bener.


"Lebih cepat pindah lebih baik." serunya kemudian, yang syukurnya direspon anggukan oleh Anggun.

__ADS_1


Entah apa penyebabnya?, jawaban Anggun membuat hati Chio senang bukan kepalang. Dulu dia dibuat repot oleh kehadiran Anggun, namun sekarang, dia senang bisa direpotkan Anggun.


...***...


Rumah baru, suasana baru, terkadang, rumah juga membawa rejeki baru. Itulah yang diharapkan setiap orang.


Hati Indah sangat bahagia, tak ada yang lebih membahagiakannya saat ini, hubungannya dengan Anggun kembali membaik, dan mendengar pernyataannya cinta Abdi tadi. Padahal hari ini cukup melelahkan untuknya, harus bersih-bersih dan berbenah paska pindahan itu menyita tenaga, tapi semua tak terasa.


Pukul sembilan malam, kini dia dan Abdi sedang berada dikamar tidur mereka dilantai atas.


"Mas lagi sibuk apa sih?" tanya Indah, karena sejak selesai makan malam, Abdi terus berkutat dengan laptopnya, mengabaikan keberadaannya. Laki-laki itu duduk melantai, dengan bersandar pada tepi tempat tidur.


"Aku lagi beresin masalah kemarin" Abdi mengulas senyum, sedikit mendongak, melihat Indah yang sedang menyenderkan tubuhnya di kepala tempat tidur. "Biar cepat selesai, dan sisa uangnya, langsung bisa digunain untuk usaha baru."


"Emang rencananya mau buka usaha apa mas?"


"Sebuah usaha yang terinspirasi dari cewek yang nggak suka lele"


Indah mengernyit.


"Indah maksud mas?" Indah bangkit, tengkurap dibelakang Abdi, penasaran, ingin melihat yang sedang suaminya kerjakan.


"Bukan, tapi es teri"


Abdi menutup laptopnya, lalu berdiri, meletakkan laptopnya diatas nakas dekat ranjang mereka. lalu ikut berbaring disamping Indah. Indah pun mengubah posisi tidurnya sejajar dengan Abdi.


"Aku mau buka pabrik froze food berbahan baku lele, tentu itu terinspirasi dari cewek aneh itu"


"Mas, cewek aneh itu istri mas loh sekarang."


Hahaha Abdi tertawa "Kamu setujukan es teri?"


Indah tersenyum.


"Aku sih yes" jawabnya, keduanya tergelak.


"Emm mas, mas nggak mau tahu gitu kabar mama mas sekarang? kan tadi_"


"Nggak, jangan tanyain apa-apa tentang dia, dia udah aku anggap mati." Abdi memotong ucapan Indah.


"Jangan bahas apapun saat ini es teri, cukup bahas kita aja, dan ingat, jika suatu saat dia datang nemuin kamu tanpa sepengetahuan aku, kamu harus menghindar."

__ADS_1


Indah terdiam, Abdi seperti sangat membenci mamanya. Ya emang ini bukan waktu yang tepat, sebab Abdi juga tengah banyak masalah.


"Iya mas." jawab Indah merasa bersalah.


Indah bangun, dia menopang badannya dengan kedua sikunya, menatap Abdi, tersenyum jail.


"Kenapa senyum-senyum nggak jelas heh?"


Abdi mengusap pipi Indah dengan punggung tangannya.


"Mas tadi siang bilang cinta sama Indah, sekarang Indah pengen denger lagi donk" pintanya dengan memelas. Dia ingin Abdi mengatakan hal itu lagi, sebab yang tadi siang itu pada Anggun.


"Nggak ada reka ulang es teri." cubitnya gemas pipi Indah


"Ih pelit."


"Kalo reka ulang gini bisa." Abdi memajukan badannya, mengecup bibir Indah sekilas. "Mau diulang nggak?"


"Nggak mau, bilang cinta dulu, gini." Indah merubah posisinya jadi duduk. "Es teri, aku cinta kamu, gitu mas, selama kita nikah mas nggak pernah bilang gitu, pasti mas dulu suka ngomong gitu kan sama mantan-mantan mas"


Abdi tertawa mendengar permintaan Indah, lantas dia ikut duduk, menghadap Indah. Abdi mengambil tangan Indah untuk digenggamnya.


"Aku tanya, apa pernyataan kayak gitu, bisa nunjukin bukti cinta yang sesungguhnya?" Abdi menggeleng "Bukan, bukan itu bukti cinta, tapi pembuktian yang nyata, kesetiaan dan pengorbanan pasangan kita lah yang membuktikan cinta, tapi kalo emang kamu butuh itu, akan aku turuti, es teri, aku_ beserta lele mau berenang"


Indah memukul tangan Abdi, dia sudah serius menunggu, tapi Abdi malah bercanda.


"Sakit es teri, kamu suka kadeerte"


"Biarin, mas nyebelin" Indah mengambil bantal untuk digunakan memukul suaminya.


Bukan Abdi, jika tidak bisa mendapatkan yang dia mau, dengan segala usaha, akhirnya dia bisa membuat lelenya berenang dikolam yang sudah sangat dia rindukan. Rintihan dan erangan menjadi lagu pengantar malam dirumah baru mereka.


"Aku cinta kamu es teri, sangat cinta" bisiknya ditelinga Indah, wanita itu bahkan tidak mendengar dengan jelas, sebab dia sudah kelelahan. Dikecupnya kening Indah dengan penuh sayang.


...***...


Disebuah rumah sakit.


Seorang wanita cantik, dengan mata sembab duduk seorang diri didepan ruang ICU. Entah sudah keberapa kali dia mencoba menghubungi nomor sang papa, namun tetap tak bisa tersambung.


Dia mendesah lelah, segala pikiran buruk menghampirinya, saat ini dia begitu membutuhkan sosok papanya hadir, menghibur dirinya.

__ADS_1


Kembali dia mengintip kedalam, dimana sang ibu terbaring dengan banyaknya alat bantu. Dia menitikkan air mata.


"Maafin Selly ma, semua gara-gara Selly" monolognya, dia mengusap air mata yang terus berdesakan keluar.


__ADS_2