Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 60


__ADS_3

Abdi tentu begitu senang dapat melihat bola mata bulat milik Indah. Bola mata yang begitu ia rindukan, Abdi sampai tak bisa menahan diri untuk tak mencium bibir Indah, saking bahagianya. Namun dia cepat-cepat menarik bibirnya saat ia tersadar jika istrinya ini habis melakukan operasi.


Indah mengangkat kepalanya hendak bangun, namun dia tak bisa. Dia merasakan seluruh tubuhnya sakit, terutama bagian perutnya, padahal hanya pergerakan sedikit, tapi rasanya seperti disayat-sayat, sampai membuat kepala Indah pusing.


"Sssss" Indah mendesis sakit, tangannya ingin memegang perutnya.


"Kamu mau apa? jangan banyak bergerak dulu." Abdi sigap memegangi tangan Indah. Takut Indah curiga dan banyak bertanya, saat ini Abdi belum ingin mengatakan yang sesungguhnya.


Abdi pun langsung turun dari tempat tidur, membantu Indah untuk berbaring kembali dengan sangat hati-hati. Walau dia tak merasakannya, namun Abdi tahu seperti apa sakitnya paska operasi, Abdi sudah melihat sendiri bagaimana luka pada perut Indah bekas operasi kemarin. Dia pun ngilu melihatnya, apalagi yang merasakan.


"Kamu mau minum sayang?" tanya Abdi lembut.


Hati Indah tentu terenyuh dipanggil sayang dengan begitu lembut oleh Abdi. Indah mengingat kejadian dimana dia belum dibawa kesini. Ingatan itu begitu membuatnya merasa sangat bersalah. Mata Indah memanas, andai saja waktu itu dia tidak ke apartemen Thomas, mungkin hal ini tidak akan terjadi, akan bagaimana dia mengatakannya?. Indah takut Abdi akan marah.


"Hei." panggil Abdi mengecup pipi Indah "Kok diem aja? ada yang sakit?" Abdi mengusap pipi Indah dengan ibu jarinya begitu lembut, dan menatap iris mata Indah dalam, sesuatu yang baru Indah ketahui dari suaminya, Abdi laki-laki yang sangat penyayang dan perhatian. Indah menunduk menggeleng lemah.


"Aku ambilin minum ya?" tawarnya lagi, yang mendapat anggukan kecil Indah.


Abdi mengambil botol air mineral dimeja disebelahnya, membuka tutupnya, memasukkan sedotan untuk mempermudah Indah minum, lalu mengarahkan minum itu pada bibir istrinya.


Sebisa mungkin Indah menahan sakit perutnya saat minum, namun sayang Abdi menangkap wajahnya yang nampak menahan sakit, Abdi mengerti, ini pasti pengaruh perutnya.


"Kamu jangan bergerak ya, aku mau panggilin dokter dulu, biar kamu diperiksa lagi." Abdi berbicara sambil menundukkan tubuhnya, tangannya mengusap pucuk kepala Indah, lalu mengecup kening Indah. Abdi tersenyum sebelum keluar.


Indah benar-benar tak bisa menahan air yang ingin berdesakan keluar, hal itu membuat pergerakan pada perutnya, dan itu terasa sangat sakit. Perhatian lembut Abdi benar-benar membuat rasa bersalah itu semakin membuncah.


Tak lama Abdi masuk bersama seorang dokter perempuan yang juga diikuti seorang perawat dibelakangnya, dokter tersebut mengulas senyum melihat Indah. Selagi dokter menanyakan keluhan yang Indah rasakan, seorang perawat juga memeriksa tekanan darah Indah, dan mengecek denyut nadinya. Perawat tadi memberikan laporan hasil pemeriksaannya, dan dibaca oleh dokter.


"Alhamdulillah semuanya bagus, normal, semoga cepat sembuh ya, jangan banyak bergerak, banyakin minum air putih, biar lekas pulih" pesan sang dokter. Indah hanya mengangguk lemah.


Dokter itu keluar dihantarkan oleh Abdi. Abdi langsung duduk di kursi sebelah Indah, menatap wajah manis yang masih terlihat pucat, walau tidak sepucat kemarin.


"Mas" panggilnya, suara Indah begitu lirih, bahkan seperti berbisik, sebab ia tak bisa berbicara keras, nafasnya pun sedikit tersendat-sendat.


"Iya sayang, kamu butuh apa?" Abdi memajukan duduknya.


Indah tak berkata apa-apa, dia hanya memandangi wajah tampan suaminya yang juga memandangnya, terlihat jelas, dari sorot mata itu, jika Abdi begitu tulus mencintainya. Tangan Indah terangkat ingin memegang wajah itu. Abdi yang memang peka, mendekatkan wajahnya, agar Indah mudah menuang wajahnya.

__ADS_1


Abdi membiarkan Indah membelai wajahnya dengan lembut, tangan Indah terus bergerak menelusuri rahang tegas Abdi yang ditumbuhi bulu-bulu halus, yang menambah kadar ketampanan Abdi.


"Ini kamu kan mas? bukan malaikat?" ujar Indah dengan suara lirih.


Ucapan Indah membuat Abdi tersenyum lebar, hatinya menghangat, dia pikir Indah akan sedih, namun, Indah tetaplah Indah, wanita aneh yang suka menggombalinya, walaupun kondisinya tidak sehat.


"Aku malaikat, malaikat yang dipaksa buat menikahi wanita aneh, namun sayangnya, aku malah jatuh hati sama wanita aneh itu dengan cepat."


Indah tersenyum kecil, sangat kecil, entah kenapa dia merasakan ada yang aneh pada perutnya, bergerak sedikit saja terasa begitu nyeri.


"Maaf ya mas, gara-gara Indah mas jadi jagain Indah disini." Indah masih mengusap pipi Abdi


"Aku anggap ini bulan madu kita"


Ya Tuhan rasanya Indah ingin tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Abdi.


"Bulan madu tapi nggak berenang" Indah menarik tangannya dari wajah Abdi, sedikit merajuk.


Abdi terkekeh "Aku nggak papa kan, naik?"


"Ngapain nanya, tadi juga udah naik" Indah memajukan bibirnya.


"Berenangnya lain kali, kamu sembuh dulu oke." Abdi mengecup bibir Indah mesra.


Malam ini mereka banyak membicarakan hal yang tidak penting. Baik Indah maupun Abdi, menunda untuk menanyakan hal yang terjadi sebenarnya, mereka terlalu rindu, tidak ingin membicarakan sesuatu yang membuat hubungan mereka renggang. Biarlah untuk saat ini, Indah menikmati segala perhatian Abdi, sebelum dia menceritakan peristiwa diapartemen Thomas. Dan Abdi hanya ingin fokus pada kesembuhan Indah. Urusan Thomas dia wakilkan pada Doni, sedang mengenai keingintahuannya mengapa Indah ada diapartemen Thomas, dia tahan dulu, sampai menjelang pagi mereka baru bisa tertidur, entah siapa yang terlelap terlebih dahulu, mereka tidak berpelukan, karena Abdi begitu paham kondisi Indah.


Jam enam pagi Indah terbangun, ia merasa ingin buang air kecil. Indah melihat disampingnya Abdi masih tertidur nyenyak. Tempat tidur Indah terbilang luas, jadi Abdi masih bisa menjaga jarak agar tak memeluk tubuh Indah saat tertidur.


Indah ingin mengangkat tubuhnya, sayang, tubuhnya susah untuk dia gerakkan, semua terasa begitu sakit, kepalanya menjadi kembali sangat pusing. Matanya sudah memerah, Indah ingin menangis, sedahsyat ini akibat loncatannya kemarin?. Tapi jika dia tidak menghindar, sudah pasti Thomas akan melakukan hal tak senonoh padanya, dan jika itu terjadi, Indah pasti sangat menyesal telah menodai pernikahannya dengan Abdi.


Indah bingung, apakah dia akan membangunkan Abdi atau tidak?, dia tak enak hati jika harus membangunkan Abdi, tapi dia juga tak kuat lagi ingin membuang air kecil. Namun Abdi seperti begitu peka dengan keadaannya, tiba-tiba laki-laki itu membuka matanya. Abdi tersenyum manis.


"Morning es teri." sapanya.


"Mas, pengen pipis." Indah langsung berkata sesungguhnya.


"Hah?" Abdi langsung terbangun "Ayo, aku bantu."

__ADS_1


Jika orang bangun tidur harus mengumpulkan nyawa terlebih dahulu, berbeda dengan Abdi saat ini, dia seperti langsung bisa menarik nyawanya, dan kembali kealam sadar sesegera mungkin.


Abdi menjadi suami yang begitu siaga, dia perlahan membantu Indah bangun, namun Indah sangat begitu kesusahan. Bagaimana tidak kesusahan, operasi pengangkatan rahim itu bukan hanya di buka perutnya, tapi bagian inti tubuhnya juga di buka, untuk mengeluarkan rahimnya, seperti wanita melahirkan normal, jadi Indah merasakan sakit yang berkali lipat, dan rasa sakit itu sungguh sangat luar biasa.


Indah seperti ingin menyerah, dia tak kuat untuk bangun, kepalanya begitu pusing seperti ingin pingsan. Indah merutuki dirinya, kenapa dia begitu lemah?.


Tak sabar, Abdi menggendong Indah ala bridal style, dia tak kuat melihat wajah kesakitan Indah.


Tak hanya sampai disitu, Indah dibantu Abdi membuka celananya, Abdi mengintruksi Indah agar buang air kecil dengan berdiri, sebenarnya Indah malu jika harus melakukan itu didepan Abdi, tapi Abdi tak mau meninggalkan Indah sendiri, Abdi harus memegangi tangan Indah agar tak jatuh. Abdi juga membantu Indah membersihkan miliknya, laki-laki itu begitu santai melakukannya, tanpa ada rasa risih atau jijik sekalipun. Lagi, Indah dibuat jatuh cinta dengan segala tindakan Abdi.


Abdi juga menggantikan pembalut Indah agar selalu bersih. Semua itu tak luput dari penglihatan Indah. Jika sudah seperti ini, ia tidak menyesal telah melukai dirinya sendiri, untuk menjaga kehormatannya.


Indah kini sudah sarapan, dan minum obat. Dia juga baru selesai diperiksa oleh dokter. Saatnya dia harus berlatih berjalan seperti yang dokter katakan tadi. Indah kembali meringis, hanya untuk bangun saja dia begitu kesusahan, apalagi ini untuk berlatih berjalan, tapi Indah tak ingin manja, dia harus berusaha.


"Jangan dipaksakan jika tidak kuat, pelan-pelan saja" pesan Abdi. Tapi Indah harus berlatih, dia harus segera pulih, tak ingin merepotkan suaminya terlalu lama, walau dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.


Satu langkah, dua langkah, namun Indah tak kuat, dia kembali berbaring, ini sungguh sangat menyiksa dirinya.


"Nggak papa sayang, kamu hebat, nanti kita coba lagi ya, kamu jangan putus asa."


Abdi berkata seolah tahu apa yang Indah rasakan, dan itu membuat Indah tenang, bersyukurnya dia memiliki suami seperti Abdi.


Kini hari sudah beranjak siang, Indah juga sudah tertidur lagi, namun Masnah dan Anggun belum juga sampai, Abdi melihat jam yang melingkar ditangannya, harusnya mertuanya itu sudah sampai. Apa terjadi sesuatu?, tanya Abdi pada dirinya sendiri.


Tak lama pintu terbuka, Anggun datang bersama Masnah dan juga Chio, dibelakang mereka disusul Rasya dan istrinya.


Suasana ruang inap Indah jadi begitu ramai, apalagi Masnah yang melepas rindu pada Indah, wanita itu tak bisa menahan kesedihannya, dia begitu rapuh melihat keadaan Indah saat ini. Namun dia juga memberikan dukungan terbaik untuk Indah.


.


.


.


.


.

__ADS_1


*Yuk kasih dukungan ke Indah, like komen dan kasih hadiah sebanyak-banyaknya 🤭😂


Jika ada kekeliruan dari penjelasan selesai operasi, mohon dimaafkan ya ✌️*


__ADS_2