
Lagi-lagi Abdi harus mengubah semua agenda yang telah disusunnya, tak pernah disangkanya jika Indah akan seberlebihan seperti ini. Abdi ingin marah, namun tak bisa. Dia tetap harus bisa mengontrol emosinya.
Setelah pulang dari rumah sakit Abdi langsung membaringkan Indah dikamar, Abdi menatap sedih wajah Indah yang sedang tertidur, sebab telah diberi obat penenang. Bagaimana nanti dia meminta Indah untuk menjadi saksi di persidangan?, dia harus menunggu Indah benar-benar sehat dan tenang.
Abdi keluar dari kamarnya, dia tetap akan melakukan pertemuan dengan orang yang menjalin kerjasama dengannya.
"Bu, Abdi pamit dulu. Indah masih tidur, jika nanti dia sudah bangun, Ibu telpon Abdi saja. Abdi akan langsung pulang."
Masnah mengangguk sambil tersenyum kecil. "Makasih ya Di, kamu masih mau bersabar sama Indah, Ibu yakin, Indah akan menerima semuanya nanti, semua butuh proses."
"Iya Bu," Abdi menghela nafasnya "Abdi berangkat dulu Bu."
Setelah berpamitan Abdi langsung mengarahkan mobilnya menuju Tangerang, tempat yang akan menjadi lokasi pabrik frozen food miliknya. Disana sudah ada Doni dan pengusaha yang akan bekerja sama dengannya.
Abdi memakirkan mobilnya didepan sebuah coffe shop bernama Indiana coffe, melihat dari namanya, mungkin sang ownernya berasal dari India, maybe.
Abdi melangkahkan kakinya menuju coffe shop yang berbilikkan kaca itu, didepannya tertulis kata-kata yang cukup menggelitik bagi yang membacanya. 'Setiap hari buka, kecuali kiamat', marketing yang cukup bagus.
Wangi kue dan seduhan kopi menyambut Indra penciuman Abdi saat ia memasuki coffe shop tersebut. Abdi mengedarkan pandangannya, mencari meja nomor 21, meja yang telah dipesan oleh Doni. Abdi melihat Doni sedang duduk bersama seorang wanita, wanita itu duduk membelakangi pintu masuk, jadi Abdi tak melihat wajah wanita tersebut, disebelah wanita itu, ada seorang anak kecil laki-laki.
"Doni ngajakin bininya apa?" tanya Abdi pada diri sendiri, Abdi mengendikkan bahunya, mungkin koleganya itu belum datang.
"Don." panggil Abdi
Otomatis Doni mendongakkan kepalanya saat namanya dipanggil, saat mengetahui yang datang Abdi, Doni langsung berdiri.
"Eh mas, sudah datang?" Doni mempersilahkan Abdi duduk.
Wanita yang ternyata sedang menyuapi anak kecil tadi juga berdiri, namun mereka sama-sama terkejut, saat pandangan mereka bertemu.
"Mas Abdi?"
"Naima?"
Ucap mereka secara bersamaan.
"Mas Abdi dan Bu Naima sudah saling mengenal?" kini malah Doni yang bertanya melihat Abdi dan Naima bergantian.
Keduanya sama-sama canggung dan salah tingkah. Naima sendiri seperti bingung menjawabnya, tak mungkin kan, jika dia harus menjawab, kalau Abdi adalah mantan calon suaminya dulu.
Lama mereka terdiam, akhirnya Abdi yang membuka suara.
"Naima ini teman kuliah saya dulu." Abdi berbicara formal, sebab ini merupakan jam kerja, dan mereka sedang mengadakan pertemuan.
"Kalau sudah kenal nggak usah formal kali mas." celetuk Doni.
__ADS_1
Naima tersenyum canggung, sedang Abdi nampak tak memperdulikan itu.
"Mas, mau pesan kopi apa?" tanya Doni.
"Apa sajalah, Bu Naima sudah dipesankan?." tanya Abdi pada Naima, hanya sekedar basa-basi, tak mungkin juga kan?, kalau dia cuek. Walau sudah tahu jika dihadapan Naima sudah ada secangkir kopi, yang isinya juga masih utuh.
"Udah mas, eh Pak" Naima bingung harus memanggil apa, sebab tadi Abdi bersikap formal.
"Bu Naima kalau sudah kenal panggil mas aja, lebih enak didengar." kurang ajar sekali Doni ini memberi saranya. Lalu tanpa rasa bersalah, Doni memanggil waiters, memesankan kopi untuk Abdi.
Naima hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Doni.
"Jadi Pak Abdi" Doni jadi ikutan formal, "Bu Naima ini yang akan membantu kita dalam pembangunan pabrik nanti, serta Bu Naima, yang akan memasok mesin-mesin yang akan kita butuhkan"
Abdi mengangguk mendengar penjelasan Doni, namun tak menyangka jika dia harus menjalin kerjasama dengan Naima. Tak mau ambil pusing, kemudian Abdi memberikan kertas design miliknya, menunjukkan design pabrik yang Abdi mau. Mereka memulai membicarakan projek pabrik, tak ada pembicaraan yang lain, semua murni masalah pekerjaan, walau tanpa disadari, jika Naima sempat mencuri-curi pandang pada Abdi.
Setelah satu jam, akhirnya mereka selesai juga. Abdi melirik anak laki-laki yang duduk disebelah Naima, Abdi ingat, jika itu anak yang ia tolong waktu di puncak. Abdi baru menyadari, sejak dia datang dan membahas pekerjaan, bocah yang diperkirakan berusia delapan tahun itu hanya anteng, tak mengerecoki mereka, anak itu fokus pada layar gadget ditangannya, entah apa yang ditonton bocah itu?.
Abdi melihat keluar, terlihat dari dalam jika diluar nampak hujan cukup deras, Abdi mendesah, dia ingin segera pulang, tak ingin meninggalkan Indah terlalu lama. Abdi takut Indah sudah bangun, dan akan berbuat yang tidak-tidak, mengingat pesan dokter saat dia memeriksakan Indah tadi, jika wajar Indah bersikap seperti itu, tak semua wanita siap hidup tanpa rahim, yang merupakan bagian terpenting dari diri perempuan.
Abdi melihat jam tangannya, sekarang sudah menunjukkan pukul empat sore, sudah cukup lama dia diluar. Kemudian Abdi melihat ponselnya, belum ada panggilan atau pesan dari Masnah, berarti Indah belum bangun, Abdi berinisiatif menelepon Indah, namun sayang, panggilannya tidak dijawab. Semua yang dilakukan Abdi tak luput dari perhatian Naima,
"Gimana keadaan istri mas?" tanya Doni tiba-tiba, kini dia bicara santai, karena dirasa bukan lagi jam kerja.
"Maaf mas, belum sempat jengukin" Doni merapikan berkas-berkas milik mereka.
"Nggak papa, lagian gue makasih, lo udah mau ngurusin segalanya, termasuk masalah Thomas." Abdi menepuk pundak Doni.
Naima mendengarkan semua percakapan Abdi dan Doni, dia tak mau ikut dalam pembicaraan mereka, namun yang Naima tangkap, jika istri Abdi sedang sakit.
"Eh Bu Naima, maaf nih dicuekin." Doni yang terlebih dahulu menyadari jika mereka mengabaikan keberadaan Naima.
"Nggak papa, santai saja pak Doni."
"Nunggu hujan juga Bu?" Doni yang memilih banyak bertanya.
"Iya" jawab Naima singkat.
"Ibu pulang naik apa?" tanya Doni lagi.
"Nanti saya dijemput."
"Sama suaminya Bu."
Lama Naima menjawabnya "Saya single parent." jawaban Naima mampu membungkam mulut lemes Doni, juga cukup membuat Abdi terkesiap.
__ADS_1
...****...
Dirumahnya, Indah sudah bangun setelah sejam Abdi keluar, Indah menangis, meremas perutnya, ia masih berharap jika ini semua mimpi, semua yang terjadi padanya itu mimpi, namun mimpi itu malah menjadi nyata.
Tak lama Masnah masuk membawa makanan untuk Indah.
Melihat putrinya sudah bangun dan tengah bersedih, Masnah bergegas meletakkan makanan itu dinakas sebelah tempat tidur Indah. Masnah langsung memeluk tubuh putrinya yang kini makin terlihat kecil.
Masnah ikut menangis, tak kuasa melihat Indah yang harus menghadapi hidup pahit seperti ini.
"Bu, Indah mimpi kan Bu?" tanya Indah ditengah isakannya.
Masnah diam, dia tak sanggup menjawab pertanyaan Indah, yang ada hanya air matanya yang terus berdesakan keluar tanpa ingin berhenti.
"Ibu jangan ikutan nangis, Ibu jawab Indah, jawab iya, semua mimpi Bu."
Masnah melepaskan pelukannya, menatap wajah Indah yang basah karena air matanya.
"Nak, kamu harus kuat, ini semua sudah takdirnya, kamu ikhlas ya sayang, Tuhan itu sayang sama kamu" Masnah menghapus air mata Indah.
Jawaban Masnah makin membuat Indah menangis. "Jadi ini bener Bu, aku beneran nggak punya rahim?"
Masnah menangkup wajah anaknya "Kamu punya rahim atau tidak, kamu tetap anak ibu nak. Kamu spesial dihati Ibu, Tuhan menguji mu, karena tahu, kamu kuat, kamu bisa menjalaninya, kamu wanita spesial yang dipilih Tuhan. Kamu wanita istimewa."
"Tetap aja aku nggak punya rahim Bu."
"Ini semua takdir nak, semua sudah ditulis dan digariskan sebelum kita lahir"
"Lalu bagaimana pernikahan Indah sama mas Abdi Bu? Indah nggak sanggup kalo harus kehilangan mas Abdi, Indah sayang sama mas Abdi, tapi Indah sadar, mas Abdi suatu saat nanti pasti ninggalin Indah, Indah harus gimana Bu?."
Semua tindakan yang Indah lakukan pagi tadi hanyalah pengalihan perasaannya, dia melatih hatinya jika suatu saat nanti dia harus benar-benar kehilangan Abdi, tak mungkin Abdi akan bertahan padanya, sedangkan Abdi laki-laki muda, tampan dan sukses. Seorang anak tunggal sama sepertinya, tak mungkin jika Abdi tak ingin memiliki keturunan yang akan meneruskan semua usahanya, mengingat Abdi kini sedang semangatnya membuka usaha baru, usaha yang Abdi katakan terinspirasi darinya.
Masnah memejamkan matanya, meneguhkan hatinya, dia tak boleh rapuh, dia harus bisa menguatkan hati anaknya. Tak boleh menambahkan kesedihan pada Indah.
"Jadi kamu tadi pagi hanya pura-pura?"
Indah mengangguk, Masnah kembali memeluk anaknya, membelai lembut rambut Indah.
"Dalam rumah tangga memang semakin lengkap dengan kehadiran seorang anak, tapi sejatinya kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga tidak semata-mata ditentukan oleh ada atau tidaknya keturunan." Masnah menjeda ucapnya, lalu kembali menarik nafas
"Banyak diluar sana, pasangan yang terlihat sempurna, memiliki anak-anak yang lucu, cantik, pintar dan tampan, tapi tetap saja, salah satu diantara mereka ada yang tidak setia, orang yang dihatinya tidak pernah merasa puas, tetap akan mencari kesenangan diluar."
"Tapi yang Ibu lihat, nak Abdi laki-laki yang berbeda_, untuk saat ini, jadi kamu harus jalani yang ada, bangun keharmonisan rumah tangga dengan cara yang berbeda, hargai semua yang suami kamu lakukan. Kejarlah surga dengan berbakti padanya, hingga saatnya nanti, jika memang suami mu memiliki jodoh yang lain lagi, izinkanlah dan ridhoi, jika kamu sanggup, tetaplah disampingnya dan mendukungnya, namun jika kamu tidak sanggup, kembalilah, ibu selalu siap memeluk mu hingga mata Ibu tertutup."
Indah mengeratkan pelukannya pada ibunya, hatinya sedikit menghangat, namun dia bukanlah wanita berhati malaikat, Indah butuh waktu untuk itu.
__ADS_1