
Kita pasti pernah merasa, jika pagi kita diawali dengan yang baik, maka hari yang kita lewati akan penuh hal-hal yang baik, begitu juga sebaliknya, jika pagi kita diawali dengan hal yang sial, maka hari-hari yang kita lewati akan ada hal sial pula yang kita alami.
Pagi ini, ketika Indah hendak berangkat mengajar, dia lihat mobil Thomas telah terparkir didepan pagar rumah mereka,
"Setelah kejadian kemarin, ternyata dia masih punya nyali juga datang kesini, mau mengakui apa pura-pura nggak tahu, brengsek emang" Ahha, muncul hal jail dibenak Indah.
"Bu, kayaknya pagi tadi Indah liat ada nanas muda Bu?" tanya Indah pada Ibunya yang sedang diwarung sayur.
"Ada, tinggal satu, soalnya Ibu beli karena ada pesanan Bu RT" Masnah yang sedang melayani pembeli berbalik, menunjuk nanas itu dengan dagunya.
Indah langsung menuju ketempat yang ditunjuk Masnah.
"Buat Indah ya Bu?" pintanya tanpa melihat Ibunya
"Buat siapa Ndah?" bukan Ibunya ini, tapi suara Bu Narti yang belanja sayur.
"Buat Indah" jawabnya singkat ,Indah mendekat kearah Ibunya "Minta tolong kupasin ya Bu, Indah males ngupas nanas, biar Indah yang layani" Indah memberikan nanasnya pada sang Ibu.
"Beli apa Bu Narti?"
"Cabai campur 5000, sama telor setengah" pinta Bu Narti
Tanpa ragu Indah mencomot cabai sesuai permintaan pembelinya, dia sudah terbiasa, makanya tanpa ditimbang, sebab setiap hari dia membantu Masnah, dan selalu bertanya harganya, makanya, walau bukan Ibu rumah tangga, dan walau dia seorang guru, Indah selalu terupdate soal harga sembako, Indah kemudian menimbang telor, meletakkan telor didepan pembeli.
"Apalagi Bu?" tanyanya ulang, itu bukan bawel ya, tapi memang seperti itu penjual melayani, biar pembeli mau menambah list belanjaannya lagi.
"Itu aja"
"Oke" Indah mulai menghitung dengan suara keras, agar didengar pembeli, biar tiada dusta antara penjual dan pembeli, dan selalu menghitung ulang.
"Semuanya 25 Bu" Indah menyerahkan kresek belanjaan pada Bu Narti.
Wanita itu memberi uang pas, sehingga Indah tak perlu memberi kembaliannya, tak lupa Indah mengucapkan terima kasih. Narti salah satu langganan Masnah yang disukai Indah, sebab tak banyak omong atau suka ngerumpi seperti yang lainnya.
Tak lama Masnah kembali dengan nanas yang sudah bersih dikupas, dan sudah dipotong kecil-kecil siap dimakan.
"Ini Ndah, kamu pagi-pagi sudah makan nanas aja" Masnah memberikan piring kecil berwarna hijau pada Indah.
"Makasih ya Bu, Ibu memang terbaik" Indah mengecup pipi kiri Masnah "Ini untuk Selly, sebagai bentuk perhatian Indah, Selly kan suka nanas, jadi Indah mau ngasih dia nanas, kasian sakitnya belum sembuh-sembuh"
Masnah mengernyit heran, menatap curiga pada anaknya.
Indah yang paham tatapan Masnah mengerucutkan bibirnya "Ibu jangan khawatir, ini kan Ibu yang ngupas, jadi Ibu saksinya, kalo Indah nggak narok racun disini" tunjuk Indah pada nanas yang sudah ditangan sebelahnya. "Ibu nggak tahu seberapa perhatiannya Indah sama Selly"
__ADS_1
"Iya, Ibu percaya, makasih ya sayang" ucap Ibu seraya mengusap bahu Indah.
Masnah selalu seperti ini, setiap Indah melakukan hal baik pada orang, dia selalu berkata terima kasih, seolah-olah Indah banyak melakukan hal kurang baik, tapi Indah mengerti, Ibunya melakukan itu, karena dia bangga pada anaknya.
"Ehhh ada Tut, tut,tut" ucap Indah basa-basi setelah sampai dirumah Selly, padahal dia sudah tahu keberadaan Thomas. Itu panggilan Indah untuk Thomas, karena yang ada dibenak Indah, Thomas adalah kartun kereta berwarna biru kesukaan anak-anak zaman now.
Thomas yang sedang menatap layar ponselnya langsung melihat kedatangan Indah, wajahnya langsung terlihat tegang. Indah yang berprofesi sebagai guru pasti sangat tahu perubahan wajah Thomas.
"Tenang, rahasia aman ditangan gue, selagi Lo nggak macem-macem lagi sama saudara gue"
"Awas aja kalo lo sampe ngadu, saudara Lo sendiri yang akan menanggung akibatnya" Ancam Thomas dengan suara tertahan.
Indah tak bergeming, dia melihat kearah dalam rumah Selly.
"Sell, Sell" panggil Indah, namun tak ada jawaban.
"Selly lagi mandi" jawab Thomas tetap ditempat duduknya.
"Gue mau ngasih nanas buat Selly, eh diwarung adanya nanas muda, Selly kan suka nanas, makanya gue bawain dia nanas"
"Jangan ngada-ngada kamu, Selly bisa bahaya jika makan itu"
Jawaban Thomas seakan mempertegas kecurigaan Indah, dan satu hal yang membuat Indah tahu, Thomas mengetahui kehamilan Selly, tanpa memasang wajah curiga atau terkejut, Indah meletakkan piring nanas itu diatas meja
"Nanasnya gue ambil lagi, takut ba-ha-ya" Indah sengaja mengeja ucapannya, ingin membaca reaksi Thomas, dan sengaja mengambil nanas itu, sebab takut Thomas memaksa Selly buat makan buah itu, yang membuatnya lari dari tanggung jawab.
Thomas hanya memandangi kepergian Indah, tanpa tahu maksud ucapannya, namun sesaat dia tersadar, dia sudah masuk dalam jebakan Indah. Tak lama Selly keluar dengan pakaian rapi siap untuk kekantor.
"Sayang maaf nunggu lama" ucapnya tak enak pada sang kekasih.
"It's oke" Thomas mengangkat bahunya.
"Tadi kayak ada suara Indah" Selly mengedarkan pandangannya
"Iya, cuma nanyain kamu aja"
"Basa-basi, dia nggak godain kami kan?" tuding Selly asal.
"Nggak sayang, tapi kamu harus hati-hati sama dia, kayaknya dia ada niatan jahat sama kamu" Thomas menggandeng tangan Selly, menuntunnya masuk mobil.
Setelah kepergian dua sejoli itu, Indah keluar dari persembunyiannya, tanpa sepengetahuan mereka, Indah menguping pembicaraan keduanya.
"Mau main-main dia sama gue" Indah kembali ke warung guna berpamitan pada Ibunya, lalu mengendarai motor kesayangannya menuju tempatnya mengajar.
__ADS_1
...****...
Suasana pagi jalanan kota Jakarta hari ini nampak padat, bahkan terdapat beberapa titik kemacetan, namun itu tak menyurutkan semangat gadis yang berprofesi sebagai seorang guru ini, walau kadang bayarannya tak sesuai dengan yang diharapkan, namun melihat senyum tulus dan semangat dari para anak didiknya, membuat hatinya senang. Ia sangat bangga dengan profesi yang ia jalani.
Indah memberhentikan laju motornya saat lampu jalanan berganti berwarna merah, namun dia sangat terganggu dengan suara klakson dibelakangnya, membuatnya mendengus geram.
"Norak banget sih nih mobil dibelakang, nggak liat apa lagi lampu merah" gerutunya kesal, Indah mengintip kendaraan dibelakangnya lewat kaca spion, sebuah mobil Fortuner hitam.
"Kebeli mobil mewah tapi nggak kebeli otak" cerca Indah lagi, klakson itu terus berbunyi mengudarakan suara berisiknya yang membuat orang bisa naik darah
Sedangkan didalam mobil itu, seorang laki-laki tampan sedang tertawa sangat senang, dia hapal betul siapa pemilik motor didepannya, plat dan helm yang digunakan sangat sama persis dengan milik cewek aneh itu.
"Lo pasti kesel kan, diklaksonin terus" Abdi terus tertawa membayangkan wajah kesal Indah, ia terus membunyikan klakson mobilnya, tak perduli tatapan tajam dari para pengendara lain, kaca mobilnya gelap, wajahnya pasti tak akan terlihat dari luar.
Tak lama kemudian, lampu berganti warna kuning, Indah menepikan motornya, memberi ruang pada mobil dibelakangnya untuk maju lebih dahulu. Baru saja Indah akan mengeluarkan sumpah serapahnya, kaca mobil itu terbuka.
"Selamat pagi cewek aneh" sapa Abdi dengan senyum menyebalkannya, mobil Abdi melewati Indah.
Indah dibuat terperangah, sepagi ini dia disapa pangeran tampannya, "Ya ampun itu kamu mas, apa ini sinyal jodoh mas?" Indah terkekeh sendiri, wajahnya bersemu merah.
"Eh Mba, jangan ngelamun dijalan, kalo mau mati jangan disini" teriak seorang pengendara, membuat Indah tersadar, kalau dia memang sedang menghalangi pengendara lain, terdengar kembali suara klakson lain yang terus meneriaki Indah.
"Iya iya ih, ganggu orang lagi seneng aja" Indah kembali melajukan motor kesayangannya.
Waktu terus berlalu, tak terasa pagi sudah berganti siang, kesibukan mengajar membuat Indah tak terasa melewati hari-harinya, sapaan dari para siswanya membuat Indah tak henti terus tersenyum seraya menjawab sapaan mereka.
Siang ini cuaca tak terlalu terik, Indah mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang, ia harus selalu berhati-hati, agar tak membahayakan pengendara lain ataupun dirinya sendiri, Indah selalu ingat Ibunya, jika terjadi sesuatu padanya, siapa yang akan menjaga wanita itu, Masnah wanita yang lembut, hidup berdampingan dengan saudaranya, tak membuat mereka merasa terlindungi, bahkan justru kadang membuat mereka bak hidup di kandang singa.
Dipersimpangan jalan Indah telah menyalakan lampu seinnya bahwa dia akan berbelok ke kiri, namun tak disangka Indah, kendaraan dibelakangnya tak melihat itu.
Bruak
Indah jatuh terpental dari motornya, entah apa yang terjadi, pandangan Indah langsung menggelap, ia langsung tak sadarkan diri....
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komenya ya... ❤️❤️