Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 41


__ADS_3

Jam sembilan malam, mobil Abdi berhenti disebuah villa sederhana di daerah puncak Bogor, villa milik Mawar, villa dua lantai ini terletak ditengah perkebunan teh, jauh dari pemukiman, namun villa ini cukup terawat, karena ada penjaga yang membersihkannya, dan suka disewakan tiap kali weekend, tapi villa ini tidak disewakan untuk pasangan muda mudi, hanya disewakan khusus untuk keluarga.


Abdi melihat Indah yang terlelap disebelahnya.


"Es teri, kita udah sampai."


Abdi mengusap pipi Indah dengan ibu jarinya. Indah belum juga bangun, tahu sendiri kan, Indah itu kalau tidur benar-benar kayak gajah, nggak bisa pakai cara halus.


Tak tega, akhirnya Abdi keluar tanpa membangunkan Indah, Abdi turun, membuka pintu, lalu ia kembali lagi, membuka pintu mobil dimana Indah duduk, Abdi menggendong tubuh Indah, membawanya masuk kedalam, Abdi lalu membaringkan tubuh istrinya ditempat tidur.


Lelah karena seharian ini dia mengendara cukup jauh, setelah membersihkan diri Abdi pun ikut terlelap disebelah Indah dengan memeluk tubuh Indah.


Udara yang dingin di daerah puncak membuat Indah terjaga, memang tubuhnya diselimuti, namun tak dapat menghalau rasa dingin yang menusuk kulitnya hingga ketulang. Saat Indah membuka matanya, ia terkejut karena Abdi memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Nafas hangat Abdi menerpa wajahnya, membuat jantung Indah berdegup tak karuan.


"Mas"


Indah mencoba membangunkan Abdi, masih belum menyadari dia berada di mana?.


"Hemm, kenapa?." gumam Abdi dengan mata yang masih terpejam.


"AC nya bisa di naikin nggak suhunya, ini dingin banget." Indah menarik selimutnya hingga keleher.


"Pelukan gue kurang anget emang?" Abdi malah menelusupkan kepalanya diceruk leher Indah, dan mengeratkan pelukannya, membuat Indah meremang.


"Mas, serius" Indah mencoba menggeser kepalanya, dia merasa geli.


"Kita nggak pake AC es teri, kita lagi dipuncak." Abdi mengendusi leher istrinya yang semakin membuatnya nyaman.


"Apa? dipuncak?." Indah mencoba melihat wajah Abdi, namun tak bisa.


"Badan lo kok anget sih?"


Tak menghiraukan keterkejutan Indah, Abdi mengangkat wajahnya, menempelkan telapak tangan pada kening istrinya, memastikan jika yang dia rasakan adalah salah.


"Bener, lo anget."


Tanpa pikir panjang, Abdi langsung menarik kaus yang dia pakai, seingatnya jika seseorang panas, jika tak ada obat maka alternatif lainnya adalah skin to skin.


"Mas mau apa?"

__ADS_1


Indah menyilangkan tangannya didada.


"Mau sembuhin lo, biar cepet sembuh"


"Emang nggak ada cara lain mas?"


"Nggak ada, kita jauh dari pemukiman, ini villa milik keluarga Rasya, hanya ada tukang bersih-bersih yang datang jika siang, dan disini nggak ada apa-apa"


"Es teri, gue boleh buka baju lo kan? biar prosesnya cepat?"


"Proses apa mas?"


Indah semakin mengeratkan tangannya di dada.


"Biar lo cepat sembuh"


"I-iya tapi emang harus begini ya mas?"


"Iya" jawab Abdi singkat.


Sungguh Indah takut, ternyata dia tak seberani seperti yang ia bayangkan selama ini, pengen gitu, dapat nafkah batin, tapi kok sekarang tiba-tiba takut.


"Lo nggak usah takut, gue nggak bakal ajak nernak sekarang, lele gue udah jinak."


Lele? nernak? apa itu, Indah nggak paham dengan bahasa Abdi sekarang.


"Mas ngomong apa sih?"


"Ahh Lo kelamaan, buka sekarang ya?" Tangan Abdi sudah menarik ujung dress Indah.


Pasrah, hanya itu yang dapat Indah lakukan, sebab dia sendiri memang sudah merasa sangat dingin, tak tega juga melihat Abdi yang sudah membuka bajunya, takut suaminya akan masuk angin, tambah ribet urusanya.


Abdi membantu Indah bangun, dan membuka resleting baju Indah. Dengan sekali tarikan baju Indah telah terlepas, kini yang tersisa ditubuh Indah hanyalah kain tempurung yang melindungi dadanya dan kain segitiga yang melekat menutupi aset berharganya. Indah yang memang sudah kedinginan, tak menghiraukan lagi tubuhnya yang kini berada dalam dekapan Abdi, hangat kulit suaminya yang menempel pada tubuhnya menyalurkan kehangatan pada dirinya. Nyaman, itu yang Indah rasakan saat ini.


Abdi memeluk tubuh Indah seraya mengusap punggung istrinya, tak butuh waktu lama, Indah memejamkan matanya dan terlelap, tapi tidak dengan Abdi, dia begitu tersiksa dengan keadaan ini, idenya yang ingin membantu Indah malah membuatnya tak bisa tidur.


Ini untuk pertama kalinya bagi Abdi, tidur dengan seorang wanita, dengan posisi seintim ini, bohong jika dia tak terpancing, tapi tak mungkin juga dia akan memintanya disaat Indah sedang tak sehat.


"Sabar dulu ya lele, semoga besok pagi bisa nernak kita" tanpa sadar Abdi kini pun ikut terlelap.

__ADS_1


Pagi harinya, Indah terbangun terlebih dulu, pemandangan pertama yang dilihatnya ialah dada kekar Abdi, Indah tersenyum, merasa sangat senang, akhirnya dia bisa juga merasakan dipeluk dada itu, tangan Indah terangkat, mengelus pelan dada suaminya.


"Keras banget, ini asli nggak ya?" gumamnya.


Indah cekikikan, masa iya sih palsu, aneh nanti kalau palsu, atau di suntik silikon. Tangan Indah terus turun kebawah, meraba perut kotak-kotak Abdi, "ya ampun, ini juga keras," seperti tak pakai rem tangan itu semakin kebawah.


"Astaga" Indah menarik tangannya, saat tak sengaja menyentuh kumis lele Abdi yang sedikit mengintip dibalik celana jeans yang Abdi kenakan.


"Kenapa berhenti, Lo harus tanggung jawab es teri." Abdi memegang tangan Indah sudah berada di dada Indah.


"Mas udah bangun?" tanya Indah yang terkejut.


Yaiyalah bangun, masa diraba seperti itu nggak kebangunan, hanya saja Abdi dari tadi diam saja, dia sampai menahan nafas, ingin melihat sejauh mana Indah akan menggerayanginya.


Abdi membuka matanya "Lo harus tanggung jawab," ujarnya, meletakkan tangan Indah untuk memeluknya, hingga dada mereka kembali menempel, membuat jantung keduanya saling bersahutan, seakan saling berkomunikasi.


"Ta-tanggung jawab apa mas?, kan Indah nggak ngapa-ngapain"


Indah gugup, bukan dia tak mengerti, hanya saja dia malu, ketahuan telah menyentuh area pribadi suaminya tanpa izin.


"Lo nggak suka sama lele kan?, tapi kali ini gue jamin, lo pasti suka sama lele milik gue, lo harus kenalan, biar bisa akrab." ucapnya menatap wajah Indah yang sudah sangat merona.


Nih laki gue waras kan ya? masa suruh kenalan sama lele, dikira gue bisa bahasa hewan kali ya.


"Mas_"


"Es teri, kita bisa mulai nernak kan ya?." izinya menyela Indah yang ingin bertanya maksud perkataannya, padahal dia tahu, istrinya ini, kadang suka lemot, tapi malah ngomong pake bahasa yang istrinya nggak ngerti.


Abdi meraba kening Indah, memastikan jika istrinya ini sudah sehat, dan sudah bisa diajak nernak lele.


"Obat gue manjur kan, lo sekarang udah nggak panas lagi, berarti sekarang kita bisa mulai perkenalan" ucapnya tepat didepan wajah Indah, wangi mint dari nafas Abdi menerpa wajah Indah, menghipnotis Indah.


Indah mengerjap-ngerjapkan matanya lucu, semakin membuat Abdi tak tahan, segera Abdi mengambil tangan Indah, dan mengarahkannya ke lelenya yang sudah hidup sedari semalam.


"Ini lele gue, sekarang lo udah kenal kan, lo harus sering ajak dia ngobrol, soalnya dia senang kalo diajak ngobrol."


"Mas." Indah menegang, merasakan sesuatu yang keras dibalik celana suaminya.


"Iya" suara Abdi parau, ia menuntun tangan Indah untuk menjinakkan lelenya.

__ADS_1


__ADS_2