Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 46


__ADS_3

Tangan Abdi sudah menyentuh handle pintu kamar tamu milik Chio, saat dia akan membuka, sayangnya pintu itu terkunci.


Abdi menatap heran Chio yang kini sudah berdiri dibelakangnya. Laki-laki itu nampak sedang menghembuskan nafas lega.


"Ehem" Chio berdehem, mencoba untuk tidak panik.


"Kamar ini jarang dipakai, wece nya juga mampet, banyak kecoa, tikus, kelabang, nyamuk, cicak, semut, cacing." ujar Chio.


Chio mengerakkan kepalanya kekanan kekiri menyebutkan nama-nama hewan yang bisa membuat Abdi geli.


"Lo sengaja peliara mereka disini?" Abdi geleng kepala "Lo lagi nggak nyimpen cewek kan didalam?. Kok bisa sih, wece kita mampet berjamaah?."


Chio mengendikkan bahunya "Kalau mau bab di wece kamar yang satu, lagian tuh lubang nggak bisa apa kasih pengaturan, biar malam-malam nggak ganggu tetangga"


"Nggak jadi, tadi udah ngantongin batu, katanya pending dulu."


Abdi berjalan menuju sofa, mendudukkan pantatnya disofa tempat Chio duduk tadi, tangannya langsung terulur mengambil satu bungkus snack yang tergeletak diatas meja dengan mata mengintip laptop, melihat apa yang sedang Chio kerjakan.


"Tumben sekarang ngemil malam, awas ntar badannya balik kayak dulu lagi" Abdi memasukkan snack rasa jagung manis itu kedalam mulutnya.


Chio memutar mata malas, jika bahas tubuh dia sekarang sensitif, seperti perempuan. "Dari kemarin ngurusin badan gue mulu, usus didalam sini udah berdamai dengan makanan, jadi nggak ngaruh." tunjuk Chio pada perutnya sendiri.


Chio duduk disamping Abdi, hatinya tak henti-hentinya berdoa, agar Abdi tak bertanya tentang apa-apa lagi. "Nggak jadi semedi, pulang, gue mau istirahat" usir Chio.


"Kayaknya kerjaan lo masih banyak, gue temenin deh."


"Nggak perlu."


"Gue yang ada perlu."


Chio langsung menghadap Abdi "Apa??" tatapnya serius, Abdi tak pernah mengatakan hal ini.


Terlihat Abdi membuang nafas, lalu dia meletakkan snak yang tadi dipegangnya diatas meja.


"Gue lagi tertimpa ban truk (musibah), gue butuh Tun." (Tun, sebutan rupiah dalam istilah keturunan mandarin)


Chio masih menatap Abdi, menunggu tetangganya itu melanjutkan lagi yang ingin dia ucapkan.


"Tadi ada lima orang yang keracunan kopi americano di cafe, untungnya mereka nggak papa, mereka juga nggak nuntut, ya ... cuma minta uang ganti rugi dan pengobatan mereka sampai sembuh, jumlahnya nggak sedikit, gue juga minta orang-orang yang ada di tempat kejadian untuk nggak menyebarkan kasus ini, dan untuk korban, gue juga minta mereka untuk ngerti, ini kelalaian."


Chio mengernyit "Keracunan? bagaimana bisa?." Chio menegakkan duduknya, mereka mulai serius.


Abdi mengendikkan bahu "Entahlah, masih dalam penyelidikan ulang, perkiraan gue ada orang dalam, gue nggak tau diantara karyawan gue siapa yang tega ngelakuin ini, gue serahin semua ke pihak yang berwajib, cuma, ya untuk satu bulan kedepan cafe nggak boleh beroperasi dulu."


"Ini masalah serius bro." Chio menepuk bahu Abdi "Berapa yang bisa gue bantu?."


"Gopek tiao" (lima ratus juta)


"Oke, besok gue urus"

__ADS_1


"Gue juga mau pindah,?" Abdi menunduk "Apartemen ini mau gue jual dan rumah gue yang lama juga mau gue jual, nanti kalau udah laku, gue bayar."


"Lo lupa, punya sahabat dan tetangga pengusaha kaya?, gue bayarin apartemennya, berapa tiud (duit) yang lo mau?" Chio merangkul bahu Abdi, membusungkan dadanya pongah.


Abdi langsung menatap Chio "Serius?"


Chio mencebik "Lo ngeremehin kekayaan gue ternyata"


Abdi terkekeh "Iya-iya gue percaya" dia juga merangkul Chio.


"Gue cuma kasihan sama Indah, punya laki miskin, nggak tega gue" Chio melepaskan rangkulannya, kembali melihat layar laptopnya.


"Sue"


"Lo cuma bayar korban, juga bayar polisi, kok harus jual apart sih?" tanya Chio.


Abdi merebahkan tubuhnya di sandaran sofa, dengan merentangkan kedua tangannya. Dia menerawang ke langit-langit apartemen Chio, menceritakan semua kejadian pertemuannya dengan Thomas dan Prasasti. Dia juga menceritakan tentang ganti rugi yang Thomas minta.


Sebenarnya sebelum kejadian dicafe, Abdi dan Doni sudah mengurus tentang ganti rugi pada Thomas, dan Abdi juga membawa serta seorang advokat, jika Thomas bersikukuh meminta nominal yang disebutkan, maka Thomas bisa terkena pasal pemerasan.


Chio nampak prihatin dengan keadaan Abdi saat ini.


"Terus kenapa lo bisa milih Indah dibanding Anggun?, kan Indah bisa buat gue"


Sembari menunggu jawaban Abdi, Chio memasang rekaman percakapan mereka lewat ponselnya tanpa sepengetahuan Abdi. Sebab Chio juga merasa kasihan atas keterpurukan Anggun saat ini, yang iya, dia juga repot, jika Anggun terus-menerus ditempatnya.


Abdi menoyor kepala Chio.


"Apa?"


Abdi mengangguk "Mama nikah sama papanya Anggun, pernikahan mama dan papa yang berulang kali gue nggak dateng, jadi gue nggak tahu, jika Thomas dan Anggun ternyata saudara tiri gue" Abdi belum tahu, jika mamanya ternyata selingkuhan Prasasti.


Chio membelalakkan matanya, "Kenapa lo nggak jujur sama Anggun?"


"Gue masih punya hati, nggak mau merusak kebahagiaan mama, cuma itu mungkin yang bisa gue lakuin, walau harus menyakiti hati Anggun, ya intinya kita nggak jodoh"


"Ngomong-ngomong, nih cemilan kayak gue inget, cemilan kesukaan siapa ya?"


Chio mematikan rekamannya. Dia sedikit gugup, namun dia harus bisa menutupinya "Udah pasti ini kesukaan gue, pea" jawab Chio


Abdi mengangguk-ngangguk, "Iya juga kali ya?"


Setelah itu mereka kembali mengobrol hal-hal yang tak penting, hingga waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, Abdi kembali ke apartemennya.


Tiada yang tahu, jika Anggun dikamar mendengar semua obrolan mereka, Anggun memegang dadanya yang terasa sesak, air mata tiada henti mengalir, dengan tubuh yang merosot dibalik pintu.


"Abdi, andai kamu jujur dari awal" isak Anggun.


...****...

__ADS_1


Pagi hari, Indah dan Abdi sedang menikmati sarapan mereka.


"Es teri, ini kartu untuk belanja semua kebutuhan kamu."


Abdi menyodorkan kartu miliknya.


"Nggak usah mas, duit Indah masih cukup kok, mas kan lagi banyak keperluan," tolak Indah.


"Aku nggak mau ada penolakan, ini udah kewajiban aku memenuhi semua kebutuhan kamu, semua masalah ku, sudah aku tangani."


Abdi berdiri menghampiri istrinya, dia mengambil tangan Indah, lalu merendahkan tubuhnya, menjadikan lututnya sebagai penopang badannya, meletakkan kartu itu ke telapak tangan sang Indah


"Ambil, kamu cukup doain aku, terus disamping ku apapun yang terjadi, ingat, jangan pernah tinggalkan aku barang sedikitpun, sesulit apapun keadaan ku nanti, hanya kamu yang aku punya, aku minta kamu bersabar untuk saat ini."


Mereka saling tatap dalam, Indah sungguh terharu, ada rasa yang timbul dari dalam dada menyebar ke seluruh tubuh hingga terasa begitu terenyuh, membuat matanya mengembun.


"Iya mas, aku janji, apapun yang terjadi, Indah akan selalu disamping mas"


Abdi berdiri menarik tubuh Indah, membawanya kedalam dadanya, "Terima kasih es teri, sudah mau berjanji, terima kasih sudah hadir dalam hidup ku, bersabarlah sebentar." pintanya, Abdi mengecupi pucuk kepala Indah.


Air mata itu tak bisa terbendung lagi, untuk pertama kalinya bagi Indah, dia larut dalam kesedihan, dulu, sesulit apapun kehidupannya dengan ibunya, ia tak pernah merasa sesedih ini. Hanya kesulitan keuangan, mereka tak begitu khawatir, mereka masih bisa mengusahakannya.


Namun saat ini, laki-laki yang begitu ia cintai, berlutut didepannya, memohon untuk selalu setia. Laki-laki itu sedang sangat rapuh, dia membutuhkan seseorang untuk mendampinginya dan mendukungnya selalu.


Dari sorot matanya terlihat dia begitu tulus dan penuh cinta. Sangat mustahil jika Indah tak tersentuh.


Abdi mengurai pelukannya menghapus air mata Indah "Ternyata kamu lebih jelek dari yang aku bayangin ya es teri, kalo lagi nangis."


Indah memukul bahu Abdi "Mas ih" Indah lalu menepis tangan Abdi yang berada dipipinya, menghapus sendiri air matanya kasar, dia ... malu. Indah memalingkan wajahnya, menahan senyum.


Abdi terkekeh, ia menarik dagu sang istri untuk melihatnya, tak tahan Abdi langsung memakirkan bibirnya di bibir Indah, awalnya bibirnya tak bergerak, namun lama-kelamaan dia menggerakkan bibirnya dengan begitu lembut, sangat lembut, hingga membuat Indah terbuai, Abdi lalu mengigit kecil bibir bawah Indah, hingga bibir itu terbuka, dia dengan leluasa menelusupkan lidahnya, Indah membalas itu, hingga bibir keduanya saling berbelit di dalam sana.


Merasa tak bisa bernafas, Indah menarik diri, menyudahi ciuman yang mulai memanas. Ia mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, seperti tak akan kebagian oksigen lagi. Dadanya pun terlihat naik turun, Abdi membiarkan itu sejenak. Merasa belum puas, Abdi menarik tengkuk Indah, kembali melanjutkan ciuman mereka.


...***...


Dikediaman Surya, Anggun membuka pintu dengan kasar, dia yang awalnya ingin menginap dirumah Chio lebih lama, kini dia memutuskan kembali pagi hari. Setelah memastikan yang dia dengar, kejadian yang Abdi alami pada Chio, dan mendengar rekaman Chio semalam. Anggun memantapkan hati, dia akan mengungkapkan pada ayahnya, siapa Widuri yang sebenarnya.


Kepulangan Anggun membuat Surya dan Widuri terkejut, mereka menatap Anggun yang berjalan santai menghampiri mereka.


Anggun meletakkan tas besarnya diatas meja makan dengan sedikit membantingnya, membuat beberapa piring diatas sana melompat.


Surya dan Widuri tentu saja kaget.


Surya berdiri.


"ANGGUN APA YANG KAMU LAKUKAN?" bentaknya.


Anggun menatap sengit Widuri, lalu menatap ayahnya.

__ADS_1


"Menjadi anak pembangkang yang sesungguhnya" jawab Anggun.


Dengan santai Anggun menyendok nasi serta lauk, tak dihiraukannya papanya yang menatapnya penuh amarah, dan Widuri menatapnya terheran-heran.


__ADS_2