Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 82


__ADS_3

"Zidan nggak papa kan makan es krim." tanya Indah saat mereka sampai di minimarket dekat butik.


"Jangan tante, Zidan kan baru sembuh."


"Astaga, maaf tante lupa." Indah menepuk jidatnya. "Jadi Zidan suka apa?"


Bocah itu menggeleng "Zidan nggak mau apa-apa tante."


Indah menghela nafasnya, kagum dengan pribadi Zidan yang ternyata nggak neko-neko, Indah merasa bersalah sempat salah artikan sifat Zidan kemarin.


"Sekarang Zidan mau apa? ambil sendiri ya" perintah Indah "Kamu emang nggak lemes habis keluar dari rumah sakit, sekarang malah ikut pergi sama mama?"


Indah heran dengan Naima yang membawa Zidan untuk feeting baju pernikahan mereka besok, tanpa memikirkan kesehatan anaknya. Iya tau, dia ngebet pengen kawin, tapi nggak begini juga kali, sampai menutup akal sehat, takut banget Abdi berubah pikiran, dasar otaknya sudah tertutup tulang kering yang keras. Benar-benar otak Fir'aun, tak BER-PE-RI-KE-MA-NU-SIA-AN.


Lagi bocah itu menggeleng dan berjalan menuju stand susu kotak "Zidan mau ini boleh tante?" tanyanya menunjukkan kotak susu berwarna coklat merek milik kita.


"Boleh, mau ambil dua juga boleh" Indah nampak berpikir "Zidan mau jajan apalagi?"


"Nggak tante, ini aja."


Indah mengangguk, lalu mereka menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Indah tak mau mengambilkan Zidan makanan sembarangan, takut jika bocah ini alergi terhadap makanan tertentu, nanti dia yang malah disalahkan.


"Kalian dari mana sayang?" tanya Abdi saat Indah dan Zidan kembali ke sofa ruang tunggu butik tersebut.


"Dari minimarket sebelah" ucap Indah tanpa melihat Abdi "udah selesai belum, kalau belum aku pulang duluan bareng Zidan. Kasian dia baru pulang dari rumah sakit, nanti malah sakit lagi."


Tanpa Abdi sadari tak ada panggilan mas dari ucapan Indah, dia mendadak kesal pada Abdi, dan lagi, mana ada wanita yang bisa biasa-biasa saja melihat suaminya feeting baju pernikahan bersama wanita lain. Kepergiannya bersama Zidan tadi cukup membuat Indah tak terlalu merasakan sakit, namun sayang kondisi anak itu tak memungkinkan.


"Kalau begitu, kita pulang sekarang." Abdi berdiri, dia sudah akan menggandeng tangan Indah. Padahal dia belum memilih sama sekali jas yang akan dia gunakan besok karena Abdi ingin Indah yang memilihkan untuknya.


"Tapi mas, kamu belum menentukan besok mau pakai jas yang mana? dan kita belum beli cincin buat besok." cegah Naima langsung.

__ADS_1


Indah sontak melihat Abdi


"Aku sudah siapkan Nai, spesial buat kamu. Besok aku pakai jas yang ada dirumah" dia melihat Indah dan Zidan "Kesehatan Zidan lebih penting bukan?"


Naima langsung terdiam, dia tak berpikir jika pilihannya mengajak Zidan malah membuat acaranya bersama Abdi terganggu. Dan urung untuk memanasi Indah dengan mengajak Abdi untuk jalan ke tempat favorit mereka dulu, padahal dia baru akan memulai semuanya. Namun ucapan Abdi yang sudah menyiapkan cincin spesial untuknya tak ayal membuat Naima mengembangkan senyumnya, dia bisa melihat wajah marah dan kecewa Indah di sana.


"Well, bukan aku yang melakukan, melainkan mas Abdi sendiri" batin Naima.


Tapi tetap saja Naima menghampiri Abdi, "Makasih ya mas, kamu sudah mau perhatian sama Zidan." ucap Naima sambil membelai dada Abdi, dan berhasil membuat Indah marah.


Abdi segera menepis tangan Naima, dia merasa risih Naima melakukan itu didepan Indah.


"Dasar tulang kering, belum sah udah main pegang-pegang." Indah menggeser tubuh Naima. "Tunggu sampai besok kan bisa."


Naima bersungut tak suka dengan ucapan Indah, namun dia memilih mengalah.


Mereka keluar dari butik setelah dirasa selesai, pernikahan Naima dan Abdi sebenarnya hanya pernikahan siri, namun Naima tetap meminta untuk membeli pakaian pengantin yang baru, sebab ini akan menjadi momen sekali seumur hidup.


Naima pikir Abdi benar-benar mengajaknya pulang, dan mereka hanya menghabiskan waktu dirumah, menunggu persiapan pernikahan mereka besok, nyatanya dia salah, Abdi justru mengantarkan Indah dan Zidan pulang kerumahnya. Dan memilih jalan berdua bersamanya, hal itu membuat Naima tersenyum penuh kemenangan.


Indah membelalakkan matanya, ketika Abdi lebih memilih menghabiskan waktunya bersama Naima diluar, dan malah meninggalkanya bersama Zidan. Ingin Indah marah dan mengatakan jika dia bukan baby sitter, namun Indah menahannya, Indah akan membalasnya suatu saat nanti dengan lebih menyakitkan lagi.


Indah tak mengiyakan dan juga tak melarang Abdi, dia hanya diam menahan gemuruh dadanya yang tak karuan karena kesal, belum apa-apa Abdi sudah bersikap tak adil.


Seperginya Abdi dan Naima Indah memilih menghabiskan waktunya bersama Zidan dengan bermain dan belajar. Jiwa guru didalam dirinya tak bisa hilang walau nyatanya Zidan sedang kurang enak badan. Dari pada dia harus terpikirkan apa yang sedang Abdi dan Naima lakukan diluar sana.


Hingga malam tiba, dan Zidan sudah tidur. Indah memilih mengurung dirinya dikamar, menyendiri, memikirkan nasibnya yang tak beruntung. Indah duduk diatas jendela kamarnya yang terbuka, melambaikan tangan untuk merasakan hembusan angin malam, membiarkan angin menerpa wajahnya.


Melihat bulan yang baru akan menampakkan dirinya. Bulan itu seperti dia, dia yang akan memulai takdir hidupnya yang baru, menerima wanita lain dalam rumah tangganya.


Dan akhirnya hari ini datang juga, hari dimana dia harus melepaskan Abdi bersama cinta pertamanya, wanita yang bisa menyempurnakan pernikahan yang sesungguhnya. Abdi harus bahagia bersama wanita yang bisa memberikannya keturunan. Tak mungkin dia terus menggenggam laki-laki itu, jika dia hanyalah wanita cacat yang tak memiliki rahim.

__ADS_1


Tapi satu hal yang membuat Indah mengganjal, kenapa Abdi memilih akad besok dirumah mereka, bukan dirumah Naima?. Ah itu bukan urusannya. Biarlah segala persiapan pernikahan Abdi dan Naima yang mengurusnya sendiri.


Tak lama pintu kamarnya terbuka, muncul sosok Abdi datang dengan senyuman manisnya. Senyuman yang membuat hati Indah terasa sakit.


"Kamu belum tidur sayang?" tanya Abdi sebelum dia masuk kekamar mandi, dan Indah hanya menggeleng.


Indah tak lagi menyiapkan pakaian Abdi saat suaminya selesai mandi. Indah malas melakukan itu, karena kedepannya kebiasaan itu akan dilakukan oleh wanita lain.


"Ahh ... hari ini lelah sekali." ucap Abdi santai, tanpa memperdulikan perasaan Indah. Dia menggerakkan lehernya kekiri kekanan, ikut berdiri didepan jendela dimana Indah berdiri.


"Keliatannya kamu seneng banget" lagi-lagi tanpa embel-embel mas.


Abdi berdehem salah tingkah, dia menggaruk alisnya. Tak menjawab ucapan Indah.


"Naima nggak jemput Zidan?" Indah berbalik, melihat Zidan yang tertidur di ranjang mereka.


"Tadi habis jalan-jalan aku langsung mengantar Naima, biarlah Zidan disini, besok juga mereka akan kesini kan?"


Abdi ikut membalikkan badan, ia menyanggah tubuhnya menggunakan siku di jendela yang terbuka.


Indah menghadap Abdi "Selamat atas pernikahan kalian, aku harap kamu bahagia_ mas, dan memiliki keturunan yang soleh dan solehah."


Abdi mengambil tangan Indah "Terima kasih sayang, kamu memang istri terbaik ku. Aku mencintaimu." bisik Abdi ditelinga Indah.


Namun ungkapan itu membuat Indah menitikkan bulir bening yang ia tahan mati-matian. Nyatanya dia tak sekuat yang selama ini dia bayangkan.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy weekend semua, oh ya, dapat undangan dari Naima besok untuk jadi saksi kebahagiaannya. Kalo nggak datang nanti pada gatel kena bulunya. 🤭😁


__ADS_2