
"Jangan sembarangan menerima pemberian orang lain" Abdi memberi peringatan pada Indah setelah Chio pulang.
Indah tak menanggapi ucapan Abdi, dia mencebikkan bibirnya, rasa kesal saat ini mendominasinya, walau ia menyukai Abdi, namun ucapan Abdi yang mengatakan jika dia keponakannya sangat melukai hati Indah. Lihat saja, Indah akan membalas perlakuan Abdi, bersikap cuek salah satu cara Indah membalasnya.
"Lo dengerkan gue ngomong es teri?" Abdi menatap Indah yang masih memakan bubur ayamnya.
"Es teri?" tanya Indah heran, menghentikan kunyahanya sejenak.
"Emang lo pantes dipanggil es teri"
"Terserah mas aja deh" Indah sudah tak perduli lagi, ia beranjak dari sofa, membawa bekas buburnya untuk dibuang tanpa melihat kearah Abdi. Padahal dalam lubuk hati Indah ingin sekali menanyakan apakah Abdi sudah baikan atau belum?. Namun saat ini gengsi tengah menguasai dirinya.
Tindakan Indah semakin membuat Abdi kesal, Abdi mengacak rambutnya kasar melihat tingkah Indah yang cuek padanya, padahal biasanya Indah selalu menggombalinya dengan gombalan receh. Baru juga Indah mendiaminya selama beberapa menit, rasanya sudah membuat Abdi stress. Abdi tak suka ini, ia pun segera masuk kekamar, membersihkan diri, dan berganti pakaian. Dari pada bersama Indah membuat kepalanya menjadi semakin sakit, padahal rencananya ia ingin beristirahat hari ini.
Abdi keluar kamar dengan pakaian rapinya, siap akan ke cafe, karena hari ini, hari dimana seorang pengusaha yang berani membayar mahal untuk acara ulang tahun orang tua mereka. Abdi melihat Indah yang juga sudah rapi dan wangi, parfum Indah bahkan bisa mengalahkan parfum miliknya, menguar memenuhi ruang tamu mereka.
"Mau kemana lo es teri?" tanya Abdi
Karena ini hari minggu, Abdi pikir Indah tak akan kerja, dan dia belum mengetahui secara pasti apa pekerjaan Indah sebenarnya? karena memang mereka belum memiliki waktu untuk mengobrol berdua.
"Mau kerumah Ibu" jawab Indah cuek, sambil mengenakan sepatu skate putih miliknya.
Abdi mengernyit "Naik apa?"
"Naik motor"
Abdi membuang nafas kasar, Indah sama sekali tak melihat kearahnya.
"Lo marah sama gue?" Abdi memiringkan kepalanya, ingin melihat wajah Indah yang tertunduk merapikan sepatunya.
__ADS_1
"Nggak"
"Kenapa nggak mau liat gue? lo nggak lagi ngomong sama setan" Abdi berkacak pinggang, memperhatikan yang Indah lakukan.
Indah menatap tajam Abdi, kesal karena tak menyadari kesalahannya sendiri.
"Emang mas setan, lagian mana ada manusia yang mengakui istrinya keponakan sama orang lain, gimana kalo teman mas suka sama Indah? gimana kalo Indah nanti jadi suka sama teman mas? Indah harus selingkuh gitu? jadi poliandri? terus Indah yang disalah-salahin, mas tahu, itu lebih menyakitkan, terus mas minta cerai, Indah nggak mau mas, biarpun pernikahan kita karena kecelakaan dan salah paham, suatu saat mas akan menceraikan Indah tapi Indah mau nama Indah tetap_"
Abdi mendekat dan langsung membungkam mulut Indah dengan bibirnya, Abdi tak suka saat Indah mengucapkan kata cerai, dia sudah memutuskan Anggun, berarti dia juga akan berusaha menerima Indah, walau saat ini, Anggun masih terpatri dihatinya.
Indah mendorong tubuh Abdi, mengusap bibirnya kasar, ia tak ingin terlena. Saat ini rasa kesalnya lebih besar daripada rasa sukanya pada Abdi.
"Mana ada paman mencium bibir keponakannya, nggak pantas" nafas Indah memburu, entah kenapa dia begitu kesal pada Abdi.
"Lo istri gue" ucapan itu muncul begitu saja, mau meminta maaf karena sudah mencium Indah, bibir Abdi rasanya keluh, "Soal tadi gue ngomong ke Chio kalo lo ponakan gue, itu gue asal jawab" bohongnya, padahal dia marah karena Indah tak mau menuruti keinginannya, saat Abdi sedang merasa nyaman, walau lagi-lagi Anggun yang ada dalam pikirannya.
"Jangan dekat-dekat sama laki-laki lain es teri, walau Chio taunya lo ponakan gue"
"Itu apalagi itu, mas manggil Indah es teri?" Indah masih menatap sinis pada Abdi
"Rahasia" Abdi mendekatkan wajahnya saat mengucapkan itu, dan tersenyum menggoda, mencoba mencairkan suasana
"Mas itu bilang Indah aneh, padahal mas sendiri yang aneh, mana ada es teri, terus es teri itu rasanya nggak enak, berarti Indah nggak enak kan buat mas?"
"Kalo lo mau tau rasanya, mungkin nanti gue bakal bikin buat lo"
"Nggak makasih"
Abdi tersenyum melihat wajah cemberut Indah "Kalo mau kerumah Ibu, gue antar, sekalian gue mau ke cafe"
__ADS_1
"Nggak makasih" tolaknya, dan melipat tangan didada
"Yakin?" Tatap Abdi wajah yang jutek itu.
Indah membuang muka, enggan menatap wajah suaminya, dia takut akan luluh dan taktiknya untuk mencari perhatian Abdi akan gagal.
"Hemm"
"Kalo lo begini, nanti gue cium lagi" goda Abdi "Udah ayo, gue antar" Abdi menarik tangan Indah membawanya keluar, Indah pun tak dapat menolak, dia malah tersenyum, usahanya untuk mencari perhatian Abdi mulai berhasil.
Saat berada di liftpun Indah hanya diam saja, walau bibirnya sudah sangat gatal ingin bertanya, apakah Abdi sudah benar-benar sembuh atau belum, namun sekuat tenaga dia menahannya, tapi Indah rasa Abdi sudah agak baikan, karena saat tangan Abdi membawanya, tangan itu sudah tak terasa panas.
Hingga mereka berada didalam mobil, sebisa mungkin Indah bertindak secuek mungkin, dia hanya melihat keluar jendela, menyembunyikan senyumnya, agar tak terlihat oleh Abdi, hingga mereka sampai dirumah ibunya Indah, sama sekali mereka tak berbicara.
"Nanti pulangnya gue jemput, salam sama Ibu, gue buru-buru, nggak bisa mampir" Ucap Abdi saat Indah akan turun.
Lagi-lagi Indah hanya menjawab dengan gumaman, tak mengucapkan sepatah katapun pada Abdi, dan tak menunggu Abdi pergi lebih dulu, Indah langsung masuk ke pagar rumah. Abdi yang memang terburu-buru pun tak mempermasalahkan itu, diapun langsung memutar mobilnya, meninggalkan kediaman ibu Indah.
Indah berpapasan dengan Selly, wajah sepupunya itu terlihat tak baik-baik saja, dan terlihat sangat kesal dan marah, seperti sedang menunggu seseorang.
"Kenapa lo?, pagi-pagi nggak baik muka cemberut gitu, apalagi buat ibu hamil" ucapan Indah mengundang amarah Selly yang memang sedang kesal.
"JAGA UCAPAN LO YA, Lo tuh ngaca, nikah aja karena digrebek, dasar cewek MURAHAN" tekankan Selly ucapannya.
"Oh ya!! tapi aku harus bilang makasih sama wak Disa, karena Wak, sekarang gue udah nikah lebih dulu, sama cowok yang lebih tampan dari Thomas, dan dia pengusaha, walau itu salah paham, jadi nggak bikin dosa lebih banyak, dan hamil duluan, upps" Indah menutup mulutnya, seolah keceplosan. Indah pun bergegas kerumah, karena menurutnya sudah cukup untuk membalas perbuatan licik saudaranya ini.
Selly menggeram kesal, ia mengepalkan tangannya, rasa kesalnya pada Thomas karena tak kunjung memberinya kabar, kini ditambah Indah yang seakan tahu kehamilannya, membuat Selly semakin panik. Dari kemarin dia menghubungi tunangannya itu, tapi tak dijawab, dan tak kembali menghubungi, padahal Selly sudah memberi pesan hingga puluhan kali.
"THOMAS BRENGSEK" Selly menunduk, berpegang pada lututnya, ia menitikkan air mata yang sejak kemarin ditahannya.
__ADS_1