Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 79


__ADS_3

Indah berjalan menyusuri lorong sekolah, jam mengajarnya baru saja selesai, dan dia akan menuju ruang guru.


"Bu Indah." seorang guru perempuan wali kelas empat yang usianya lebih tua darinya menghampiri, mensejajari langkah Indah.


"Bu." sapa Indah balik.


"Sekarang Bu Indah sering diantar suaminya ya?"


Indah tersenyum menanggapi.


"Suaminya ganteng Bu, kok nggak ngundang-ngundang sih nikahnya, takut diembat kita-kita ya." candanya seraya tertawa.


"Hehe Ibu bisa aja, kita nikahnya cukup sah dimata Tuhan dan negara aja Bu."


"Wah salut, jarang nih jaman sekarang yang pemikirannya kayak Bu Indah gini" pujinya "Walau sederhana yang penting langgeng ya Bu, jaman sekarang kan banyak yang nikah gede-gedean tapi nggak lama cerai" cerocosnya.


"Oh ya Bu, saya turut berduka cita ya atas keguguran Bu Indah kemarin, maaf baru bisa ucapin secara langsung dan nggak bisa datang jengukin ibu. Soalnya saya juga baru masuk, kemaren nikahan ponakan dikampung. Bu Indah yang sabar, semoga diganti yang lebih baik lagi dan sesuai yang diharapkan, santai aja Bu Indah masih muda." hiburnya "Bu Indah KB nggak?" tanyanya kemudian.


"Hah?"


Pertanyaan itu sontak membuat Indah bingung harus menjawab apa?. Oh ya, teman-teman Indah disekolah belum ada yang tahu, jika Indah kemaren itu operasi pengangkatan rahim, yang mereka tahu dari Abdi adalah Indah hanya keguguran.


"Bu Indah KB?" tanyanya ulang "Sayang banget Bu kalau KB, sebaiknya kalo keguguran jangan KB. Kalo KB itu malah bikin lama isi lagi, Saya dulu begitu. Abis keguguran nggak KB, eh selang sebulan saya udah isi lagi, lahirlah si sulung yang sekarang sudah kelas empat."


Indah hanya menanggapi cerita temannya dengan senyum yang dipaksakan. Andai saja mereka tahu, sampai kapanpun Indah tidak akan bisa hamil.


Beruntung sekarang mereka sudah sampai diruang guru, Indah sedikit bisa bernafas lega. Dia tak akan terjebak pada pertanyaan temannya yang menjurus ke kehamilan. Bukan, bukan salah mereka membahas hal itu, hanya saja Indah belum mengatakan jika dia adalah wanita yang tidak sempurna.


Indah segera membereskan buku-buku yang ada diatas mejanya. Hingga ponselnya bergetar tanda ada pesan yang masuk.


+6266xxxxx


Maaf ganggu, bisa kita bertemu? aku Naima


Tak disangka kan? jika wanita ulat bulu bertulang itu, mengajak Indah yang dianggapnya hanya seekor ikan asin untuk bertemu. Hmm sungguh diluar dugaan, ternyata harga diri ikan asin lebih tinggi dibanding seekor tulang


Indah tak segera membalas pesan itu. Indah menarik nafasnya panjang, menengadahkan wajahnya keatas, untuk apa Naima mengajaknya bertemu?.

__ADS_1


Setelah berpikir sejenak, akhirnya Indah membalas pesan itu.


Indah : oke, dimana


Naima : dirumah sakit citra Medika, disana ada cafe, nanti saya share lock.


Setelah membaca pesan itu tanpa berniat membalasnya, Indah memasukkan ponselnya kedalam tas, Indah juga tak memeriksa apakah ada pesan dari Abdi atau tidak.


Sampai di gerbang sekolah Indah membuka kembali hapenya, memesan taksol sesuai dengan lokasi yang Naima kirimkan. Tak lama taksol itu sampai, Indah naik, kemudian duduk dibangku penumpang.


Selama diperjalanan, Indah sama sekali tak mengajak pak supir itu megobrol, bukan sombong, tapi moodnya yang kembali down. Didalam tasnya berulang kali hape Indah bergetar namun Indah mengabaikan itu, dia tahu jika yang menghubunginya adalah Abdi. Suaminya itu telah menjemputnya disekolah, sebab Abdi merasa khawatir, jika keluarga bibit akan mengatakan hal yang macam-macam pada Indah.


Tak lama Indah sampai dicafe yang tak jauh dari rumah sakit Citra Medika. Setelah membayar ongkos Indah berjalan memasuki cafe itu. Disana sudah ada Naima yang menunggunya. Tak ingin, berbasa-basi, Indah langsung saja menanyakan tujuan Naima menemuinya.


"Apa nggak sebaiknya kita minum kopi dulu, Bu guru Indah?" tawar Naima mengandung ejekan.


"Maaf Bu Naima, saya sangat sibuk, jadi ke inti permasalahan saja, apa tujuan anda mengajak saya bertemu?"


Naima tertawa mendengar ucapan Indah yang tak ada basa-basinya.


"Baiklah, saya juga tidak ingin berlama-lama dengan orang asing." ucapnya angkuh, membalas ucapan Indah yang membuatnya sakit."


Naima berdiri, mengajak Indah untuk kerumah sakit. Karena memang cafe dan rumah sakit yang berdekatan, jadi mereka cukup berjalan kaki.


Mereka berhenti diruang dimana Zidan mendapat perawatan. Naima masuk terlebih dahulu, menyapa anaknya yang terbaring di atas brankar dengan infus ditangannya.


"Zidan." Naima membelai tangan Zidan lembut membuat Zidan terbangun.


"Mama sudah sampai Ma? apa mama datang bersama om papa?" bocah itu langsung menanyakan keberadaan Abdi. "Tadi mama janji mau bawa om papa kesini, mana om papanya Ma?" tanyanya lagi.


Zidan melempar pandanganya ke arah pintu, berharap ada Abdi datang bersama mamanya. Namun dia kecewa, Abdi tak ada datang, malah yang dia lihat, Indah sedang berdiri didepan pintu sedang memandangnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


Indah bisa mendengar semua yang ditanyakan Zidan walau dari jarak jauh, dia tahu siapa yang dimaksud bocah itu, om papa yang dia maksud adalah Abdi suaminya.


"Om papa nanti datangnya, dia lagi kerja dulu."


"Apa om papa nggak suka Zidan MA? dari malam itu, om papa nggak datang-datang."

__ADS_1


Naima tersenyum, Zidan bisa diandalkan untuk membuat Indah merasa tak enak, Naima melirik Indah sejenak, lalu membelai kepala anaknya.


"Om papa suka kok sama Zidan, nyatanya waktu itu om papa antar Zidan kesekolah kan? om papa sedang urus pabriknya yang udah mau buka. Sebentar lagi kan pabrik om papa yang biasa tempat Zidan datang resmi mau dibuka."


Indah meremas seragamnya, dia benar-benar tak tahu apa-apa tentang pabrik yang sedang Abdi dirikan, Abdi tak pernah bercerita apapun. Dia merasa tak dianggap. Bahkan orang lain saja tahu kapan pabrik itu akan buka, sedang dia sendiri tidak tahu. Dan anak itu, dia terlihat sudah begitu dekat dengan Zidan. Nyatanya saat sakit seperti ini, anak itu menanyakan keberadaan Abdi.


"Ma, Zidan mau bertemu om papa, Zidan mau minta maaf kalau Zidan punya salah."


"Iya, semoga nanti om papa kesini. Tuh nanti tante itu yang akan bawa om papanya Zidan." tunjuk Naima pada Indah.


Indah membuang wajah saat Zidan dan ibunya memandang kearahnya. Dia menyukai anak kecil, tapi kenapa Indah justru tidak menyukai Zidan. Hingga suara Zidan memaksa Indah untuk berinteraksi dengan bocah itu.


"Tante, bener tante bisa bawa om papa kesini?"


Indah tak langsung menjawab, dia berjalan menghampiri tempat Zidan berbaring.


"Kenapa memang Zidan maunya sama om Abdi?" tanya Indah.


"Karena om papa baik, Zidan mau punya papa kayak om papa." jawabnya.


Hati Indah berdenyut mendengarnya, jika saja dia bisa hamil, Indah tak akan rela anak ini dekat dengan Abdi, sifatnya yang masih kecil namun sudah menunjukkan jika dia mewarisi watak keluarganya.


Kalian percaya kan, jika sifat keluarga itu nurun pada anak?. Nah seperti inilah kira-kira Zidan.


"Tapi mama Zidan bisa mencarikan Zidan papa lain buat Zidan, apa Zidan nggak mau,?"


Zidan menggeleng "Kalau om papa mau jadi ayah Zidan, mama nggak akan marah lagi sama Zidan. Mama nggak pukul Zidan lagi." aku bocah itu jujur.


Indah langsung melirik Naima yang berada didepannya membuat wanita ulat bulu itu terlihat salah tingkah. Kini Indah menjadi kasian pada Zidan, ia seperti dimanfaatkan oleh orang tuanya untuk memuluskan rencana mereka.


Indah tak ingin berlama-lama lagi, dia serahkan semua pada Abdi jika Abdi mau kembali pada kekasihnya Indah akan ikhlas.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen ya, jangan keluarkan dari paporit kalian, maaf jika saya slow up, semoga nggak pernah bosen sama ceritanya 😍😍


__ADS_2