
Abdi memajukan posisi duduknya, dia mencoba untuk tetap kuat, apapun yang terjadi.
"Dok, apa tidak ada opsi lain, selain pengangkatan rahim? lakukan apapun asalkan tidak melakukan pengangkatan rahim. Kami ... saya dan istri saya belum lama menikah. Saya takut ini akan menjadi beban untuk istri saya kedepannya"
Pinta Abdi, dia berharap kandungan Indah masih bisa diselamatkan.
Dokter menghela nafasnya, dia menekan tombol pada telepon yang terdapat diatas mejanya, dia berbicara pada seseorang diseberang sana, meminta agar beberapa dokter untuk datang keruangannya.
Dokter wanita itu cukup paham apa yang diucapkan Abdi saat ini. Sudah pasti, pasangan suami istri mengharapkan kehadiran buah hati di tengah rumah tangga mereka, sebagai penyempurna kebahagiaan mereka. Apalagi mengingat mereka belum lama menikah.
Dokter itu juga jadi paham, siapa suami sebenarnya dari Indah, bukan Thomas yang mengaku diawal, dokter tertawa dalam hati. Kenapa anak pemilik rumah sakit bisa mengakui istri orang sebagai istrinya? ckckck, secicak inikah Thomas, padahal dia tampan dan kaya, masa kan nggak laku? benar-benar tingah anak sultan tak bisa dipahami. Berarti wanita yang saat ini ditanganinya adalah wanita yang begitu istimewa, hingga Thomas mengaku-ngaku jadi suaminya.
Tak lama, beberapa dokter dengan pakaian seragam putihnya masuk dan berdiskusi. Mereka nampak membahas hasil USG yang ditunjukkan dokter wanita tadi, lalu menatap sejenak pada Abdi, salah satu dokter yang merupakan dokter ahli bedah, duduk didepan Abdi.
"Maaf Pak. Saat ini, hanya ini solusi terbaik, sebab jika tidak dilakukan operasi bisa menyebabkan penyakit yang lainnya." seorang dokter laki-laki menjelaskan pada Abdi.
Dokter memperlihatkan dan menjelaskan foto hasil USG milik Indah. Dia menipiskan bibirnya segaris, sebelum melanjutkan menjelaskan.
"Bu Indah memiliki tumor rahim, dan akibat benturan yang keras menyebabkan rusaknya rahim beliau, jika dipaksakan dan dibiarkan, ini akan berakibat fatal, dan ibu Indah akan mengalami sakit yang secara terus menerus. Seperti nyeri dan pendarahan yang berlebihan saat istri anda mengalami menstruasi." Jelas dokter lagi.
Nyeri dada Abdi mendengarnya, apa yang harus ia lakukan saat ini?. Abdi mengusap wajahnya kasar.
'Ya Tuhan, es teri, aku harap kamu kuat' pinta Abdi.
"Kapan operasi itu akan dilakukan Dok?" tanya Abdi dengan suara bergetar, sebagai suami dia takut, Indah tak kuat menerima cobaan yang begitu berat untuk mereka.
"Secepatnya Pak, besok paling lambat demi keselamatan istri Bapak, dikarenakan istri bapak sudah mengalami keguguran. Dan kami harus melakukan tindakan secepatnya. Kami butuh tanda tangan bapak sebagai persetujuan dan sebagai penanggung jawab sebelum kami melakukan persiapan."
Abdi merosot, dia seperti dihempaskan ke jurang yang paling dalam, tak ada waktu lagi untuk dia berpikir, semua terasa terlalu cepat. Dia dan Indah belum menikmati kebahagiaan sebuah pernikahan. Pernikahan mereka yang dadakan, dan semua masalah yang terjadi padanya begitu beruntun. Dia merasa menjadi laki-laki paling jahat sedunia, belum bisa memberi kebahagiaan untuk Indah.
Abdi membaca beberapa lembaran kertas yang menunjukkan rentetan peraturan rumah sakit, dan beberapa hak dan kewajiban yang didapat pasien. Dia membumbuhi tanda tangan di sudut kertas diatas sebuah materai dengan tangan yang bergetar, Abdi berharap, ini yang terbaik untuknya dan Indah.
__ADS_1
Beberapa dokter tadi keluar ruangan.
"Dok, apa boleh jika saya mau melihat kondisi istri saya terlebih dahulu."
"Silahkan Pak."
Abdi berdiri, namun dia sempat melirik Thomas yang duduk disebelahnya, laki-laki itu hanya diam sejak tadi. Untuk apa coba dia ikut keruangan dokter, benar-benar hanya menjadi bakteri yang tak terlihat. Abdi berjanji, setelah melihat sendiri kondisi istrinya. Dia akan membuat perhitungan pada saudara tirinya ini.
Sepeninggal Abdi, Thomas berbicara pada dokter tadi, meminta Indah mendapatkan perawatan terbaik, dan dia mengancam jika terjadi sesuatu pada Indah, dia akan memecat dokter itu.
...***...
Diruangan dimana Indah dirawat. Ruangan yang terbilang sangat besar, ruangan yang
lebih mirip seperti kamar hotel, bukan seperti kamar perawatan rumah sakit biasanya.
Abdi membuka pintu ruang dimana Indah terbaring. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus pengunjung. Saat dia membuka ruangan ini, hanya terdengar suara EKG yang mendominasi.
Abdi menangis tertahan, melihat banyaknya luka pada seluruh tubuh Indah. Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa Indah bisa mengalami banyak luka seperti ini? Dan soal benturan keras, benturan keras seperti apa yang Indah alami?.
Abdi mendekat, diraihnya tangan Indah yang terasa dingin tak berdaya. Dia kemudian beralih melihat pada tangan yang satunya, tangan yang kini tertancap jarum infus yang juga terdapat bekas luka-luka kecil. Sakit sekali hatinya membayangkan yang terjadi pada Indah. Abdi tak kuasa, dia akhirnya mengeluarkan air asin yang sejak tadi ditahannya.
"Maafin aku es teri, seharusnya aku pulang lebih awal, dan kamu tidak akan mengalami seperti ini." Abdi mengecup tangan Indah, membuat air matanya menempel ditangan Indah.
Tangan Abdi kini mengusap lembut pipi Indah, dia menyentuh luka-luka yang terdapat di sana dengan sangat hati-hati dan pelan, banyak sekali luka-luka kecil yang ada dipipi Indah, semakin membuatnya seperti teriris pilu.
"Aku harap kamu kuat es teri, aku cinta sama kamu, kita bisa hadapi ini bersama-sama."
Abdi bangkit, mencium kening Indah dalam. Begitu banyak penyesalan didalam dirinya, dia merasa menjadi suami yang tidak berguna, tidak bisa menjaga istrinya dengan baik. Dia tidak bisa menjalankan amanah ibu Masnah, yang memintanya untuk menjaga Indah.
"Maafkan aku es teri, maaf." ucapnya dengan terisak. Abdi kemudian mencium pipi Indah, dan kemudian mengecup bibir yang sering menggombalinya, bibir yang kini terlihat begitu pucat. Abdi berharap. Bibir itu tetap akan menggombalinya seperti biasa, saat mengetahui kondisi yang sebenarnya.
__ADS_1
Abdi merogoh kantong celananya, mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi Masnah, ibu mertuanya, sebagai support sistem untuk Indah, ketika Indah terbangun nanti, dan sekaligus memberi tahu keadaan Indah. Abdi tak bisa membayangkan hati kedua wanita ini setelah mengetahui yang sesungguhnya. Tapi ini yang terbaik.
Terdengar suara kegaduhan diluar ruangan, sudah Abdi pastikan jika itu suara Thomas yang memberontak. Thomas terbukti sebagai otak kekacauan di cafe miliknya. Dengan membayar salah satu karyawan Abdi yang saat ini sedang membutuhkan uang banyak untuk biaya pernikahanya.
Thomas tak bisa mengelak lagi atas pengakuan saksi yang Abdi selidiki secara diam-diam. Dia sudah menduga jika ini ada campur tangan Thomas, namun dia tidak ingin gegabah, Abdi menunggu waktu Thomas lengah, dan hari ini, Abdi tak bisa menahannya lagi, melihat kondisi Indah saat ini, Abdi tak bisa mentolerir sikap Thomas.
...****...
Dikediaman Prasasti.
Berita ditangkapnya Thomas telah sampai di telinganya, serta kejadian diapartemen Thomas. Dia begitu marah, bagaimana kedua anaknya ini bisa memperebutkan satu wanita yang sama, dan wanita itu bukanlah wanita yang istimewa atau wanita dari kalangan orang berkelas.
Dia lebih menyayangkan tindakan Thomas yang terbilang sangat murahan, anak yang didiknya dan diharapkan nanti bisa jadi penerus perusahaan keluarga, malah menghancurkan nama keluarga besar Prasasti.
Kartika ibu Thomas yang juga sudah mengetahui tentang Thomas tak bisa menahan kesedihannya, dia merasa menjadi wanita yang gagal dalam mendidik anaknya. Membiarkan Thomas hidup diluar agar anaknya itu tak merasa dikekang, ternyata malah menodai kepercayaannya. Dia begitu malu, saat dia mengetahui Thomas ingin merebut istri dari saudara tirinya sendiri. Abdi yang hidup tanpa kasih sayang orang tua, nyatanya bisa menjadi pribadi lebih baik dari Thomas.
Ya, sejak kejadian dicafe beberapa bulan lalu, Kartika juga menyelidiki siapa Abdi sebenarnya, yang wajahnya terbilang sangat mirip Prasasti suaminya. Abdi ternyata anak suaminya bersama wanita malam yang menjadi simpanan Prasasti. Prasasti begitu pintar menyimpan kebohongannya. Dia selalu menjadi suami yang penyayang dan hangat pada anaknya, ternyata menyembunyikan sesuatu yang besar.
Dia begitu bodoh, mengapa tidak menyelidiki kecurigaannya sejak dulu.
"Bagaimana nasib kamu Thomas?, dosamu terlalu besar nak." jerit pilu Kartika.
.
.
.
.
*Maaf ya jika ada kesalahan-kesalahan dalam dunia medisnya, maklum bukan ahlinya. 😁😍❤️
__ADS_1
Yuk komen, like yang banyak 🤭😂😂*