
Disinilah sekarang Indah berdiri, menatap lurus didepannya, pandangan yang terhalang kaca bening, dia melihat seorang wanita yang merupakan kakak dari ayahnya, sedang terbaring tak berdaya, dengan banyaknya alat bantu ditubuhnya.
Indah tak mau masuk untuk saat ini, boleh dikatakan jika dia adalah wanita paling jahat saat ini. Dia senang melihat orang yang telah dzalim terhadap ibunya, sedang bertarung nyawa didalam sana.
Terlihat, Selly yang duduk disamping tempat mamanya tidur, menangis dengan mulut yang terus berbicara ditelinga mamanya, entah apa yang sedang Selly katakan pada mamanya, Indah pun tak mau tahu.
Dia bisa sampai disini, karena tak kuat, melihat Selly dengan wajah yang pucat, terus memohon padanya, untuk bisa menjenguk mamanya. Selly juga sempat hampir pingsan, sebab dia tak makan apa-apa sejak kemarin. Hal ini mengharuskan Indah berbaik hati sama Selly, memberikan makanan yang tadi dikirim suaminya untuk mengisi perut Selly yang kini memang tengah berbadan dua.
Ingin rasanya Indah mengumpat Selly seperti biasanya, tapi dia masih ada sedikit nurani. Tadi juga Indah membayarkan ongkos taksi yang Selly gunakan. Semiskin apa sih mereka saat ini? bukankah mereka baru saja menggadaikan rumah milik ibunya? Indah ta habis pikir, dikemanakan uang itu? dan Selly juga, bukanya Selly pegawai kantoran yang bergaji besar, lalu mengapa dia sampai tak punya uang sama sekali?.
Indah membuang pandangannya, saat Selly memutar kepalanya melihat kearahnya. Benci, Indah benar-benar benci melihat wajah itu. Wajah sendu Selly yang bisa membuatnya lemah, ya, Indah ini kan manusia. Dia punya rasa benci dan kasian secara bersamaan.
Indah masih berdiri, tidak tahu juga harus berbuat apa, masa dia juga harus ikutan nangis?. Mau ngobrol sama Selly juga rasanya berat. Ck, akhirnya Indah memilih duduk di bangku kayu bercat putih disamping pintu. Perasaannya saat ini campur aduk, benci, marah, sebal, tapi juga kasihan jadi satu.
Masnah nggak boleh tau hal ini, sudah pasti, nanti ibunya itu akan membantu Selly dan mamanya. Tapi ... Selly sudah mengabari mamanya belum ya?, harap cemas, Indah takut jika ternyata Selly menghubungi ibunya untuk minta bantuan.
Indah membuka tasnya, mencari hape, ingin mengabari Abdi, jika dia saat ini sedang berada dirumah sakit, lama Indah mengaduk-aduk isi tasnya, namun tak juga menemukan benda yang dia cari. Bahunya melemah, jangan-jangan hapenya ketinggalan. Semoga saja nanti saat dia pulang, Abdi belum sampai terlebih dahulu. Bisa saja sih, minjam hapenya Selly, tapi Indah nggak mau.
Ceklek ... suara pintu ruangan terbuka, Selly keluar, sepupunya itu milih duduk disebelahnya. Males, sebenarnya males duduk sebelahan gini, tadi saja saat naik taksol, Indah duduk dibangku sebelah supir, nggak mau dia duduk sebelahan sama Selly.
Diam, keduanya terdiam, dengan pandangan kosong kedepan. Selly akhirnya membuka suara, memecah keheningan.
"Mama terkena serangan jantung kronis, bukan cuma itu, ternyata mama juga sudah komplikasi, mama juga sakit diabetes, yang selama aku nggak tahu. Tadi Mama lagi tidur, habis minum obat, tapi obat mama habis, mama tergantung sama obat sekarang, kalo nggak, mama ... " Selly akhirnya membuka suara, memecah keheningan.
Selly menunduk dalam, air matanya merembes, menetes diatas pahanya, membuat dress yang dia pakai terkena titikan air mata cicak itu.
Indah masih bergeming, tak menanggapi yang Selly ucapkan, walau sebenarnya sedikit terkejut juga mendengar penyakit yang diderita Wak Disa.
"Usia kandungan aku sekarang memasuki usia lima bulan, tapi ... Thomas tidak mau mengakuinya."
Hiks hiks ...
Srottt
Selly membuang cairan lengketnya dengan tissue.
Malang sekali nasib mu Sell.
"Uang aku habis, beberapa kali papa meminta kirim uang untuk menambah modal, bahkan rumah kami, dan ... rumah kamu juga sudah kami jual, maaf"
__ADS_1
Berat sebenarnya menyebut itu, karena dia merasa bersalah, "Tapi saat dihubungi papa nggak ada kabar, papa menghilang begitu aja, kemarin hape papa masih aktif, tapi setelah aku kasih kabar tentang keadaan mama, dan minta papa buat pulang, nomor papa sekarang udah nggak aktif lagi."
Selly makin tergugu, bahunya bergetar karena tangisannya, sebegitu terpuruknya dia saat ini.
"Mama butuh biaya, tapi aku sekarang udah nggak punya apa-apa lagi, aku udah nggak kerja."
Udah kalo nggak punya uang, biarin mama kamu mati sekalian, nggak usah ribet.
Boleh nggak sih, Indah bilang begitu? kalau boleh, ingin rasanya Indah katakan itu pada Selly. Bukan tega, tapi Indah juga nggak mau pusing. Jadi dia tak harus memikirkan masalah mereka juga, saat ini, Abdi suaminya juga sedang banyak masalah.
"Aku bingung harus cari biaya dimana sekarang, teman-teman aku pada nggak ada yang mau dimintai tolong, mereka semua menjauh." Suara Selly serak karena menangis, Selly menghapus air mata dengan telapak tangannya.
"Mama nggak bisa pulang kalo aku nggak bayar administrasinya dulu."
Tuhkan feeling Indah bener, pasti ujung-ujungnya ini dia minta dibiayain. Nggak mungkin kalau cuma minta dijenguk doank.
Indah membuang nafas kasar, dia harus ngomong jujur ke Selly.
"Sell, maaf untuk biaya sepertinya aku nggak bisa, karena seperti yang lo tau, gaji guru nggak sebesar gaji pegawai kantor, jadi tabungan aku nggak bisa buat bantu biaya Wak. Dan untuk kehamilan kamu, nanti aku akan buat Thomas tanggung jawab, kamu tenang aja, maaf gue harus pulang sekarang, karena sebentar lagi suami ku akan pulang."
Indah berdiri, dia akan pulang sekarang, dan untuk menemui Disa, Indah rasa waktunya bukan sekarang, dia harus mempersiapkan hatinya terlebih dahulu, setelah dia iklas atas perbuatan Disa, baru dia akan menjenguk Disa.
"Jika nanti mama mati, aku juga pasti akan menyusul mama, untuk apa aku hidup, sekarang nggak ada yang perduli sama aku, saudara sekalipun."
Saat sampai didepan administrasi, Indah malah membelokkan kakinya, dia jadi penasaran seberapa besar biaya yang dibutuhkan Selly.
"Selamat siang Mba, maaf saya mau tanya biaya yang harus dibayar oleh pasien bernama Disa Ramadani, yang dirawat di ruang_" Indah sedikit mengingat nama ruang Disa tadi "Ruang permata mba."
"Oh, pasien yang terkena serangan jantung ya Mba." ujar wanita cantik penjaga administrasi.
"Ahh iya."
"Sebentar ya mba, saya cek sebentar."
Lima menit Indah menunggu.
"Mba, seluruh biaya yang harus dibayarkan oleh pasien berjumlah 55 juta."
"Hah? 55 juta?." tanya Indah memastikan.
__ADS_1
"Iya mba."
"Oh iya, makasih ya mba."
Indah memijit keningnya, tadinya jika biayanya tidak terlalu mahal, Indah akan membayarnya, namun sisa uang tabungannya tidak sebesar itu. Abdi memang memberinya uang lebih,tapi Indah tak mungkin menggunakan uang itu, sebab Abdi sendiri sedang membutuhkan uang banyak. Sebisa mungkin Indah akan menghemat uang itu sampai keuangan suaminya normal kembali.
Setelah sampai di pelataran rumah sakit, Indah naik taksi yang kebetulan lewat, yang baru saja menurunkan penumpang disana, Indah beruntung, tak harus menunggu lama, karena dia tak bisa memesan ojol sebab tak membawa hape.
Indah masuk ke taksi tersebut, lalu menyebutkan nama komplek tempat tinggalnya sekarang. Indah menyadarkan kepalanya pada sandaran kursi, pikirannya tak tenang, sebenci apapun ia terhadap duo cicak itu, tapi mereka tetaplah saudaranya, saudara kental dia, sebab Disa adik kandung kakaknya.
Saat sampai rumah nanti, dia akan menceritakan hal ini pada Abdi, dan dia akan meminta bantuan Anggun. Semoga Abdi mengizinkan niatnya ini.
Indah mengalihkan pandangannya keluar, siapa tahu ada pemandangan yang bisa menghiburnya. Indah mendesah lemah, dia lupa menanyakan, dari mana Selly tahu alamat rumah barunya, sedangkan Selly sendiri sibuk pada mamanya. Huff gara-gara rasa bencinya Indah malah melupakan hal itu.
Namun Indah melihat sebuah apartemen yang kalau tidak salah apartemen milik Thomas, Indah ingat-ingat lupa saat ia mengantar Anggun mabuk malam itu.
"Pak berhenti disini saja." pinta Indah tiba-tiba.
"Loh mba, rumah mba masih jauh loh." ujar pak supir.
"Nggak papa, saya tiba-tiba ada kepentingan mendadak pak."
Pak supir melambatkan laju mobilnya sebelum berhenti di tempat khusus untuk menurunkan penumpang. Indah keluar dari taksi. Dia menatap ke atas, tangannya terangkat seperti hormat, menghalau cahaya terik, untuk memastikan jika ini apartemen Thomas. Iya benar, ini apartemen tempat tinggal Thomas, semoga Thomas ada ditempatnya, dia akan mendesak Thomas untuk bertanggung jawab atas kehamilan Selly.
Indah masih ingat juga lantai tempat tinggal Thomas dulu, dia tidak amnesia, sebab Indah menghapalnya betul, untuk memastikan keamanan Anggun dulu.
Saat di lift, Indah menekan tombol paling atas apartemen itu, dimana kamar milik Thomas. Indah keluar saat lift terbuka. Indah baru engeh, jika lantai ini hanya terdapat dua pintu. Dan pilihan Indah terdapat di pintu yang ada disebelah kanannya berdiri saat ini.
Sepi, sangat sepi tempat ini, dengan sedikit ragu Indah melangkah, jantungnya terasa berdegup kencang, ada rasa takut ia akan melanjutkan menemui Thomas atau tidak. Menarik nafas dalam-dalam, Indah menyakinkan diri untuk masuk. Thomas tak boleh lari dari tanggung jawab. Anak yang ada didalam kandungan Selly harus memiliki ayah.
Tangan Indah terangkat, menekan bel unit tersebut. Indah mengetuk-ngetuk kakinya, bibirnya ia rapatkan untuk menghilangkan rasa gugup, semoga dia tidak salah kamar.
Tak lama pintu terbuka, bersyukur sekali Indah, benar ini unit milik Thomas.
"Wow, Indah, sebuah kehormatan sekali kamu bisa sampai disini." Thomas muncul dengan pakaian santainya.
Sebuah kehormatan? apa maksud ucapan Thomas?.
"Gue mau ngomong sama lo kereta." ucap Indah tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Oh ya, penting kah?" ucap Thomas pura-pura tak tahu tujuan Indah.
"Lo ... " ucapan Indah terhenti, tiba-tiba Thomas menarik tangannya, hingga Indah masuk kedalam apartemen Thomas.