Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 50


__ADS_3

"Apa lo udah tau Ndah, kalo gue sama mas Abdi itu saudara tiri?" tanya Anggun lagi


Indah menunduk, lalu mengangguk kecil.


Melihat Indah mengangguk, Anggun kembali menitikkan air matanya.


"Lo pasti seneng banget lihat posisi gue saat ini, makanya waktu lo datang kerumah, bilang jika nggak akan ninggalin Abdi, karena lo udah tau status kami. gue yakin, lo pasti udah tahu kalau mas Abdi tuh milik gue, dia pernah vairel karena bisnisnya, tapi lo pura-pura nggak tau."


Indah membelalakkan matanya mendengar tuduhan Anggun. Tak habis pikir sih sahabatnya ini bisa berubah, Indah seperti tak mengenal Anggun yang dulu, Anggun yang begitu lembut dan begitu menyayanginya.


"Anggun, gue pernah bilang, pernikahan itu sakral, pernikahan kami murni karena kecelakaan Nggun, dan gue sama sekali nggak tahu tentang hubungan kalian."


Kemudian Indah menceritakan kronologi pernikahannya dengan Abdi.


"Bulshit, gue udah nggak percaya lagi sama omongan lo, lo itu udah kerja sama sama saudara lo. lo iri sama gue kan Ndah?. Makanya lo lakuin itu"


"Anggun stop." Abdi tak kuat jika Indah terus disudutkan.


"Aku nggak tahu Nggun, kamu tahu dari siapa soal ini, tapi aku senang, karena kamu sekarang udah tahu yang sebenarnya. Takdir kita memang seperti ini Nggun, cuma sebatas saling singgah tanpa harus bersama. Indah tak tahu menahu tentang hubungan kita. Maaf aku yang nggak jujur dari awal" jelas Abdi kemudian.


"Semua belum terlambat mas, papa akan meninggalkan wanita itu, kita bisa bersama-sama kalau kamu mau, kita bisa mulai semua dari awal, kini papa udah tahu semuanya, papa nyesel."


"Anggun kamu gila, aku tidak mungkin melakukan itu, aku sangat mencintai Indah, dia segalanya buatku sekarang, lupakan aku Nggun, banyak laki-laki diluar sana yang pasti sangat mencintai kamu, kamu harus bisa menerima takdir, jika kita tidak berjodoh." lirih Abdi.


Mendengar ucapan Abdi jika mencintainya, seperti ada ribuan kupu-kupu cantik keluar dari hati Indah, menggelitik hingga ke perutnya, ini pertama kali Abdi mengucapkan itu, bahkan didepan Anggun.


"Kita bisa berjodoh mas jika kamu mau, kita bisa merubah takdir itu, sekarang kamu ambil keputusan, kita bisa berjodoh, kamu tinggalkan Indah, kami bisa bersahabatan lagi seperti dulu, dan kamu tidak bimbang lagi dengan pilihan kamu."


"Astaga Anggun, lo sadar nggak sih, lo itu menyalakan takdir." Indah mengelus dada, apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Anggun?.


Anggun kembali tersenyum getir.


"Terus ajarin gue Ndah, ajarin gue buat nerima semua takdir ini." Anggun terisak, sesakit ini takdirnya.


Siapa sih disini yang mau ada di posisi mereka? Nggak akan ada kan?.


Anggun, dia begitu mencintai Abdi, namun dia tidak tahu, jika mereka hanya cukup saling mengenal tanpa berjodoh, jika dia bisa memilih, dia akan meminta untuk tidak dipertemukan dengan Abdi, agar dia tidak merasakan luka separah ini, yang nyatanya laki-laki itu saudara tirinya. Dan Anggun kembali harus menerima kenyataan pahit, jika Abdi menikah dengan sahabatnya sendiri.


Sedangkan posisi Indah dan Abdi, mereka hanya mengikuti alur kehidupan. Seperti sungai, mengalir begitu saja, tapi sungai inginnya bersih terus, tanpa adanya sampah dan kotoran manusia yang lewat diatasnya.


Kedatangan Anggun hari memang ingin mengetahui kejelasan tentang bagaimana Abdi dan Indah bisa menikah?, dia ingin tahu cerita itu dari mulut Indah langsung, dan dia ingin memastikan, jika Abdi bisa menerima sahabatnya itu dengan tulus. Sekarang Anggun sudah tahu jawabannya sendiri, cinta Abdi dan Indah begitu kuat.


Masalah, lebih baik dilkeluarkan segala uneg-unegnya, ucapkan yang selama ini mengganjal. Semua akan terasa plong, saat semua itu telah diungkapkan.


Terkadang salah paham terjadi jika kita tidak tahu kejadian yang sebenarnya.


"Gue sadar Ndah, doa gue selama ini kalah dengan doa orang lain" lanjut Anggun.


Indah mengernyitkan keningnya mendengar lanjutan ucapan Anggun. Nggak paham sih maksud Anggun.


"Mungkin ada doa laki-laki lain yang lebih kencang menyebut nama gue, hingga doa gue yang menyebut nama mas Abdi kalah"


Tambah nggak paham Indah, begitu juga dengan Abdi, dia juga tidak paham dengan maksud Anggun.


"Gue ... sebenarnya udah bisa nerima kalian." Anggun tersenyum, menghapus air mata cicak itu.


"Selamat sekali lagi buat kalian, ini sebagai ucapan perpisahan kita, untuk sekarang gue bersyukur, mungkin lo yang kuat jatuh miskin Ndah, bukan gue, gue belum tentu bisa setia mendampingi Abdi, jika dia miskin nanti." Anggun menghapus air mata cicaknya, tersenyum pada Indah dan Abdi.


"Anggun jangan bilang lo ngeprank gue?"

__ADS_1


"Sebenarnya fifty-fifty sih." Anggun makin melebarkan senyumnya, menunjukkan wajah tidak berdosanya karena membuat kekacauan ini.


Indah berhambur memeluk Anggun.


"Anggun, ternyata lo masih sama kayak dulu, gue pikir kita akan marahan terus, makasih Nggun"


"Oon" Anggun melepas pelukan Indah. "Lo gampang banget dikerjainnya ya, eh Bu guru, lo sekarang udah jadi istri pengusaha, ya walau masih ngerintis sih, atau otewe bangkrut?"


"Anggun doa Lo."


Anggun tertawa"Sorry,hehe, lo jangan gampang dibohongi, ingat, ujian pernikahan itu lebih kuat dari pada jomblo, tar lo keduluan sama pelakor"


"Ih amit-amit" Indah mengetuk jari yang ia kepalkan ke keningnya. "Lo jahat Nggun, lo bikin gue jantungan" Indah kembali memeluk Anggun.


"Eh bestie, sejak kapan sih lo melow kayak gini?" Kembali Anggun melepaskan pelukan Indah.


"Sejak lo ngerjain gue."


Abdi tersenyum, ternyata Anggun tidak segila yang terjadi lima menit yang lalu, dia wanita baik dan lembut yang dia kenal selama ini. Tapi ... Abdi malu, bisa-bisanya dia dikerjai seperti ini, dan dia ikut terpancing emosi dengan ucapan-ucapan Anggun tadi. Astaga hampir saja dia lepas kendali.


Ehhh, tunggu dulu, tadi Chio kan yang membawa Anggun, apa Chio kerja sama dengan Anggun?. **** ... dasar Chio. Abdi kembali merutuki kebodohannya, dia benar-benar tertipu.


Tak lama yang dipikirkan muncul, Chio datang membawa empat bungkus pecel lele dari gerai Abdi.


"Wah sinetronnya udah tamat ternyata, kok cepet sih? gue kayaknya telat" celetuk Chio, dia pun sama, kedua sudut bibirnya terus melengkungkan senyum kepuasan.


Abdi mengepalkan tangannya, berarti bener, Chio kerja sama dengan Anggun.


"Brengsek, lo ngerjain gue." Abdi hendak memukul bahu Chio, namun Chio mengelaknya.


"Gue udah sering main sama artis, jadi akting gue dapet kan?" Chio menaik turunkan alisnya, menggoda Abdi. Dia lalu duduk disofa.


Anggun kembali nyengir "Ini kita g pake briefing Ndah, natural, kalo bagus entar gue mau dijadiin model loh sama Chio."


"Waw, serius?"


Anggun mengangguk cepat. "Rejeki gue, karena gue nggak kawin dulu, kalo gue udah kawin, nggak bisa gue melanjutkan karier yang secemerlang ini." ujar Anggun


Indah memukul paha Anggun. "Gue ikut seneng" ujar Indah.


"Makasih." mereka kembali berpelukan.


"Kita makan yuk, kalian pasti laper lagi abis syuting, jangan pelukan terus kayak teletubbis" ajak Chio.


Semua tertawa.


Mereka langsung makan lagi, untuk kedua kalinya di jam yang terbilang masih sangat pagi. Makan-makan perpisahan, ceritanya.


"Kalian sejak kapan deket" tanya Abdi, yang merasa Chio dan Anggun ini tidak terlalu saling mengenal.


"Siaraha" (rahasia) jawab Chio cuek.


"Apa ... ? jadi yang selama ini lo sembunyiin itu Anggun?" Abdi memicingkan sebelah matanya pada Chio


Chio dan Anggun terdiam.


"Jadi benar kalian berdua, selama beberapa hari ini tinggal berdua?" tanya Abdi yang sangat terkejut.


Indah tersedak mendengar itu. "Anggun!!" dengan cepat Abdi mengambilkan minum untuk istrinya. "Makasih mas." Indah mengedip-ngedipkan matanya lucu.

__ADS_1


Anggun nampak ingin muntah melihat tingkah sahabatnya.


"Uwwekk, eh kita masih hidup disini." Anggun mengetuk-ngetuk meja.


"Hehe, Anggun, jadi bener lo tinggal berdua sama Chio?" tanya Indah lagi.


Anggun meringis "Ceritanya panjang, tapi kita nggak ngapa-ngapain kok, suer" Anggun mengangkat jari telunjuk dan jari tengah.


Chio dan Anggun nampak salah tingkah.


"Nggun semoga cowok yang menyebut nama lo dalam setiap doanya, adalah laki-laki yang baik dan tepat, lebih baik dari laki gue yang kece badai ini, tapi tetap laki gue paling ganteng." Indah merangkul tangan Abdi mesra.


Melihat tingkah Indah, Anggun memutar bola matanya malas.


"Iya Aamiin."


Setelah itu mereka membuat permainan perpisahan juga. Siapa yang kalah suit makan pete. Beruntung Indah dan Anggun suka makan pete, tapi tidak dengan Abdi dan Chio, Anggun mempersiapkan semua sangat matang, sampai dia membawa pete dalam tasnya.


Beberapa kali Abdi dan Chio terlihat ingin muntah, tapi demi kedua wanita didepannya senang, mereka menahannya.


Sebenarnya mereka sangat sedih harus berpisah seperti ini, namun Chio menghargai keputusan Abdi, dia ingin berjuang sendiri sebagai seorang laki-laki sejati.


Mereka dulu sama, bisa semaju ini karena mendapat modal awal dari seorang yang sangat berjasa. Dan saat terjatuh, mereka harus bisa bangkit sendiri. Begitulah kehidupan kadang diatas, kadang dibawah.


Abdi dan yang lainnya makan pecel lele, kecuali Indah, dia sendiri yang makan pecel ayam.


Setelah selesai, Abdi dan Indah berpamitan, tangis haru menghiasi drama perpisahan ini, ckckck padahal pindahnya sama dalam kota yang sama.


"Lo jaga kesehatan ya Ndah, dan semoga cepat dapat momongan."


"Aamiin, makasih doanya, lo juga, jaga kesehatan, eh Nggun, kita masih bisa ketemuan lah kita ini masih dalam satu kota yang sama loh"


"Maaf, gue sekarang sibuk, selain kerja kantor, gue juga kerja part time jadi model parfum, jadi lo bikin jadwal kalo mau ketemu gue."


Indah mengerucutkan bibirnya "Sombong, tolong pak Chio, jangan acece bu Anggun, belum apa-apa dia sudah sombong."


Chio menggaruk keningnya "Itu ... pengecualian." jawabnya.


"Modus." ejek Abdi.


Dan akhirnya, setelah hari beranjak sangat siang, mereka benar-benar mengakhiri pertemuan ini. Barang-barang milik Abdi dan Indah dibawa mobil pikup.


Setelah di lobby, Abdi kembali melihat kebelakang. Banyak sekali kenangannya dan perjuangannya selama tinggal diapartemen kecil ini. Entah sudah berapa tahun dia tinggal disini, sedikit berat dia harus pindah terlebih, pindah dengan cara yang seperti ini.


"Mas" tegur Indah.


Abdi tersenyum, menautkan jarinya pada jari Indah, mereka berjalan kearah mobil.


.


.


.


.


*Maaf banget lama up nya, ini tuh persi ketiga setelah aku pilih, ampe begadang semalam, dan nggak tidur, tapi nggak selesai juga, maaf banget.


Untuk pemberitahuan, sesuai judul dan sinopsis, cerita ini sad ending persi aku, kalau up aga lama, harap maklum. Karena banyak info yang hrs aku gali, karena wawasan aku masih sangat sedikit.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan dan support nya. kasih komen yang banyak ya... hihihi buat mood boster aku*.


__ADS_2