Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 88


__ADS_3

Hari ini adalah hari ulang tahun Anggun, walau sekarang Anggun telah sukses didunia permodelinganya, tapi Anggun tetap mengadakan acaranya dirumah saja. Katanya dia tak banyak mengundang tamu, hanya teman dan kerabat terdekat saja.


Indah dan Abdi datang dengan kedua anaknya, Marsha dan Mahesa, diikuti juga oleh Masnah ibunya. Tak lama mobil Rasya datang juga, Rasya turun bersama Mawar yang perutnya sudah semakin membesar, usia kehamilan Mawar kini telah memasuki usia ke delapan bulan.


Mereka tidak hanya datang berdua, mereka mengajak serta mama Rika, papa Reyhan, Vivi dan Seno, mereka datang karena undangan Chio, entah apa maksud Chio mengajak mereka semua berkumpul, tapi semua merasa senang, sebab jarang sekali momen seperti ini.


Tak lama juga datang Marvin beserta segerombolan keluarganya, Marvin kini sudah memiliki tiga anak, dimana semuanya berjarak sangat dekat, jika yang paling tua saja seumuran Marsha, maka bisa dihitung jarak ketiga anaknya, yang terakhir baru saja berumur dua bulan.


Putri turun tertatih-tatih membawa bayinya yang masih merah, diikuti oleh baby sitternya yang membawa anak kedua mereka yg masih berusia setahun lebih, dan anak pertamanya yaitu Puma.


"Wah-wah pasukan keluarga berencana datang juga ternyata." ejek Rasya pada Marvin.


"Kamu yang kalah cepat Kak." sahut Marvin, yang mendapat cubitan dari Putri, dia malu sebenarnya.


"Songong." jawab Rasya lagi.


Disaat berkumpul seperti inilah yang kadang ingin Indah hindari, dia takut Abdi akan merasa malu memiliki istri sepertinya, nyatanya perasaan seperti itu belum benar-benar hilang, walau dia sekarang membawa dua buntut, tapi itu bukan anak yang lahir dari rahimnya, ada kalanya saat berkumpul seperti ini dia merasa menjadi paling kecil diantara yang lain.


"Sayang, kenalin ini Putri istrinya Marvin, Marvin ini adiknya Mawar." Abdi memperkenalkan Indah pada Putri dan Marvin, juga memperkenalkan Marcel yang kini berjalannya sudah menggunakan tongkat.


Indah menyapa Putri dan Marvin, lalu menyalami punggung tangan Marcel.


"Nikah nggak undang-undang kita, sudahlah anggap saja kita tak saling kenal." Marvin pura-pura marah.


"Hahaha ceritanya panjang."


"Lo sama Kak Rasya sama aja, nikah cuma sah doank." ejek Marvin


"Eh nggak ngaca ya." Putri yang menyahuti.


Derai tawa terdengar dari ketiga laki-laki itu, mereka baru menyadari jika pernikahan mereka merupakan pernikahan dadakan, dan tak ada yang melakukan resepsi.


"Yang penting sah kan, dan terbukti rumah tangga kita awet sampai sekarang." Rasya membela diri.


"Ah bilang saja kalian ngirit, nggak mau keluar modal." mama Rika ikut bergabung.


Indah benar-benar melihat kehangatan dikeluarga ini, dan melihat Abdi yang begitu diterima, berbeda dengan dia dikeluarga Thomas. Jangankan diterima, dianggap anak pun rasanya tidak. Indah lalu menghampiri Putri mencoba mengakrabkan diri, bagaimanapun juga, ini merupakan keluarga Abdi.


"Ih lucu banget, berapa usianya" tanya Indah.


"Jalan dua bulan" ia melihat Mahesa yang digendong Indah "Ini berapa bulan Mba?"


"Sama, baru jalan dua bulan, tapi ini anak sepupu ku sebenarnya."


Indah berkata jujur, dia tak mau ada yang ditutup-tutupi dari dirinya dikeluarga ini.


"Nggak papa, sekarang anggap saja anak Mba sendiri, Mba yang dipercaya buat mengurusnya."


"Ahh benar." Indah rasa Abdi telah menceritakan semua pada temannya tentang dirinya. Dan mereka semua dapat berpikir dewasa lebih darinya.


"Ini Kakak Marsha juga ikut Mba kan?" tanyanya saat melihat Marsha yang terus mengekor Indah.


"Ini anak pertama ku." ujar Indah yang mendapat tawaran dari Putri.


"Asal mba sabar aja." katanya.


"Sampe lupa sama Amamnya." kini Mawar ikut bergabung, merasa iri dia yang dulu begitu dekat dengan anaknya kini lebih dekat dengan Indah. "Kamu nggak mau menyapa Amam gitu?" tanya Mawar pada putri sulungnya.


"Nanti nunggu dede-dede nya keluar duyu, biar bisa kasih enen kayak dede Mahesa."

__ADS_1


"Hah??"


Semua yang mendengar ucapan Marsha dibuat bingung, menyadari itu Abdi mendekat "Udah jangan dengerin dia, Marsha emang suka aneh"


"Kau mengajari anakku yang aneh-aneh hei bapak Abdi." tuding Rasya menghardik Abdi, ia sudah ingin menjitak kepala Abdi.


"Oh tentu tidak, dia memang titisan ayahnya seperti ini, jadi jangan salahkan orang lain."


"Jadi kau menyalakan bapaknya, padahal selama ini dia dekat dengan kamu."


"Sudah-sudah ayo kita masuk, tuan rumah sudah menunggu, kenapa malah berdebat nggak jelas. Kalian kalau sudah ketemu seperti anak kecil saja, tak tahu malu" lagi mama Rika yang selalu jadi penengah jika kedua laki-laki yang kini sudah menjadi ayah itu bertemu, membuat yang lainnya tertawa.


Namun tak lama terdengar suara lengkingan tangis Marsha, biasa bocah itu jika sudah merasa terlupakan dia akan membuat ulah agar menjadi pusat perhatian lagi.


"Loh cucu kakek kenapa?" Reyhan menghampiri Marsha yang sudah terduduk di tanah.


"Puma doyong Masha Apo."


"Tidak aku tidak mendorong Kakak Masha" elak Puma, putra sulung Putri dan Marvin, dia merasa difitnah, padahal dari tadi dia diam saja.


"Kamu doyong aku, ayo minta maaf duyu, pantat aku sakit tau." Marsha menunjukkan pantatnya yang kini terduduk.


Semua orang tua menarik nafas panjang, ini pasti hanya drama Marsha saja karena merasa tersingkirkan jika sedang berkumpul seperti ini, semua orang sudah sangat paham dengan sifatnya.


"Lihat akting anakmu melebihi artis Meriam Bellina" ucap Abdi.


"Puma, minta maaf sama kakak Marsha ya" Putri mencoba membuat anaknya mengalah.


Sudah seperti biasa, Puma akan menurut dan meminta maaf, dia mengulurkan tangannya dan membantu Marsha berdiri. "Maaf kakak Marsha, aku nggak sengaja" ucap Puma, terlihat sekali dia tidak terima dituduh Marsha.


"Marsha ayo gendong Apo" ajak Reyhan cucunya.


"Iya."


"Sudah ayo cepat semua masuk, tak baik menunggu tuan rumah menunggu lama." titah mama Rika.


Benar saja mereka telah ditunggu Anggun didepan pintu rumahnya, ia tak menyangka jika keluarga yang dimaksud Chio ternyata sangat banyak.


Mereka dipersilahkan masuk, lalu saling bersalaman memperkenalkan diri, ternyata disana sudah ada David dan istri bulenya, serta sudah ada orang tua Chio yang datang dari Kalimantan.


"Ini yakin cuma sekedar acara ulang tahun, heh?" tanya Indah saat ia telah duduk disebelah Anggun.


Wanita itu cuma cengengesan "Aku nggak tau, Chio yang ngerencanain ini semua."


Mereka diminta untuk duduk di meja panjang yang disediakan oleh keluarga Anggun. Disebrang sana duduk Rasya dan keluarganya serta keluarga Chio, sedang Indah duduk disebelah Anggun sebagai anggota keluarga Anggun.


Indah mendengus "Yaudah terserah apapun itu, selamat ulang tahun ya, maaf nggak bawa kado, masih rempong ngurus bayi, tar sekalian aja dihari pernikahan kalian."


"Idih sahabat macam apa ini," Anggun mencibir. "Kita berasa banyak keluarga sekarang ya? semoga Chio ngelamar aku" Anggun melirik banyaknya keluarga yang dimaksud Chio.


"Aku juga baru tahu barusan, selama ini mas Abdi cuma ngenalin aku sama keluarga Mawar aja." Indah menyadari ucapan Anggun "Maksud lo Chio nggak bilang apa-apa gitu?."


"Lo percaya, Chio nggak pernah nayatian cinta ke gue" Indah melotot "Tapi gue yakin, dia ada rasa sama gue, ya kita lihat aja malam ini, buat apa coba dia sampe nerbangin orang tuanya kesini?"


"Waww, gue kagum sama jalan cerita cinta lo"


"Tapi nggak sedrama jalan cinta lo yang kayak telenovela ya." Keduanya cekikikan.


Mulut Indah yang hampir terbuka harus terkatup karena Mahesa yang akan menangis. Terpaksa dia harus mendiami Mahesa dulu, dan Abdi seperti suami siaga langsung mendekat, membawa botol susu untuk Mahesa.

__ADS_1


"Aku aja yang gendong sayang" pinta Abdi, dan Indah memberikan Mahesa pada Abdi.


Tak lama terdengar suara deheman dari Surya papa Anggun. Surya memberi kata sambutan untuk tamunya.


"Selamat malam semua, Merupakan suatu kehormatan sekali kami kedatangan keluarga besar Mahardika, Saya benar-benar deg-degan ini, masih tak percaya rumah kami kedatangan keluarga konglomerat." Reyhan tersenyum seraya menundukkan kepalanya " Serta kedatangan orang tua Chio yang datang jauh-jauh dari seberang sana" Surya menyeka keringat dikeningnya menggunakan sapu tangan, dia terlihat begitu grogi, membuat yang hadir tersenyum melihatnya.


"Sebenarnya ini bukan acara ulang tahun, karena anak saya sudah tua, jadi menurut saya sudah tak pantas," semua yang hadir disana tertawa "Entah apa yang sedang direncanakan laki-laki yang selama beberapa bulan ini menjadi teman dekat anak saya, dia mengatakan pada saya ingin memberi kejutan untuk putri saya satu-satunya. Silahkan nak Chio."


Chio berdiri, melirik Anggun yang tersenyum simpul padanya "Selamat malam semua." Chio menelan salivanya yang serasa serak "Terima kasih untuk Ayah dan Ibu yang datang dari Kalimantan, dan keluarga besar om Reyhan yang sudah menjadi keluarga besar saya selama saya di Jakarta, semua berawal dari teman terbaik saya." Chio melihat Mawar yang dibalas senyum oleh Mawar. "Tujuan saya mengundang semua anggota keluarga yaitu_ saya ingin menyampaikan bahwa saya ingin melamar anak Pak Surya, dan meminta secara langsung kepada Bapak. Bagaimana pak?" tanya Chio langsung, yang sontak mendapat tepuk tangan dari semuanya.


Surya melihat Anggun, menggenggam tangan anaknya "Saya serahkan semuanya pada Anggun." jawabnya seraya memberi anggukan, dia telah menyangka jika kedatangan keluarga Chio untuk melamar Anggun, dan dia lihat Chio pria yang baik seperti Abdi.


Sebelum Anggun berdiri dia meminta pendapat pada sahabatnya "Gimana?"


"Aku sih yes."


Anggun berdiri, dia tersenyum malu "Ehem, sebelumnya saya sangat malu, karena mengundang kalian semua berdalih acara ulang tahun, tapi sejujurnya, saya juga tidak tahu jika Chio malah melamar saya" Anggun menutup mulutnya malu. "Sebenarnya kedekatan kami selama ini murni kedekatan urusan pekerjaan, tanpa kami sadari jika akan timbul rasa lebih diantara kami"


"Cieee" sorak semuanya.


"Jadi aku menerima lamaran Chio." lanjut Anggun yang mendapat ucapan Alhamdulillah dan selamat dari para tamu.


Setelah itu acara makan malam berlangsung, sekaligus penentuan tanggal pernikahan keduanya.


"Jadi diantara kita cuma Chio dan David yang nikah dirayain?" Abdi membuka obrolan mereka saat para lelaki bergabung.


"Kayaknya gitu." jawab Marvin


"Semoga saja pernikahannya langgeng" Rasya memanasi.


"Nih laki mulutnya nggak bisa dijaga." David rasanya ingin meremat mulut Rasya.


Sedang diperkumpulan para wanita Indah memperhatikan Ainsley sendiri yang tak membawa anak. Ingin rasanya Indah bertanya, tapi dia sungkan, karena belum terlalu dekat dan mengenal istri David ini.


Namun Mawar menyadari itu.


"Ainsley istri Kak David memang belum mau memiliki anak."


"Hah!" Indah terkejut dengan ucapan Mawar yang mengerti isi hatinya.


Mawar tersenyum "Setiap orang berumah tangga, memiliki keturunan tidak dijadikan patokan, tergantung pribadi masing-masing, dan semua atas persetujuan pasangan kita. Dan mereka enjoy dengan pernikahan mereka."


"Kenapa bisa begitu Mam."


Mawar mengendikkan bahunya "Hanya mereka yang tahu alasannya."


Indah baru menyadari, ternyata keluarga ini begitu menghargai keputusan satu sama lain, tanpa harus memaksakan kehendak, sesuatu yang jarang sekali terjadi.


.


.


.


.


*Marhaban ya Ramadhan, selamat menjalankan puasa bagi yang sudah menjalankan, maaf lahir batin, maafkan kesalahan othor yang banyak salah ini. Semoga puasa kita lancar dan banyak mendulang pahala. Amiin 🤲


Banyak masih ngaret ya, biar end nya g gantung 😁😁*

__ADS_1


__ADS_2