Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
Semakin Nyaman


__ADS_3

Indah berjalan keluar dari gerbang sekolah, bersamaan dengan para anak-anak didiknya yang juga berhambur keluar, sesekali dia tersenyum menyambut sapaan para muridnya. Dia mengambil ponsel yang berada di tasnya, guna memesan ojek online, namun ponsel yang berada digenggamnya langsung direbut oleh seorang pengendara motor, Indah sontak akan berteriak minta tolong, namun ia segera menyadari jika motor yang digunakan pengendara tersebut adalah motor yang sangat dia kenal, ia motornya sendiri.


Seketika pengendara tersebut membuka helm yang dia gunakan.


"Mas" tatap Indah tak percaya dengan sosok yang berada didepannya.


"Ya ampun Indah pikir tadi copet loh, untung Indah nggak teriak mas" Indah mengomel dengan tindakan Abdi, lalu memukul bahu suaminya.


Yang diomeli malah tertawa "Iya copet hati kamu"


"Nggak lucu" Indah melototkan matanya, kembali tangan itu memukul bahu ditempat yang sama.


"Lo suka banget kadeerte es teri"


"Lagian rese banget si mas" tangan Abdi langsung mengambil tangan Indah


"Tanggung jawab, usapin" meletakkan tangan Indah dibahu yang tadi bekas dipukul.


Indah memajukan bibirnya, namun mengusap bahu itu dengan lembut. Abdi seperti salah dalam mengambil tindakan, usapan lembut Indah justru membuat jantungnya berdetak, dan darahnya berdesir hebat.


"Udah, usapan lo nggak enak" bohongnya


"Ish, dia yang mintak sendiri juga" kembali tangan itu memukul bahu itu


"Ya ampun es teri, harusnya gue dapet hadiah nih, udah tiga kali dapat kadeerte"


Yang mukul bukanya minta maaf, malah cekikikan


"Mas kok bisa pake motor Indah?"


"Udah cepat naik, interogasinya entar aja"


Menurut, Indah mengitari motor, lalu naik, untung seragam Indah pakai celana panjang, jadi bisa bonceng cowok. Abdi memakaikannya helm, lihat mas ganteng makin romantis kan?


"Udah tuan putri?" tanyanya sedikit menoleh


"Udah mas ganteng" mereka tertawa


"Let's go"


Motor Indah melaju pelan, bersamaan dengan pengendara lain, tak ada obrolan apapun diantara keduanya. Tiba-tiba Abdi menarik tangan Indah yang memegang jaket denimnya. Menyuruhnya untuk melingkarkan tangannya di perut seksi Abdi.


"Pegangan Neng, nanti jatuh"


Tangan Abdi menggenggam tangan Indah, membuat tubuh mereka sedikit menempel, aliran darah Indah memanas, mengaliri sampai keseluruh tubuhnya, sehingga jantungnya semakin keras memompa.


Abdi terus mengendarai motornya dengan satu tangan, sedang tangan yang satunya tetap memegang tangan Indah, santai banget, padahal yang dibelakangnya udah megap-megap akibat ulahnya. Mereka kelihatan seperti pasangan romantis ya?


Saking gugupnya Indah, sampai tak memperhatikan jalanan, hanya diam, merem, sesekali senyum sendiri, kayak orang nggak waras, tangannya yang digenggam sampai dingin, dan keringetan, padahal ini bukan pertama kali mereka deketan kayak gini, tapi perlakuan Abdi yang semakin hari menunjukkan perhatiannya, membuat Indah merasa sangat nyaman dan jatuh cinta. Tak terasa mereka sampai dicafe milik Abdi. Indah turun dan membuka helm.

__ADS_1


Lagi, Indah dibuat tak berkutik oleh perlakuan suaminya. Abdi dengan cepat dan tanpa disuruh, merapikan rambut Indah yang berantakan, membuat Indah membeku, mata Indah terus menatap wajah tampan suaminya, sedang yang ditatap kelihatan santai dan tenang.


"Udah rapi" Abdi tersenyum, dia sudah gemas melihat wajah Indah yang memerah, bibir imut yang mengerucut, susah payah dia menahan untuk tak memakan bibir itu saat ini juga.


"Mas ini kita dimana?" akhirnya nanya juga


"Ini cafe gue, yuk" ajaknya menarik tangan Indah, benar-benar nggak peduliin jantung Indah yang nggak baik-baik saja, sedikit lagi sekarat.


Menaiki undakan anak tangga, mereka masuk ke cafe, suasana cafe memang sedang ramai, karena memang ini jam makan siang. Banyak mata yang melihat kearah mereka, terutama karyawan Abdi, didalam hati mereka bertanya-tanya, siapa yang bersama atasannya ini? setahu mereka, kekasih Abdi adalah Anggun, wanita cantik dengan kulit putih bersih, dan sekarang, you know lah, Indah seperti apa? tapi kelihatan Abdi sangat menyayangi Indah dan melindungi dari caranya memperlakukan Indah. Indah sedikit merasa risih dengan tatapan orang yang seolah sedang mengulitinya dengan tatapan penuh tanda tanya, siapa dia?


"Don, buatin makan siang buat kita berdua ya" perintah Abdi pada Doni yang sedang berdiri didepan meja kasir.


Bukannya mengiyakan, Doni malah bertanya


"Siapa lagi ini bos?"


"Bini gue" jawabnya santai, dan langsung membawa Indah naik keruangan kerjanya, meninggalkan sejuta rasa penasaran Doni.


"Si Bos, kemaren sama siapa? sekarang sama siapa? ngaku bininya lagi" Doni menggelengkan kepalanya.


Indah dan Abdi memasuki ruang yang merupakan ruang kerja Abdi yang berwarna putih, Indah menelisik seisi ruangan itu, tak banyak barang disana, hanya ada meja yang diperuntukkan sebagai meja kerja Abdi, yang terdapat satu komputer diatasnya, dan dua kursi yang saling berhadapan, dan satu lemari cabinet dibelakang kursi Abdi, sebagai tempat untuk menyimpan laporan cafe. Terdapat pula sebuah sofa panjang berwarna biru, dan terdapat satu meja persegi didepannya. Indah melihat satu ruangan tertutup, yang Indah tebak merupakan kamar mandi pribadi milik Abdi.


Abdi duduk di kursi kebesarannya, langsung menyalakan komputer, sedang Indah berjalan menuju jendela, Indah berdecak kagum, ternyata jendela itu memperlihatkan taman kecil cafe, tempat parkir pengunjung dan gedung-gedung perkantoran yang berada didepannya, terlihat sangat kontras memang.


"Lokasinya bagus ya mas, strategis" ucapnya tanpa membalikkan badannya.


Abdi berdiri, lalu duduk disofa.


"Sini" pintanya, agar Indah duduk disebelahnya, membuat Indah membalikkan badannya, lalu tersenyum, nurut sama yang dipinta Abdi.


Indah duduk tepat disebelah Abdi, nggak deket banget, masih ada jarak. Sehingga Abdi menggeser duduknya, lalu meletakkan kepala pada bahu Indah, posisi ini menjadi sangat ia sukai, kehadiran Indah memiliki magnetnya tersendiri, Abdi merasa nyaman, Indah bak teman curhat sekaligus bagai seorang ibu baginya, selalu ada, padahal istrinya ini nggak pernah ngelakuin apa-apa loh, semua ngalir gitu aja. Tapi tetep dia nggak sadar, kalo semua yang dilakuinya, membuat Indah menahan nafas.


"Es teri, gue nggak akan nanya lo cinta apa nggak sama gue" mendongak, melihat wajah wanita yang diajaknya ngomong. Lalu kembali melihat kedepan, memikirkan kalimat apalagi yang akan dia ungkapkan, karena merasa akan ada banyak masalah yang akan dihadapinya.


"Gue cuma mau nanya, jika suatu saat nanti gue nggak punya apa-apa, apa lo bakal tetap bertahan disisi gue?"


Indah yang mendengar itu mengernyitkan dahinya "Mas lagi ada masalah?"


"Nggak, cuma suatu hubungan pernikahan pasti ada masalahnya kan?" nanya lagi, padahal yang tadi aja belum dijawab.


Indah menarik nafasnya, mas gantengnya sepertinya lagi butuhin dukungan darinya.


"Kita bisa hadapin masalah mas sama-sama, walau Indah nggak tahu masalah mas apa?" karena emang dia nggak tahu apa-apa, cuma jawab asal, yang dia sendiri nggak tahu apakah jawabannya bisa membuat Abdi lebih baik atau nggak.


Abdi memejamkan matanya, takdir menyeret Indah kedalam masalahnya, ada sedikit rasa tak tega jika Indah akan menderita bersamanya.


"Gue akan berusaha buat lo tetap bahagia, apapun caranya es teri, cuma lo yang gue punya saat ini"


Indah nggak bisa diajak melo, dia nggak suka, hidup keras bersama ibunya, selalu dijalaninya dengan santai, dia tipe bar-bar kan, jadi nggak suka sedih.

__ADS_1


"Mas, mas berat tahu nyender begini, gimana Indah bisa memikul beban berat kehidupan sama mas, kalo mas aja udah berat"


Abdi tertawa, mengangkat kepalanya "Sorry"


"Kok mas makin ganteng ya kalo lagi sedih, beda sama Indah, makin sedih makin jelek" Andi menyentil hidung Indah


"Dari lahir lo udah jelek"


"Makanya kan jodohnya mas, biar bisa memperbaiki keturunan" Lagi Abdi dibuat tertawa "Tapi mas cinta nggak sama Indah?"


Seketika Abdi terdiam, menatap dalam mata Indah, menyelami mata bening itu, tak jawab, memiringkan tubuhnya.


Cup


Mengecup bibir mungil istrinya.


"Cinta nggak sih mas?" nanya lagi dengan wajah yang sudah kembali memerah tapi sedikit kesal


Cup, tapi kali ini ditahan sama Abdi, lalu Abdi melihat mata Indah yang melotot, tangannya menelusup dibelakang telinga Indah, menahan tengkuk Indah untuk memperdalam ciumannya, tangan yang satunya lagi menarik tubuh Indah agar tak ada jarak diantara keduanya, biar nggak diisi setan ya mas, hihihi...


Indah memejam, menikmati serangan Abdi yang kembali membuatnya menegang, mengalirkan gelenyar aneh yang selalu menyerangnya, bak ada ribuan kupu-kupu keluar dari perutnya. Sayangnya itu cuma sebentar, karena ada


Tok tok tok


Ketukan suara pintu membuat mereka yang tadi sempat terhanyut dalam rasa cinta, kini harus terpaksa melepaskannya. Abdi terkekeh, lalu mengusap bibir Indah yang basah karenanya, "Tunggu sebentar ya"


Beranjak, membuka pintu, menampilkan wajah Doni dan Silvy yang membawa nampan berisi makan siang pesanannya.


"Maaf ya mas ganggu" ucap Doni


Abdi cuma mengangguk, mempersilahkan keduanya masuk, lalu meletakkan makanan diatas meja didepan Indah, mereka berbalas senyum menyapa, setelah karyawannya keluar, kembali Abdi duduk disofa.


"Kita makan dulu, sebelum melanjutkan lagi yang tadi"


Indah melototkan matanya, lalu memukul bahu Abdi kesal.


.


.


.


.


.


*Sorry, part ini kurang ngefeel, untuk part Thomas di chapter selanjutnya,


betewe, mksh yang Uda selalu komen dan kasih love, vote dan juga giftnya, aku nggak bisa kasih apa-apa, cuma terima kasih yang bisa aku ucapkan, semoga kalian sehat selalu, dan selamat Imlek buat yang merayakan, selamat berlibur semuanya, tetap jaga prokes ya..❤️❤️❤️😘*

__ADS_1


__ADS_2