Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 37


__ADS_3

Abdi tak memperdulikan keberadaan Widuri yang masih berdiri menatapnya, ia harus segera masuk, dari tadi dia terburu-buru hanya ingin segera bisa menemui Indah. Hah lucu sekali Widuri, bertahun-tahun dia acuh, kali ini datang hanya untuk mengatakan hal yang tidak penting sama sekali. Eh ngomong-ngomong dari mana Widuri tahu jika dia sudah menikah? dan terlebih lagi dia menikah dengan Indah, apakah Indah sendiri yang memberi tahu?. Ah sudahlah itu tidak penting lagi.


Abdi dapat tersenyum lega, wanita yang sejak tadi dia khawatirkan sedang tertidur pulas di atas sofa, dengan mulut yang sedikit terbuka, nafas yang sedikit bersuara, ehem, pandangan Abdi berpindah ke perut rata dan mulus milik Indah, sebab piyama yang dikenakan Indah sedikit tertarik keatas. Abdi meneguk ludah susah payah, apa yang dirasakan laki-laki normal jika melihat wanitanya terlihat sangat seksi seperti ini? tersiksa pastinya ... dan dia pengen.


Abdi segera memalingkan pandangannya, dia harus membersihkan dirinya dulu sebelum menyentuh istrinya, dia dari luar, apalagi tadi dia habis bersentuhan dengan Thomas, tak ingin kuman-kuman berbahaya, dan najis-najis yang terbawa oleh Thomas menempel pada tubuh istrinya.


Setelah sepuluh menit selesai dengan ritual mandinya, Abdi memakai kaos berwarna putih polos dengan lengan pendek, membuat otot lengannya terlihat, dan celana boxer rumahan berwarna coklat muda. Wajahnya terlihat segar, ditambah rambut yang masih sedikit basah dan acak-acakan menambah kesan seksi pada Abdi, uhuy andai Indah melihat Abdi saat ini, sudah pasti Abdi langsung diseruduk oleh Indah.


Abdi kembali lagi ke ruang depan dimana Indah tertidur, ia berjongkok, meneliti setiap senti wajah Indah, heran, kenapa nih anak makin dilihat makin menarik! Sungguh ajaib, Abdi merapikan anak rambut yang menutupi wajah Indah, ia lalu memajukan wajahnya, Abdi mencium kening Indah lama, ia memejam,


Gue bakal ngelindungi lo es teri, hanya lo wanita waras yang gue kenal saat ini, Tuhan memang maha baik, mengirimkan wanita terbaik buat gue.


Gemas kini Abdi beralih kebawah, mencium kedua mata Indah secara bergantian, dia tahu istrinya ini kalo tidur kayak gajah, nggak bakalan terganggu jika hanya dicium, kecuali jika diajak berternak lele, mungkin dia bakal terganggu, mungkin itu juga, karena Abdi belum mencobanya. Abdi belum berani, karena merasa belum bisa membahagiakan Indah sepenuhnya, masa langsung diajak beternak.


Hahaha Abdi terkekeh mengingat pernikahannya dengan Indah, dia seperti termakan omongannya sendiri, dia dulu meledeki Rasya karena menikahi Mawar tanpa resepsi dan pesta, kini dia juga menikahi Indah tanpa resepsi.


Gue usahain deh es teri, bikin pesta pernikahan jika urusan gue selesai.


Ternyata Abdi nggak bisa jika hanya cium sampai Dimata, kini dia beralih mencium ujung hidung pesek Indah, ya nggak pesek-pesek amat sebenarnya, cuman kalau buat muji Indah kayaknya berat, padahal cuma dalam hati, yang dipuji juga nggak bakal dengar dan geer.


Setelah mencium ujung hidung, kini dia kembali memandangi wajah istrinya sangat dalam, bukan bosan yang ada makin lama makin gemas, kan jadi mau nyium bibirnya sekarang, benerkan? sekarang dia nyium bibir mungil Indah, awalnya juga cuma ngecup sebentar, lalu kayak kurang dan mintak nambah, setelah nambah dua kali, kini dia merasa ingin nyium yang lama, bangun nggak ya?, nggak tega, akhirnya dia nggak jadi nyium.


Pandangannya sekarang turun kebawah, sial, Indah sedikit bergerak dan ganti posisi miring, tali beha Indah yang berwarna pink kini terlihat, dan daging dada Indah yang mulus juga kelihatan, sedikit, hadehhh kenapa si Indah malah gerak sih, kan bagian dalam tubuhnya jadi kelihatan seperti memancing, takut lele peliharaan Abdi berontak minta nernak, bisa berabe, hufff dari pada terus dipandang malah makin bikin pengen dan puyeng, mending angkat saja bawa ke kamar, lalu selimutin, aman.


Setelah membawa Indah ke kamar dan menyelimutinya, Abdi mencium lagi kening Indah sebagai ucapan selamat tidur. Dia lalu keluar balkon, mengangkat hape yang tadi dibawa, mengusap layar hapenya, mencari nomor seseorang yang sekiranya bisa membantunya, setelah ketemu, dia langsung menelepon nomor itu, semoga saja yang ditelpon lagi nggak setrum belut.

__ADS_1


Saat telepon pertama nggak diangkat, dia coba lagi, mungkin saja orangnya nggak denger, pada bunyi yang ketiga baru panggilannya diangkat.


"Sialan, keparat, kirain siapa yang nelpon malam-malam" umpat laki-laki diseberang sana.


Abdi terkekeh "Kenapa? lagi nyetrum belut ya?" tebaknya


"Kampret, baru aja lele masuk sarang, bener-bener ganggu"


"Sabar, lanjut lagi nanti, malam masih lama"


"Ada apa? nggak usah basa-basi"


"Besok bisa ketemu? ada hal penting yang harus dibicarain, tapi ditempat yang nyaman buat perempuan, ajak anak istri sekalian, aku pengen ngenalin seseorang"


"Siapa? cewek mana lagi yang jadi korbannya?"


"Bajingan main rahasia-rahasiaan"


"Gimana? bisa ketemu?"


"Oke, nanti di-share tempatnya"


"Gitu donk"


Tut tut

__ADS_1


Panggilan itu diputuskan sepihak dari seberang sana. Abdi terkekeh lagi, membayangkan wajah kesal disana yang kegiatannya terganggu olehnya. Abdi menghela nafasnya, ia memutuskan untuk masuk, menutup pintu balkon, lalu akan ke kamar, tapi matanya menangkap sebungkus makanan diatas meja makan, Abdi mendekat, ingin tahu isi makanan tersebut, sudut bibir Abdi terangkat saat melihat isinya, seporsi pecel lele Indah siapkan untuknya, Indah sangat tahu, Abdi tadi memang belum sempat makan malam karena pertemuannya dengan Thomas.


...****...


Malam merangkak naik, disebuah club malam, seorang wanita cantik dan seksi tengah menikmati kesedihannya, sudah beberapa kali ini dia mendatangi tempat terlarang ini saat dia patah hati, entah sudah gelas keberapa ia meneguk minumannya, bahkan botolnya saja sudah mau ganti lagi.


Dari jauh, laki-laki tampan sedang mengawasinya, takut kalau ada orang jahat yang memanfaatkan keadaan wanita tersebut, mata laki-laki itu terus awas menyorot pada sang wanita.


Ya laki-laki yang kini sukses dengan usaha parfumnya ini sering datang ke club malam, bukan untuk bersenang-senang, tapi hanya demi memperluas pergaulannya dan juga demi usahanya untuk mendapatkan BA yang cocok untuk produk miliknya, dia kini harus pintar bergaul, bukan hanya dari kalangan usaha, tapi juga merambah pada dunia model, selebriti, dan juga para selegram untuk mempromosikan produk usahanya, ya katakanlah endors.


Chio melihat jam mahal yang melingkar ditangannya, sudah sangat larut, para pengunjung pun satu persatu meninggalkan tempat ini, tapi gadis itu tak terlihat akan menyudahi minumnya.


Chio menggelengkan kepalanya, ia mengingat saat tadi dia menghubungi Abdi, meminta izin untuk bisa membawa Indah pada acaranya dengan para artis, tapi Abdi tak mengizinkannya, dia mengatakan jika Indah adalah benar istrinya, dan sangat mempertegas ucapannya, dan Chio memperjelas lagi, dia bertemu dengan Indah, dan gadis hitam manis itu mengiyakan jika dia benar istri Abdi, bukan keponakannya. Berarti, jika Indah istrinya, bisa ditebak, jika gadis disebrang sana sedang patah hati.


Waktu terus berjalan, dan sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, acara Chio dengan para artis pun selesai, tapi gadis itu masih betah ditempatnya, keadaannya sudah pasti sangat sangat mabuk. Chio mendekat, karena tempat ini akan segera ditutup, dan gadis itu enggan beranjak, walau sudah diusir.


"Biarkan dia pulang dengan ku, percaya, aku temannya, kau mengenalku bukan?" Chio menunjukkan kartu pengenalnya pada seorang bartender itu.


Bartender itu mengambil kartu pengenal Chio, lalu mengembalikannya lagi "Baik, maaf Pak, kami sudah mau tutup"


"Ya, aku tahu, aku akan membawanya sekarang"


Dengan susah payah Chio membopong tubuh kecil gadis itu, membawanya untuk masuk kedalam mobilnya itu tidaklah mudah. Setelah memastikan gadis itu aman, Chio memutar mobil, dia masuk dan langsung menancap gas mobilnya menuju apartemen miliknya, kemana lagi dia akan membawanya, rumah gadis itu kan Chio tidak tahu.


Ck, orang patah hati ada-ada saja tingkahnya, apa mabuk bisa menyelesaikan masalah? bukannya besok jika dia bangun masalah itu tetap ada?. Kenapa tidak mencoba berdamai dengan keadaan.

__ADS_1


Setelah sampai, Chio langsung menggendong tubuh gadis itu, untuk masuk ke unitnya, saat Chio berhasil membaringkannya ke tempat tidur, siapa sangka, gadis itu langsung menarik Chio dan menyambar bibir Chio dengan rakus.


__ADS_2