
Abdi memutuskan menutup awal cafe miliknya, dan tetap memberi bonus yang ia janjikan pada karyawannya. Ia bergegas pulang menjemput Indah, dan akan membawa Indah dan ibunya untuk makan direstoran ternama, ia bersikap tenang, seperti tidak terjadi apa-apa. Hatinya sudah membeku, tak ingin memikirkan tentang laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya.
Setelah sampai dirumah Masnah, Abdi langsung mengutarakan niatnya, hal itu tentu saja disambut antusias Indah, gadis manis itu langsung tersenyum sumringah, padahal tadi dia niatnya akan kembali mendiami Abdi untuk menarik perhatian suaminya itu, namun kini ia luluh, sangat rugi kata Indah jika dia menolaknya dan melewatkan momen ini.
Tak butuh waktu lama, kini mereka sampai pada restoran dibilangan Thamrin, restoran bergaya Eropa dipilih Abdi. Menaiki lift menuju lantai tiga, Abdi memilih ruang VIP khusus untuk istri dan mertuanya, ruangan itu menghadap pada pemandangan ibu kota, sehingga mereka dapat menikmati sinar sang surya yang mengeluarkan warna keemasannya
"Mas, pemandangannya cantik banget loh, kayak aku" tetap pada kenarsisanya, membuat Abdi berdecih. "Mas nggak salah ajak kita kesini? ini mewah banget loh" tetap nggak bisa elegan atau jaim sedikitpun.
"Iya Abdi, duh Ibu jadi minder datang kesini" sambung Masnah, dia meneliti penampilannya sendiri
"Nggak papa Bu sesekali"
Mulut Indah manyun, "Mas kenapa nggak bilang-bilang sih mau makan kesini?"
"Mau kasih surprise"
Abdi menjawab dengan santai, padahal dalam hatinya berharap ini bukan untuk terakhir kalinya dia bisa membawa Indah makan ditempat mewah, melihat kedatangan papanya membuatnya tak dapat mengontrol emosi, Abdi sudah bisa memperkirakan sendiri, kerugian yang akan dia tanggung kedepannya, jika anak dari papanya menuntutnya, bisa saja nanti dia meminta bantuan pada Rasya, namun Abdi tidak ingin lagi membebani sahabatnya itu.
"Kalo tau kesini kan, Indah bisa pake baju yang bagusan dikit, yang seksi ya Bu" Indah menoleh pada Masnah yang duduk disampingnya.
"Lo nggak pantes pake baju seksi"
"Hmmm bilang aja mas cemburu, takut ada yang naksir sama Indah"
Abdi hanya dapat menarik nafas berat, malas berdebat, karena ada Masnah, ia tak enak.
Indah dan Masnah hanya memandangi buku menu yang dipegangnya, mereka baca dari atas sampai bawah, tak ada satupun menu yang mereka tahu, cuma satu tulisan yang Indah mengerti, yaitu spaghetti, walau diawal tulisannya dia tak tahu apa itu.
"Udah pilih?" tanya Abdi
Indah sudah membuka mulutnya hendak memesan, namun saat melihat harganya, dia tak jadi, dari tadi dia tak melihat harga dari menu yang ada,
Inisih ngabisin gaji honor Indah sebulan
Indah menelan ludahnya susah payah
"Mas, tapi mas yang bayar kan?" tanyanya dengan muka memelas dengan mata yang dikedip-kedipkan,
"Iya es teri" pertanyaan yang tidak perlu dijawab sebenarnya, mana mungkin kan, dia yang mengajak tapi bayar masing-masing, sabar, itulah yang Abdi ucapkan untuk dirinya sendiri, memiliki istri yang.... ya rada lola.
"Es teri?" ulang Masnah ucapan Abdi
"Itu panggilan sayang aku sama dia Bu" Abdi mengulas senyum pada mertuanya
"Wah romantis sekali kalian, Ibu jadi pengen muda lagi" Masnah melirik Indah dengan senyuman menggoda
Indah hanya nyengir mendengar ucapan ibunya.
Bu, kami cuma temenan
Tentu saja itu hanya diucapkan dalam hati
"Udah nemu yang mau dipilih?" tanya Abdi lagi, dari tadi dia lihat Indah dan ibunya belum memilih makanan yang mereka mau.
"Udah" jawabnya semangat
Indah menutup buku menu yang sedang dibaca Masnah, dasar anak kurang ajar. Ckckck
"Untuk Ibu udah Indah pesenin Bu, Ibu pasti bingung kan?" tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Indah menunjuk menu bertuliskan Bistecca alla Fiorentina dan Medaglioni d'agnello al rosmarino.
Dan untuk minuman Indah memesan Citron presse, dan Verse Munt Thee.
Nama makanan dan minuman itu begitu asing bagi Indah, dan dia ingin mencobanya mumpung gratis, dimakan atau tidaknya, enak atau tidaknya urusan belakangan.
Abdi mengangguk melihat menu yang dipesan Indah, dia langsung memanggil waiters.
"Kamu pesan apa?" bisik Masnah pada Indah, sebab dia penasaran, dari semua menu yang dia baca, tak ada yang dia mengerti.
"Ibu tenang aja, Indah jamin enak" balas Indah tak kalah berbisik juga, walau ia tak dapat menjamin rasa makanan itu.
"Kamu pernah coba?" masih dengan berbisik
"Udah Bu, dalam mimpi"
Masnah mencubit paha indah, suka sekali mengerjai orang tua.
"Sakit Bu" usap Indah bekas cubitan sang ibu yang terasa pedas.
Melihat kedua wanita yang menurut Abdi berhati tulus ini, Abdi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sudah hampir tiga puluh menit, namun makanan yang mereka pesan tak kunjung datang, Indah dan Masnah mulai jenuh.
"Mas, ini makanannya ada nggak sih? kok lama?"
Abdi yang sedang berbalas pesan dengan Doni melirik Indah yang duduk didepannya, lalu melirik jam tangannya.
"Sebentar lagi, tunggu saja, semua dimasak mendadak, jadi emang agak lama"
"Udah kayak tahu bulat, digoreng dadakan"
Akhirnya, setelah 10 menit berlalu, makanan itu datang juga, Indah menegakkan duduknya, begitu penasaran, bagaimana bentuk dari makanan yang dipesannya.
Melihat makanannya yang datang, Indah jadi ragu, apa ini bisa dimakannya atau tidak. Abdi yang melihat ekspresi wajah Indah tersenyum, wajah jelek itu terlihat begitu menggemaskan.
"Kenapa?"
"Mas tadinya Indah pengen terlihat keren mesen ini, tapi ini apa?" tunjukya piring dihadapannya.
Abdi menipiskan bibirnya, menahan senyum, ini yang dia suka dari Indah, selalu apa adanya, dan polos, walau terkadang menyebalkan. Sebelum menjawabnya Abdi menggaruk pangkal hidungnya, dan sedikit berdehem
"Yang ada didepan kamu itu namanya Bistecca alla Fiorentina, itu sama kayak steak biasa, hanya dagingnya langsung didatangkan dari Itali, dan diproses secara dry-age dalam pendingin khusus selama 60 hari"
"Mas ini dagingnya udah expired dong?"
"Nggak es teri" tangan Abdi langsung terjulur, memotong daging itu kecil-kecil, menusuknya menggunakan garpu, dan langsung menyuapkan ke mulut Indah.
Aaaaa
Pintanya agar Indah membuka mulut, tanpa disadarinya, dia pun ikutan mangap.
Seperti sudah biasa, dengan santai Indah membuka mulutnya, dan mengunyah makanannya. Tatapan Abdi tak pernah luput dari Indah, menunggu reaksi gadis itu.
"Gimana?" tanyanya tak sabaran
"Enak mas, dibikin rendang ini lebih enak" jawabnya terus mengunyah, Abdi memutar bola matanya malas.
"Lagi mas?" pintanya tanpa malu, setelah didalam mulutnya sudah habis, bodohnya Abdi pun menuruti perintah sang istri, melupakan makanan miliknya.
__ADS_1
Melihat kedekatan dan ketulusan Abdi membuat Masnah menghangat, dan membuat matanya mengembun, walau keberadaannya seperti obat nyamuk, namun dia bahagia, dan tenang, jika suatu saat pergi meninggalkan Indah bersama Abdi.
Tak terasa potongan daging milik Indah tinggal setengahnya lagi, dengan sabar Abdi menyuapi sang istri.
"Loh Bu, Ibu nggak makan? apa mau disuapi sama mas Abdi juga?"
Mulut itu selalu berbicara tanpa disaring, dan membuat Abdi tersadar, jika dari tadi dia hanya menyuapi Indah, tak menyadari keberadaan mertuanya, membuatnya malu setengah mati. Dan Masnah menundukkan kepalanya, menyembunyikan sesuatu jika dia memejamkan matanya, maka pertahanannya akan runtuh.
"Ngawur, ini kamu mesenin apa buat Ibu?" jawabnya setelah yakin hatinya kuat untuk menatap putri satu-satunya.
"Lo makan sendiri ya es teri" letakkan Abdi kembali piring milik Indah, membuat mulut mungil itu kembali mengerucut
Baru juga ngerasain romantis
"Itu punya Ibu, daging domba Bu" Abdi kembali menjelaskan makanan yang dipesan Indah.
"Huh dasar kamu Ndah, asal pesan" cibir Masnah anaknya.
Hehehe, yang diomongin malah nyengir tak berdosa.
"Kan ini pertama buat kita Bu, udah makan aja, biar nanti kalo kita mati ditanya malaikat, udah makan ini apa belum, kita bisa jawab Bu"
Plaakk
Kembali Masnah menabok paha anaknya yang suka asal bicara, dan interaksi antara Ibu dan anak itu membuat Abdi kembali tersenyum.
"Kita pernah makan domba dari kurban"
"Itu beda Bu"
...****...
Setelah mengantar Masnah pulang, kini Abdi dan Indah kembali keapartemen mereka, Abdi mematikan mobilnya dan melirik Indah, ternyata wanita itu telah tertidur.
Abdi menghela nafasnya, lalu menatap lekat-lekat wajah manis yang tanpa riasan itu. Semakin lama Abdi menatap Indah, semakin wajah itu terlihat manis, apa ini yang dikatakan orang, wanita cantik akan kalah dengan wanita manis, semakin dipandang, semakin terlihat menarik dan tak membuat bosan.
Abdi mendekatkan tubuhnya pada Indah, merapikan rambut yang menutup separuh wajah mungil istrinya, membuat Indah terbangun.
Indah terlonjak kaget karena posisi tubuh Abdi yang begitu dekat dengannya.
"Mas"
Indah memundurkan tubuhnya, menjauh dari Abdi, menempel pada pintu mobil.
"Kita sudah sampai" ucap Abdi tanpa menjauhkan tubuhnya, dan tak lepas memandang wajah khas bangun tidur itu.
"Lo kalo bangun tidur nambah jelek ya" ucapan yang sangat berbanding terbalik dengan hatinya.
"Biarin, udah laku" Indah mengerucutkan bibirnya, membuka Abdi semakin gemas.
"Dibibir lo ada apa itu?" ucap Abdi memandang bibir manis itu, Refleks Indah menyentuh bibirnya.
"Nggak ada apa-apa"
Cup
Abdi mengecup bibir itu sekilas.
"Mari kita memulai hidup baru, semuanya dari nol"
__ADS_1
Abdi menyelami mata Indah yang masih belum tersadar, dan masih merasakan kecupan lembut sekilas Abdi.