Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 70


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang dijadwalkan untuk sidang putusan Thomas. Indah menunggu kedatangan Abdi diruang tunggu khusus, ditemani ibunya. Ya Indah datang dari rumah bersama Masnah, karena pagi-pagi Abdi sudah harus berangkat mengecek cafe dan gerai lelenya. Baru dia akan menyusul setelah urusannya selesai. Indah tak bisa menuntut banyak pada Abdi, walaupun dia istri sah yang memiliki hak penuh pada Abdi dan boleh meminta ini itu, tapi entah kenapa, dia merasa minder untuk sekedar mencegah Abdi untuk berangkat bersama dari rumah bersama.


Tak lama Anggun dan Chio juga datang untuk memberi dukungan pada Indah. Dalam diam Indah memperhatikan interaksi antara Chio dan Anggun, seperti bukan hubungan teman biasa.


Setelah menyapa dan berbasa-basi dengan Masnah, Anggun mengambil duduk disebelah Indah.


"Abdi dimana?" tanya Anggun langsung, ia memajukan badannya, menyanggah tangan diatas lutut untuk bisa berhadapan dengan wajah Indah.


Indah tersenyum "Mungkin lagi dijalan." jawabnya apa adanya.


Anggun terkejut "Jadi kalian kesini nggak bareng?."


"Mas Abdi urus kerjaannya dulu,"


"Sepenting itukah kerjaannya?, sampe lo harus berangkat sendiri." ucap Anggun sedikit kesal.


Indah terdiam, dia sendiri bingung dengan dirinya sendiri, karena tak bisa tegas melarang Abdi pagi tadi. "Gue nggak masalah Nggun."


"Nanti juga dia datang kali Nggun, mungkin emang penting, Abdi kan emang begitu, urusan cafe selalu utama." ucap Chio menengahi, bisa runyam jika Anggun terus mencerca pertanyaan mengenai Abdi, yang Chio lihat, Indah sudah sedikit membuka hati.


"Tap ...." ucapan Anggun yang kembali ingin memprotes Abdi terhenti, karena Chio mencubit kecil pinggangnya dan melototinya.


"Gimana keadaan kamu sekarang Ndah?" tanya Chio mengalihkan.


"Aku baik." Indah mulai menunjukkan wajahnya yang dulu "Aku perhatiin kalian sekarang lebih sering bareng ya?" tanya Indah kepo.


Anggun tersenyum malu-malu, menyelipkan beberapa helaian rambutnya kebelakang telinga "Kita emang sekarang kerja bareng, aku jadi aspir sekaligus model nya Chio."


"Sekarang lo nggak kerja kantoran lagi?" tanya Indah.


"Chio minta gue berhenti, dan jadi model tetap untuk parfum terbarunya."


Indah menyipitkan matanya, "Dan lo mengiyakan permintaan Chio? secepat itu" tanya Indah serasa tak percaya dengan yang dilakukan Anggun "Gue yakin ini bukan cuma sekedar hubungan rekan kerja biasa."


"Hehe, kita cocok nggak Ndah?" bisik Anggun sangat pelan ditelinga Indah, takut Chio yang kini berdiri didepan mereka mendengar.


"Nggak." jawab Indah langsung tanpa menimang lagi.

__ADS_1


"Ish Indah" Anggun mencubit paha Indah "Kok lo terlalu jujur sih?"


"Nggak cocok kalo kelamaan pacaran, tar lo keduluan orang lain lagi, mau?" tanya Indah berbisik sambil menutup telinga dengan telapak tangannya, Anggun menggelengkan kepala


"Makanya langsung ajak langsung naik pelaminan." ucap Indah masih berbisik, membuat Anggun kembali mengulum senyum seraya melirik Chio.


"Tapi Chio belum nembak gue"


"Lo yang nembaklah."


Anggun melotot "Lo gila."


Melihat kedua wanita yang berbisik sambil meliriknya membuat Chio merasa jika dia sedang dibicarakan "Kalian lagi gosipin aku?" tanya Chio sambil menggelengkan kepala "Ck, kalian keterlaluan, bisa-bisanya menggosipkan orang terang-terangan didepannya."


Indah dan Anggun tertawa mendengar ucapan Chio, tanpa terasa Indah sedikit melupakan Abdi yang sampai saat ini belum juga menampakkan batang hidungnya. Hingga saatnya mereka memasuki ruang persidangan, Indah baru menyadari, jika Abdi belum juga datang.


"Bu, kok mas Abdi belum datang ya?" tanya Indah risau.


"Tunggu saja, mungkin lagi dalam perjalanan, kenapa kamu nggak coba telepon saja, tanya sekarang dia lagi dimana?"


Persidangan akan segera dimulai, Thomas juga sudah dibawa ke ruang persidangan. Indah melihat dibarisan bangku yang diisi oleh keluarga Thomas, hari ini yang datang hanya mama, kakak dan kakak ipar Thomas. Sedang Prasasti tidak terlihat disana. Sebenarnya Indah penasaran kenapa ayah Abdi seperti tidak menginginkan Abdi?. padahal Abdi jelas-jelas anak kandungnya sendiri.


Pandangan Indah bertemu dengan mata Kartika, wanita itu memberikan senyum tulusnya kepada Indah, yang mau tak mau Indah membalas senyuman itu.


Indah kembali melirik pintu masuk, berharap Abdi segera datang "Nggak mungkin kan kamu lupa mas?" lirih Indah lalu menundukkan kepalanya. Yang tanpa Indah sadari, bahwa sejak tadi Thomas memperhatikannya.


Mata Indah sudah berkabut, hatinya begitu sakit membayangkan, jika sekarang Abdi sudah menemukan wanita yang bisa memberinya keturunan. Namun tiba-tiba ada tangan hangat seseorang menggenggam tangannya, Indah sudah hapal betul itu tangan milik siapa?, otomatis Indah mengangkat wajahnya, melihat laki-laki yang kini duduk disebelahnya dengan tersenyum manis.


"Mas, aku pikir kamu lupa." ucap Indah dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Mana mungkin aku lupa es teri, maaf lagi-lagi aku buat kamu kecewa." Abdi mengeratkan genggamannya, mengalirkan rasa hangat hingga ke hati Indah.


Mereka semua berdiri saat ketua Majelis Hakim memasuki ruang persidangan.


"Apapun hasilnya, kita terima ya sayang." bisik Abdi, yang diangguki oleh Indah.


"Dengan bukti serta saksi yang telah diperiksa. Dan karena saudara Thomas mengakui kesalahannya, serta membayar denda sesuai dengan peraturan undang-undang yang berlaku, maka dengan ini saudara Thomas mendapatkan hukuman pidana selama delapan belas bulan."

__ADS_1


"Serta hukuman satu tahun dijatuhkan kepada saudara Yaksa, karena telah menjadi tangan kanan saudara Thomas untuk menjalankan aksinya."


Indah tak tahu harus sedih atau senang atas putusan ini?. Berapapun lama hukuman yang Thomas dapat, tak akan mengembalikan rahimnya lagi. Yang Indah mau, jika waktu bisa diputar, dia tak akan pernah menginjakkan kakinya diapartemen Thomas, dan tak akan mendengar pengakuan gila laki-laki itu. Semua ini terjadi karena kebodohannya sendiri, Indah kembali menangis mengingat dirinya yang kini tak lagi menjadi wanita yang sempurna.


Abdi merangkul pundak Indah, membawa kepala Indah dalam pelukannya. Hal ini membuat Indah merasa nyaman, pelukan Abdi selalu merasa nyaman untuknya. Indah semakin menenggelamkan wajahnya di dada Abdi, membuatnya semakin terisak, tak rela jika pelukan ini akan dirasakan oleh wanita lain, suatu saat nanti ...


Thomas yang akan kembali dibawa keruang tahanannya menghemat langkahnya didepan Indah.


"In, tunggu aku keluar ya, aku janji saat aku keluar, aku akan jadi manusia yang lebih baik lagi. Dan aku akan menemanimu sampai kita tua bersama-sama." ucap Thomas penuh keyakinan.


Tanpa menimang Abdi melepaskan pelukan Indah, dan langsung melayangkan pukulannya diwajah Thomas.


Bugh


"Dasar laki-laki tak tahu malu, udah mending gue nggak nuntut lo lebih lama biar lo membusuk didalam sekalian." Abdi tak dapat lagi menutupi amarahnya "Jadi jangan pernah berharap apa-apa dari Indah."


Thomas sama sekali tak menghiraukan perkataan Abdi, dia melihat Indah yang masih menangis.


"Pikirkan perkataan aku In, pilih aku yang pasti lebih kaya dari dia, dia nggak akan setia sama kamu." teriak Thomas karena kini dia telah dibawa oleh petugas menuju tempatnya bermalam nanti.


Ingin sekali rasanya Abdi kembali memberi pukulan diwajah Thomas jika laki-laki itu tidak dijaga petugas.


Abdi kembali memeluk Indah, membawa Indah menuju mobilnya. "Sayang, jangan dengerin omongan dia ya, percaya sama aku, apapun yang terjadi saat ini, aku minta, kamu tunggu aku untuk membuktikan semua. Kalau aku tak akan meninggalkan kamu."


Dari jauh Kartika melihat semuanya, hatinya terenyuh mengetahui Thomas begitu mencintai Indah, walau cara dia untuk mendapatkan Indah itu salah. Yang menjadi pikirannya saat ini adalah, Indah sudah menjadi istri dari saudara Thomas sendiri, saudara sedarah denganya.


"Kamu tahu pa, tindakanmu dulu berakibat pada anak-anak mu." lirih Kartika.


.


.


.


.


Ada yang bingung nggak sama mas ganteng belakangan ini kenapa? Entahlah, othor juga bingung ini mas ganteng kenapa hehehe.

__ADS_1


__ADS_2