Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 45


__ADS_3

"Karena tulang rusukku disini." Indah tersenyum begitu manis.


Ungkapan receh dari sang istri bagaikan tumpahan segelas air ditengah gurun, membasahi kerongkongan yang terasa sangat kering. Senyum manis yang terpatri seolah dapat mengusir beban yang mengimpitnya beberapa saat yang lalu.


Tangan lembut itu mengampit lengan kokohnya yang terasa rapuh, kembali menguatkan disaat tiang penyanggahnya akan roboh.


Tuhan jika engkau mengirimkan sejuta cobaan ini, aku kuat, tapi jangan ambil separuh jiwaku ini, aku tidak akan sanggup menjalaninya.


Itulah jodoh, datang dengan tidak disangka-sangka, bukan seseorang yang kita inginkan, tapi Tuhan mengirimkan seseorang terbaik yang kita butuhkan.


Abdi mengusap punggung tangan lembut milik sang istri.


"Maaf, aku nggak sempat jemput."


Sang istri memonyongkan bibirnya, terlihat begitu menggemaskan, ya Tuhan, kenapa dia selalu terobsesi dengan bibir yang selalu saja mengeluarkan gombalan receh ini. Andai saja ini bukan ditempat dan keadaan yang menghimpit, sudah pasti Abdi akan mendorong tubuh istrinya ke tembok, dan memarkirkan bibirnya disana.


"Kenapa mas harus minta maaf, ini bukan salah mas."


"Kamu udah tau?" menoleh, melihat wajah manis itu.


"Nggak tau yang pasti, tapi Indah mau tahu itu dari mas sendiri."


Tangan Abdi terangkat, mengusak rambut Indah.


"Tunggu sebentar"


Abdi berbalik, mendekati Doni yang berdiri didepan ruang perawatan yang masih ada beberapa orang yang juga disana, mereka merupakan teman dan kerabat korban.


"Don, lo tunggu disini, gue mau kembali ke cafe, hubungi gue kalo ada sesuatu yang dibutuhkan, tetap cek kondisi korban, dan coba pengertian pada keluarganya, bahwa kita akan bertanggung jawab penuh." pesanya pada Doni.


"Siap mas, mas tenang, gue akan stand by disini, mas urusi aja semua dulu di cafe, urusan disini menjadi tanggung jawab gue, mas nggak usah khawatir, semoga urusan ini cepat selesai."


Abdi tampak menghembuskan nafas, "oke, makasih ya"


Doni mengangguk, dia memberi semangat pada atasannya ini, orang yang berjasa dalam hidupnya secara tidak langsung, orang yang telah bisa memberikannya lapangan pekerjaan, mencari rejeki, dia bisa membahagiakan anak istrinya dari rejeki lewat Abdi, Abdi selalu memberinya gaji tepat waktu, memberikan bonus disaat cafe sedang ramai. Kini saatnya dia membalas budi akan kebaikan Abdi selama ini.


"Indah bantu apa mas?" tanya Indah saat mereka melangkah menuju parkiran.


"Tetap disampingku, apapun keadaan ku nanti."


"Masss, omongannya bikin Indah mau nangis aja, udah, jangan ngomong macem-macem, Indah nggak suka."


"Tapi kamu harus tetap bersamaku, apapun yang akan terjadi kedepannya, mungkin jika aku jatuh miskin."


"Nggak mau." cebik Indah bibirnya, enggan membahas hal-hal yang sedih. Indah berjalan mendahului Abdi menuju mobil, dan dengan manja, dia tetap meminta Abdi yang membukakan pintu mobil untuknya.


Abdi terkekeh melihat tingkah Indah, ia pun menuruti keinginan istrinya, setelah membukukan pintu untuk Indah, dia memutar mobil, kemudian duduk dibelakang kemudi, mengikuti mobil polisi yang berada didepannya.


Indah itu dari dulu nggak suka hal-hal yang berbau sedih, semua hanya akan membuat hati semakin keruh, makanya, Indah tak pernah memendam apapun yang dia rasakan. Semua akan dia ungkap saat itu juga.


...****...

__ADS_1


Jam sebelas malam mereka baru sampai diapartemen, terlihat jelas wajah lelah keduanya. Semua masalahnya telah beres.


Abdi mengikuti apa yang telah menjadi tuntutan polisi, untuk menutup cafenya selama sebulan kedepan.


Tutup selama sebulan!!, akan dengan apa dia memberi makan untuk Indah?. Belum lagi dia harus membayar gaji para karyawannya, Abdi tak ingin para karyawannya itu terkena dampak dari permasalahan ini, akan dari mana mereka makan? membayar kontrakan dan keperluan lain sebagainya.


Sangat mengherankan, tak ada satupun bukti atau hal lain yang menunjukkan tentang dari mana racun yang terdapat di kopi americano yang para pembeli pesan. Tapi tetap Abdi minta kasus ini terus diusut, sampai dari mana racun itu berasal ditemukan.


Para korban memang tidak menuntut Abdi, tapi mereka meminta pertanggung jawaban atas semua pengobatan sampai mereka benar-benar pulih, dan uang damai yang mereka minta cukup menguras dompet Abdi, masalah dengan Thomas baru akan dia selesaikan, sekarang dia malah tertimpa masalah baru.


Beruntung zat yang terdapat racun tersebut tidak mematikan, hanya berefek mual dan pusing pada korbannya. Jadi Abdi tak harus merasakan kembali peliknya masuk pesantren polisi.


Indah keluar dari kamar mandi, dia melihat Abdi yang sedang memijit keningnya, Indah mendesah, kasihan melihat suaminya yang nampak begitu pusing, sampai-sampai tak menyadari dia yang sudah selesai mandi.


Ya sudah pasti pusing, apalagi ini mengenai uang yang banyak. Indah pun tak tahu, jika suaminya itu sedang mengumpulkan uang juga untuk membayar denda kepada Thomas.


Lama Indah berdiri dipintu kamar mandi, melihat suaminya yang tak menyadari kedatangannya.


"Mas, mas mandi dulu, biar seger."


Indah menghampiri Abdi yang duduk dipinggir kasur.


"Eh es teri, udah selesai?"


"Udah mas, udah dari tadi, mandi gih, kita makan pecel lele yang tadi Indah pesen di gerai mas, Indah laper, kasian nanti calon anak lele yang diperut Indah, nggak bisa berkembang." Indah tersenyum, mengusap perutnya.


"Oh ya?. Apa secepat itu dia jadinya?" tanya Abdi, dia kembali sumringah mendengar buaian Indah.


Abdi terbahak, Indah kini telah pandai bahasa cinta mereka, membuat Abdi melupakan sejenak segala masalahnya.


Abdi mendekati istrinya yang berdiri didepannya, dia merendahkan tubuhnya "Semoga kamu cepat ada disini ya, lele-lele kesayangan ayah" usap Abdi perut rata Indah, kemudian mencium perut yang telah tertutup baju tidur itu.


"Aamiin" seru Indah.


Abdi berdiri, mengambil handuk yang ada ditangan Indah, "makasih ya hari ini udah nemenin aku kemana-mana, kamu pasti kelelahan, dan makanya tadi siang nggak bener." Ditatapnya mata yang selalu terlihat ceria itu.


"Iya mas, makanya cepat mandi."


Menuruti apa kata istrinya, Abdi langsung menuju kamar mandi.


Indah mendudukkan dirinya dikasur, menghitung tabungannya, dia menghela nafas panjang, ternyata uang yang dia punya tak lebih dari sepuluh juta.


"Cukuplah buat makan, tapi Indah harus ngirim ibu dulu ini."


Cepat Indah mengambil ponselnya yang masih didalam tas, menggulir aplikasi mobile banking, mengirim uang untuk Masnah.


Setelah selesai, Indah mengscreen shoot, lalu mengirim pesan pada ibunya.


"Bu, ini untuk jajan es ya" Indah menyisipkan emoticon tertawa dan emoticon dua jari, jari telunjuk dan jari tengah. Send.


Setelah selesai makan, mereka langsung tidur, Abdi mengusap-usap punggung sang istri. Akibat kelelahan, dan nyamannya usapan Abdi, tak lama Indah langsung terlelap dalam dunia mimpinya. Tapi tidak dengan Abdi, dia harus segera menyelesaikan masalahnya.

__ADS_1


Abdi membuka aplikasi pesan berwarna hijau, melihat apakah Chio masih terjaga atau tidak, pas sekali, status online pada kontak Chio.


Dengan perlahan Abdi bangun, dia akan menggangu tetangganya, sudah lama rasanya dia tidak mengganggu Chio, dan lagi, Abdi ingin tahu, siapa yang selama ini Chio sembunyikan diapartemenya.


...****...


Berulang kali Abdi menekan bel pintu apartemen Chio, tapi Chio tak kunjung membukanya.


Didalam apartemen, Chio begitu terkesiap, saat mengintip siapa tamu yang berkunjung dimalam buta begini.


"Abdi, mau apa dia?" Chio membelalakkan matanya. "****, apa dia mencurigai dan mau memergoki?"


Chio dibuat pusing, Anggun tertidur di sofa saat mereka habis mengobrol, bergegas Chio membangunkan Anggun.


"Anggun" panggil Chio tertahan, seraya menggoyang-goyangkan tubuh Anggun


Anggun tak bergeming "Anggun." Chio mencoba membangunkan Anggun lagi.


Bel dari luar terus berbunyi, membuat kepala Chio bertambah pusing, ingin rasanya Chio memiliki ilmu jin, dan menghilangkan Anggun saat ini juga. Atau dia akan menjedotkan kepalanya ditembok.


"Anggun cepat bangun, diluar ada Abdi"


"Apa?" mendengar nama Abdi disebut Anggun langsung terbangun. "Dimana?" tanyanya ulang, nyawanya masih belum terkumpul sepenuhnya, namun Chio langsung mendorongnya untuk masuk ke kamar yang dulu ditempati Mawar.


"Jangan keluar-keluar, kalau tidak kita dalam masalah." Anggun mengangguk, segera Chio menutup pintu kamar itu.


Chio mengatur nafasnya, dia melihat sekeliling, memastikan tidak ada barang atau apapun milik Anggun yang tertinggal. Setelah itu dia segera membuka pintu.


"Ada apa sih ma-lam-ma-lam" ucapan Chio melambat, sebab Abdi langsung menerobos masuk.


"Lama banget sih bukanya, lagi ngapain hem?" Abdi membalikkan badannya, melihat Chio yang terlihat gugup.


"Gila jaker" (lagi kerja) Chio berjalan menuju sofa, dimana disana terdapat laptopnya yang masih menyala diatas meja.


Abdi melihat sekeliling, mencari celah sesuatu yang sedang disembunyikan Chio.


"Gue numpang BAB, wece gue mampet." Abdi berjalan menuju kamar tamu, dimana Anggun tadi masuk.


Chio yang tadi sudah mengetik dibuat terkejut, dia langsung berdiri mengejar langkah Abdi.


.


.


.


.


.


*Hai semua, gimana kabarnya?, semoga semuanya dalam keadaan sehat ya... tetap jaga prokes dimanapun kalian berada, saat ini emang lagi musim penyakit ya, untuk kalian yang lagi sakit, semoga segera diberikan kesembuhan, aamin...

__ADS_1


yang udah like, vote, komen, dan kasih hadiah, aku ucapin banyak terima kasih ❤️❤️*


__ADS_2