
Dua minggu sudah setelah hari persidangan, kini Indah telah kembali mengajar seperti biasa. Indah kembali membangun semangatnya, semua dia lakukan demi ibunya. Siapa lagi yang akan setia menemaninya di hari tua nanti, jika bukan ibunya?, satu-satunya orang yang akan selalu setia, dan tak akan pernah menyakitinya sedikitpun.
Pelan-pelan Indah belajar untuk tak bergantung pada Abdi, dia juga belajar cuek, Abdi yang sibuk mengurus cafe, gerai, dan juga persiapan pembukaan pabriknya, membuat Indah dan Abdi jarang bertemu.
Indah sebenarnya kecewa, saat dia meminta izin pada Abdi ingin kembali mengajar, dan Abdi dengan mudah mengiyakan permintaannya, Indah berharap Abdi akan mengatakan ...
"Jangan es teri, kamu dirumah aja, tunggu aku pulang."
Atau ...
"Jangan es teri, penghasilan aku cukup buat kita, lebih malah, aku nggak mau kecapean."
"Udah kamu nggak usah kerja, aku aja yang kerja, lagian buat apa kita mati-matian cari uang, nggak ada yang ngabisin juga."
Indah menurunkan bahunya lemah, memikirkan hubungannya dengan Abdi membuat kepala Indah semakin pening. Indah kembali merapikan buku pelajaran muridnya yang sudah ia beri nilai.
Oh ya, sekarang Indah bukan lagi menjadi wali kelas tetap seperti dulu, karena cuti Indah lama, jadi posisinya sudah digantikan dengan guru lain, sekarang dia hanya menjadi guru pengganti, jika ada guru yang berhalangan hadir.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang, Indah melihat ruangannya yang sudah sepi, sebagian guru ada yang sudah pulang terlebih dahulu, dan ada yang masih mengajar dikelas. Diruangan ini hanya tinggal dia berdua dengan teman perempuan sesama guru.
"Mba Indah belum selesai?" tanya guru wanita yang usianya lebih muda dari Indah, letak mejanya bersebelahan dengan Indah.
"Udah, ini lagi mau beres-beres."
"Aku pikir mba Indah nggak bakal ngajar lagi, waktu suami mba Indah dateng, dan izin cuti keguguran buat mba"
Indah cukup terkejut dengan ucapan temanya.
Cuti keguguran?
"Nggak nyangka loh, suami mba Indah ternyata ganteng banget. Dia yang punya gerai lele 24 jam itukan ya mba?. Pernah liat di media sosial waktu pertama dia buka gerai, aslinya ternyata lebih ganteng ya mba?, mba Indah beruntung banget punya suami yang ganteng. Tapi punya suami ganteng, ngeri-ngeri sedap ya mba, rawan perselingkuhan." ujarnya berbisik, dia sampai meletakkan tangannya di telinga.
Indah hanya tersenyum menanggapi ocehan rekannya yang memang masih muda ini, Indah memaklumi itu.
"Apalagi waktu dateng kesini, banyak banget mba yang caper-caper ke suami mba." ucapnya lagi.
__ADS_1
"Termasuk kamu?" tuding Indah.
"Hehehe, cuci mata mba, nggak papa kan?"
Indah mengangkat kedua alisnya. "Yah ... asal kamu nggak minta izin buat jadi pelakor aja sih."
"Ih mba, amit-amit. Aku emang suka tuh sama yang ganteng-ganteng kayak suami mba, tapi nggak bercita-cita juga mba buat jadi pelakor."
"Good," Indah mengacungkan jempolnya "Yaudah, aku duluan ya, kamu belum mau pulang?" tanya Indah sembari menyampirkan tas sewhgjvgghlempangnya.
"Nunggu dijemput calon imam mba." jawabnya dengan cengiran.
"Heh, yaudah aku duluan ya." Indah menepuk bahu temannya, lalu melangkah keluar dari ruang guru.
Indah melihat ponsel miliknya yang ia letakkan di dalam tasnya. Bahunya melemah ternyata tidak ada pesan dari Abdi yang akan menjemputnya atau sekedar menanyakan kabarnya.
"Kok sesak ya." Indah memegangi dadanya seraya menatap ke atas langit yang menunjukkan sinar cerahnya.
Indah terus melangkah menuju gerbang sekolah, sambil berjalan dia menunduk, menekan tombol handphonenya untuk memesan ojol.
"Selamat siang Bu Indah." sontak Indah mengerem langkahnya saat ada suara yang tak dikenal menyapanya.
"Saya supir ibu Kartika, beliau sudah menunggu ibu didalam mobil, ingin berbicara dengan anda."
Mata Indah ikut melihat kearah mobil yang ditunjuk laki-laki itu.
Indah mengernyit "Dia mamanya Thomas kan?" dan supir itu menjawab dengan anggukan.
* * *
Disini, Kartika mengajak Indah untuk ngobrol berdua dirumah makan khas timur tengah.
Didepannya sudah tersedia berbagai jenis makanan dari timur tengah, ada Tabouleh atau lebih dikenal sebagai saladnya Timur tengah sebagai makanan pembuka. Yang tak ketinggalan pasti nasi kebulinya, dan ayam kurma, maraq, dan falafel.
Indah menelan ludahnya sendiri melihat makanan yang belum pernah dicobanya, kecuali nasi kebuli. Dan itu membuat Kartika tersenyum.
__ADS_1
"Kamu nggak suka menunya Indah?" tanya Kartika.
"Su-suka Tante." jawab Indah terbata.
"Kenapa nggak dimakan, yuk dimakan dulu, kita butuh tenaga bukan untuk mengobrol?."
Indah hanya mengangguk tanpa membuka suara, dia sebenarnya penasaran sih, ngapain mamanya Thomas ngajak ketemuan gini?.
Mereka makan dalam diam, sesekali Indah melirik Kartika yang makan begitu santai didepannya.
"Kamu Indah, sepupu Selly kan?" Kartika langsung ke inti pembicaraannya saat mereka selesai makan.
"Iya Tante."
"Bagaimana kabar Selly sekarang?."
Indah berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Kartika "ngapain sih nih mamanya kereta nanyain Selly?"
"Saya kurang tahu Tante, soalnya saya belum bertemu Selly sama sekali semenjak kejadian hari itu." Indah tak bertanya balik, sebab dia tak ingin membicarakan tentang orang lain, masalah dia sendiri saja belum bisa dia atasi.
"Tante sudah tahu permasalahan Selly dan Thomas, jika anak yang dikandung Selly bukanlah anak Thomas." wanita itu menghembuskan nafasnya "Yang Tante tidak tahu, jika Thomas anak Tante mencintai wanita lain, yaitu ... kamu."
Indah terdiam, dia tak tahu harus menanggapi seperti apa.
"Tante minta maaf atas yang menimpa kamu, sebagai wanita, Tante tahu dan mengerti yang kamu rasakan. Jika nanti Thomas telah bebas, maukah kamu meninggalkan suami mu demi Thomas?, dia akan bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi."
Indah tersentak dengan permintaan mama Thomas, tak menyangka jika mama Thomas akan meminta hal itu padanya. To the point, tak lagi memilih kata yang lebih halus dalam ucapannya.
.
.
.
.
__ADS_1
*Like komen dan hadiahnya donk. 😀😀
Dan jangan dikeluarin dari paporit ya, biar makin semangat. buat yang masih setia, makasih banyak ya, 😘😘😍😍*