
"Maaf Tante, bukan saya tidak sopan. Saya menolak tegas permintaan Tante. Sepertinya Tante salah mengartikan apa itu makna rumah tangga dan kesetiaan." jawab Indah to the point juga.
"Jangan bahas kesetiaan Indah, jika kamu tidak tahu bagaimana sakitnya setia."
Indah tersenyum kecut, entah, dia tidak tahu, siapa yang berkhianat dan siapa yang dikhianati dari permasalahan rumah tangga orang tua suaminya.
"Iya, saya tahu Tante wanita yang setia," Indah menegakkan badannya, sebelum melanjutkan ucapannya.
"Maaf Tante, saya sadar, saya memang wanita cacat, tapi untuk soal hati, saya tidak pernah main-main atau sembarang memilih. Bukan berarti saya pemilih. Karena dari awal pernikahan kami, mas Abdi juga mengajarkan saya bagaimana menghargai pernikahan"
Tentu Indah nggak akan melupakan itu, walau sekarang dia tak tahu, Abdi diluar sana masih setia apa tidak.
"Dan, jika suatu saat nanti suami saya, mas Abdi, memilih mundur dan menyerah dari pernikahan kami, mungkin memang hanya sampai disitu jodoh saya dan dia. Untuk saat ini, saya akan menjalani kodrat saya sebagai seorang istri, yaitu setia, dan menjaga hati, serta tidak akan menerima pinangan dari orang lain."
"Tante tentu masih ingat kan, kenapa saya sampai kehilangan sesuatu yang berharga dalam diri saya?. Itu karena saya tidak mau disentuh oleh laki-laki yang bukan suami saya sendiri. Ya, walau saya harus menderita karena hal itu. Setidaknya saya tetap menjaga kehormatan saya."
Kartika terdiam, dia jadi malu sendiri. Ya, tujuan dia menemui Indah memang untuk mengetahui bagaimana wanita yang begitu digilai anaknya ini. Dan ternyata dia tahu jawabannya, Indah memang bukan wanita yang sembarangan.
"Tante sungguh minta maaf, jika permintaan Tante menyinggung perasaan kamu. Dengan semua yang kamu katakan. Tante jadi semakin ingin memiliki menantu seperti kamu, Indah. Pertimbangkan permintaan Tante. Tak perlu dijawab sekarang, karena Thomas juga masih didalam kan?" Kartika mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya, dan meletakkannya di atas meja.
"Thomas menitipkan ini," Kartika mengangsurkan map itu didepan Indah "Jika nanti kamu berpisah dengan suami mu, kamu bisa memilikinya kembali. Ibumu bisa tinggal disana lagi."
Indah membuang muka, enggan menatap map yang dia tahu isinya apa, itu membuatnya sakit. Indah menipiskan bibirnya segaris sebelum menjawab permintaan maaf Kartika.
"Iya, saya memaafkan Tante." Indah menarik nafasnya "Tante, jika memang Tante ingin memiliki menantu yang baik. Sebenarnya semua wanita baik. Ada baiknya jika Tante menyarankan pada Thomas untuk tetap menikahi Selly. Terlebih anak yang dikandung Selly anak Thomas atau bukan, setidaknya ajarkan Thomas untuk menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Saya tidak tahu, apa Tante tahu atau tidak, jika mereka pernah melakukan hubungan suami istri?. Jadi, dari mana Tante tahu itu anak Thomas atau bukan?."
Indah beralih menatap map yang Kartika berikan. "Dan untuk surat ini,." Indah mengembalikan map yang Kartika berikan "Sebaiknya Tante simpan sebagai koleksi harta Tante dan keluarga. Mungkin ini bukan rejeki kami lagi, saya yakin, bisa mengganti istana yang baru untuk ibu saya. Walau saya harus memeras keringat susah payah dengan gaji saya yang tidak seberapa."
Kartika terkejut dengan perkataan Indah, Ingin berkata kalau Indah sombong, dia tak mau salah bicara. Dan dia mengalihkan dengan yang lain.
"Iya saya tahu itu, Thomas memang tidak dekat dengan Tante, tapi kemarin Thomas menceritakan semua itu pada Tante. Dia tentu akan bersikap hati-hati sebelum melakukannya dengan Selly."
Indah yang lebih terkejut dengan pernyataan Kartika, Indah sampai geleng kepala. "Dan Tante mendukung tindakan anak Tante?"
__ADS_1
"Tentu tidak" jawab Kartika
"Terus?"
"Tante hanya ingin menantu terbaik untuk anak Tante, ya, wanita seperti kamu"
Indah memijit keningnya, pusing. Indah menenggak air putih yang ada didepannya.
"Maaf Tante, saya bukan wanita baik seperti yang Tante duga. Jika Tante menilai saya baik hanya satu perkataan saya, Tante salah." Indah menggelengkan kepalanya.
"Kita bertemu baru kali ini kan Tante? tapi kenapa Tante bisa mengatakan saya baik? padahal Tante belum mengenal saya lebih dalam. Jangan hanya karena satu kata atau kebaikan saya yang membuat takjub. Tante jadi melupakan seribu kebaikan orang lain." Indah menatap Kartika yang terdiam didepannya.
"Saya rasa Tante tahu maksud saya bukan?, bukankah Selly dan mamanya sering memberikan sesuatu pada Tante?. Tapi kenapa hanya satu kesalahan Selly kalian menghakiminya, membuatnya menderita. Tante, seburuk apapun Selly pada keluarga saya, tapi jika ada orang yang menyakitinya, saya tidak terima, saya pasti akan membelanya. Karena ibu saya mengajarkan itu"
"Jadi, mumpung kita disini Tante, beri tahu suami dan anak Tante, untuk tetap menghargai anak dan saudara sendiri. Apa salah mas Abdi pada mereka? sampai mereka melakukan ini padanya? membuatnya ingin menjadi miskin?. Padahal dia tidak pernah kan, mengganggu hidup kalian?. Dan adanya mas Abdi didunia ini juga bukan kesalahannya. Salahkan suami Tante,"
Indah sudah tidak kuat lagi, dia begitu ingin meledak-ledak, apa ini pengaruh dia begitu mencintai Abdi?. Kenapa dia jadi begitu emosi, mengingat jika memang Thomas dan Abdi saudara tiri, kenapa tindakan ayah Thomas seperti tidak menginginkan Abdi.
Indah berdiri, meninggalkan Kartika yang mengepalkan tangannya kesal, lagi-lagi dia harus diingatkan dengan penghianatan yang dilakukan Prasasti padanya. Dan dia juga menyesal, tidak bisa mendidik anaknya lebih baik dari Abdi, padahal Abdi merupakan anak yang kurang kasih sayang dan perhatian.
Dengan langkah tergesa Indah keluar dari restoran itu. Dia tidak sadar jika dibelakangnya ada seseorang yang mengikutinya. Indah mengambil ponsel untuk memesan taksi online, namun ponselnya direbut oleh seorang dibelakangnya.
"Cop ... Mas, Astaga." Indah memegangi dadanya terkejut. "Kamu bikin aku kaget tahu mas."
Abdi terkekeh melihat wajah terkejut Indah yang terlihat lucu dimatanya.
"Malah ketawa lagi, nggak lucu ih."
"Kebiasaan ya, pulang ngajar langsung mampir kemana-mana nggak izin suami, nanti kalau kamu kenapa-napa lagi, gimana?" sungut Abdi, tapi tangannya tetap mengambil tangan Indah untuk ia gandeng menuju mobilnya.
"Nggak usah gandengan, emang kita mobil truk." Indah ingin melepaskan tangan Abdi, namun Abdi mengeratkan genggamannya.
"Nanti kamu diculik kucing, kamu kan es teri."
__ADS_1
Indah tak membantah lagi, dia mengulum senyum, mengikuti langkah Abdi yang terus membawanya. Sebenarnya dia merindukan perdebatan receh seperti ini.
"Silahkan masuk tuan putri." Abdi membukakan pintu mobil untuk Indah.
Indah masuk dengan masih mengulum senyum "Makasih pangeranku." balas Indah sebelum Abdi menutup pintu mobilnya.
Mendengar jawaban Indah, Abdi tak jadi menutup pintu mobilnya, dia malah mendekatkan wajahnya pada wajah Indah, lalu berbisik "Kamu udah bersihkan es teri?"
"Hah?" Indah mengernyit bingung.
"Nanti malam bisa kan, kita main berenang-berenangan?" Indah meraup wajah Abdi yang begitu dekat, dengan telapak tangannya.
"Ih mas, kirain apa" Indah tersenyum, mengalihkan pandangannya, malu jika harus bahas itu, dan dia belum siap. Apa dia masih bisa memberikan nafkah batin seperti biasa, setelah operasi yang dia lakukan.
Abdi mengambil dagu Indah untuk menatapnya "Bisa ya, aku kangen."
"Bahas dirumah aja kali mas." ucap Indah yang malah membuat bibir bawahnya terbelah karena tangan Abdi yang masih memegang dagunya. Hal itu membuat Abdi seperti terpancing, dan tanpa ragu Abdi meraup bibir Indah saat itu juga.
* * *
"Mas kok kamu tahu aku ada disini?, mas ngikutin Indah ya?" tanya Indah heran, kenapa Abdi bisa bertemu dengannya direstoran tadi.
"Habis meeting, nggak ada kerjaan banget ngikutin kamu." jawab Abdi dengan bercanda yang tetap fokus pada jalanan didepannya.
"Ngikutin juga nggak papa kali mas, istri sendiri ini." Indah mengerucutkan bibirnya, kesal dengan jawaban Abdi.
Abdi terkekeh mengusap rambut belakang Indah "Iya iya, pengen banget diikutin hem."
Abdi diam, tangan kirinya tetap mengusap rambut Indah, dengan tangan kanan masih memegang setir mobilnya.
Indah menikmati usapan lembut Abdi yang membuatnya nyaman dan mengantuk. Padahal tadi dia ingin marah, kenapa Abdi tidak menjemputnya, dan Abdi tak menanyakan dengan siapa dia disini.
Sedang Abdi masih terus terpikirkan anak Naima yang tadi manangis, Abdi kasihan, bocah kecil itu mendapat bullyan disekolah karena tak memiliki ayah seperti teman-temannya yang lain. Ingat ya, dia terpikirkan sama anaknya, bukan mamanya.
__ADS_1