Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 58


__ADS_3

"Aku tidak tahu, aku ini wanita yang sejenis seperti apa? apa aku wanita sabar nan solehah? atau wanita lugu yang bodoh? aku tahu suamiku memiliki wanita lain diluar sana. Aku memilih sabar, bahwasanya ayam jantan akan pulang ke kandang miliknya jika hari menjelang magrib. Dan itu terbukti, ayam itu menetap pada kandangnya, dan menemani malam-malam bersama induk yang menjaga anaknya, tapi si induk tidak tahu, jika diluar sana, ayam jago memiliki anak dari induk yang lain, padahal hal itu lumrah. Tapi aku takut, jika anak ayam diluar yang tidak dijaga, hidupnya akan jauh lebih baik dari ayam yang dijaga oleh induk yang utuh, dan dia akan berubah jadi elang."


Kartika bicara didepan cermin meja riasnya, menampilkan wajahnya yang masih terbalut hijab, dia masih begitu cantik, walau ada beberapa lipatan kulit di sisi wajahnya yang putih. Dia melihat pantulan wajah suaminya yang kini duduk di tepi ranjang mereka. Prasasti sama hal dengannya, sudah mengenakan piyama tidur.


Prasasti sedang membaca pesan dari asistennya, mengabarkan jika kini Widuri menempati rumah yang tak jauh dari tempat Abdi tinggal. Yang Widuri sendiri tidak tahu, jika seseorang yang memberinya tumpangan sementara untuknya itu adalah Prasasti, mantan suaminya.


"Aku sudah bilang, jangan pernah membahas sesuatu yang telah berlalu, itu tak akan bisa merubah apapun, dan aku tidak mungkin mengulang waktu. Jadi jangan berfikir apapun yang bisa menghancurkan hatimu sendiri." jawab Prasasti tanpa mengalihkan pandangannya pada ponsel.


Selalu seperti itu, Kartika tidak bisa menang jika berdebat dengan Prasasti.


"Kamu harusnya bersyukur, aku tetap berada disisimu, memberi apapun yang tidak bisa kamu miliki, tetap diam, dan jangan bahas apapun."


"Aku hanya ingin, kamu bebaskan Thomas. Jangan biarkan dia menjalani hukuman atas kesalahannya, pinta anakmu dari wanita itu untuk menarik tuntutannya pada Thomas. Aku tidak kuat harus melihat Thomas seperti itu."


"Bukannya sudah ku bilang, jangan mencari tau apapun, itu akan bisa membuat hidupmu lebih tenang."


Prasasti marah, karena Kartika sudah diam-diam mencari tahu tentang Abdi. Dan dia tidak menyukai itu, itu hanya akan membuat hati Kartika terluka.


"Untuk masalah Thomas, serahkan semua padaku, aku papanya, aku yang bertanggung jawab, jadi biarkan aku yang berpikir"


Prasasti kemudian naik ketempat tidur, dia langsung memejamkan matanya, atau hanya pura-pura terpejam.


Kartika hanyalah seorang ibu biasa, sama seperti ibu lainnya di luar sana, yang tak tega jika melihat anaknya sendiri mendekam di hotel prodeo yang pengap, dan akan tetap membela anaknya, walaupun anaknya salah. Apalagi sore tadi, ketika dia berkesempatan menjenguk, dan dia melihat sendiri, Thomas yang seperti tidak nyaman, dan meminta untuk dikeluarkan secepatnya.


...***...


Pagi hari di meja sarapan, Kartika dan Prasasti hanya berdua duduk di meja yang didesain persegi panjang. Meja yang biasanya ramai oleh anak-anak serta menantunya, dan juga cucunya, kini meja itu terasa sunyi dan sepi. Jika Prasasti bersikap biasa saja, karena biasa mereka hanya berdua, berbeda lagi dengan Kartika, wanita itu tidak sama sekali menyentuh sarapan berupa roti bakar didepannya, ia hanya memegangi gelas tehnya dengan tak berselera.


"Cepat makan sarapan mu, aku tidak ada waktu mengurus orang sakit, jika kamu ingin anakmu keluar, maka jangan menambah beban ku."


Prasasti memasukkan potongan roti yang telah diolesi selai itu kedalam mulutnya. Sambil menatap tajam Kartika yang masih termenung.


Prasasti menghela nafasnya, memilih diam dan menikmati sarapannya, hingga seorang pegawai rumah mereka datang menghampiri.


"Maaf tuan, nyonya, ada nona Selly didepan."


Kartika yang sejak tadi diam, kini mengangkat wajahnya. "Mau apalagi dia kesini?" tanya Kartika.

__ADS_1


"Kurang tau nyonya." pegawai tadi menjawab dengan menundukkan kepalanya.


"Baiklah suruh dia masuk."


Pegawai itu mengangguk sebelum berlalu.


Sudah sepuluh menit Selly menunggu diruang tamu, namun mama dan papa Thomas belum menemuinya. Selly meremasi tangannya demi mengurangi rasa gugup, karena sempat membuat heboh beberapa hari lalu.


Terdengar suara derap langkah mendekat, Kartika keluar seorang diri. Wanita itu memiliki pembawaan yang tenang dihadapan orang lain, meski hatinya sedang tidak baik.


"Tante." Selly berdiri.


"Duduk Sell, santai saja, kamu sedang hamil muda kan, harus banyak istirahat." Kartika duduk berhadapan dengan Selly.


Mengerti Selly yang seperti sungkan untuk berkata, akhirnya Kartika menanyakan maksud kedatangan Selly "Ada apa Sell?,"


"Saya mau bertemu Thomas Tante, apa Thomasnya ada?" tanya Selly ragu.


Kartika terdiam, sepertinya Selly tidak tahu, jika Thomas saat ini sedang didalam tahanan.


"Thomas sedang keluar negeri, ada perlu apa?" bohong Kartika, bagaimanapun keadaan Thomas, dia harus menyembunyikan itu.


Kartika hanya mengangguk, dia ikut berdiri, mengantar Selly sampai kedepan. Dia menatap punggung Selly yang menjauh, ada rasa iba, sebagai sesama perempuan, dia tak tega melihat Selly hamil tanpa ada suami atau pasangan disampingnya, namun dia juga kecewa, Selly telah membohongi dirinya dan keluarganya, hanya demi kepentingan pribadinya.


Rasa kekecewaan tak dapat Selly tutupi, sedari kemarin dia menunggu Thomas mentransfer uang yang dijanjikan, namun sampai sekarang Thomas juga belum mentransfer uang itu sama sekali. Padahal kemaren Thomas sempat mengabari, jika Indah telah sampai diapartemenya.


Tak percaya, Selly mendatangi apartemen Thomas, dia ingin memastikan apakah Thomas benar-benar keluar negeri seperti yang mamanya katakan atau tidak. Lagi-lagi Selly tak menemukan keberadaan Thomas, dan apartemen Thomas nampak sedang ada perbaikan.


Dengan sisa uangnya, Selly juga mendatangi rumah baru Indah, dan nihil, kata tetangganya rumah itu kosong sejak kemarin. Selly melemah, akan kemana lagi dia mencari bantuan, mamanya harus segera pulang, dan dia harus menebus obat untuk sang mama. Ingin rasanya Selly pergi menenggelamkan dirinya dilaut dalam, dia benar-benar begitu putus asa, perutnya terasa perih, dia lupa mengisi perutnya, hanya karena kesal menunggu kabar dari Thomas.


...****...


Dirumah sakit dimana Indah dirawat.


Abdi masih duduk disebelah kanan tempat Indah terbaring Abdi terus menggenggam tangan Indah seraya mengelus-elus punggung tangan istrinya dengan lembut. Abdi tak henti memanjatkan doa, agar nanti operasi Indah berjalan lancar.


Sesekali Abdi mencium pipi dan kening Indah, baru sehari semalam dia tak melihat iris mata hitam itu, tapi rasa rindunya sudah sangat membuncah. Indah masih bisa dia lihat, masih bisa dia sentuh, namun rasa takut kehilangan selalu muncul disudut hatinya. Abdi tak bisa membayangkan jika Indah pergi selamanya untuk meninggalkannya. Tidak!! Abdi tidak mau membayangkan itu lagi, dia tak sanggup.

__ADS_1


Abdi kembali membelai pipi mulus Indah yang terasa dingin menggunakan jari telunjuknya, ingin sekali dia menarik tengkuk Indah, dan mengajaknya berenang seperti biasanya.


Indah memang belum lama hadir dalam hidupnya, namun Indah dapat mengalihkan dunianya dengan sekejap. Abdi teringat dimana kali mereka bertemu, Abdi yang selalu dibuat kesal dengan tingkah anehnya, dan Abdi sempat berharap, agar dia tak dipertemukan lagi dengan Indah, namun takdir berkata lain, dia malah justru dibuat terikat dengan Indah, dalam sebuah pernikahan, dia yang tak mau, menghianati pernikahan, dan tak mau mempermainkan pernikahan, akhirnya mau menerima Indah, dan kini hatinya bahkan justru terikat erat dengan wanita ini.


Pintu ruangan Indah terbuka, Masnah, Chio dan Anggun masuk. Abdi berdiri untuk menyambut kedatangan ibu mertuanya, dan menyalimi punggung tangan wanita itu.


"Ibu apa kabar?" tanya Abdi, dia mempersilahkan wanita paruh baya itu untuk duduk terlebih dahulu.


"Ibu baik nak."


"Maaf Bu, Abdi nggak bisa jemput Ibu."


"Nggak papa, Ibu terima kasih kamu mau menjaga Indah, kan sudah dijemput sama teman kamu."


Masnah tak bisa membendung air matanya, melihat putri semata wayangnya terbaring dengan banyaknya luka di sekujur tubuhnya. Ibu mana yang tak sakit melihat keadaan anaknya seperti ini, hatinya justru dua kali lipat lebih sakit dari yang Abdi rasakan, mungkin.


"Apa yang terjadi sama kamu nak? kenapa kamu nggak bisa jaga diri?" Masnah membungkuk, memeluk tubuh anaknya.


"Ini kamu pasti nggak patuh sama suami, makanya bisa seperti ini."


Mendengar ucapan Masnah, Abdi makin merasa bersalah, apa yang harus dia jelaskan?, sedang dia sendiri tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Sedang untuk menemui Thomas dan menanyakan perihal hal terjadi, Abdi belum sempat, sebab dia harus menunggu operasi Indah selesai.


Chio dan Anggun saling tatap, hati mereka ikut teriris melihat kesedihan Masnah. Abdi membiarkan Masnah puas meluapkan kesedihannya, membiarkan Masnah memeluk tubuh Indah, sebelum dia mengatakan yang sesungguhnya.


Setelah Masnah tenang, Anggun menuntun Masnah duduk disofa. Anggun memberinya makan dan minum terlebih dahulu. Tak ada obrolan diantara mereka, hingga Masnah selesai makan yang tak dihabiskan, akhirnya Abdi memberanikan diri untuk duduk bersimpuh didepan wanita yang telah dianggapnya sebagai ibu kandungnya sendiri.


"Bu, maafkan saya, saya tidak bisa menjaga Indah dengan baik." Abdi menunduk sebelum melanjutkan ucapannya.


"Saya tidak tahu yang sebenarnya terjadi, namun saat ini itu tak penting Bu, Abdi hanya ingin memberi tahu, jika Indah sempat hamil, hamil anak saya, tapi sayang, anak kami tidak mau bersama kami saat ini"


Masnah masih diam, memperhatikan wajah tulus menantunya, dia yakin, jika Abdi tak bersalah dalam masalah ini.


"Bu, nanti Indah akan dioperasi pengangkatan rahim, karena terjadi suatu kecelakaan."


Semakin remuk saja hati Masnah mendengar itu, dadanya bergetar, tak bisa lagi menahan genangan air yang berpelupuk di mata. Badannya terasa lemas, betapa malangnya nasib putri semata wayangnya. Keturunannya akan berhenti hanya batas pada Indah saja.


"Ya Allah kuatkan hati putriku." Masnah terisak, kesedihan itu tak bisa ia sembunyikan, membayangkan jika nanti Indah mengetahui bahwa dia bukan lagi wanita yang sempurna.

__ADS_1


Hingga sore menjelang, dimana Indah memang sudah dijadwalkan untuk melakukan operasi, sebenarnya dokter sudah menjelaskan, jika operasi pengangkatan rahim bukanlah hal yang harus ditakutkan, namun ketegangan terlihat di wajah Abdi dan Masnah. Anggun dan Chio tetap menemani disana, mereka rela meninggalkan jadwal pekerja mereka yang menanti, demi sahabat mereka tercinta.


__ADS_2