
"Apa-apaan ini?" Thomas menatap tajam Doni, seakan ingin menelan Doni hidup-hidup, tak terima dia dan keluarganya dianggap seperti peminta-minta.
"Saya hanya menjalankan perintah Pak" singkat Doni enggan berdebat.
Benar-benar tak masuk akal, Thomas tak terima diusir begitu saja, dia merasa terhina, padahal dia sudah membayar mahal untuk menyewa cafe ini
"Apa alasannya? saya bisa menuntut cafe kalian dan membawanya ke pengadilan, tempat ini akan ditutup, dan bos kalian bisa menanggung akibatnya" Ancamnya, seumur hidupnya baru kali ini dia mendapatkan perlakuan tak baik dari seseorang, bahkan didepan keluarga besarnya.
"Lakukan apa yang ingin Anda lakukan tuan Thomas terhormat, kami hanya tidak ingin Anda dan keluarga Anda masuk ke tempat kami" jawab Doni santai, namun menorehkan penghinaan bagi Thomas
Doni seperti melihat luka pada mata Abdi, sehingga dia harus melakukan tindakan yang bisa membantu atasannya itu, walau kedepannya dia tahu resiko yang akan mereka tanggung, kerugian yang besar, dan semuanya akan kehilangan pekerjaan mereka.
"BERANINYA_, KALIAN MENANTANG KU!?" Thomas menarik kerah kemeja abu-abu Doni, yang merupakan seragam mereka hari ini. "Panggil bos kalian, jangan jadi pengecut, hadapi saya jika dia punya nyali, KATAKAN, apa alasan dia?" Thomas tak melepaskan cengkeramannya, namun dia masih bisa mengendalikan emosi dengan tidak memukul Doni,
Ibu Thomas dan Kakak perempuannya serta Kakak iparnya hanya diam, bingung, mereka juga terkejut, kenapa pihak Abdi tiba-tiba mengusir mereka, ini sungguh sebuah penghinaan bagi keluarga mereka. Kecuali Prasasti, ayah Thomas, hanya dia yang tahu, alasan Abdi mengusir mereka.
__ADS_1
Prasasti diam memperhatikan ketegangan antara putranya dan orang kepercayaan Abdi, dia ingin melihat, siapa pemenang diantara keduanya.
"Bos saya tidak akan mengotori tangannya untuk manusia seperti Anda tuan Thomas, waktu beliau begitu berharga"
Doni begitu santai menghadapi Thomas, dia seperti sudah terlatih, walau tubuh Thomas lebih besar dan tinggi darinya, namun ia tak gentar sama sekali, padahal wajahnya sudah terlihat sangat merah akibat tarikan Thomas.
Jawaban Doni membuat sudut bibir Prasasti terangkat, dia penasaran, seperti apa Abdi tumbuh dan hidup sepeninggalnya?, terakhir kabar yang dia dengar dari orang tua Rasya, bahwa Abdi mendekam dijeruji besi akibat perbuatannya menyalahkan gunakan obat-obatan terlarang.
Thomas melepaskan cengkeramannya kasar, membuat Doni hampir jatuh kebelakang, untung Doni dapat mengimbangi tubuhnya.
Ancamnya, Thomas memiliki kekuasaan, dia bisa melakukan apa saja yang bisa membuat lawanya menyerah dan akan bersujud memohon dihadapannya. Thomas tak ingin kalah, dia tak pernah kalah dari musuhnya, kecuali Indah, dia akan lemah jika berhadapan dengan gadis hitam manis itu.
"PERGI KALIAN dari tempat ku, aku akan mengembalikan semua uang kalian, sekaligus kerugiannya, atau aku akan membuat keluarga kalian hancur saat ini juga"
Akhirnya Abdi menampakkan dirinya, tak ingin membuat Doni menanggung semua masalahnya, Doni tak tahu apa-apa.
__ADS_1
Kilat mata Abdi penuh amarah dan kebencian, dia tak ingin melihat wajah laki-laki tua yang telah dianggapnya sudah pergi dari dunia ini. Dan tak ingin keluarga mereka menginjakkan kaki ditempatnya.
"Jangan buang waktumu Thomas, kita lebih baik pergi dari sini, mengalah bukan berarti kalah bukan?, lakukan yang menurutmu bisa menghancurkan kotoran bebek seperti yang kau sebutkan, dia tak sebanding dengnmu" bisik Prasasti ditelinga Thomas, syarat akan ejekan dan penghinaan.
Mendengar hasutan dari sang Papa membuat Thomas menyetujui itu, dia tahu apa yang harus ia lakukan, yang menjadi tujuannya saat ini adalah, kebahagiaan papanya. Dia tak ingin hari bahagia papanya diisi dengan keributan tak penting dengan orang yang tak sepadan dengannya.
Seringai licik muncul dikepala Thomas, "Baik, kami akan pergi, tapi ingat, urusan kita tidak berhenti sampai disini, aku pastikan kalian akan menanggung semua akibatnya" ucapnya sebelum berlalu meninggalkan cafe Abdi.
Dengan masih penuh tanya, Thomas membawa pergi keluarganya dari kawasan cafe mulik Abdi, ketegangan yang terjadi antara dia dan Abdi memicu keingin tahuan Thomas tentang keluarga Abdi. Satu lagi yang membuat Thomas sedikit curiga, sikap sang Papa yang mengalah, padahal biasanya Papanya tidak terima jika keluarganya dipermalukan seperti ini, tanpa ampun sedikitpun.
Begitupun dengan Kartika, Ibu Thomas, wanita cantik nan lembut itu meremasi jemarinya, ada rasa yang tak bisa ia ungkapkan melihat kesamaan antara wajah suaminya dengan Abdi, iapun memutar ingatan saat ia habis melahirkan anak pertamanya dulu, tentang suaminya yang menikah lagi dengan seorang wanita malam, dan memiliki seorang anak, Kartika harus memastikannya sendiri, siapa pemilik cafe yang berani menabuh genderang perang pada putranya dan mempermalukan anaknya, Kartika sangat memahami Thomas, dia akan melakukan apapun untuk membalas musuhnya.
Dibangku penumpang, Prasasti sibuk dengan pikirannya sendiri, untung dia bisa mengalihkan Thomas, dan membawa pergi keluarganya dari cafe Abdi, kalau tidak, Abdi bisa membongkar rahasianya selama ini.
Tiga belas tahun dia meninggalkan Abdi dan ibunya, kini mereka dipertemukan secara tidak sengaja, sebejat-bejatnya dia dimasa lalu, dia tak ingin, keluarga yang ia bina dengan Kartika hancur. Prasasti menebar senyum palsu didepan istri dan anak menantunya serta cucunya, dia tak ingin anak-anaknya curiga dengan sikapnya.
__ADS_1
Mereka kini menuju restoran terbaik yang ada di Jakarta, pemilik restoran itu merupakan teman Kartika, mereka menikmati hari ulang tahun Prasasti tanpa mengingat kejadian tak menyenangkan tadi, itulah yang Prasasti lakukan, kebahagiaan keluarganya adalah yang utama dibanding apapun didunia ini.