
Di part ini nggak ada Indah dan Abdi dulu.
Anak mana sih yang nggak ikut senang jika orang tuanya senang?. Mau dia bertingkah seperti apa juga, jika itu bisa membuat orang tua kita bahagia, suka tidak suka, mau tidak mau, kita pasti akan nurut saja. Apalagi itu perihal pasangan.
Terkadang orang tua juga suka egois sih, mereka menginginkan anaknya memiliki jodoh yang jelas bebet, bibit, dan bobotnya, bahkan, kadang ada orang tua yang sampai memilihkan jodoh untuk anaknya, agar anaknya tidak salah memilih pasangan. Tapi mereka sendiri yang melanggar, miris.
Seperti yang saat ini Anggun rasakan, setelah mengetahui kenyataan yang sesungguhnya, dia jadi menerka-nerka sendiri, sebenarnya papanya ini tahu tidak asal usul istrinya?, sanak sodaranya?, siapa dan dimana anak-anaknya?. Apa jangan mentang-mentang tuh perempuan bisa memuaskan diatas ranjang, papanya tak peduli lagi asal-usul mak lampir itu, yang penting kebutuhan batinya terpenuhi. Ckckck
Nafsu dan cinta memang bisa menutup mata hati seseorang, mereka tak bisa membedakan mana yang baik dan mana buruk. Semua terlihat bagus dimata mereka.
Bahkan semua keinginan istri barunya itu langsung ia penuhi. Ya, seperti yang baru-baru kemarin, papanya membelikan mobil sport keluaran terbaru untuk Widuri. Wowww
Sedikit cerita, dulu Anggun pernah minta mobil pada papanya saat dia masih kuliah, bukan mobil baru, seken, mobil mini bus yang harganya dibawah seratus juta, tapi tak lantas papa mengabulkan permintaan Anggun, dia berujar "Anggun, kamu masih kuliah, naik taksi saja biar aman, selesai kuliah kamu kerja, nabung, jika tabungan kamu cukup, kamu beli mobil sendiri, kamu akan bangga dengan hasil kerja keras mu sendiri." nasihat papa bijak, benar-benar bijak.
Kini, Anggun tak mau lagi diam saja, dia harus buka kebusukan Widuri, bagaimana bisa malam dimana Abdi kerumahnya, Widuri pura-pura tak mengenal Abdi, ibu macam apa itu?, anak kandung sendiri saja tak diakui, apalagi dia yang anak tiri.
"Turunkan tas mu Anggun, bersikaplah yang sopan, ayah tidak pernah mengajari mu kurang ajar seperti ini." Ujar Surya penuh penekanan, matanya tajam menatap Anggun, seolah ingin menelan Anggun hidup-hidup.
Anggun diam, sama sekali tak menanggapi ucapan papanya. Dia menyendok nasi sampai piringnya terisi penuh, untuk mengisi lauk pun tak ada lapak lagi, dengan santai Anggun mengambil lauk yang ada di piring Widuri, meletakkan lauk itu pas ditengah-tengah nasi yang terlihat munjul. Jika dipotret seorang fotografer profesional, lauk ayam kecap itu terlihat seperti seekor raja hutan, yang sedang berdiri di puncak gunung.
Widuri diam dengan tatapan terkejutnya, biasa, akting seorang ibu tiri, jika didepan suaminya dia hanya akan diam, beda lagi jika dibelakang suaminya, dia akan bertindak seperti sinetron-sinetron kebanyakan. Dia menatap wajah suaminya dan Anggun bergantian.
Surya yang melihat itu, langsung berdiri, menghempas sendoknya keatas piring, sehingga menimbulkan suara yang sangat nyaring, sampai pembantu yang sedang berada di dapurpun terkejut.
"APA YANG KAMU LAKUKAN ANGGUN?" teriak Surya, wajahnya sudah sangat memerah, urat-urat dileher dan keningnya nampak kelihatan karena begitu emosi.
"Menurut Papa apa? Anggun cuma mengambil hak Anggun yang dirampas oleh orang lain." jawab Anggun tanpa melihat sang papa yang sudah dipuncak emosinya.
__ADS_1
Dengan santai Anggun menyuapkan nasi kedalam mulutnya, dia bahkan tidak memakai sendok, langsung dengan tangannya.
"Setelah memilih hidup dijalanan, sekarang pulang dengan sikap kurang ajar mu, kenapa tidak memilih tetap hidup dijalanan, kamu pantas tinggal disana?"
Semua yang mendengar ucapan Surya terkejut, Anggun memperlambat kunyahanya, mengeratkan jemarinya pada sendok, dadanya terasa terhimpit benda besar mendengar ucapan papanya, sakit, sangat sakit, mata Anggun memanas sungguh tak menyangka jika papa akan mengucapkan hal semenyakitkan ini.
Anggun meletakkannya sendoknya, berdiri, menatap tajam papanya dengan mata yang mulai berembun, katakanlah saat ini dia menjadi anak yang sangat kurang ajar.
"Anggun pulang karena Anggun sadar, ada yang lebih pantas hidup dijalanan, ini tempat Anggun, Anggun harus merebutnya."
"Papa banyak berubah Pa, padahal Anggun sudah mencoba mengerti Papa, menerima wanita ini dalam hidup Papa, tapi apa? Papa seolah buta"
"Anggun sadar, Papa butuh pendamping yang bisa mengurus Papa, yang bisa memberikan yang Papa butuhkan yang Anggun nggak bisa kasih ke Papa, tapi, apa Papa mencari pendamping yang bisa menerima Anggun? yang bisa membuat kita hidup lebih dekat?, harusnya Papa tau wanita seperti apa yang Papa cari, bukan wanita yang tak mengakui anaknya, bukan wanita yang hanya hebat di ranjang, otak Papa buntu, otak Papa telah tersumpal nafsu"
PLAKKK
Tamparan keras mendarat di pipi putih Anggun. Cap empat jari pun telah membekas disana. Emosi yang meluap-luap membuat Anggun berucap tak beraturan.
Anggun tersenyum
"Pa, apa pernah Papa mencari tau asal usul wanita ini?" Anggun menunjuk Widuri yang bersebrangan denganya, mengabaikan rasa panas diwajahnya "Sebelum Papa berucap jika Abdi memiliki masa lalu yang buruk, apa Papa pernah mencari tau tentangnya? tentang orang tuanya? jangan Papa hanya menuntut Anggun untuk mencari pendamping yang dari bebet, bobot dan bibit yang jelas, sedang Papa sendiri tak tahu bebet, bobot dan bibit istri Papa"
Anggun menatap Widuri, menunjukkan senyum seringainya. Anggun ak sabar ingin segera mengungkap siapa Widuri sebenarnya. Tak sabar, Baga reaksi papanya, saat tahu Abdi anak Widuri.
"Abdi anak wanita ini Pa, anak Prasasti dengan wanita ini." tunjuk Anggun Widuri.
Widuri membelalakkan matanya, dari mana Anggun tahu tentangnya? apa Abdi yang memberi tahunya?. Widuri menatap takut Surya, wajahnya seketika memucat.
__ADS_1
Anggun tersenyum puas, tak ia pikirkan lagi tentang papanya yang akan marah lagi, namun dia cukup puas. "Makanya Abdi memutuskan hubungan kami, semua demi dia, wanita yang telah melahirkannya, wanita yang tak mengakuinya anak."
"Papa ingat? Abdi menjauhi ku karena dia tahu, kami saudara tiri, bukan karena dia laki-laki buruk yang papa dengar dari teman Papa" Anggun mengusap dagunya yang basah karena air mata.
Ada sedikit kelegaan dihatinya, setelah mengatakan siapa mama tirinya itu.
Anggun membawa tas serta nasi yang tadi dia ambil, dia akan melanjutkannya makanya, mubazir jika tidak dihabiskan, biarlah dia akan mengurung diri di kamar. Memikirkan langkah apa yang akan dia ambil kedepannya?.
...****...
Dikediaman Prasasti, Selly membuat gaduh dirumah orang tua Thomas, dia membawa serta mamanya.
Selly meminta pertanggung jawaban Thomas atas kehamilannya, dan Selly juga memberi tahu pada mama Thomas, jika Thomas memutuskan pertunangan mereka, sebab Thomas mencintai wanita lain, dan wanita itu berstatus istri orang.
"Apa ucapan mu bisa dipertanggung jawabkan Selly?" tanya mama Thomas.
Selly menatap Thomas yang sejak tadi menatapnya.
"Tante langsung tanyakan saja pada anak tante"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Makasih ya yang udah support cerita ku selalu😍😍 , maaf jika ceritanya kurang feel.