
Jangankan yang akan terjadi satu tahun mendatang, kadang kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi disatu detik kedepan, kita merencanakan A tapi yang terjadi B, kita akan melakukan C, yang terjadi malah memaksa kita untuk melakukan D. Kita hanya pemain, yang mengikuti skenario sutradara, yaitu sang pencipta.
Diapartemen Abdi.
Kini Abdi dan Indah sedang mengemasi barang-barang mereka, setelah melihat rumah kemarin, Indah setuju untuk tinggal dirumah itu.
"Lo nggak harus pindah sih Di, lo masih bisa nempatin apart ini" ucap Chio sambil melakban karton yang sudah terisi penuh.
Chio datang ke unit Abdi, sebagai tetangga yang baik, dia berinisiatif membantu mengemasi barang-barang mereka, walau terselip modus untuk bisa memandang wajah manis Indah.
Ya Ampun, berdosa banget gue, mengagumi istri orang. Batin Chio.
"Nggak ahh, emang gue cowok apaan numpang hidup sama temen, gue mau buktiin ke es teri, kalo dia bangga punya suami yang bertanggung jawab."
Abdi melirik Indah yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka, Indah berdiri membelakangi mereka, Chio juga ikut melihat kearah yang sama.
Indah pagi ini terlihat sangat manis, dia menggunakan rok payung dibawah lutut berwarna coklat muda, dipadukan dengan kaos polos berwarna nude yang dia masukkan kedalam, terlihat seperti abege. Sederhana dan rapi, namun sangat sedap dipandang, ditambah lagi, rambut sebahunya yang dikuncir kuda, mempertegas kulit coklat bersihnya, khas wanita Indonesia.
Tak lagi mendengar suara lakban dan suara obrolan kedua laki-laki tadi, membuat Indah menoleh kebelakang.
"Kalian udah selesai?" tanyanya.
"Udah" jawab Abdi singkat.
"Kita sarapan yuk, mumpung buburnya masih panas" ajak Indah. Dia menarik kursi untuk dia duduk.
"Coba ya, gue yang duluan ketemu Indah." gumam Chio yang masih bisa didengar oleh Abdi.
"Bukan masalah yang duluan bertemu, tapi siapa yang akan memiliki di akhir"
Abdi melihat Chio yang masih memandangi istrinya "jangan banyak menghayal, tar lalet masuk mulut, jadi tahi lalat di lidah." canda Abdi. Ia terkekeh lalu meninggalkan Chio yang mengumpat.
"Kamu beli bubur ayam yang dimana?"
Tanya Abdi sambil menarik kursi disebelah Indah, disusul Chio yang ikut duduk diseberang mereka, Chio menuangkan bubur miliknya kedalam mangkuk.
"Yang dideket almamart, ini enak loh mas" Indah mendorong mangkok bubur milik Abdi yang tadi sudah dituangnya.
"Iya, aku juga pernah beli disitu." Abdi mengaduk-aduk buburnya, hingga buburnya menyatu dengan bumbu.
"Ihh mas jorok, kok diaduk gitu sih." lihat Indah bubur Abdi.
"Enak loh es teri" Abdi mengulurkan sendoknya di mulut Indah.
__ADS_1
"Aaaaa"
Indah merapatkan mulutnya. "Nggak mau."
"Yaudah" akhirnya bubur itu dia masukkan ke mulutnya sendiri.
"Heran ya mas, kok kita bisa berjodoh, padahal selera kita beda banget ya" ucap Indah disela kunyahanya.
"Hemm, jodoh kan nggak harus sama, nanti nggak seru kalo sama"
Chio mendesah mendengar obrolan pasangan itu "Nasib jadi anak bawang, dari dulu cuma nemenin orang uwwu uwwu." Chio memasukkan suapan besar kedalam mulutnya, menunjukkan kalau dia kesal.
Mendengar itu Indah dan Abdi hanya saling pandang, lalu tertawa.
Disela-sela makan mereka Chio tak hentinya mengetik diponsel, lalu tak lama terdengar deringan dari hape miliknya.
Chio bangkit dari duduknya, lalu keluar untuk mengangkat panggilan itu.
"Chio kayaknya punya pacar ya mas?" tanya Indah, dia membereskan bekas sarapan mereka.
Abdi mengendikkan bahunya "Entahlah, tapi kayaknya dia menyembunyikan sesuatu."
"Ada tamu yang ingin bertemu kalian, apa boleh?" tanya Chio tiba-tiba yang kembali masuk.
Indah melihat Abdi, Abdi pun sama melihat istrinya.
Chio menggeser badannya yang masih berada diambang pintu, Anggun muncul disana.
Melihat kedatangan Anggun Indah menegang, masih ada rasa tak enak dihatinya, walau pernikahannya dengan Abdi bukan kesalahannya, tetap saja, ada rasa bersalah.
Anggun meneliti setiap sudut apartemen Abdi, walau dulu dia tidak terlalu sering datang kesini, namun ada jejak manis yang membekas. Bayangan masa lalu itu kembali berputar dikepalanya.
"Anggun" lirih Indah.
"Iya, aku sahabatmu, mantan kekasih suami mu" Anggun memaksakan senyumnya.
Ada rasa berdenyut dihati Indah mendengar ucapan Anggun.
Kenapa kamu harus ngomong gitu sih Nggun?.
"Maaf Anggun, kami sedang sangat sibuk, jika nggak ada keperluan, kamu mending pulang." usir Abdi yang tak suka dengan ucapan Anggun.
"Aku mau ngomong sama kamu mas, cuma berdua." Anggun menatap Abdi.
__ADS_1
Indah dan Chio saling pandang, merasa tak dibutuhkan keberadaannya mereka memilih undur diri, dia akan kerumah Chio. Namun langkah Indah terhenti, saat Abdi menahan tangannya.
"Nggak bisa kalau cuma berdua, aku sekarang sudah memiliki istri, istri aku harus tahu hal sekecil apapun itu, jika kamu keberatan, lebih baik tidak usah."
Woww, mendengar ucapan Abdi, Chio terkejut, dia sempat tak percaya, teman brengseknya ini bisa berubah secepat ini, menjadi laki-laki yang bertanggung jawab akan perasaan istrinya, Chio tersenyum pada Abdi, memberikan dua jempolnya untuk sahabatnya itu, memberikan semangat dan dukungan pada Abdi. Ia kemudian melanjutkan keluar, membiarkan mereka menyelesaikan drama keluarga sinetron itu.
Sakit, Anggun benar-benar merasa sakit, secepat ini Abdi bisa mencintai Indah.
"Nggak papa mas, Indah nggak masalah kalian ngobrol berdua, toh cuma ngobrol, Indah memberi kesempatan untuk kalian menyelesaikan masa lalu kalian." ucap Indah.
"Nggak es teri, kamu tetap disini, mendengar semua yang kami bicarakan, aku nggak mau timbul masalah yang akan membuat rumah tangga kita hancur."
Apa? es teri?, manis sekali panggilan kamu mas, batin Anggun.
"Apa kalian memang pernah kenal sebelumnya? atau kalian sudah dekat saat kamu masih sama aku mas? secepat ini kamu bisa menerima Indah"
"Bukan masalah cepat atau tidaknya Anggun, keadaan yang memang membuat hubungan kita harus berakhir, bukan Indah penyebabnya, pernikahan kami memang pernikahan yang tak disengaja, disaat aku bingung akan kemana hubungan kita, tapi justru Tuhan memberi jawaban atas kerisauan itu, dengan mengirim Indah dihidupku, aku bukan lelaki yang mempermainkan pernikahan, jika aku mempermainkan pernikahan, berarti aku mempermainkan agama ku dan Tuhan ku, aku sudah mengucap janji ini atas nama Tuhanku " tegaskan Abdi.
Indah, harusnya aku yang menjadi wanita beruntung itu, bukan kamu, aku lebih cantik dan lebih segalanya dari kamu. Batin Anggun benar-benar menangis, mendengar ucapan Abdi, Abdi jauh lebih baik dari yang dia bayangkan selama ini.
"Kenapa dunia ini nggak adil untuk aku mas, kenapa harus Indah yang jadi istri kamu? kenapa juga kamu nggak jujur sama aku?, kalau saja kamu jujur, kalau ternyata kita saudara tiri, kita akan berjuang bersama, kita tetap bisa menikah, papa akan mengalah jika tahu sejak awal kamu anak wanita itu, papa akan meninggalkan istrinya, demi hubungan kita, tapi kenapa kamu malah mengorbankan aku?"
Anggun tak dapat lagi menahan kekecewaannya, andai saja Abdi jujur sejak awal, dia pasti tak akan seterluka ini.
"Maaf Nggun, aku salah, aku nggak tahu harus berbuat apa saat itu." Abdi menyesali kesalahannya.
Indah hanya mendengarkan saja percakapan Abdi dan Anggun, tanpa ada niat untuk ikut masuk dalam perdebatan mereka, walau ada rasa sakit dihatinya, saat Abdi mengakui menyesali perbuatannya, tapi dia percaya, saat ini hati Abdi sudah seluruhnya menjadi miliknya.
"Kamu itu doa-doa disetiap sujudku mas, kamu itu satu-satunya laki-laki yang aku harapkan untuk membawaku ke dermaga tempat ku berlabuh, tapi kamu malah memilih wanita lain untuk jadi pelabuhan terakhir kamu, apa sebenarnya kamu tidak mencintai aku mas? harus apa aku kedepannya tanpa kamu?. Kenapa kamu harus hadir di hidupku? mengucapkan kata cinta, mengucapkan kata sayang, tapi kamu tak mempertahankan aku sama sekali"
Anggun menangis, meluapkan segala isi hatinya, tanpa menghiraukan perasaan Indah sama sekali, sebab sejak awal dia ingin berbicara hanya berdua, ini bukan kemauannya, Abdi yang memintanya.
Indah mengalihkan pandangannya, ingin rasanya dia pergi saat ini juga enggan mendengar setiap ucapan Anggun. Menenggelamkan dirinya dilaut kidul.
Sedalam ini kamu mencintai mas Abdi Nggun? aku harus apa? apa aku harus merelakan mas Abdi demi kamu? tapi kalian saudara tiri. Kenapa aku harus ada diantara kalian. Apa sesakit ini kamu Nggun?
"Indah, coba kamu jadi aku sebentar saja, dan rasakan sakit yang aku rasakan saat ini"
.
.
.
__ADS_1
.
.