Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 54


__ADS_3

Abdi melihat jam ditangannya, perasaannya mendadak tak tenang. Dia tidak bisa meninggalkan meeting mendadak ini, seorang pengusaha yang belum dia ketahui, ingin menanam modal dalam jumlah yang besar. Ini merupakan hal yang baik untuk Abdi. Setelah pagi tadi dia telah menyelesaikan urusannya dengan Thomas, dan juga para korban akibat keracunan kemarin.


Thomas mengalah, dan menerima uang ganti yang Abdi berikan, sesuai yang disepakati, Abdi mengganti hanya dua kali lipat dari harga yang Thomas bayarkan waktu itu.


Karena perasaannya semakin tak karuan, Abdi membisikkan sesuatu kepada Doni untuk stay. Akhirnya Abdi beranjak, dia meninggalkan meeting itu.


Abdi keluar dari tempat meeting yang diambil di sebuah mall, di daerah Tanggerang, mall yang tak begitu jauh dari tempat yang akan dia ambil sebagai lokasi pabriknya nanti.


Abdi berjalan menuju parkiran mobil sedikit berlari. Ia langsung menancap gas, agar segera cepat sampai rumahnya. Dia tadi sudah berjanji pada Indah, untuk pulang cepat. Nyatanya kini sudah lewat dari jam dua siang. Abdi menyugar rambutnya frustasi.


Entah apa yang membuatnya menjadi tak setenang ini?. Astaga, kenapa dia sampai lupa, kenapa dia tak menelpon Indah saja?. Abdi mengambil ponselnya yang dia taruh di dashboard, mendial nomor Indah. Panggilan itu masuk, namun tak dijawab. Pikiran Abdi semakin tak tenang, semoga Indah baik-baik saja, rapalnya dalam hati.


Abdi mencoba berpikir tenang. Terakhir dia menghubungi Indah, tadi Indah bilang dia sedang tiduran di sofa, semoga saja Indah sekarang tertidur sehingga tidak mendengar teleponnya.


Beruntung perjalanan dari Tangerang ke Jakarta tak terlalu padat, sehingga Abdi dapat mengendarai mobilnya dengan cepat. Saat telah masuk Jakarta, Abdi mendapat telepon dari Anggun. Abdi tersentak kaget mendengar cerita Anggun. Abdi langsung memutar arah mobilnya menuju rumah sakit.


* * *


Indah hampir saja menubruk tubuh Thomas, saat Thomas menarik tangannya. Untung Indah punya rem cakram dikakinya. Indah mendelik tajam saat Thomas menutup dan mengunci pintu apartemennya.


"Kereta, apa-apaan sih, kenapa pintunya ditutup?." Tanya Indah dengan nada ketus dan jengkel, dia berjalan kearah pintu, menarik handle pintu itu.


"Cepet buka nggak?" perintah Indah marah, tangannya masih memegang handle pintu itu.


Thomas tersenyum manis seperti tak merasa bersalah. Dia malah melangkah kearah dapur, mengabaikan kemarahan Indah, dia paling suka melihat dan mendengar Indah yang suka marah-marah. Thomas membuka kulkas, mengambil dua kaleng minuman soft drink.


"Minum dulu, perjalanan kamu kesini kan jauh." Thomas meletakkan kaleng minuman itu diatas meja, lalu ia duduk di sofa yang berharga fantastis miliknya.


"Duduk In, kita santai dulu."


Thomas menyesap minumnya setelah dia buka.


"Tenang, aku tidak akan berbuat yang macam-macam."


Indah mulai jengah dengan tingkah konyol Thomas. Matanya meneliti, barang apa yang bisa dia gunakan untuk menyelamatkannya nanti. Apartemen Thomas terbilang mewah, ini untuk kedua kalinya dia masuk ke apartemen ini, saat mengantar Anggun waktu itu, dia sama sekali tidak memperhatikan ruangan apartemen Thomas.


"Gue nggak mau basa-basi kereta, kedatangan gue mau minta pertanggung jawaban lo sama kehamilan Selly."


Hahaha tawa Thomas menggema diruangan mewahnya. "Apa yang harus aku pertanggung jawabkan?" Thomas menggoyang-goyangkan botol minumnya yang baru sedikit ia minum.

__ADS_1


Indah menatap Thomas jengkel, "Jadi kayak gini kelakuan Thomas Prasasti? yang katanya pengusaha sukses, tapi pengecut."


"Jangan asal tuduh sayang, nanti kamu bisa kena tuntut."


"Bedebbah, tutup mulut lo Thomas!!. Jangan jadi pengecut."


Thomas mengalihkan pandangannya pada Indah yang masih setia berdiri didepan pintu, tangan Indah bahkan masih memegang handle yang menggunakan finger print itu.


"In, duduk sini, kita ngobrol santai, nanti kamu kecapean berdiri terus."


Thomas menepuk sofa disebelahnya, menyuruh Indah untuk duduk didekatnya.


Indah membuang muka, dia makin muak dengan tingkah Thomas.


"Cepat buka pintunya kereta, gue udah bersuami, jadi lo nggak usah ngomong asal."


"Bersuami? suami miskin itu, yang sampai menjual ini itu untuk membayar denda saja? kamu yakin akan bertahan dengan suami miskin itu?"


Mata Indah membola mendengar penuturan Thomas, dari mana Thomas mengetahui semua tentang Abdi.


"Dari mana lo tahu tentang mas Abdi kereta?"


Thomas mengerakkan lehernya ,"Jangan panggil saudara tiriku itu dengan sebutan yang tadi In, jika kita sedang berdua. Aku tidak suka mendengarnya." tekankan Thomas ucapannya.


Indah terkejut, bahkan mulutnya sampai menganga.


"Ss-siapa saudara tiri yang lo maksud?"


"Suami kamu, kami bersaudara satu ayah"


Indah menutup mulutnya, ia seperti tak percaya dengan kenyataan yang baru didengarnya.


Apa? Suaminya dan Thomas bersaudara? ternyata dia selama ini terlibat dengan skandal keluarga rumit antara Abdi, Thomas, dan Anggun.


Indah memijit kepalanya pusing.


"Gue nggak ada urusan antara lo sama suami gue, yang gue minta sekarang lo tanggung jawab atas kehamilan Selly, kasihan anak kalian jika tidak memiliki keluarga utuh. Selly sedang butuh kehadiran lo kereta,"


"Anak Selly bukan anakku, makanya mamanya sampai masuk rumah sakit, karena kesalahannya sendiri."

__ADS_1


Indah makin tak mengerti, sepertinya sia-sia dia datang kesini.


"Thomas gue mau pulang, buka pintunya sekarang, kalo tetap tak mau tanggung jawab, gue bakal menjarain lo."


"Apa kamu tidak mau melihat sesuatu sayang?" Thomas tetap santai, dia menikmati waktu berduanya dengan Indah.


"Jaga mulut lo kereta, jangan panggil gue begitu lagi, gue bisa sakit congean dengar panggilan menjijikkan lo."


"Aku suka kamu Indah." lirih Thomas, akhirnya, ucapan itu keluar dari bibir Thomas. Lo


Thomas menunduk, mengucapkan hal seperti ini tak mudah bagi Thomas, dia bersikap santai, tapi dia menahan jantungnya yang berdetak kencang sejak tadi, sedalam ini perasaannya pada Indah, sampai mengatakan cinta saja dia begitu keluh.


Indah tentu saja terkejut dengan pengakuan Thomas, dia berpikir dia salah dengar.


"Maaf, aku memang pengecut, mendekati Selly demi bisa melihat wajah kamu dari jauh, aku begitu takut mengakuinya sejak dulu In. Walau kamu sudah bersuami, aku tak masalah. Aku anggap ini impas, aku bukan barang ori lagi, jadi aku bisa menerima kamu juga, walau aku tahu, kamu sudah berhubungan dengan suamimu, aku rasa ini adil, kita bersama-sama hapus bekas jejak mereka."


Thomas masih menunduk, menyesali kebodohannya, dia terlalu pengecut. Thomas mengambil amplop berwarna coklat dibawah mejanya.


"Kamu buka ini, aku memegang semua sertifikat rumah kamu, dan sepupu kamu yang licik itu. In, aku menjaga semuanya, semua milik kamu, dan untuk biaya mama Selly, aku akan menanggungnya, uang Selly habis untuk membayar laki-laki yang harus bertanggung jawab atas kandungan Selly, bukan aku."


Thomas menatap lembut Indah yang masih berdiri, wanita itu tak menunjukkan ekspresi apa-apa. Entah apa yang Indah pikirkan dan rasakan saat ini, yang pasti Thomas tak akan berbuat kasar pada wanita yang begitu ia cintai.


"Ini semua aset perusahaan ku, semua akan aku alihkan atas nama kamu In, kalau kamu mau meninggalkan laki-laki itu demi aku, demi kebahagiaan kita." sambung Thomas, dia kembali mengambil semua dokumen miliknya yang sudah dia siapkan.


.


.


.


.


Ayo ... komen, komen, komen,


Like, like, like, like


Vote vote vote vote


Taburkan pelet, agar Indah tak berpaling dari lele mas ganteng. 🤭😂😍😍

__ADS_1


__ADS_2