Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 66


__ADS_3

Semakin hari perasaan Indah semakin membaik, ya walau terkadang sikap Indah masih berubah-ubah, terkadang dia menangis tanpa sebab hanya karena melihat anak-anak yang lewat, kadang dia bersikap biasa dan bisa menerima keadaan, namun terkadang sikap tempramennya suka muncul tiba-tiba tanpa bisa ia kontrol, Abdi mengerti itu, namun berbeda dengan Masnah ibunya, hati Masnah begitu sakit melihat kondisi Indah kini yang seakan memiliki kepribadian ganda.


Nggak mudah loh menerima kenyataan seperti ini, maaf maaf ya, wanita yang terlambat memiliki keturunan saja kadang malas untuk berbaur dengan orang sekitar, enggan menanggapi mulut orang yang suka berucap seenak mereka tanpa disaring terlebih dahulu, ya bukan salah mereka juga sih, resiko hidup menjadi makhluk sosial, ya begini, kita harus siap jika dikomentari, dan Indah belum siap mengatakan yang sejujurnya, dia tak mau orang memandanginya dengan rasa kasihan.


Hari-hari yang Indah lewati terasa berat dan lama untuknya, apalagi belakangan ini Abdi sibuk dengan pekerjaannya membuat hati Indah hampa dan kosong. Masalah yang dihadapi Indah bukan masalah sepele, perasaan takut ditinggalkan selalu saja menghantui. Indah melihat nanar di setiap sudut rumahnya, rumah yang akan selalu terasa sepi karena tak akan ada tangisan bayi maupun suara gelak tawa seorang anak kecil. Lagi, bulir bening itu meluncur begitu saja.


Berdiri dibalkon rumahnya sudah menjadi hal rutin Indah lakukan setiap pagi, sekedar melihat orang-orang yang lewat didepan rumahnya. Wajah cantiknya terlihat bersinar terkena terpaan sinar matahari pagi.


Tepat dipandangan Indah, pasangan suami istri baru sepertinya, tengah berjalan bergandengan, senyum bahagia terus merekah dibibir mereka, dimana sang istri tengah berbadan dua, wanita itu berjalan tanpa mengenakan alas kaki, tiba-tiba hawa panas menyergap hati Indah. Indah benci, benci melihat wanita hamil, hati yang mulai damai kini kembali memanas. Indah membuang muka, enggan menatap kedua pasangan itu.


Dibelakangnya, sejak tadi Abdi berdiri menyender dipintu balkon dengan tangan dilipat didada. Memperhatikan wajah murung Indah dari belakang, dia tahu betul apa yang barusan dilihat Indah. Abdi mendesah, entah kapan terakhir melihat istrinya ini tersenyum.


"Aku lama-lama iri sama matahari, dia selalu dipandangi wanita cantik setiap pagi. Sedang aku cuma dikasih wajah jutek tiap hari." Indah membalikkan badannya mendengar suara Abdi.


Indah mengernyitkan keningnya "Mas dari tadi disini?."


Abdi tak menjawab, dia berjalan mendekat tepat didepan Indah, dia menunduk menatap Indah yang hanya sebatas lehernya. Abdi tersenyum lembut, kemudian meremas lembut bahu Indah, membalikkan tubuh Indah untuk menghadap matahari pagi. Abdi memeluk tubuh Indah dari belakang, dan tanpa diduga Abdi meletakkan dagunya dibahu Indah, membuat bulu kuduk Indah meremang, sial, Indah terpancing gara-gara nafas panas Abdi menerpa kulit lehernya. Abdi memejamkan matanya, menikmati hangatnya sinar matahari.


"Pantes kamu betah tiap pagi disini, emang enak ya." gumam Abdi dengan mata terpejam.


"Mas."


"Sampai kapan kamu menyiksa diri kamu es teri, aku tahu kamu masih belum bisa sepenuhnya menerima keadaan kita, tapi aku minta, berhenti meratapi ini semua, aku butuh kamu, aku rindu kamu yang dulu."


Indah menelan salivanya susah payah. "Aku butuh waktu mas."


"Aku tahu sayang, tapi bukan dengan kamu menutup diri seperti ini. Kamu tidak boleh kalah dengan keadaan, kamu harus lihat keluar, begitu banyak perempuan yang kurang beruntung seperti kamu. Jika kamu seperti ini terus_"


"Kamu bisa tergoda dengan wanita lain, gitu kan mas?"


Abdi membuka matanya mendengar ucapan Indah, menegakkan badannya. Lalu membalikkan tubuh Indah untuk menghdapnya.

__ADS_1


Abdi mensejajarkan wajahnya pada Indah "Aku nggak suka kamu selalu ngomong kayak gitu es teri, aku udah bilang, aku memang tidak bisa menjanjikan setia, tapi aku minta sama kamu untuk kita sama-sama membangun rumah tangga yang bahagia tanpa adanya anak, aku tahu anak memang pelengkap kebahagiaan, tapi menurutku, yang akan menemani dihari tua ku nanti bukan anak, tapi kamu, pasanganku. Anak akan pergi bersama pasangannya, sedang kamu akan selalu ada buatku sampai hari tua nanti." ucap Abdi penuh penekanan.


"Banyak diluar sana yang memiliki anak tapi hidup mereka tidak bahagia, bahkan ada diantara mereka yang mengatakan jika anak adalah cobaan terberat untuk mereka, musuh terbesar orang tua adalah anak." Abdi masih menatap Indah "Aku mohon sayang, jangan meratapi kesedihan terlalu lama, hidup terus berjalan,"


Indah memejamkan matanya, membuat bulir bening itu kembali meluncur tanpa permisi. "Kamu nggak tahu yang aku rasain mas." ucap Indah dengan suara bergetar.


"Ya, kamu hanya tahu sakit kamu, tanpa kamu perdulikan sakit aku. Aku juga sakit sayang, sakit melihat orang yang kita sayang tidak pernah tersenyum, aku merasa menjadi suami yang gagal, tidak bisa membahagiakan istrinya." Abdi mengatakan kejujuran hatinya, jika dia juga merasakan sakit.


"Mas kamu_"


Sttttt


Abdi meletakkan telunjuknya dibibir Indah "Jangan katakan apa-apa lagi, aku rindu kamu." Abdi menyingkirkan rambut dibahu Indah kebelakang.


Abdi memejamkan matanya, mendekatkan bibirnya pada bibir Indah, kedua benda lembut itu kembali bertemu setelah lama mereka tidak bertemu, Indah tak dapat menolak setiap sentuhan lembut Abdi, Indah terhanyut, ikut membalas ciuman suaminya. Abdi menggendong tubuh Indah untuk dibawanya masuk, Abdi menutup pintu balkon menggunakan punggungnya tanpa melepaskan ciumannya.


Perlahan Abdi menurunkan tubuh Indah, tangannya masih melingkar di pinggang ramping Indah, kepala mereka bergerak kekanan kekiri seiring ciuman yang semakin menuntut, Indah pasrah saat Abdi mendorong tubuhnya dan membentur kasur hingga membuat Indah terduduk, lalu perlahan Abdi membaringkan tubuh Indah untuk ia kungkung. Abdi tak dapat menahan diri lagi, tadinya ia melakukan ini agar bisa membuat Indah melupakan segala keresahan hatinya, nyatanya justru dia yang kini tak dapat mengendalikan dirinya lagi.


Abdi menyingkap kaos yang Indah kenakan, tangannya menelusup, langsung meremas kedua tempurung yang sangat ia rindukan secara bergantian yang kiri dan kanan. Ciuman Abdi turun ke dagu Indah, lalu keleher Indah membuat Indah mendongak agar Abdi bisa leluasa mengekplor lehernya. Abdi memberikan ciuman basah dileher Indah dan meninggalkan tanda kepemilikan disana.


Abdi mengarahkan tangan Indah untuk mengelus lelenya "Oh god. Elus sayang," pinta Abdi dengan suara seraknya, jakuun Abdi sampai naik turun, telah lama Abdi tidak merasakan belaian lembut tangan Indah.


Selagi Indah mengurut lele miliknya yang sudah mengeras, Abdi mengarahkan bibirnya di pucuk tempurung Indah, membuat badan Indah melengking saat Abdi mengggulum puncak tempurungnya, tangan Abdi tak tinggal diam, saat bibirnya bermain disebelahnya, maka tangan yang satunya meretmat tempurung disebelahnya. Abdi menyingkirkan tangan Indah saat ia merasa akan meledak, Abdi menekan lelenya diatas inti tubuh Indah dan menggesek-gedekkan lelenya membuat lelenya menyemburkan cairannya.


"Ahhhh es teriii." suara Abdi tertahan saat dia menyemburkan cairan itu.


Abdi membaringkan tubuhnya disebelah Indah, lalu ia tersenyum.


"Maaf ya, pagi-pagi udah bikin kamu ganti baju dua kali." kekeh Abdi.


"Ihh mas." Indah memukul lengan Abdi, tak urung membuatnya mengulum senyum malu, dengan pipi yang merona.

__ADS_1


Abdi terenyuh melihat senyum samar itu, lalu ia memiringkan tubuhnya. "Aku suka liat senyum ini." ucap Abdi mengelus sudut bibir Indah. "Terus tersenyum untuk aku sayang."


* * *


Jam sepuluh pagi mereka telah berada di pengadilan, ini merupakan jadwal sidang perdana terkait kasus Thomas. Indah bersedia datang dan siap menjadi saksi. Berkat rayuan Abdi pagi tadi, Indah akhirnya mau untuk keluar rumah.


Disana sudah ada Prasasti, Kartika dan kakak serta kakak ipar Thomas. Indah menundukkan kepalanya saat memasuki ruang persidangan, dituntun oleh Anggun, sedang Abdi mengangkat wajahnya menatap penuh benci pada Prasasti. Dimana Prasasti beberapa hari lalu menemui Abdi agar mencabut tuntutannya pada Thomas, dan Prasasti meminta untuk bertemu dengan Indah.


Sungguh perlakuan Prasasti sangat melukai perasaan Abdi, dia benar-benar tidak dianggap anak oleh ayah kandungnya sendiri.


Kini Prasasti akan melihat pertarungan kedua putranya di pengadilan, dia akan melihat siapa yang akan menang, Thomas telah menyewa pengacara kondang untuk mendampinginya mengawal kasus yang menjeratnya.


Abdi dan Indah duduk dibangku yang telah disediakan, untuk mereka memberikan saksi.


Indah masih menundukkan wajahnya, sampai Thomas masuk bersama salah satu karyawan Abdi yang menjadi tangan kanan Thomas. Indah tak mau melihat wajah Thomas, Indah mengalami trauma ringan yang dialaminya. Saat dibawa mata Thomas langsung tertuju pada wajah Indah yang menunduk. Rasa bersalah langsung menelusup kedalam hati Thomas. Dia tahu Indah mengalami depresi ringan selama ini, Thomas menatap sedih wajah Indah, wajah manis yang selalu terlihat ceria itu kini terlihat begitu sayu.


Sudah lebih dari tiga puluh menit mereka berada diruangan itu, beberapa tahap persidangan telah dibacakan oleh kuasa hukum masing-masing. Hingga akhirnya Thomas memberikan pernyataannya.


"Saya mengakui kesalahan saya yang mulia, semua yang saya lakukan hanya untuk bisa memiliki wanita yang begitu saya cintai dan saya sayangi,." Semua yang berada diruangan itu terkejut dengan pengakuannya Thomas, terlebih Kartika ibunya, tak menyangka Thomas akan mengatakan ini. Begitu juga dengan Indah, dia langsung melihat Abdi yang duduk disebelahnya dengan wajah memerah menahan amarah. Thomas berhasil memancing emosi Abdi.


"Tapi cara saya salah, hingga membuat wanita itu terluka, hadirnya saya disini bukan untuk meminta pembelaan. Tapi saya ingin meminta maaf secara langsung kepada wanita itu" Thomas menatap Indah yang membuang muka.


"In, maafkan aku, aku menyesal atas semua yang aku lakukan, tapi yang harus kamu tahu, aku begitu mencintaimu, aku tidak menyesal atas perasaan ku. Aku mohon, maafkan aku."


Dada Indah sampai naik turun, Thomas benar-benar mempermalukannya, sedang Abdi mengepalkan tangannya mendengar ungkapan Thomas hingga kukunya memutih, ingin rasanya Abdi memberikan hadiah bogeman jika saja ini bukan diruang persidangan. Kurang ajar sekali Thomas, menyatakan perasaannya terhadap wanita yang sudah bersuami didepan suaminya.


.


.


.

__ADS_1


.


Bagaimana part ini? berikan like, komen dan hadiahnya jika suka ya 😂😂 duhhh pulih part yang panas apa part babang Thomas yang bikin rusuh??


__ADS_2