
"In, maukah kamu memaafkan aku?" tanya Thomas dengan sangat lembut.
"Tutup mulut kamu Thomas, aku nggak akan maafin kamu, kamu tahu aku kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku? kamu menghancurkan hidup aku Thomas." Indah tak dapat menahan amarahnya, "Yang Mulia, hukum dia seberat-beratnya Yang Mulia, dia telah menghancurkan kebahagiaan saya."
"Iya In, aku akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi, Yang Mulia, saya mengakui semua kesalahan saya, memang saya awalnya ingin melakukan itu pada Indah, tapi ternyata dia adalah wanita yang hebat, dia menghindar dari saya, saat saya akan menciumnya. Dan saya akan menjalani hukuman yang akan dijatuhkan pada saya nanti, dengan ikhlas." Thomas melirik Abdi saat mengatakan itu.
Kartika sungguh tak mengerti dengan apa yang Thomas lakukan, sementara Prasasti hanya tersenyum, dia sangat paham dengan perangai anak yang sangat dia banggakan ini.
Hingga hakim mengetuk palu diatas mejanya, dan mengatakan akan melanjutkan sidang putusan tiga hari kedepan. Sidang perdana hari ini berjalan lancar karena Thomas bersikap kooperatif. Namun menyisakan amarah untuk Abdi, Thomas sangat licik dengan bermain cantik, jangan Thomas pikir Abdi tak mengetahui maksud pengakuannya.
Saat keluar dari ruang persidangan Abdi meminta Indah bersama Anggun dan Chio menunggu diparkiran mobil. Abdi mengikuti Thomas yang tangannya masih di borgol menuju ruang tahanannya. Abdi berlari kecil mengejar langkah polisi yang membawa Thomas.
"Maaf Pak, selamat siang, saya Abdi, pelapor yang melaporkan saudara Thomas, bisa saya bicara sebentar dengan saudara Thomas?" pinta Abdi.
Kedua petugas itu saling pandang, lalu memberi anggukan. "Baik, tapi waktu Anda hanya sepuluh menit."
"Baik Pak, terima kasih."
Kedua petugas tadi meninggalkan Abdi dan Thomas berdua.
"Dasar kurang ajar."
Tanpa aba-aba Abdi langsung memberi hadiah pukulan diwajah Thomas, membuat tubuh Thomas terhuyung kebelakang, bukannya marah, Thomas malah tersenyum menyeringai setelah mendapat pukulan Abdi.
"Apa maksud lo ngomong begitu hah?" Abdi menarik kerah kaos berwarna oranye yang dipakai Thomas, tak menghiraukan sudut bibir Thomas yang mengeluarkan cairan berwarna merah. "Dasar laki-laki nggak tahu malu." Abdi melepaskan cengkeramannya membuat kaki Thomas mundur kebelakang.
Thomas tak menjawab sama sekali, dia malah tersenyum mengejek, usahanya memancing Abdi akhirnya berhasil juga.
"Kenapa? lo nggak suka saudara tiri lo ini mengakui kesalahannya?"
"Percuma lo ngelakuin itu semua, Indah nggak akan milih lo, dan dia akan bersama gue sampai kapanpun?"
"Yakin lo bakal setia?, dengan kekurangan yang dimiliki Indah saat ini?, kalau gue sudah ada Kak Tania yang bisa memberi keturunan untuk keluarga Prasasti, sedang lo, anak tunggal, gue nggak yakin lo bakal setia dengan Indah." Thomas kembali memberikan senyum menyebalkanya.
"Breng_."
__ADS_1
"Stop pak, waktu anda sudah habis." kedua petugas tadi datang disaat waktu yang tak tepat dan membawa Thomas menuju keruangannya.
Thomas benar-benar mengibarkan bendera perang bersama Abdi, walau dia sudah mendekam dijeruji besi, tapi Thomas masih membuat ulah. Abdi menahan amarahnya, dia yakin Thomas pasti akan mendapat waktu penahanan yang ringan, dan akan kembali mengganggu hidupnya dan Indah. Thomas melangkah menuju parkiran, dia mengangkat ponselnya, tanpa melihat siapa yang menghubungi.
"Ya hallo." jawab Abdi dengan suara yang masih tinggi.
"Maaf Pak, ini saya Naima, apa Bapak membatalkan pertemuan kita hari ini, saya sudah memberi pesan pada Pak Abdi sejak malam kemarin."
Abdi memejam, dia benar-benar mengabaikan pesan dari Naima kemarin, sebab ingin fokus pada Indah dan persidangan dengan Thomas, dia tak tahu jika ada pertemuan dengan Naima.
"Maaf Bu Naima, saya benar-benar lupa, Anda dimana sekarang?"
"Saya dicafe Indiana coffe Pak, maaf saya menghubungi Bapak karena asisten Bapak sepertinya juga sangat sibuk."
Abdi mengusap wajahnya kasar, hubungannya dengan Indah baru saja membaik, jika dia meninggalkan Indah begitu saja, pasti Indah akan kecewa, namun jika dia tidak mempercepat penandatangan kontrak kerjasama dengan Naima secepatnya, maka pembukaan pabrik juga akan tertunda.
"Baik, tiga puluh menit saya akan sampai di sana." Abdi memutuskan panggilannya setelah mendapat jawaban dari Naima.
Abdi melangkah dengan senyum yang dipaksakan saat melihat Indah berdiri menyandar didepan mobilnya. Wajah yang beberapa hari lalu terlihat sayu, kini sudah nampak segar.
"Kamu habis nemuin Thomas mas?" Abdi mengangguk dan menggigit bagian dalam pipinya.
"Sayang, kamu diantar Chio dan Anggun dulu nggak papa ya, aku hari ini ada pertemuan dengan investor."
Indah terlihat kecewa, tapi dia coba mengerti. "Iya mas nggak papa."
"Kamu jangan ngambek ya, tunggu aku dirumah." Abdi mensejajarkan wajahnya mengusap pipi Indah, lalu ia mengecup bibir Indah.
"Duh serasa dunia milik berdua ya yang udah halal." Anggun muncul dari belakang Abdi.
Indah tersenyum malu saat dipergoki Anggun. Sedang Abdi terlihat biasa saja. "Makanya cepat minta dihalalin sama yang disebelahnya, jangan mau dikasih harapan yang nggak pasti." sindir Abdi.
Chio yang merasa disindir mencibir. "Yakka ol nerbe aja." (Kayak lo bener aja"
"Ember." sambar Anggun, yang merasa dulu dirinyalah yang diberi harapan tak pasti hingga berakhirnya hubungan mereka yang bak drama telenovela.
__ADS_1
"Eh main keroyokan nih ceritanya, cieee yang udah kompak." ledek Abdi. "Eh betewe anterin istri aku yang paling manis dan cantik ini ya, soalnya aku ada pertemuan mendadak sama investor." Abdi merangkul pundak Indah.
"Bukan alasan kan?" tanya Anggun tanpa menimang pertanyaannya, dan mendapat pelototan dari Abdi dan Chio. Mengerti arti tatapan tajam itu Anggun menutup mulutnya, dia lupa dengan kondisi Indah saat ini.
"Nggak lah, iya kan es teri sayang?." Abdi coba mencairkan hati Indah yang sejak tadi diam saja.
Anggun benar-benar melihat perubahan Indah, sahabatnya yang dulu penuh ceria dan selalu gila bersamanya, berubah 180 derajat. Indah jadi pendiam dan sensitif seperti yang diceritakan Chio.
Mobil mereka berpisah menuju tujuan masing-masing. Abdi sendiri menuju tempat pertemuannya dengan Naima, sedang mobil Chio menuju rumah Indah.
Didalam mobil Indah dan Anggun saling diam, mereka duduk dibangku penumpang belakang. Chio sendiri didepan membawa mobil yang serasa menjadi supir pribadi. Suasana canggung menyerang ketiga orang itu, karena tak ada yang mau memulai pembicaraan, bahkan duduk Anggun dan Indah berjarak, mereka sama-sama mengambil duduk disudut pintu mobil.
Hingga Anggun berdehem memulai pembicaraan. "Kita udah kayak musuh ya Ndah duduknya jauhan gini." Anggun mendekatkan tubuhnya pada Indah hingga memepet Indah sampai ke pojok.
"Coba dulu Lo yang jadi istri mas Abdi ya Nggun, pasti mas Abdi nggak akan ikut menderita karena gue, tapi bener kata lo dulu, nasib lo selalu beruntung."
Anggun dan Chio terkejut, tak menyangka jika Indah akan mengatakan itu. Chio sampai melirik lewat kaca spion tengah untuk melihat wajah Indah. Operasi pengangkatan rahim itu benar-benar berdampak besar pada psikis Indah.
Anggun kembali menarik tubuhnya untuk sedikit menjauh dari tubuh Indah. Anggun menautkan jemarinya, bingung akan menjawab seperti apa. Dia melirik Indah yang kini menatap luar jendela.
"Aku rasa mas Abdi hanya menghindar dari aku, bisa ajakan dia ngajak aku buat ketemu investornya, aku bisa kok nunggu dia dimeja lain."
Degh, Anggun sampai menelan salivanya susah payah.
"Kamu nggak boleh ngomong gitu Ndah, Abdi hanya menjalankan tugasnya sebagai suami yang baik, dia nggak mau kamu kelelahan, kamu kan harus banyak istirahat sampai kamu benar-benar sembuh." Chio akhirnya membuka suara, dia tahu Anggun tak bisa mengatakan apa-apa pada sahabat tercintanya.
"Semoga yang kamu katakan benar." jawab Indah yang mengakhiri percakapan mereka. Yang bisa menjadi pawang Indah saat ini hanyalah Abdi.
.
.
.
.
__ADS_1
Met malmingan dan happy weekend, dikasih dauble up, kasih komen like dan gift yang kenceng donk 🤭😂😂😍😍😍