Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
Pinjam cincin kamu


__ADS_3

Setelah kejadian dimana Indah ditabrak Abdi dan diantar Abdi pulang. Disa melihat kedekatan keduanya, dia mengintip Indah dari dalam kaca rumahnya, dan saat pagi tadi Abdi datang mengantar sarapan untuk Indah, diam-diam Disa juga mengintai kedatangan Abdi, hal itu juga diketahui Thomas, Thomas yang memang setiap pagi menjemput Selly, menanyakan kedekatan Abdi dan Indah, dan Disa menjawab bahwa Abdi adalah calon suami Indah, tapi keduanya tidak mempercayai itu.


Thomas yang memang memiliki dendam terhadap Indah, meminta calon mertuanya untuk selalu mengawasi gerak-gerik Indah. Dan saat siang tadi Abdi datang, hal itu tak luput dari perhatian Disa, wanita itu mengintip dari luar jendela rumah Indah, benar-benar bak detektif, Disa mengendap-endap mendengarkan semua yang dibicarakan Indah dan Abdi, tak ada obrolan penting sama sekali sebenarnya, membuat Disa keluar dari persembunyiannya karena bosan, dia awalnya hanya akan menggangu saja, dan meminta sedikit pizza yang dibawa Abdi, entah kebetulan yang sangat kebetulan, disaat Indah terjatuh dan tepat diatas tubuh Abdi, Disa langsung mengarahkan kamera ponselnya.


Sebenarnya Disa tahu, Indah tak sengaja jatuh, tapi otak liciknya bekerja dengan cepat, ia tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Setelah memergoki Indah dan Abdi, wanita itu lari keluar, dan bertemu warga yang sedang nongkrong di pos ronda, Ia lalu menceritakan kejadian ini, dan menjanjikan mereka sejumlah uang, jika warga mau mengikuti rencananya, baru mereka melapor pada pak RT.


...****...


Disa dan Masnah keluar dari kamar, setelah melakukan negosiasi, dan sesuai kesepakatan yang telah mereka ambil bersama.


"Bu, apa yang dibicarakan Wak Disa?" bisik Indah pada Ibunya, yang kembali duduk disampingnya.


"Tidak ada apa-apa sayang" Masnah membelai rambut Indah dengan lembut, ditatapnya wajah Indah dengan seksama, terlihat jelas raut kesedihan diwajahnya, semoga keputusan yang diambilnya, itu yang terbaik untuk mereka.


Disa terus menatap Masnah dengan senyum kemenangan yang terukir diwajahnya, hari ini dia benar-benar ketiban durian runtuh.


Masnah mengambil nafas panjang sebelum memulai pembicaraannya.


"Nak Abdi, apakah nak Abdi bersedia menikahi Indah, dan bertanggung jawab atas yang nak Abdi lakukan terhadap Putri saya?"


"APAAA!!?"


"APAAA!!?"


Teriak Abdi dan Indah secara bersamaan.


"Bu, Ibu nggak percaya sama Indah, kalo Indah nggak ngelakuin apa yang mereka tuduhkan Bu?"


Indah berdiri, berkacak pinggang, dia memang menyukai Abdi, tak dapat dipungkiri bahwa ini juga keinginannya, tapi bukan cara yang seperti ini, cara yang memalukan seperti ini. Indah memijit keningnya, dia takut Abdi tidak akan menerima ini, Indah takut Abdi sudah memiliki tambatan hati, mana mungkin kan, cowok sekeren dan senapan Abdi tak memiliki pasangan? alias jomblo, nggak mungkin, Indah menggeleng,


"Wak, apa yang Wak bicarakan sama Ibu? apa Wak mengancam Ibu?" dengan masih berdiri Indah menunjuk-nunjuk Disa, Indah yakin, Disa pasti mengatasi hal yang membuat Ibunya lemah.


"Indah, kamu masih terlalu muda, masih sangat menggebu-gebu, percaya sama Wak, Wak dan Ibumu tahu yang terbaik untuk masa depan kamu"


Indah memicing curiga, Disa tak mungkin memikirkan tentang dia, pasti ada hal yang disembunyikan darinya.


"Sebaiknya kamu duduk sayang, Ibu mau mendengar jawaban nak Abdi" pinta Masnah


Abdi masih menunduk, memikirkan keputusan terbaik yang harus diambilnya, pernikahan bukanlah sesuatu hal yang bisa dimainkan, dia tak ingin salah ambil, jika dia menikahi Indah, apa mungkin mereka bisa bersatu, sedang sifat mereka hampir sama, sama-sama masih egois.


Lalu Anggun? Apa memang sudah jalanya dia dan Anggun tak bisa bersatu, banyak tembok yang membentangi mereka, namun hati Abdi tak bisa memungkiri, jika dia begitu menyayangi Anggun.


Abdi mengangkat kepalanya, memperhatikan satu-satu wajah yang ada diruang tamu rumah Indah, pertama yang ia lihat adalah Masnah, wanita yang ia kagumi akan ketegarannya, lalu Disa, wajah Disa jauh berubah, berbeda dengan beberapa saat lalu, wajah jutek yang begitu angkuh itu kini, wajah itu terlihat sangat bahagia, benar apa yang Indah curigai, mungkin ada sesuatu kesepakatan yang dibuat Masnah dan Disa. Lalu mata Abdi berpindah pada pak RT, jika dia tidak menikahi Indah, bagaimana nasib keluarga ini, yang namanya sudah tercemar, pasti mereka akan dikucilkan.


Terakhir Abdi menatap Indah, wanita itu menggelengkan kepalanya, sebagai isyarat jika Abdi jangan sampai menikahinya, hal itu malah membuat Abdi tersenyum, mulut yang selalu menggombalinya, kini memintanya untuk menolak menikahinya, apa-apaan ini, apa Indah terbiasa menggombali laki-laki?


Melihat Abdi tersenyum, malah membuat wajah Indah tertekuk, sepertinya dia benar-benar tidak ingin menikah dengan Abdi.

__ADS_1


Setelah menimbang-nimbang, Abdi pun telah memutuskan pilihannya, Semoga keputusannya kali ini, bukan keputusan yang salah.


"Bagaimana nak Abdi, apa nak Abdi telah memutuskannya? kami tidak bisa lama menunggu" pak RT bertanya sekaligus mendesak.


"Baiklah Pak, saya sudah memutuskan pilihan saya" Abdi menarik nafasnya sejenak sebelum kembali berbicara


Sedang Indah, jantungnya berdegup kencang, menunggu keputusan Abdi, dia berharap Abdi tidak salah dalam mengambil keputusan, Indah meremasi tangannya, dihatinya ingin Abdi menikahinya, tapi disatu sisi dia juga takut, jika Abdi tak mau menikahinya,


Ya Ampun, kenapa gue jadi labil sih


Kini matanya beradu dengan mata Abdi, membuat degup jantung Indah semakin menggila,


Oemji, tatapan matanya


Cepat-cepat Indah mengalihkan pandangannya, tak mau Abdi mengetahui keinginannya yang sesungguhnya


"Sebelumnya saya mau meminta maaf terlebih dahulu, terutama kepada Bu Masnah, karena kedatangan saya siang ini malah membuat kegaduhan dirumah beliau, jujur saya dan Indah tidak memiliki hubungan apa-apa" akunya jujur, kenyataan ini malah membuat Disa semakin terperangah


"Saya juga telah menjelaskan sebelumnya, pada Pak RT dan semua yang ada disini, jika kedatangan saya kesini hanya untuk menjenguk keadaan Indah, karena kemarin saya tidak sengaja menabrak Indah, tapi malah menjadi salah paham seperti ini" Abdi kembali membenarkan letak duduknya.


Mas bisa cepet dikit nggak ngomongnya, rutuk Indah yang benar-benar tak sabar menunggu jawaban Abdi, tangannya sudah sangat berkeringat dingin.


"Karena hal ini sudah mencoreng nama keluarga Bu Masnah, jadi saya putuskan untuk tidak_ menolak menikahi Indah" ucap Abdi tenang.


"Tidak apa-apa kok Abdi jika kamu tidak mau menikahi Indah" Disa langsung menyela, setelah dia mendapatkan yang dia inginkan, tapi dia tak berharap Indah mendapatkan laki-laki mapan dan tampan seperti Abdi "Kamu tidak usah takut, saya tidak akan menyebarkan foto kalian"


"MASS" panggil Indah geram "Kenapa mas mau melakukan ini, kita tidak melakukan yang orang tuduhkan, jadi mas Abdi tidak perlu menikahi Indah"


Indah tak tahu, dia harus sedih atau bahagia, semua terasa sangat rumit untuknya, namun apaladaya, nasi telah menjadi bubur, mulutnya pun rasanya sudah sangat berbusa untuk menjelaskan.


"Tidak apa, nggak masalah, yang penting kita selesaikan ini" Abdi berucap santai


"Terima kasih nak Abdi"


Masnah tak mampu berucap apa-apa lagi, Indah putri satu-satunya yang ia miliki, selama ini dia sudah mencoba untuk membahagiakan putrinya, dengan mempertahankan rumah yang telah ia tempati selama 26 tahun ini, walau terkesan sia-sia, karena dia harus menukar rumah itu dengan masa depan Indah, dan mungkin kini sudah waktunya, dia melepas rumah yang diamanatkan suaminya, rumah yang selalu menjadi bahan rebutan Disa.


"Baiklah Bu jika seperti itu, kapan kita akan melaksanakan akadnya?" tanya pak RT


"Bagaimana nak Abdi?" Masnah kembali bertanya pada Abdi


"Jika bisa hari ini, hari ini Bu, biar bisa cepat selesai" Abdi tidak ingin masalah ini berlarut-larut


"Terima kasih" ucapnya disela isak tangisnya.


Masnah terus menitikkan air matanya, kini dia harus rela melepaskan Indah, dia yakin Abdi bisa menjaga Indah, dan menjadi suami yang baik untuk Indah.


Pak RT dan Abdi mulai mempersiapkan untuk akadnya, pak RT kembali kerumahnya, menghubungi orang yang bisa menikahkan Abdi dan Indah

__ADS_1


Indah mendekati Ibunya yang menangis, membawa Ibunya untuk ia peluk "Ibu yakin Bu? ini Indah nikah seumur hidup sekali loh Bu, Ibu nggak pengen Indah nikah dihotel? kita kan pernah mimpi Bu, kita nanti akan mengadakan pesta pernikahan Indah dihotel, terus kita makan makanan yang enak disana, terus kita puasa, buat bayar hutang setelahnya, nyicil tiap bulan Bu, dari gaji Indah, dari uang hasil jualan Ibu, terus kita makan dari uang suami Indah"


Masnah mencubit perut Indah "Ibu sudah tua, udah nggak mau bayarin hutang"


"Sakit Bu"


Pandangan itu tak luput dari Abdi, sederhana sekali keluarga ini, tapi sayang, mereka harus hidup berdampingan dengan saudara yang jahat seperti Disa.


Ehem Abdi berdehem membuat Indah dan Masnah menoleh kearahnya.


"Bisa kita bicara dulu Ndah"


"Baik mas, Indah rasa, Indah juga harus bicara sama mas Abdi" keduanya beranjak menuju dapur, mereka butuh waktu untuk membahas ini hanya berdua.


"Kamu dulu Ndah"


"Mas aja dulu"


Abdi mengalah, belum apa-apa Indah sudah mendominasi.


"Baiklah, aku tahu pernikahan kita terpaksa, tapi aku tetap menghargai kamu sebagai wanita, aku tidak sempat membelikan mas kawin, jadi untuk sementara aku boleh pinjam cincin yang kamu pakai?" tanya Abdi menatap mata Indah


"Mas" bibir Indah keluh, awalnya Indah berpikir Abdi akan mengatakan jika mereka hanya menikah bohongan, dan setelah itu bisa menjalani kehidupan masing-masing, nyatanya Abdi tidak mengatakan itu


"Ah iya" Indah melepaskan cincin yang ada dijari tengah tangan kirinya, cincin hasil tabungannya.


"Terima kasih" Abdi menerima cincin itu "Sekarang apa yang mau Lo katakan?" tanya Abdi, dia masih menatap Indah intens


"Indah mau tanya, apa mas serius dengan keputusan mas? apa mas tidak punya pasangan, pacar atau tunangan? gimana keluarga mas, apa mereka akan menerima Indah? terus gimana hubungan kita kedepannya?, Indah nggak ada mimpi jadi janda loh mas"


Abdi menoyor kening Indah "Pertanyaan Lo terlalu banyak, mana yang harus gue jawab?"


"Semuanya"


"Dan, nggak ada yang perlu gue jawab"


Abdi meninggalkan Indah begitu saja, setelah mendengar suara ramai diluar, sedang Indah menahan kesal karena pertanyaannya tak ada satupun yang dijawab.


Setelah satu jam mempersiapkan semua, tepat pukul empat sore, dengan lantang Abdi mengucapkan ijab kabul didepan penghulu dan para saksi, dan untuk wali Indah, diwakilkan dengan wali hakim, sebab tak ada keluarga dari ayahnya yang bisa menjadi wali.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2