
"Ada apa mas?" Indah ikut bangun, dia menutup tubuh polosnya dengan selimut sebatas dada.
"Aku lupa kalau malam ini ada janji sama temen aku."
"Terus gimana?"
Abdi melihat jam yang masih dia kenakan "Aku kayaknya lupa bawa hape, ini juga udah jam setengah dua belas. Mereka juga pasti udah pulang." Abdi melihat Indah yang berada dibelakangnya "Tadinya aku juga mau ajakin kamu es teri, tapi aku malah ajakin kamu kesini." Abdi terkekeh
"Ih mas, kamu tuh, kasian kan temen kamu. Dia pasti tadi nungguin."
"Dia mama anak yang aku ceritain." Abdi mendekat kearah Indah, merengkuh tubuh polos istrinya "Aku mau jujur sama kamu, tapi kamu janji jangan marah, atau merasa minder." Abdi mengusap rambut Indah, coba membuat hati Indah tenang dan nyaman sebelum dia mengatakan yang sesungguhnya.
Indah mengangguk "Dia Naima, aku kerja sama dengan dia untuk pembangunan pabrik. Dia single parent, suaminya meninggal, dan anaknya menjadi korban bullying di sekolahnya. Maaf aku baru berani cerita sama kamu. Karena aku rasa, kemarin bukan waktu yang tepat, aku takut kamu mikir yang macam-macam. Dan kondisi kamu yang belum stabil" Abdi menggenggam tangan Indah "Doni yang merekomendasikan ini. Aku hanya bersikap profesional sayang, jadi aku tidak mungkin membatalkannya."
Indah tersenyum tipis mendengar penuturan Abdi."Aku nggak marah kok mas." dustanya.
Tapi tidak dengan hatinya, wanita memang seperti itu, apa yang keluar dari bibirnya, tak sesuai dengan hatinya. Sudah pasti hati seorang istri akan merasa sakit, jika suaminya terlibat kerja sama dengan mantan pacarnya, terlebih sekarang wanita itu menjadi single parent. Bukankah rasa itu kembali tumbuh jika mereka sering bertemu?.
"Makasih ya es teri." ujar Abdi sembari menautkan kembali bibir mereka, ia ingin mengulang hal kegiatan panas mereka tadi, anggap saja ini bulan madu, meski tak akan mendapatkan buah hati dari bulan madu mereka, namun sebisa mungkin, Abdi akan melakukan apapun untuk kebahagiaan pernikahannya dengan Indah, agar pernikahan mereka tak hambar dan terasa membosankan.
Setelahnya Abdi mengajak Indah untuk tidur, tubuh mereka sama-sama masih polos, ia menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Indah, dikecupnya kening Indah dalam. Ia merasa lega telah mengatakan yang sesungguhnya, kini tak ada lagi yang mengganjal di hatinya. Tapi tidak dengan Indah, dia melakukan kegiatan panas mereka tadi dengan terpaksa, dia mencoba memejamkan matanya, walau tenaganya terkuras habis dan kelelahan, namun tetap saja tak bisa, karena pikirannya melayang jauh kemana-mana.
Mungkin mereka memang ditakdirkan bersama, Naima singel parents, dan aku wanita yang tidak sempurna. Ini bukan hanya kebetulan.
* * *
Keesokannya, Indah dan Abdi kembali pada rutinitas mereka, Abdi mengantarkan Indah ke sekolah sebelum dia ke cafenya. Selepas dari hotel, mereka pulang sebentar untuk mengganti pakaian dan mengambil keperluan mereka. Lalu Abdi mengantar Indah kesekolah setelah berpamitan pada Masnah.
Merasa ada yang berbeda dari istrinya Abdi menahan tangan Indah yang hendak turun dari mobilnya.
"Sejak tadi kamu diam aja es teri, aku ada buat salah?"
Indah menggelengkan kepalanya "Aku biasa aja kok mas."
Abdi menyelami mata Indah "Kamu nggak suka aku ada kerja sama dengan Naima?." tanya Abdi langsung ke inti dari diamnya Indah.
__ADS_1
Mendengar pertanyaannya itu, Indah jadi gugup "Eng-enggak mas, aku beneran nggak apa-apa, mungkin aku cuma ngantuk. Semalam kan kita tidurnya udah larut, jadi aku kurang tidur."
"Es teri, kamu tahu? kalau aku nggak suka jika ada yang ditutup-tutupi, dan kalaupun ada kesalahan aku yang aku nggak sadar atau aku nggak tahu, kamu harus jujur. Kamu harus jadi kamu yang dulu lagi, jangan ada yang kamu tahan-tahan. Ingat, kita sudah memulai hidup kita dari awal, aku nggak mau kamu malah memikirkan hal yang tidak-tidak."
Indah membuang pandangannya, Abdi seolah tahu apa yang dipikirkannya, namun Indah tak ingin Abdi tahu, lagi-lagi, ketidak sempurnaanya yang membuatnya menjadi seperti ini.
"Mas, aku masuk dulu, aku udah telat." Abdi mendesah, mau tak mau dia melepaskan tangannya. Dia mencium kening Indah sebelum Indah turun, dan Indah mencium punggung tangan Abdi.
Namun saat Indah sudah menurunkan kaki kirinya, Indah membalikkan badannya, "Mas, nanti aku mau bertemu dengan anak Naima"
Abdi mengerutkan keningnya hingga alisnya menyatu, mendengar permintaan Indah "Aku nggak mau, jika ini bisa membuat hubungan kita merenggang, es teri, tujuan aku cuma satu. Hanya ingin membantu Zidan, aku pernah diposisi Zidan, bagaimana rasanya tidak mendapat kasih sayang dari seorang ayah."
"Dan mas pikir aku pernah mendapat kasih sayang dari ayah?" jawab Indah marah.
Setelah mengatakan itu Indah langsung turun dan menutup pintu mobil dengan membanting keras hingga membuat Abdi terlonjak.
Abdi langsung keluar dari mobil, dan mengejar langkah Indah, Abdi langsung mencekal pergelangan tangan Indah.
"Aku minta maaf, es teri, bukan maksud aku_"
"Aku nggak akan lepasin, kita selesaikan ini, kalo kamu nggak mau, aku nggak segan-segan bikin ulah."
Indah melihat sekelilingnya, ada murid-murid yang memasuki gerbang sekolah, dan para wali murid"Mas, sejak kapan kamu jadi pemaksa begini? aku nggak suka."
"Sejak sekarang, ayo masuk ke mobil, kamu izin saja untuk hari ini." Abdi menyeret tangan Indah, hingga Indah harus menyeimbangi langkahnya.
Abdi mendorong tubuh Indah untuk duduk dibangku penumpang, lalu menutup pintunya, Abdi berlari kecil memutari badan depan mobil untuk masuk kedalam mobilnya lagi. Tanpa kata Abdi langsung menginjak gas, melajukan mobilnya.
Lama mereka saling terdiam, Indah bahkan membuang pandangannya ke luar jendela, enggan melihat wajah suaminya yang menyebalkan. Entah apa yang ada dipikiran Abdi saat ini, laki-laki itu menjadi pemaksa. Baru saja mereka semalam bermesraan, namun semua terganggu karena pertanyaan Indah.
Tahu kan? jika Abdi tuh nggak bisa diam-diaman dengan Indah. Akhirnya dia menoleh kearah Indah, menarik nafas panjang, lalu dia berdehem.
"Es teri aku minta maaf." Abdi mengambil tangan Indah yang ada dipangkuan Indah, menautkan jemarinya. Indah tak merespon, dia tetap membuang pandangannya. Sampai akhirnya mobil Abdi berhenti diparkiran cafe miliknya.
Abdi turun terlebih dahulu, saat dia akan membukakan pintu untuk Indah, ternyata Indah sudah membuka sendiri pintu mobil untuknya. Indah jalan mendahului Abdi, dan tujuannya adalah langsung menuju ruang kerja Abdi yang ada dilantai dua.
__ADS_1
Abdi menyusul Indah, sebelum keruangannya, dia terlebih dahulu memesankan camilan dan minuman untuk mereka. Abdi membuka pintu kaca ruangannya, disana, Indah sudah berbaring membelakanginya. Langsung saja Abdi menghampiri istrinya.
"Sayang, aku minta maaf ya." bisik Abdi ditelinga Indah. Indah masih bergeming. "Aku nggak ada maksud apa-apa sayang, bener deh" Abdi mendusel-dusel Indah menggunakan hidungnya. Ajaibnya hal itu membuat Indah kegelian.
"Awas jangan sentuh-sentuh aku." Indah menjauhkan wajahnya dari Abdi. Menutup wajahnya menggunakan bantal sofa.
"Kalo kamu nggak mau maafin aku, aku ajak berenang lagi nanti disini. Mau?" ancam Abdi masih berbisik.
"Nggak usah ngancem-ngancem," Indah berbalik, bangun, menatap tajam suaminya.
Masih bersimpuh, Abdi mengambil tangan Indah, "Maafin aku ya, aku nggak ada bermaksud apa-apa soal ucapan aku tadi."
Indah menatap wajah Abdi, dia melihat ketulusan disana. "Aku udah maafin mas, tapi tetep, aku mau ketemu sama anak Naima"
"Tapi kalau kamu nggak mau, nggak papa sayang."
Indah nampak berpikir lagi, "Nggak papa mas, kamu sudah janji kan sama dia? kalau mas emang sudah janji, mas harus tepati."
"Baiklah, nanti aku akan membuat janji sama Naima buat ketemu kamu juga." Indah mengangguk.
Hari ini Indah menghabiskan waktunya di cafe, menemani Abdi, dia bukan hanya duduk diam saja, tetap, dia terus belajar banyak ilmu pengetahuan untuk memperdalam ilmunya. Dan Indah lanjut menulis rangakaian rencananya kedepan, yang tanpa dia tahu, Abdi telah membaca semua rancangan masa depannya.
* * *
Siang ini, setelah mengetahui semua tentang Abdi dan Indah dari orang suruhannya, papa Naima langsung membuat janji dengan Prasasti. Dia menemui Prasasti dikantornya.
"Jadi, apa tujuan anda datang kesini?" tanya Prasasti pada papa Naima yang duduk dihadapannya. Mereka duduk di sofa tamu yang ada diruang kerja Prasasti.
Papa Naima menyesap kopi yang disediakan oleh sekretaris Prasasti, lalu meletakkannya dimeja.
"Langsung ke intinya saja, saya ingin kamu membantu saya agar Abdi kembali dekat dengan anak saya, karena cucu saya sangat menyukai Abdi" Papa Naima berucap tegas. Prasasti hanya diam, menunggu ucapan papa Naima selanjutnya. "Namun sayangnya, Abdi sepertinya sangat mencintai istrinya yang tak bisa memberi keturunan."
Prasasti mengangguk, dia sendiri bingung harus memisahkan Abdi seperti apa, sebab dia tak dekat dengan Abdi. Bahkan Abdi sangat membencinya. Sebenarnya dia juga kurang mendukung hubungan Abdi dan Indah, bagaimanapun, dia tetap mengharapkan Thomas dan Abdi menjadi penerus perusahaannya, namun sayang, kedua anaknya malah terikat dengan satu wanita.
Sebenarnya Prasasti tak ingin ikut campur soal asmara anak-anaknya, namun melihat ayah Naima sampai memintanya seperti ini, sepertinya dia harus turun tangan.
__ADS_1