Takdir Cinta Indah

Takdir Cinta Indah
TCI 40


__ADS_3

Sementara dilain tempat, tepatnya di apartemen Chio. Chio kesal karena seharusnya dia berangkat ke kantor, sebab dia ada beberapa pemotretan dengan para model dan artis untuk promo produk terbarunya. Sudah siang tapi Anggun belum juga bangun. Anggun mengalami blackout sebab terlalu banyak minum.


Chio tak tahu, seberapa lama Anggun akan terbangun, sebab Chio tak pernah menyentuh minuman tersebut, walau dia sering berkumpul dengan para artis, dia masih begitu mengontrol diri, enggan terjadi hal-hal yang tak diinginkan diluar kesadarannya yang akan menyebabkan rusaknya reputasinya, dia tak pernah memperdulikan teman-temannya yang terus menawari dan memperolok dia lemah.


Chio terus menghitung waktu, semalam Anggun tertidur jam 4 subuh, namun kini waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, namun Anggun masih belum juga bangun. Chio merasa gila dia jika harus menunggu Anggun bangun, tapi dia juga tak tega jika harus meninggalkan Anggun begitu saja.


Chio mengacak rambutnya yang berjambul, dia sangat frustasi, mengingat semalam Anggun menciumnya secara brutal hingga membuat bibirnya berdarah, Chio juga dibuat repot sebab Anggun memuntahkan isi perutnya pada pakaian serta tempat tidur miliknya. Mau tak mau Chio harus mengganti pakaian Anggun, dia laki-laki normal, melihat kulit halus dari lawan jenis pastilah akan menimbulkan rasa yang harus disalurkan, hal itu membuat kepala Chio pening, menahan hasrat yang sudah terpancing, namun terpaksa harus menahanya, sebab kewarasan menyadarkannya, dia tak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan, tak ingin membuat Anggun lebih terpuruk dan malah menambah masalah baru untuk gadis itu.


Ponsel Chio yang berada diatas meja depan sofa terus berdering, nama asistennya muncul dilayar benda pipih milik Chio itu, entah sudah berapa kali asistennya itu terus menghubunginya, Chio mengambil ponsel miliknya, mengusap layar, dan mengangkat panggilan itu.


"Ya"


"...."


"Kalian lakukan dulu saja, jangan menunggu aku"


"...."


"Aku tiba-tiba ada urusan mendadak, harus mengantar kucing ku lahiran dulu"


Tut


Chio langsung mematikan sambungan telepon itu, lalu meletakkan kembali ponselnya, Chio mengurut pangkal hidungnya, kepalanya rasanya mau pecah. Hingga tak lama terdengar teriakan dari kamarnya membuat Chio langsung beranjak, berlari ke kamar.


"Ada apa?" panik Chio menatap Anggun yang memegangi selimut yang menutup tubuhnya.


"Kamu? kenapa kamu disini?" Anggun mengeratkan pegangan pada selimut itu, melindungi tubuhnya yang hanya tersisa ********** saja.


Chio membuang nafas kasar, lalu membuang muka.


"Hei, kenapa diam aja, kamu sudah apakan aku hah?"


Chio tertawa menyeringai "Nggak kebalik, harusnya aku yang bilang gitu." Terlihat wajah Anggun yang berubah panik "Kenapa?, nggak ingat?" Chio menyilangkan tangan didepan dada. "Cepat mandi, tuh baju gantinya diatas nakas, aku tunggu didepan." Chio berlalu meninggalkan Anggun yang masih terdiam, mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya semalam.


Anggun menggeleng, mencoba menepis pikiran tentang yang terjadi padanya, dia lalu ke kamar mandi dengan tubuhnya yang dililit selimut milik Chio, tak lupa dia membawa paper bag yang tadi ditunjuk oleh Chio. Anggun bukan wanita bodoh, dia tahu seperti apa jika dia telah melakukan hal yang diluar kendali, namun dia dapat bernafas lega, saat menyadari tak ada yang sakit pada inti tubuhnya.


Setelah tiga puluh menit, Anggun keluar dari kamar, terlihat olehnya, Chio yang duduk di sofa membelakanginya, laki-laki itu sedang sibuk dengan iPad ditangannya. Mendengar suara pintu yang dibuka, namun orangnya tak kunjung datang, Chio menoleh kebelakang.


"Ngapain disitu aja?" tanyanya karena Anggun masih terdiam diambang pintu.

__ADS_1


Ragu, namun tetap mendekat, Anggun merapatkan bibirnya, dia duduk di sofa singel disebelah Chio.


"Ehem, lo bukanya tetangganya mas Abdi ya?." tanya Anggun sedikit memiringkan kepalanya, sebab Chio yang masih fokus pada pekerjaannya, Anggun pernah sekali berkunjung ke apartemen Abdi, dan bertemu dengan Chio, jadi dia agak sedikit lupa.


"Cepat makan, aku mau keluar, mau aku antar kemana?." ucap Chio enggan menjawab dan menatap Anggun, bagaimana pun, bibir wanita itu sudah mencuri ciuman pertama Chio, membuat Chio gugup, jika harus berlama-lama hanya berdua dengan Anggun.


Anggun mengerucutkan bibirnya, tak berani membantah lagi, ia langsung menarik kantong dan membuka makanan cepat saji yang ada diatas meja, sambil makan sesekali Anggun melirik Chio, laki-laki itu hanya diam, dan terus mengetikkan sesuatu pada iPad miliknya itu.


"Lo nggak makan?" tanya Anggun berbasa-basi, dia meneguk air mineral, lalu menutup botol itu, Anggun sudah menyelesaikan makanya.


"Sudah." jawab Chio singkat, tanpa mengalihkan pandangannya pada layar di tangannya.


"Emmm, kok gue bisa ada disini?." tanya Anggun yang penasaran kenapa dia bisa ada di apartemen Chio. "Betewe makasih bajunya, pas, kamu juga pinter milih warnanya, maching" puji Anggun kemudian, yang merasa baju yang dibelikan Chio sangat cocok dengan seleranya, sebuah dress coklat selutut tanpa lengan, dengan blazer berwarna hitam sebagai outfit pelengkapnya.


"Hanya kebetulan." Chio menutup Ipad-nya, kemudian menatap Anggun. "Ayo pulang sekarang, aku mau ke kantor." Chio berdiri, dia sudah ditunggu para teamnya.


"Gue nggak mau pulang?." Anggun menyilangkan tangannya didada, dengan wajah cemberutnya.


"Apa? jangan ngerepotin, aku banyak pekerjaan."


"Terserah, kalo lo mau kerja, yaudah kerja aja gue mau disini, kalo lo nggak mau liat gue, lo nggak usah pulang, nginep aja diluar"


"Lo udah tahu kan, kalau gue lagi galau, jadi biarin gue disini."


"Ya, tapi jangan libatin aku."


"Terserah, salah sendiri lo bawa gue kesini, jadi sekarang lo harus tanggung jawab." Anggun berdiri langsung mengurung diri dikamar Chio, tak lagi memperdulikan Chio yang frustasi karena ulahnya.


"Astaga, dasar ngerepotin, nggak inget apa kalo semalam_ agkkk" teriak Chio yang jadi ikutan pusing.


"Yaudah, aku pergi dulu ke kantor, kalau lapar pesan aja makanan, kalau tidak ambil camilan di kulkas" teriaknya, akhirnya dia yang harus mengalah, membiarkan apartemennya di kuasai wanita yang sedang galau.


...****...


Abdi menepikan mobilnya pada sebuah rumah berlantai dua yang tanpa berpagar itu, rumah tua yang terlihat sekali jika rumah itu sudah lama tak ditempati, warna tembok rumah itu bahkan sudah memudar, yang mungkin warna aslinya adalah putih dan biru, kini terlihat seperti kekuningan, bahkan temboknya pun sudah ditumbuhi rerumputan.


Indah menyapukan pandangannya disekeliling, halaman rumah itu penuh dengan dedaunan kering, kesan pertama yang terlintas dipikiran Indah adalah, seram.


"Mas ini kita dimana?." jangan sampai gara-gara pertanyaannya Abdi malah akan melakukan hal yang tak senonoh di rumah kosong ini.

__ADS_1


Abdi mengubah posisi duduknya menghadap Indah, dia akan menjawab pertanyaan Indah, tak mau nanti akan jadi salah paham dan Indah membuat jarak diantara mereka.


"Soal pertanyaan lo tadi" Abdi mengambil tangan Indah untuk digenggamnya, tindakan Abdi ini malah membuat Indah takut, berbagai pikiran kotor melintas di kepalanya.


Indah beringsut memundurkan tubuhnya, dia memang mengharapkan Abdi menyentuhnya, namun tidak ditempat seperti ini, mereka kan sudah sah, seharusnya Abdi bisa memintanya diapartemen, pasti Indah dengan senang hati memberikan haknya, ckckck dasar Indah.


"Mas"


"Hemm"


"Indah tadi cuma bertanya, kalau mas tersinggung Indah minta maaf, tapi tolong, jangan lakukan disini, jika mas sudah tidak tahan, mending kita pulang dulu"


Abdi mengerutkan keningnya nggak ngerti penjelasan Indah, "maksudnya?"


"Emm, emm itu_mas mungkin biasa tidur sama banyak cewek, dan selama kita nikah, mas belum pernah melakukannya lagi, tapi mas, jangan disini juga." Indah menunjukkan wajah memelasnya.


Abdi baru mengerti maksud Indah, ia lantas tertawa, lalu menjitak kening Indah pelan "Eh es teri, astaga, lo pikir gue sebejat itu apa?."


Abdi terkekeh, "makanya mau gue jelasin, gue dulu emang suka gonta-ganti cewek, hampir semua cewek cantik yang ada di kantor Rasya gue kencani, tapi gue nggak pernah menyatakan perasaan gue, apalagi tidur sama cewek, gue nggak serusak itu, jadi lo jangan dengerin omongan si Rasya, dan rumah ini" tunjuk Abdi rumah yang ada didepan mereka.


"Rumah ini tuh, rumah peninggalan orang tua gue, semenjak nyokap cerai, rumah ini nggak pernah ditempati, gue kuliah di luar negeri, dan setelah itu gue kerja dan tinggal diapartemen kita sekarang, rumah ini mau gue jual, uangnya mau akan dibagi sama mamanya Anggun, sisanya mau buat usaha, gue ajak lo kesini, biar lo tahu, semua yang gue punya saat ini, milik lo." Abdi menatap mata Indah dalam.


"Mas" Indah sudah berkaca-kaca mendengar penjelasan Abdi


"Gue sayang sama lo es teri" lanjutnya lagi.


Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutnya, Indah terdiam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdebar mendengar ungkapan Abdi. Mata Abdi tertuju pada bibir mungil Indah, Abdi memajukan wajahnya, ia langsung meraup bibir yang selalu membuatnya tertawa dengan semua ucapan yang Indah keluarkan.


.


.


.


.


*Semoga suka di part ini ya.... keuwuan sesungguhnya ada di part selanjutnya.


Yuk yang mau cuap-cuap, bisa mampir ke igeh aku @ismawatiromadon*

__ADS_1


j


__ADS_2