
Tangan kanan Abdi membimbing tangan Indah untuk mengusap lelenya yang sudah benar-benar tegang, dengan mata yang sudah berkabut, sedang tanganya yang satu lagi menekan leher istrinya untuk memperdalam ciumannya.
"Gimana? udah kenal kan sama lelenya, udah nggak takut lagi kan?." Tanyanya saat dia melepaskan ciumannya.
Indah diam, meraup oksigen sebanyak-banyaknya, dia baru mengerti istilah yang disebutkan oleh suaminya, sungguh, jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetar dan mengeluarkan keringat.
"Biar lebih kenal lagi, harus kenalan dari dalam" ujarnya tersenyum menggoda, walau Abdi terlihat santai, tapi dia merasakan hal yang sama dengan Indah, sama berdebarnya.
Indah hanya nurut, mau nolak juga nggak bisa, sebab dia sendiri menikmati perkenalan ini, perkenalan absurt milik suaminya, lagi, bibirnya dibungkam oleh suaminya. Abdi segera melepas penutup miliknya tanpa melepaskan ciumannya, menyisakan boxer sebagai penghalang terakhirnya.
Ini untuk pertama kalinya Indah menyukai sebuah ikan yang selama ini dihindarinya, jika tadi masih terhalangi jeans milik Abdi, tapi kini lebih nyata, walau masih ada penghalangnya.
Tak ingin mengulur waktu Abdi membuka kain penutup tempurung Indah, mata Abdi tak berkedip, melihat pemandangan menakjubkan didepannya.
Abdi mendongak, menatap mata yang saat ini juga melihatnya.
"Boleh ya?." pintanya
Indah diam, nampak berpikir, lalu ia mengangguk kecil. Langsung saja Abdi menyesap tempurung yang memiliki tonjolan berwarna cokelat itu, dengan tangan yang tak diam, sambil menekan, memelintir serta memeras tempurung tersebut dengan sangat lembut.
"Engghh"
Lenguhan itu terdengar begitu merdu, tangan Abdi turun kebawah, melewati perut rata Indah yang begitu halus, ia mengusap perut itu penuh sayang, lalu ingin menarik turun kain tipis berenda itu, namun tangan Indah menahannya.
"Mas mau apa?."
Abdi mengerutkan keningnya, "Ya mau lanjut, masa cuma setengah jalan sih es teri?. Udah nikmati aja yah, biar kita punya anak selucu Marsha."
Membayangkan wajah Marsha, Indah jadi tersenyum, apalagi saat anak itu menangis saat ia tinggal tadi, berarti dia sudah cocok jadi ibu.
Indah melepaskan tangannya yang menahan, membiarkan sang suami melepaskan , tangan Abdi mengusap disela-sela kolam milik sang sang istri, mulai meraba kolam yang sudah terasa basah.
"Lo udah basah es teri." bisiknya
Indah tak menjawab, dia malu.
Abdi terus menggerakkan tangannya dikolam sang istri yang bersih tanpa rumput, memancing agar Indah siap untuk jadi tempat berenang lelenya. Abdi melakukan semuanya dengan sangat lembut, sampai Indah benar-benar siap dijadikan tempat lelenya berenang.
Mulut Abdi terus menyesapi tempurung milik Indah, membuat tangan Indah meremasi rambut hitam lebat milik Abdi yang sedang menikmati tempurung miliknya, menekan kepala Abdi.
"Ahhh mas"
__ADS_1
"Iya, es teri?, terus sebutin nama gue" Abdi mengangkat kepalanya, menopang badannya dengan siku, agar tak menimpa wanitanya.
"Boleh sekarang ya?." tanyanya dengan suara serak .
Indah nampak berpikir "Kalo nggak boleh gimana mas?," tanyanya balik sengaja ingin mengerjai.
"Gue tetep mau"
"Yaudah kenapa nanya" jawabnya cemberut.
Abdi terkekeh, wajah cemberut Indah justru terlihat menggemaskan dimatanya, hingga dia kembali menundukkan kepalanya, ******* bibir yang selalu terasa manis.
"Gue akan pelan-pelan." bisiknya didepan wajah Indah.
"Please, sekarang mas" Indah tersenyum malu.
Abdi melihat kebawah, melipat kedua kaki istrinya, dia memperhatikan kolam yang terlihat sangat bersih, dengan ubin berwarna pink, sungguh sedap dipandang.
Tangan Indah refleks menutup miliknya yang terus diperhatikan,
"Kenapa ditutup?" Abdi mencoba menyingkirkan tangan Indah.
"Buka es teri, nggak usah malu, gue suka"
"Nggak mau, mas nggak boleh liat, lagian mau berenang kenapa harus diliatin"
"Iya, gue nggak bakal liatin lagi"
Setelah tangan Indah diangkat, Abdi langsung memulai memasuki lelenya.
"Auu ... mass," ringis Indah, dia merasakan perih, saat kepala lele Abdi mulai memasuki kolamnya.
"Maaf" ujarnya, namun tak menghentikan aksinya,
Dengan secara perlahan dan hati-hati, lele Abdi akhirnya mampu menerobos kolam milik istrinya, ada lelehan hangat yang mengalir, membuat Abdi tersenyum puas, dia menjadi yang pertama untuk sang istri.
Abdi menunduk, meraup bibir Indah, mencoba memberi ketenangan, "Makasih, gue yang pertama, dan percayalah, ini juga yang pertama buat gue" Abdi menghapus air asin yang mengalir disudut mata istrinya.
Dirasa Indah sudah rileks, Abdi mulai menggerakkan lelenya, masih dengan sangat perlahan dan lembut, agar tak membuat kolamnya lecet, sedang Indah yang berada dibawah tubuhnya sudah memejam, menikmati sesuatu yang baru dia rasakan, sambil tangannya yang mencengkeram lengan kokoh Abdi.
Keduanya menikmati momen berharga ini, dengan suara yang saling bersahutan, Indah terus meneriakkan nama sang suami, membuat Abdi terus memaju mundurkan miliknya, sampai pada akhirnya semburan hangat keduanya memenuhi kolam itu.
__ADS_1
Nafas mereka tersengal, dengan keringat bercucuran mengalir di kening mereka.
"Terima kasih es teri, gue sayang sama lo"
Indah hanya mengangguk, tak ia sangka, kini dia sudah menyerahkan seluruh hidupnya pada laki-laki yang begitu dikaguminya, berawal dari Abdi yang datang karena membantu Masnah, lalu kecelakaan kecil yang membuat mereka sering bertemu, dan pada akhirnya, mereka terpaksa harus menikah, semua yang terjadi Indah akui karena campur tangan Wak Disa.
"Mas yang jangan tinggalin Indah, sekarang ibu jauh, cuma mas yang Indah punya saat ini, apalagi Indah udah nggak.... perawan lagi"
Indah membenamkan wajahnya pada dada Abdi, menyembunyikan rasa malu.
"Iya, gue janji." Abdi memeluk tubuh polos istrinya, mengecup puncak kepala Indah. Mereka akhirnya terpejam, setelah acara menernak lele yang menguras tenaga.
...***...
Siang hari Indah dan Abdi baru terbangun, senyum bahagia terus terpancar dari wajah pasangan yang sedang berbahagia ini. Sebenarnya Abdi ingin meminta lagi, tapi Indah menolak, sebab dia masih merasakan nyeri pada inti kolamnya, Abdi memahami itu, dia mengajak Indah berjalan-jalan, memanfaatkan waktu yang ada saat ini.
Abdi keluar terlebih dahulu, membelikan pakaian ganti untuk mereka, satu jam sudah Abdi keluar, namun dia belum juga kembali membuat Indah gelisah, takut terjadi sesuatu pada suaminya, saat dia menghubungi nomor Abdi, ternyata ponsel suaminya itu tertinggal.
Tiga puluh menit kemudian, Abdi baru kembali, membuat Indah dapat bernafas lega.
"Mas lama banget, Indah jadi khawatir." Indah menerima paper bag yang dibawa Abdi.
"Maaf, tadi nyari bajunya susah"
Setelah menikmati berbagai kuliner yang ada dipuncak, mereka mengunjungi tempat wisata, sebuah taman bunga mereka pilih, keduanya berswa foto, mengabadikan setiap hal yang mereka lakukan.
"Udah sore mas, kita pulang yuk."
Abdi melihat jam ditangannya "Yuk, sebentar lagi juga tutup tempatnya,"
Mereka bergandengan tangan menuju tempat parkiran mobil, senyum merekah tak pernah luntur dari keduanya..
"Kita udah kayak truk mas, gandengan" keduanya tertawa.
Saat tangan Abdi sudah memegang handle pintu mobil, seorang wanita menghampiri mereka.
"Mas Abdi"
Indah dan Abdi menoleh secara bersamaan.
"Maaf, aku belum sempat bilang terima kasih atas bantuan mas tadi."
__ADS_1