
"Kamu ngomong apa sih?, siapa yang cacat?" Abdi berkata sangat lembut,pura-pura mengalihkan. Dia belum sanggup mengakui yang sebenarnya, dia belum sanggup melihat Indah sedih.
"Aku udah tahu mas, rahim aku diangkat, aku nggak punya rahim, aku dengar mas, aku dengar obrolan kalian dibawah" Indah menjambak rambutnya, memukul-mukul perutnya kesal, Indah kesal dengan dirinya.
Tak ada yang tahu, saat semua mengira Indah tengah tertidur dikamarnya, ternyata Indah memaksa langkahnya ingin ikut bergabung ke bawah, namun kaki yang sudah menapaki satu turunan anak tangga, harus menahan langkahnya mendengar dirinya sedang dibicarakan, ya, Indah mendengar semua pembicaraan suami, ibunya dan teman-temannya. Dia tak memiliki rahim lagi, sekali lagi, dia tak memiliki rahim.
Seketika dunia seakan runtuh buat Indah, darahnya rasanya berhenti mengalir sepersekian detik.
Tubuhnya hampir limbung jika dia tidak berpegangan pada pegangan tangga, dengan tangan sebelahnya meremas perutnya yang sekarang kosong, tak ada apa-apanya, kecuali hati dan seperangkatnya. Namun hati itu sekarang seakan tak berfungsi lagi. Sedang rahim tempat pembuahan anak mereka nanti, tak ada. Nggak mungkin kan harus bertelur seperti cicak? itu nggak mungkin.
Wanita mana yang tak sedih mengetahui jika dia tak memiliki rahim lagi?, sudah pasti dia akan stress, kepikiran, dan ... dipikirannya pasti suaminya akan meninggalkannya. Mereka baru saja menikah, belum dikaruniai anak, jika Indah sadar waktu itu, pasti mati-matian dia akan menjaga rahimnya tetap ada. Penyakit apapun yang dialami, Indah pasti akan berusaha sembuh, jika rahimnya masih ada, bisa dicoba dengan bayi tabung kan? atau cara yang lain?. Setidaknya masih ada harapan untuk hamil. Lah sekarang? jangankan mencoba berbagai macam obat atau cara untuk hamil? membayangkan saja dia sudah tak bisa.
Coba kalian ada diposisi Indah, pasti kalian akan merasakan hal yang sama, putus asa sepertinya.
"Sayang stop, kamu nyakitin diri kamu sendiri" Abdi menarik tangan Indah, membawa Indah dalam pelukannya. Ini yang membuat Abdi tak sanggup mengatakan yang sesungguhnya, dia takut tak bisa mengatasi Indah. Abdi cukup paham, cukup paham yang Indah rasakan.
"Lepas mas, lepasin aku, biarin aku sakit, aku udah nggak berguna. Untuk apa aku sehat?, kenapa aku nggak mati aja mas? kenapa kamu biarin aku hidup kayak gini?." Hiks hiks Indah menangis dengan terus berusaha melepaskan cekalan tangan Abdi "Aku yang membuat hidup kita hancur, aku yang datang kesana, aku hanya mau dia bertanggung jawab sama anak yang dikandung Selly. Dan_ aku cuma coba membela diri, aku nggak mau ada laki-laki lain yang nyentuh aku"
Pengakuan itu keluar begitu saja saat tiba-tiba ingatan Indah kembali pada kejadian diapartemen Thomas, trauma ini bisa Indah berpengaruh pada psikis Indah. Indah memegangi kepalanya yang kini terasa pusing, ingatan-ingatan dirinya yang memaksa memecahkan kaca pintu dan dia melompat disana kembali berputar dikepalanya. Wajar kan jika Indah bertingkah seperti ini?
Abdi tak berkata apa-apa lagi, walau sebenarnya dia marah, ternyata benar, Thomas coba melecehkan Indah, satu sisi hatinya senang Indah menjaga martabatnya sebagai wanita walau dia mempertaruhkan nyawanya, disatu sisi Abdi sedih, ini salahnya, dia tak bisa menjaga Indah, hingga dia harus kehilangan anak mereka.
Melihat Indah seperti ini membuatnya ikut terluka, dia sama sakitnya, Abdi tahu, ini bukan hal yang mudah untuk mereka terima, terutama Indah, tapi inilah takdir yang harus mereka jalani, semua telah digariskan. Abdi terus mencoba menenangkan Indah, mengusap rambut Indah dengan lembut, Abdi memejam, membuat kubangan yang dia tahan jatuh perlahan Tangan kanan Abdi terangkat menghapus air matanya sendiri.
__ADS_1
Indah yang sudah melemah, kini pasrah dalam pelukan hangat Abdi, Abdi membiarkan Indah tenang, sampai mereka terhanyut dalam kesedihan ini, Indah sudah terlihat sedikit tenang, masih dalam tangisannya, namun sudah tak separah tadi. Abdi mengecup puncak kepala Indah, ikut merasakan sakit yang tengah Indah rasakan.
Diluar pintu kamar mereka, Masnah berdiri dengan tangis yang tertahan, Masnah menutup mulutnya agar tangisannya tak pecah. Masnah bukan menguping, namun suara ribut Abdi dan Indah terdengar sampai kebawah, dia hanya ingin melihat apa yang terjadi, nyatanya anaknya sudah mengetahui keadaannya yang sekarang.
...****...
Jam setengah tujuh pagi Indah, Abdi dan juga Masnah sudah duduk di meja makan. Abdi sejak tadi merayu Indah agar mau sarapan. Sebenarnya Abdi harus segera ke cafe, dan mengecek gerainya yang sudah dua minggu ini terbengkalai, belum lagi dia akan ada pertemuan dengan para koleganya yang akan bekerja sama dalam pembangunan pabrik frozen food lele miliknya. Namun harus ia tunda, Abdi tak bisa pergi begitu saja jika belum memastikan sendiri Indah sarapan.
Dari jam lima subuh Abdi sudah sibuk, membantu ibu mertuanya membuatkan bubur untuk Indah, dan dia mengecek laporan keuangan gerainya yang dikirim oleh Wahyu. Semalam dia tak sempat melakukannya, karena dia terus harus menengkan hati Indah.
"Sayang, kamu harus makan ya, biar kamu cepat sehat, nanti kita jalan-jalan sama ibu juga." tangan Abdi yang memegang sendok menggantung didepan bibir Indah yang masih terkatup. Indah tak merespon, matanya menatap kosong Masnah yang duduk bersebrangan denganya.
"Kenapa Ibu biarin orang-orang itu ambil rahim aku Bu?, Ibu kan juga wanita, pasti tahu apa yang wanita rasakan jika nggak punya rahim?." Indah berucap dengan tatapan tajam pada ibunya,
"Indah." Abdi sedikit meninggi ucapannya, hingga tak ada panggilan sayang seperti biasanya, 'es teri atau sayang'.
Indah tersenyum miris, tak memperdulikan Masnah yang kini menangis didepannya.
"Bahkan belum apa-apa kamu udah bentak aku mas, bagaimana nanti?, kamu pasti akan tergoda dengan wanita cantik yang lebih sempurna, yang bisa beri kamu keturunan, kenapa kalian nggak biarin Indah mati aja sih?, bahkan nggak ada lagi panggilan sayang kamu, 'es teri, sayang,' kayak kemarin-kemarin?"
Tak tersirat rasa bersalah dalam ucapan Indah, bahkan wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi.
Abdi memejam, meredam emosi yang baru diuji, dia harus sabar, Indah seperti ini karena Indah belum menerima keadaannya, sekali lagi, Abdi tahu, ini nggak mudah. Abdi memijit pangkal hidungnya yang mulai berdenyut, karena semalam dia juga kurang tidur.
__ADS_1
"Sayang maaf, maaf aku udah nyakitin kamu, aku nggak bermaksud seperti itu, kamu makan dulu ya, jika kamu tidak memikirkan aku, coba pikirkan ibu kamu sayang." ucap Abdi kembali lembut.
Dulu ucapan lembut itu bisa meluluhkan hati Indah, tapi kini ucapan lembut itu seakan menyulut emosi Indah, dan ...
Praangg
Mangkok berisi bubur ditangan Abdi ditepis Indah begitu saja, membuat pecahan beling itu berserakan, bercampur dengan bubur yang seolah memiliki nasib yang sama dengannya. Masnah dan Abdi terkejut, mereka berdiri secara bersamaan. Abdi hendak membuka mulutnya, namun Indah terlebih dahulu menyela.
"Nggak usah kalian sok perhatian, toh nanti aku ini bakal dibuang, aku ini wanita yang udah nggak berguna, aku cuma sampah jadi lebih baik aku cepat mati."
Hiks hiks hiks
Indah sudah terhuyung, secepat kilat Abdi menangkap tubuh Indah.
"Sayang, Indah." Abdi panik, ia langsung membopong Indah untuk dibawa kerumah sakit.
.
.
.
.
__ADS_1
Maklumi Indah ya guys, doain Indah sadar, jangan emosi, dan jangan dikeluarin dari cerita paporit kalian, tetap komen, dan likee... ðŸ¤ðŸ¤