
Hari ini setelah meeting di rumah makan bersama Naima dan team. Dan setelahnya Abdi bertemu dengan Indah. Abdi tak lagi kembali ke cafe, ataupun gerainya. Abdi memilih menghabiskan waktu sorenya dirumah. Banyak yang dia kerjakan, mencuci mobil miliknya dan motor milik Indah yang lama tak dipakai.
Indah membuatkan kopi indokopi saset untuk suaminya, diletakkannya kopi diatas meja yang ada diteras, disana ada satu meja bulat dengan dua bangku rotan bulat disisinya.
"Kopinya mas." tawar Indah, dia duduk disana memperhatikan suaminya yang sudah basah.
"Iya Neng, terima kasih." ucap Abdi, dia menghentikan kegiatan mencuci motor, membalikkan badannya, tersenyum melihat Indah yang sudah duduk manis.
"Nggak ada gorengannya Neng? sore gini enaknya ngopi sambil makan gorengan"
Mendengar permintaan suaminya Indah tertawa renyah. "Jadi mas mau gorengan juga?. Ya ampun dikasih hati malah minta jantung, yaudah terusin ya mas steamnya, aku cari gorengan dulu di pengkolan depan gang." Indah beranjak dari duduknya.
"Eh, mau kemana?"
"Cari gorenganlah."
"Nggak usah, ambil hape aku, disana ada nomor abang gorengannya. Jadi kamu tinggal telepon aja. Nggak usah kedepan."
Indah mengerutkan keningnya "Mas nyimpen nomornya?"
"Iya."
Lagi-lagi hal terbalik terjadi diantara mereka, biasanya ibu-ibu yang menyimpan nomor semua abang-abang, mau abang penjual sayur, abang galon, abang tukang gas sampai abang tukang bubur ayam juga ada. Ckckck ternyata ibu-ibu punya banyak simpanan ya.
Indah lalu masuk rumah, mengambil ponsel milik Abdi yang ada di meja depan tivi. "Namanya siapa mas?" teriak Indah dari dalam.
"Cari aja, bang Dul." jawab Abdi dengan teriak juga.
Masnah muncul dari dapur "Nggak teriak-teriak, samperin gih, nggak elok di dengarnya."
"Hehe, iya Bu, nanggung ini" Masnah hanya menggelengkan kepalanya "Ibu mau martabak ya." sambung Masnah yang tau Indah akan membeli gorengan.
"Ye, si Ibu."
__ADS_1
Indah membuka aplikasi pesan berwarna hijau, mencari nama yang disebut suaminya, lalu memesan gorengan. Tak ada drama-drama Indah nemu pesan dari wanita yang akan membuat hatinya sakit, seperti kisah-kisah rumah tangga segitiga. Alhamdulillah, kali ini authornya berbaik hati, ingin membuat mereka mesra-mesraan dulu.
Sore itu mereka menghabiskan waktu luang sederhana hanya dengan makan gorengan. Abdi menikmati wajah Indah yang penuh senyum, senyum manis yang lama lihat, dan senyum yang begitu ia rindukan. Hingga malam hari, mereka juga menghabiskan waktu bersama dengan nonton acara televisi, bersama Masnah juga, setelah mereka makan malam.
"Seneng deh, mas hari ini banyak dirumah, nggak kayak kemaren-kemaren, mas berangkat pagi, pulang malam, kita jadi jarang ketemu dan ngobrol kayak gini." Indah duduk nyender dibahu Abdi, memangku setoples keripik pisang.
"Maaf ya, aku keliatan sibuk banget ya?" tanya Abdi seraya mengusap-usap pucuk kepala Indah.
"Banget."
"Kamu bisa ambilin dompet aku diatas?" pinta Abdi yang lebih ke perintah sih.
Indah mengangguk, lalu beranjak, mengambil yang suaminya pinta.
"Ibu sehat Bu?" tanya Abdi setelah Indah tak ada.
"Sehat."
"Maaf Bu, jika akhir-akhir ini Abdi sibuk, Abdi titip Indah ya Bu, sementara Abdi sibuk dengan pekerjaan Abdi, usahakan Indah selalu bahagia, dan nggak mikir yang macam-macam, seperti para pembaca yang mikir macam-macam tentang aku."
"Insyaallah Bu. Abdi ingin menghabiskan waktu tua Abdi bersama Indah. Walau tanpa kehadiran anak."
Masnah menganggukkan kepalanya "Semoga kamu istikomah dengan yang kamu ucapkan. Tapi jangan janjikan apa-apa pada Indah. Jangan buat dia berharap lebih."
Karena dia telah mempersiapkan hatinya untuk melepaskan kamu. Lanjut Masnah, tentu saja hanya dalam hati.
"Iya Bu. Abdi akan buktikan ucapan Abdi."
"Mas, dompet yang ini kan?" Indah datang, membuat obrolan menantu dan mertua itu harus terhenti.
Indah mendekati Abdi menunjukkan dompet berwarna hitam dengan merek terkenal. Abdi menerima dompet yang diberikan Indah, lalu membukanya, mengambil kartu berwarna gold.
"Bu, ini punya Ibu, ini bukan buat belanja bulanan, tapi khusus untuk keperluan Ibu." Abdi memberikan kartu beserta buku tabungannya pada Masnah.
__ADS_1
Indah dan Masnah saling pandang, tak menyangka jika Abdi akan memberikan ini pada Masnah.
Masnah menatap Indah seperti meminta persetujuan, Indah yang mengerti menunduk sesaat, lalu mendongak memberikan anggukan kecil pada ibunya.
Sebenarnya Indah bingung dengan perhatian yang Abdi berikan, dia takut, dia takut semakin dalam mencintai suaminya, dan susah terlepas dari Abdi. Jujur saja, dengan keadaannya yang tak sempurna ini, Indah tak yakin bisa membahagiakan Abdi.
"Terima kasih ya Di, ibu akan menggunakannya dengan sebaik-baiknya." akhirnya Masnah menerima pemberian Abdi, walau dia tak berniat akan menggunakan uang yang menantunya berikan, dia hanya menghargai Abdi, tak mau akan mengecewakan Abdi.
Setelahnya mereka melanjutkan nonton sinetron bersama, sesekali mereka mengomentari cerita sinetron itu, bahkan Masnah yang paling berisik, jika ada karakter protagonis yang hanya diam saja jika dianiaya atau tersakiti. Hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam, mereka berpisah masuk kekamar masing-masing.
"Es teri, aku boleh minta tolong sama kamu?" tanya Abdi saat mereka telah berada dikamar.
Indah sedang melakukan rutinitas malamnya membersihkan wajah. Sedang Abdi duduk ditepi ranjang, memperhatikan yang Indah lakukan.
"Apa mas?"
"Anak temen aku suka di bully disekolah, karena dia nggak punya ayah seperti teman-temannya, aku kasihan ngeliat dia nangis. Aku nggak tega. Kamu mau jagain dia kalau dia pindah sekolah ditempat kamu?"
"Kasian banget mas, yaudah, kapan dia mau pindah sekolahnya?" Indah membalikkan badannya melihat Abdi.
"Aku tanya dulu sama temen aku ya. Sini." pinta Abdi agar Indah menghampirinya.
Indah menyelesaikan polesan wajahnya sebelum menghampiri Abdi. Saat langkahnya sudah mendekat. Abdi langsung menarik tangan Indah, membuat Indah jatuh dipangkuan Abdi. Dan Abdi langsung mengurung Indah dengan kedua tangannya
"Mas, ih jail banget."
"Kangen tau." Abdi menempelkan bibirnya di tengkuk Indah, memberikan kecupan kecil disana membuat Indah meremang merasa kegelian.
"Aku udah transfer ke rekening kamu tadi, untuk keperluan dan belanja bulanan." ucap Abdi disela kecupannya di leher Indah.
"Hemm" Indah hanya menjawab dengan gumaman, sebab dia telah kehilangan konsentrasinya akibat sentuhan lembut Abdi.
Indah tak bisa menolak sentuhan Abdi yang memang dia rindukan. Dengan segala rayuan, akhirnya Abdi bisa menyakinkan Indah yang ragu bisa melayaninya. Malam ini, akhirnya Indah bisa menjawab segala keraguanya tentang dirinya yang tak memiliki gaiirah dalam bercinta. Ternyata rasanya sama seperti saat dia masih memiliki rahimnya. Tak ada bedanya, bahkan Abdi sampai meminta dua kali, sebab rasanya seperti pertama kali.
__ADS_1
"Makasih es teri, kamu tetap menakjubkan" tanpa terasa Indah meneteskan air matanya yang tak diketahui Abdi. Dia terharu, dibalik keterbatasannya sebagai seorang wanita yang tak sempurna, namun dia masih bisa memberikan yang terbaik untuk suaminya. Dan Abdi selalu berhasil membuatnya yakin.
Indah mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Abdi.