
Didalam hidup tak ada yang lebih indah, jika semua keluarga bersatu, susah senang bersama, mau seburuk apapun itu, mau dengan masa lalu seperti apa, darah tetap lebih kental dibanding air.
Semenjak pertemuan dengan keluarga Mawar, Indah seperti menemukan kehangatan dalam keluarga, yang mana mereka mau saling memaafkan dan menerima satu sama lain.
Apalagi sejak Abdi menceritakan bahwa Vivi bukanlah ibu kandung Mawar, tapi Mawar mau mengurusi dan menerima wanita itu. Kekaguman Indah pada sosok wanita cantik itu memang tak bisa diragukan lagi. Dia belajar banyak dari Mawar.
Hari ini Indah mengajak Abdi untuk makan siang diluar, dia bahkan rela menghampiri ke kantor sang suami. setelah pulang dari tugasnya.
"Tumben sih kamu ngajak makan diluar?" Abdi baru bertanya saat sudah berada dalam mobil.
"Lagi pengen quality time berdua aja sih mas."
"Iya juga ya, kita udah lama nggak makan berdua begini" Abdi mengambil tangan Indah lalu diletakkannya di atas paha. "Tapi biasa ngajak anak-anak berasa ada yang kurang sayang."
"Hemm, sekali-sekali kan nggak papa mas."
"Ia juga, penting sih waktu kita berdua seperti ini."
"Makasih ya mas, kamu udah mau menerima anak Selly, menyayanginya kayak anak sendiri."
"Dan makasih juga, kamu mau menerima Marsha didalam rumah tangga kita." sambung Abdi melirik Indah sekilas, lalu ia kembali fokus pada jalanan yang terlihat sedikit lengang.
Mereka terus bercerita tentang kegiatan mereka hari ini, hingga tibalah pada sebuah restoran mewah yang sudah Indah reservasi sebelumnya.
Abdi nampak bertanya-tanya dalam hati, tak biasanya Indah mengajak makan di restoran mahal, tapi Abdi tak ambil pusing, dia pikir memang Indah sedang ingin memberikannya kejutan.
Mereka memasuki ruangan VIP yang terjaga privasinya, pintu ruangan itu terbuka, membuat Abdi berhenti didepan pintu yang menampilkan wajah wanita yang benar-benar ia benci dan sudah ia anggap tak ada lagi dimuka bumi ini. Wanita itu sama terkejutnya dengan Abdi, tak menyangka jika orang yang mengajaknya bertemu adalah istri dari anaknya sendiri.
"Sepertinya kita salah ruangan es teri." ucap Abdi sedikit kesal. Dia sudah berbalik badan hendak meninggalkan tempat itu namun Indah menahan tangannya.
__ADS_1
"Maaf mas, aku yang membuat janji sama mama Widuri." jelas Indah takut-takut.
Mama Widuri? telinga Abdi merasa sangat sakit mendengar panggilan itu. Apa dia tidak salah dengar?. Wanita bernama Widuri sangatlah tidak pantas dipanggil sebutan mama.
Sedang Widuri yang mendengar panggilan Indah merasa sangat tersentuh, ia yang awalnya menunduk setelah beradu pandang dengan Abdi sontak mendongak mendengar sebuah panggilan keramat yang tak pernah ia dengar bertahun lamanya.
Hatinya berdenyut, hati yang sempat mati rasa kini seperti dipompa lagi. Entah kenapa panggilan Indah membuat hatinya seperti diremas-remas, apakah dia masih pantas dengan panggilan itu?, MAMA!
Setitik rasa muncul dalam dirinya, perasaan bersalah yang menggunung tak bisa diungkapkan, selama ini dia sendiri tak memperdulikan perkembangan hidup anaknya. Tolong jika dia bisa memilih, dia akan meminta dipanggil segera kepada sang pencipta karena menyadari hidupnya yang tak berguna.
Abdi menatap wajah Indah, menegas "Jika tujuan mu membuat aku berdamai denganya sepertinya kamu salah es teri, pintu damai itu tak akan terbuka lagi. Dia yang membuang ku kamu tahu?, dia yang tak mengharapkan aku"
"Mas semua orang pasti pernah melakukan sebuah kehilafan, sama seperti kamu, biarlah masa lalu menjadi pelajaran yang berharga, berdamai dengan hati membuat hidup kita akan semakin bahagia mas."
"Berucap memang lebih mudah Indah, coba kamu diposisi aku?, saat kamu membutuhkan sosok wanita yang melahirkan kamu hadir disaat kamu terpuruk tapi dia tidak perduli dan lebih mementingkan kebahagiaannya sendiri, itu begitu menyakitkan. Rasanya aku sudah memaafkan dengan cara ku sendiri, dengan membagi adil penjualan rumah itu." Mata Abdi memerah menahan gemuruh yang ada dalam dadanya.
Widuri menunduk mendengar penuturan Abdi, dia merasa malu, air mata cicak yang telah lama tersimpan dan mungkin menurutnya tak akan pernah keluar itu seketika mengalir begitu saja.
"Mas, maaf aku lancang, tapi beri kesempatan untuk mama bisa bersama kita. Aku mau kita memiliki keluarga yang utuh"
"Keluarga kita sudah utuh dan bahagia, jangan ada pengganggu lagi, susah payah aku mendapatkan kebahagiaan ini Indah." bahkan Abdi menyebut nama istrinya, bukan nama kesayangan seperti biasa, Abdi ingin marah tapi tak bisa.
"Aku mau pulang, tapi jika kamu mau mengurusi wanita itu terserah." Abdi meninggalkan Indah begitu saja.
Namun Indah tak menyerah, Abdi hanya butuh waktu, semua memang tidak mudah. Dia kembali ke tempat dimana Widuri dan mengajak ibu dari suaminya itu untuk pulang bersama.
"Tidak usah Indah, Tante malu, kamu pulang saja bersama suami kamu. Jangan sampai dia marah hanya karena Tante."
Indah mengambil kedua tangan wanita itu "Mama bukan Tante." ralat Indah ucapan Widuri "Mama sayang kan sama mas Abdi?" Widuri mengangguk tertunduk "Kalau begitu, buktikan Ma, Indah tidak mungkin bergerak sendiri, jika Mama memang sayang sama mas Abdi, Mama juga harus berusaha, tak ada kata terlambat, Indah bantu Mama."
__ADS_1
Widuri memeluk Indah "Apa Mama masih pantas Indah?"
"Pantas, Ma, Mama tetap wanita yang melahirkan mas Abdi, dia memiliki hati lembut dan baik, aku yakin suatu saat mas Abdi akan memaafkan Mama."
"Terima kasih, terima kasih atas kesempatan dan dukungan kamu." Widuri akan mencoba walau dia akan ditolak atau diacuhkan, dia terima, walau dia harus tebal muka untuk saat ini.
Indah mengajak Widuri untuk satu mobil dengan Abdi, dia tak peduli jika nanti Abdi akan marah padanya atau tidak.
"Mas, tolong untuk kali ini kamu jangan nolak Mama, kita satu arah, Mama tinggal di kompleks yang sama dengan kita."
Abdi tak mengiyakan ataupun menolak, dia hanya diam tanpa melihat Indah. Dia juga tahu jika Widuri tinggal tak jauh dari rumah mereka, tapi dia benar-benar tak mau tahu menahu tentang hidup ibunya, selagi Widuri tidak mengganggu istrinya seperti yang telah dilakukan Kartika dan ayah Naima dulu, Abdi masih membiarkannya.
Selama dalam perjalanan tak ada diantara mereka yang membuka obrolan, hanya Indah yang sesekali menanyai kabar Widuri, karena memang dekat sebab Indah bersahabat dengan Anggun. Yang tanpa Indah sadari jika suasana ini sebenarnya sangat canggung untuk Widuri dan Abdi.
* * *
Indah benar-benar berusaha agar Abdi dan mamanya bisa bersama, dia juga didukung oleh ibunya. Sudah satu bulan ini Widuri ikut sarapan dan makan malam bersama dirumah anaknya, semua itu rencana Indah.
Widuri juga membantu Masnah mengurusi kedua cucunya saat Indah mengajar. Dia seakan menikmati setiap momen ini, bahkan terkadang dia mengabadikan setiap kegiatannya diponsel miliknya, Widuri hanya membagikan lewat aplikasi chat saja, namun itu dapat dilihat oleh Prasasti yang mana mereka masih menyimpan nomor satu sama lain.
Abdi memang tidak pernah menegurnya saat bertemu, dan dia mengerti itu. Bahkan saat dimeja makanpun Abdi seperti menganggapnya tak ada.
Widuri telah mematikan hatinya dari rasa malu pada Masnah juga, demi bisa mendapat maaf dari Abdi, jauh di lubuk hatinya dia berharap masa tuanya akan ia habiskan bersama anak cucunya, Mahesa dan Marsha walau bukan cucu dari anaknya sendiri, melihat kebaikan hati Indah Widuri merasa lebih hina jika harus dibandingkan dengan Indah yang tak bisa memberikan keturunan.
Abdi sebenarnya tidak menyukai ini, namun rasa sayangnya pada Indah membuatnya hanya bisa pasrah apapun yang Indah lakukan.
Seperti saat kerempongan mereka akan menghadiri pernikahan Anggun dan Chio hari ini, Masnah yang sedang tidak enak badan, mau tak mau Widuri kembali harus berangkat bersama mereka.
Indah lagi-lagi tidak menghilangkan kesempatan begitu saja saat disana juga ada Prasasti, saat mereka akan berfoto keluarga, Indah menarik keluarga besar Prasasti untuk berfoto bersama dengan mereka. Hingga diakhir sesi foto keluarga, Indah membuat Abdi berfoto bersama dengan Prasasti dan Widuri.
__ADS_1
"Maaf Tante Kartika, aku tidak ada maksud apa-apa, hubungan anak dan orang tua tidak pernah bisa dipisahkan bukan, aku jamin mama Widuri tidak akan kembali bersama om Prasasti."
Kartika tidak marah, dia malah tersenyum "Tidak apa Indah, apa yang kamu lakukan saat benar" Kartika mengapitkan bibirnya "Ikatan darah bagaimanapun juga tidak akan pernah hilang, walau mereka akan mengelaknya. Itu hanya masa lalu Prasasti, dan Abdi tetaplah anak kandungnya." Kartika merangkul Indah, dia sedih karena saat ini Thomas tak ada bersama mereka.