
Diseberang sana Thomas mengumpat kesal, melihat potret Indah berpelukan dengan pria lain, bertahun-tahun dia memendam cinta bertepuk sebelah tangan, sangat berat untuknya, meluluhkan hati Indah tak semudah yang ia bayangkan, memiliki paras tampan dan uang berlimpah nyatanya tak membuat Indah melihat kearahnya.
Memanfaatkan Selly untuk dekat dengan Indah malah membuatnya melangkah lebih jauh tentang hubungan mereka, Selly yang selalu merayunya, menggodanya, akhirnya membuat Thomas luluh, dia laki-laki normal yang tak bisa menolak kemolekan tubuh Selly. Namun satu hal yang membuat Thomas tak menyesali perbuatannya, yaitu, dia bukan orang pertama yang menyentuh Selly.
Akhir-akhir ini Selly selalu mendesaknya untuk segera menikahinya, namun Thomas menghindari itu, wanita itu meminta pertanggung jawaban atas kehamilan Selly, namun Thomas yakin, jika anak yang ada di kandung Selly bukanlah anaknya, karena setiap mereka melakukan itu, Thomas selalu memakai pengaman, Thomas sedang mencari tahu, siapa ayah dari anak yang dikandung Selly, tidak mungkin kan, pabrik pembuat pengaman sampai lalai? Setelah semua selesai, Thomas akan kembali mendekati Indah, namun dia kalah cepat, kini Indah telah menikah dengan Abdi.
"Sial"
Akkhhhh
Prangggg
Botol-botol alkohol yang berada diatas meja jatuh hancur berkeping-keping seperti hatinya saat ini.
"Dasar wanita sialan, gue nyuruh Lo ngintai mereka, biar tahu apa aja yang mereka lakuin, bukan malah membuat mereka menikah seperti ini"
Thomas duduk melantai dengan bersandar sofa, kepalanya terasa pusing dan berat, minum alkohol bukan membuat pikirannya tenang, namun membuat bayang-bayang Indah semakin menari dikepalanya, wanita manis yang mampu mengobrak-abrik hatinya, kini telah menjadi milik orang lain.
Thomas menarik rambutnya kasar, dia harus segera mendapatkan informasi tentang laki-laki yang menjadi suami Indah, dan sesegera mungkin, mencari tahu siapa yang sudah bermain dengan Selly dibelakangnya.
"Dawin, Lo cari tahu pemilik lele ICP, gue tunggu secepatnya" Thomas menghubungi bawahannya.
"Lo harus jadi milik gue Indah, apapun caranya" Thomas meremasi ponsel miliknya.
...****...
AAAAAAAAA
Teriak Indah histeris, membuat Abdi yang baru dapat tidur menjelang pagi sontak terbangun. Laki-laki dengan mata merahnya dan rambut acak-acakan khas bangun tidur itu seketika berlari menuju sumber suara, ternyata Indah sedang berjongkok didepan pintu kulkas yang terbuka, dengan kedua tangannya menutup matanya.
"Ada apa?" tanya Abdi panik
"I- itu mas, di- kulkas ada lele" tunjuk Indah arah kulkas, namun tetap menutup matanya
"Astaga, gue kira apa!" Abdi menutup pintu kulkas, lalu berjongkok menuntun Indah untuk berdiri, Indah berdiri dengan tubuh gemetar, ia lalu duduk disofa dengan dibantu Abdi
"Mas, maaf, bisa nggak jangan narok lele di kulkas? Indah nggak suka lele"
"Lele makanan kesukaan gue Ndah, gue nyetok lele, biar sewaktu-waktu gue bisa tinggal goreng, tanpa harus pesan dulu"
"Tapi Indah takut mas"
"Takut lele?" Indah mengangguk
"Baru liat lele itu aja Lo udah takut, gimana lele yang lain"
__ADS_1
Indah mendongak menatap Abdi "Emang ada lele yang lain mas?"
"Ada"
"Apa?"
"Tar kalo udah waktunya Lo gue kenalin"
"Nggak usah mas, Indah nggak pengen kenal"
Abdi memicingkan matanya sebelah "Lo yakin nggak mau kenal sama lele yang lain?"
"Apa sih mas, kenapa jadi bahas lele, pokoknya Indah nggak mau ya, ada lele di kulkas"
Abdi kembali menarik nafas, dia harus selalu mengalah jika berhadapan dengan Indah
"Okeh, tar gue buang semua, sekarang emang Lo mau sarapan apa?"
"Indah sarapan telor dadar pake mi instan aja"
"Gue nggak ngasih, nggak bagus buat kesehatan"
"Mas lebih-lebih dari dokter ya, dari semalem bahasnya kesehatan mulu"
Abdi tak menggubris lagi ocehan Indah, dia beranjak menuju dapur, mengambil beberapa butir telur, dan sayuran, dia akan membuat omelet sebagai pengganjal perut Indah sementara.
Beruntungnya gue punya suami kayak kamu mas, semoga nanti kita bisa jadi teman till Jannah, Aamiin
Doa Indah untuk dirinya sendiri, ia berdiri dan mendekat kearah Abdi, Abdi yang menyadari kedatangan Indah pun dibuat menoleh
"Ngapain kesini?" tanyanya sambil terus memotong wortel menjadi bagian kecil-kecil
"Mau liat mas, masa suami yang masakin buat istri, motor Indah gimana mas?"
"Nanti akan ada yang ngantar kesini motor kamu, dia teman aku"
Laki-laki itu memasukkan telor yang telah dicampur sayuran kedalam teflon
Indah terus memperhatikan gerakan Abdi
"Mas biasa masak sendiri ya mas?" laki-laki itu hanya mengangguk sebagai jawaban
"Orang tua mas dimana?"
Mendengar pertanyaan Indah membuat Abdi menghentikan aktivitasnya, dia diam, tak menyahut ataupun menyangkal. Abdi kembali melanjutkan memasaknya, tanpa berucap satu katapun.
__ADS_1
"Jadi Indah nggak punya mertua dongk mas!"
Indah terus memperhatikan Abdi yang kini memindahkan omelet pada piring, dan membawanya pada mini bar disana
"Makan ini dulu, nanti aku pesanin makanan buat makan siang juga, dan aku mungkin pulang malam, jangan kemana-mana" Abdi mengacak rambut Indah, lalu dia masuk kekamarnya untuk mandi.
Indah nurut seperti anak kecil, dia langsung memakan omelet buatan Abdi, sebelumnya ia potong menjadi dua terlebih dahulu, sebagian untuknya dan sebagian lagi untuk Abdi
"Enak" pujinya dengan mulut yang penuh, tak lama omelet Indah habis tak bersisa. Seiring dengan pintu kamar yang terbuka. Abdi keluar dengan setelan rapinya, rambut yang kekinian disisir rapi, dengan wangi yang menguar memenuhi indra penciuman Indah.
Laki-laki itu mengenakan kaos putih dengan jaket jeans biru, serta celana jeans biru robek-robek dilututnya. Sepatu sneaker putih dengan merek terkenal, menambah kegagahannya, jangan lupa jam tangan mahal pun bertengger dipergelangan tangannya.
"Ehem" Abdi coba membangunkan Indah dari kekaguman terhadap dirinya. "Awas jatuh cinta beneran liatnya begitu"
"Emang udah jatuh cinta dari dulu kali mas" jawab Indah jujur, wanita itu memang selalu bicara apa adanya, namun Abdi masih belum memahami ucapan Indah, mana yang serius dan mana yang bercanda.
"Lo udah makan?" Indah menjawab dengan anggukan, "Jorok, belum mandi udah makan"
Indah turun dari kursi tinggi itu "Enakan makan belum sikat gigi mas, kalo udah sikat gigi udah beda rasanya" Indah berlalu kekamar, dan ingin membersihkan dirinya.
Saat Abdi akan memasukkan potongan omelet kedalam mulutnya, kembali terdengar suara teriakan Indah
"MASSSS, KOK NGGAK ADA GAYUNG SI" Abdi menepuk jidatnya, ada saja tingkah Indah yang membuat kehebohan.
Tak lama gadis itu keluar hanya dengan mengenakan handuk kuning bergambar Spongebobang melilit tubuhnya dari atas dada sampai kelututnya.
"Astaghfirullahhaladzim"
Abdi langsung menundukkan wajahnya, dia takut khilaf, bagaimana pun, walau diantara mereka belum saling cinta, namun jika disajikan dengan pemandangan seperti ini, Abdi bisa tergoda imannya.
"Mas, kok dikamar mandi nggak ada gayung sama embernya? Indah nggak bisa mandi hanya pakai shower begitu, nggak puas"
Gadis itu masih belum sadar dengan penampilannya, dia malah berdiri didepan Abdi.
"Lo ngapain malah berdiri disini cewek aneh, disini nggak ada gayung ataupun ember, Lo berdiri aja dibawah shower, pake sabun juga bersih, bersihan air juga dari pada badan Lo, cepat Lo masuk kamar mandi" usir Abdi dengan sedikit kesal.
"Mas ini kenapa sih?" bukannya merasa bersalah Indah malah heran dengan Abdi yang tak mau melihatnya, namun ia tetap menurut, ia masuk lagi ke kamar mandi.
"Hufff" Akhirnya Abdi dapat bernafas dengan lega, "Bisa gila gue lama-lama kalo begini" Abdi tak jadi makan sarapannya, mood nya seketika menghilang.
.
.
.
__ADS_1
.
Lapak sepi gengs, ayo donk ramaikan dengan lope dan komen, cerita ini emang santai, nggak menguras emosi, aku pengen bikin yang manis-manis aja 😍😍